Tante Paku  A.k.a Stefanus Toni
Tante Paku A.k.a Stefanus Toni wiraswasta

Membaca dan menulis hanya ingin tahu kebodohanku sendiri. Karena semakin banyak membaca, akan terlihat betapa masih bodohnya aku ini. Dengan menulis aku bisa sedikit mengurangi beban itu. Salam, i love you full.....

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Kisah Programmer Lumpuh Samuel Franklyn, Tanpa Mengikuti Lomba Dia Menerima Hadiah Dari Kompasiana

4 Desember 2012   23:29 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:11 1567 34 50
Kisah Programmer Lumpuh Samuel Franklyn, Tanpa Mengikuti Lomba Dia Menerima Hadiah Dari Kompasiana
https://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/11/13531743511068254850.jpg

Foto : Dimas Suyatno Kita sering melupakan betapa hidup ini penuh dengan hal-hal yang tak disadari, mendapat penghargaan itu tak lebih sebagai bagian dari hari, sebab setiap hari selalu ada hadiahnya sendiri. Di Kompasiana sudah banyak yang tahu, ada banyak Komunitas terbentuk sebagai bagian dari eksistensi pertemanan selama ngeblog di sini. Semuanya jelas bertujuan baik, apapun nama komunitasnya, terbukti pengelola Kompasiana tidak terlambat untuk menyadarinya, merangkul mereka dan menyediakan tempat untuk berinteraksi dengan nyata di acara Kompasianival 2012 kemarin. Namun ada juga komunitas tanpa nama di Kompasiana ini yang telah berbuat nyata tanpa banyak publikasi, mereka tidak mau tampil karena menyadari belum layak untuk ditampilkan karena keterbatasan dan berbagai hal. Mereka banyak yang menjadi silent reader di sini namun bertindak nyata dalam kegiatan yang positip di dunia nyata. Saya yang terpilih sebagai Kompasianer Terfavorite 2012 sering diikutkan dalam komunitas yang ada di sini, baik yang sudah ngetop maupun yang tak bernama, mereka semua menyambut dengan bahagia melihat keberhasilan saya dalam ajang tahunan itu. Tapi sudah saya katakan, itu bukan kemenangan saya melainkan saya hanya dipakai sebagai jalan untuk memenangkan Kompasianer yang lain.

13546375191681216092
13546375191681216092

Gelar Semalam Kalau dipikir-pikir, saya menjadi Kompasianer Terfavorite itu HANYA semalam, selebihnya saya kembali menjadi Kompasianer biasa tanpa BUKTI sebagai Kompasianer Terfavorite, sebab PLAKAT sah yang diberikan kepada saya sudah berpindah tangan karena sudah dilelang! Benar kata salah satu sahabat saya, untuk menjadi Kompasianer Terfavorite itu GAMPANG, nggak perlu repot-repot banyak menulis, tunggu saja kalau plakatnya dilelang! Setelah menyerahkan plakat itu saya menyalami pak Huhanda sambil berpesan, "Besok kalau saya ada rejeki, saya ambil lagi plakat ini." "Boleh, tapi harga mengikuti kurs!" jawab pak Huhanda sambil tertawa. "Deal!" sahut saya sambil mempererat jabat tangannya.

1354635043437112986
1354635043437112986

Saya ngobrol bertiga sampai malam dengan Hai Hai di rumahnya pak Huhanda. Rupanya selain pecinta ikan hias, ikannya ada yang pernah juara juga tuh, beliu hobby main suling, termasuk Hai Hai. Malam itu saya mendengarkan permainan suling bambu Hai Hai, permainanannya cukup pesat dibandingkan tahun lalu ketika kami Kopdar di Dieng. Hai Hai cukup lincah memainkan lagu-lagu mandarin dan lagu Sunda. Koleksi suling bambunya cukup banyak, terutama suling buatan China, kalau ditaksir harga seruling koleksinya lebih dari harga satu buah MIO.

