Mohon tunggu...
deus RITUS
deus RITUS Mohon Tunggu... Mahasiswa Abadi

Sedang Belajar Menulis. Harap Maklum.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

PMKRI dan Kita

25 Mei 2019   04:45 Diperbarui: 25 Mei 2019   04:55 0 2 3 Mohon Tunggu...
PMKRI dan Kita
PMKRI

Siapa kita...??? PMKRI...!!!

Berapa jumlah kita...??? Satu...!!!

Mari gaungkan pekik perjuangan kita.
Pro Ecclesia Et Patria...!!! (3x)


Ini adalah ritual yang saya lakuan sebelum memulai orasi. Rasanya keren saja mengucapkan rangkaian kalimat itu ketika berkesempatan memimpin segerombolan "anak marga" dalam demonstrasi di jalanan. Terlihat begitu gagah. Kegantengan mendadak naik 100 kali lipat. Apalagi, jika materi orasi yang padat dan berapi-api itu mendapat sambutan yang serupa dari puluhan anak marga yang berdiri dengan gagah di depan barikade aparat keamanan sambil mengangkat panji-panji perjuangan. Beuhhh.... Dunia serasa milik saya seorang. Yang lain cuma numpang.


Ah... Kangen...
Yap... Tentu saja kangen dengan suasana itu. Suasana dimana kita melebur menjadi satu tanpa ada iming-iming uang, popularitas, dll. Kita larut dalam spirit perjuangan. Larut dalam semangat yang menggebu-gebu. Melakukan yang terbaik, mengabdikan diri sepenuhnya bagi gereja dan bangsa.

Bagaimana sekarang?

Sebuah organisasi pengkaderan tua dan mapan seperti PMKRI tentu saja tidak memiliki tantangan dan hambatan berarti dalam usaha mempertahankan keberadaannya. Peminatnya masih banyak. Sekretariatnya ada dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Alumni-alumninya banyak dan tersebar di berbagai profesi. Untuk tetap ada, kita setidaknya dimudahkan dalam berbagai hal di atas. PMKRI will Never Die. Ya... Dan ini tidak berlebihan.
Sekali lagi. Untuk sekedar ada.

Bagaimana dengan spirit perjuangan yang ada di dalamnya...???

Ini yang saya sebut "Rumah".

Tahun lalu saya mencoba menguji kemampuan saya dengan mencalonkan diri menjadi ketua PMKRI Cabang Jakarta Pusat dan akhirnya gagal mengenaskan. Saya tidak mendapat kepercayaan yang cukup dari rekan-rekan saya untuk berada di depan dan memimpin mereka "Kembali ke Rumah".
Kalimat terakhir dalam tanda petik itu adalah tagline dan tujuan utama saya mencalonkan diri. Itu menjadi rumus yang saya gunakan untuk memikat hati teman-teman saya. Rupanya itu belum cukup.

Kembali ke laptop.

Rumah yang adalah spirit perjuangan PMKRI perlahan mulai retak. Rumah itu (mungkin karena usianya yang sudah tua) mulai tampak tak terurus lagi. Penghuni rumah tampaknya cuek dan bersikap masa bodoh. Rumah itu cuma sekedar ada ada sebagai dasar formal. Sekali-kali dihampiri, sebelum kemudian pergi menjauh meninggalkannya.

Rumah yang adalah spirit perjuangan itu ternoda. Bukan oleh orang luar, tetapi oleh ulah penghuninya sendiri yang sepertinya merasa bahwa itu adalah bangunan tua yang sudah saatnya dimusnahkan.

Rumah itu berfondasikan Visi dan Misi perhimpunan.
Arah yang dituju dan jalan yang harus dilalui untuk mencapain tujuan. Jalan yang kita pilih tidak mudah. Jalan itu diisi dengan perjuangan tanpa henti  dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas,  melakukan kaderisasi intelektual populis dengan dijiwai nilai kekatolikan. Tujuan perjalanan panjang itu adalah demi terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan dan persaudaraan sejati.