1354636199721050935
1354636199721050935

Yang lebih membahagiakan, saya dapat kenang-kenangan dari pak Huhanda, yang rupanya baru pulang berlibur keliling Hongkong, karena saya suka pakai topi beliau pun menghadiahkan satu buah topi produk Ngong Ping Hongkong dan satu buah seruling bambu seharga tiket pesawat Solo-Jakarta! Wow saya harus ikutan belajar meniup seruling bambu dah, paling tidak saya sudah punya dasar, pernah membaca cerita silat Seruling Emas karyanya Asmaraman S Kho Ping Hoo ha ha ha ha ha ha ............... Sam The Biggest Programer Lumpuh Seperti yang sudah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya tentang keberadaaan Silent reader di Kompasiana ini, saya juga banyak berhubungan dengan mereka secara nyata, namun ada juga yang belum pernah jumpa namun sering kontak dalam beberapa kesempatan. Salah satu Kompasianer yang ingin saya temui bila ada kesempatan di Jakarta adalah sobat lama saya yang sering dijuluki Sam The Biggest. Setelah penyerahan Plakat itu, kami bertiga meluncur ke rumah kontrakan Sam, seorang Kompasianer yang lebih dulu bergabung di sini dibandingkan saya. Sam The Biggest adalah Kompasianer yang rasanya perlu kita tahu keberadaannya, beliau memang baru memposting satu artikel di sini, entah kalau sudah ada yang dihapusnya dan dipindah ke  blog pribadinya atau pesbuk, dan sering sebagai silent reader saja. Mungkin ada Kompasianer yang seperti Sam di Kompasiana ini, cuma kita sering tidak tahu atau memang tidak mau tahu nyatanya ada juga yang tahu, Sam membuat kami yang sudah mengenalnya sempat terhenyak dengan kabar yang kami terima 2 tahun lalu. Biasanya beliau aktif berkomentar di status teman-temannya di pesbuk, tapi kurang lebih 2 tahun silam, Sam tak kelihatan jejaknya. Beberapa dari kami bertanya kepada yang lain, semua jawabannya sama, tak ada yang tahu, mungkin banyak pekerjaan jadi tak sempat online. Menurut saya kalau jawabannya nggak sempat online adalah hal yang mustahil, secara beliau pekerjaannya sehari-hari di depan kompi, sebab beliau memang salah satu progammer yang pernah menerima penghargaan tingkat nasional!

1354634798479407570
1354634798479407570
Tiba-tiba salah satu teman kami Kompasianer Moi Dina mengabarkan kalau Sam masuk Rumah Sakit dan koma beberapa hari. Deg, kami semua tak bisa menahan rasa sedih. Sakit apa gerangan beliau? Menurut analisa dokter yang merawatnya beliau kena syaraf tulang belakang, yang membuat beliau lumpuh dari pinggang ke bawah! Terus terang kami semua tak bisa berbuat apa-apa hingga setahun lamanya. Beliau pun tak pernah terhubung dengan dunia maya lagi, kami hanya mengikuti perkembangan dari pengobatan yang dilakukannya. Sampai akhirnya Kompasianer Iik mengabarkan kepada kami. "Kayaknya tulisan penuh simpati dan atau sekedar perasaan simpati dan empati buat Sam dariku ga akan membantunya. Kira-kira apa ya yang bisa dilakukan untuk membantunya?" Dalam chatt terbatas itu, kami yang di dalam terdiam, belum mampu berpikir cepat memberikan jawaban. Dan Iik melanjutkan ceritanya...