Atap rumah tua itu adalah 6 Identitas Kader. Corak atap ini pun sepertinya sudah mulai karatan. Tampak usang dan tidak terawat. Kemudian dinding rumah itu adalah 3 benang merah. Penghuni rumah diikat oleh rajutan benang merah ini.

Kadang saya duduk di beranda rumah, memandangi rumah itu. Dalam hati saya berguman... Sanggupkah saya dan teman-teman saya melakukannya...???
Sepertinya berat bro.....

Satu dua orang mungkin memang akan berusaha terus merawat rumah itu. Merenungkan makna dan dalam diam mereka mencoba melakukan hal-hal kecil untuk merawatnya. Namun orang - orang yang setia itu jumlahnya tidak signifikan. Sisanya (termasuk saya) sudah beranjak meninggalkan rumah tua itu.

Kita sibuk kesana kemari. Bermain-main di lingkaran kekuasaan. Tampak genit dan nakal. Menggonggong agar diperhatikan, mendadak diam ketika diberi makanan kesukaan.

Baret merah dan bola kuning di atasnya itu cukup akrab bagi pejabat negeri, tapi asing bagi mereka yang kelaparan dan teraniaya, mereka yang menjadi korban ketidakadilan sistem. Mereka, yang oleh pondasi rumah ditulis sebagai kaum lemah dan tertindas.
Hari-hari kita disibukan dengan konferensi pers di cafe dan restoran, berseliweran di gedung - gedung pemerintahan dengan menenteng proposal kesana kemari, atau membuat kegiatan di penginapan - penginapan premium dan memisahkan diri dari masyarakat.

Coba perhatikan timeline sosial media kita masing-masing. Pose bersama pejabat negeri adalah gambar terbaik yang kita abadikan. iya kan...???
Sangat jarang kita melihat (walaupun sekedar foto) aktivitas kita bersama masyarakat di wilayah-wilayah konflik. Jarang kita berpose di area penggusuran (walaupun sekedar foto), atau bersama para buruh, pedagang, anak jalanan, kaum miskin kota.... Jarang... Tidak pernah malah.

Kita berubah menjadi pejabat-pejabat kecil. Sangat ahli dan cerdas dalam mengupas konflik politik elit. Menguasai wacana elit. Kalau bicara buku, kita jagonya. Buka apa yang belum kita baca? Kalau membuat tulisan, setengah bagian dari tulisan kita berisi footnote (biar terkesan intelek). Wkwkwkwk.....

Ini serius kawan.

Tulisan semrawut ini mau mengingatkan kembali kita semua, bahwa kitalah pemilik dan ahli waris yang sah dari rumah ini. Kalau bukan kita yang kembali untuk menata ulang, membenahi rumah, terus siapa lagi? Kalau kita terus merasa bahwa segala agenda seremonial yang kita lakukan ini benar, saya agak ragu rumah tua ini akan bertahan.

72 tahun perjalanan, dan kita di generasi ini belum sanggup membuat perubahan. Kadang kita hanya duduk, mendengarkan dongeng dari senior tentang kegemilangan masa lalu mereka, atau sesekali kita bicara : dulu kita besar loh. Ini, di gedung ini, KAMI dideklarasikan. Itu, lihat abang kita masuk daftar 10 orang terkaya Indonesia. Dulu, kita menguasai Kompas loh. Dulu kita punya klinik berobat murah loh. Dulu, kita punya kelompok pendampingan anak jalanan loh... Dulu, dulu, dulu, dulu... Dan bla...bla...bla.....

Kalau kita belum mampu bangkit dan beranjak melakukan hal yang berarti bagi gereja dan bangsa ini, lalu untuk apa dan untuk siapa kita ada disini hari ini dengan segala kesibukan palsu yang kita ciptakan?

Wake Up Bro....

#Refleksi