13546349111144722422
13546349111144722422

"Dia udah keluar akhirnya dari pekerjaan, dan dalam waktu dekat kalau duitnya udah beneran habis dia digotong untuk tinggal di rumah bibinya. Emang cuma sekedar temen sih, dan I'm not hero, tapi ... masih terngiang ucapannya kemarin... Hikz... suaranya yang nyerah banget...Buatku speechless bener..Yah kalaupun ga ada ide... berdoa deh ya..." "Iik... saat kita tergerak utk siapapun,cobalah do your best yg msh bisa km lakukan...So,far.. kittin msh blank ttg kasus Sam," jawab Kittin, salah satu teman kami. Dan Kompasianer Joli Mintarga pun menambahi. "Thanks informasinya Ik,setahun persis bulan februari ini memang..mungkin itu batas perusahaannya memberi subsidi kepada Sam yang sudah tidak bekerja sejak feb lalu karena jatuh sakit belum kepikir..apa yang bisa kita bantu bekerja pastinya smoga Tuhan memberi hikmat kepada kita apa yang musti kita bantu lakukan untuk Sam." "Aku dah bilang dia, dia harus produktif lagi. Bagaimana caranya agar produktif lagi? itulah yang harus kita pikirkan." sambung Kompasianer Hai Hai. Dan Iik menutup chatting malam hari itu dengan ucapan "Ehm.. tolong message ini jangan di COPAS ke  org atau grup pesbuk ya... karena kita belum tahu apa ini akan menyinggung dia, atau dinilai negatif oleh orang-orang yang tidak kenal dia.Sengaja saya pilih teman-teman yang udah kenal saja dengannya...." Begitulah sepenggal kisah awal mula kami mulai memikirkan Kompasianer Sam The Biggest untuk ikut berbuat apa yang mesti kami perbuat dengan keterbatasan yang kita punya, dan keterbatasan yang Sam bisa. Sebab beliau tak bisa bergerak sama sekali, hanya bisa menggerakkan tangannya saja! Sejak itu kami sering diskusi terbatas, anggotanya pun di bawah 10 orang. Kondisi Sam SAMA tapi berbeda dengan Pepeng. Bedanya Pepeng mempunyai istri yang fight membantu suaminya bangkit di sisinya setiap saat, sementara Sam adalah yatim piatu, bahkan menjadi tulang punggung dari sedikit saudaranya itu. Kita terus berunding untuk mencarikan pekerjaan yang tentunya sesuai dengan keahliannya cuma harus bisa mengemas dan menyesuaikan dengan keadaannya itu. Sam hanya bisa berbaring di lantai, kondisi badannya yang besar tak memungkinkan untuk dibuatkan tempat tidur, dan itu akan menyulitkan dirinya. Jangankan untuk duduk, memiringkan tubuhnya saja tidak mampu. Hari terus berganti, dari minggu ke bulan, akhirnya tabungan Sam habis untuk biaya pengobatannya. Semua harta yang ia punya dijual, bahkan laptop yang menjadi andalannya pun ikut terjual, sebab ia memang tak bisa lagi menggunakannya. Sam hanya bisa terbaring di lantai, ya di lantai hingga membuat lecet-lecet kulit punggungnya, penderitaan yang sungguh melelahkan dalam kesendirian di kamar kontrakannya. Kami sudah melakukan banyak hal, adik Hai Hai yang dokter pun sudah turun tangan untuk melakukan pemeriksaan, baik konsultasi dengan ahli gizi untuk menentukan DIET, sebab Sam memang The Biggest, ini salah satu kesulitan yang membuat tidak leluasa untuk melakukan tindakan-tindakan cepat. Konsultasi dengan ahli gizi ini agar tepat dalam diet, bila dietnya tidak benar tentu akan membuatnya lebih berbahaya lagi. Sebab diet yang nggak benar justru akan merusak tubuh walau sudah kurus. Dengan demikian, ahli gizi bisa merencanakan cara Sam untuk menjalani hidup selanjutnya dengan melakukan pemeriksaan untuk menentukan batas kemampuan tubuhnya. Bahkan dokter spesialis Rehabilitation pun kita hubungi untuk mendukung pemulihannya. Yang jelas, Sam harus bisa PRODUKTIF lagi, kemampuannya sebagai programmer harus dimaksimalkan kembali. Sam harus bisa bekerja dari kamarnya, lalu bagaimana caranya? Kami terus berunding setiap ada waktu. Suatu hari, Joli menelpon Sam untuk menawarkan Laptop, tapi Sam menolaknya dengan alasan tidak bisa memakainya. Ya, bagaimana dia bisa mengetik dengan kondisi terlentang demikian?

1354635162482406745
1354635162482406745

Pertanyaan kami membulat, bagaimana merancang perangkat kerja untuk Sam agar bisa mengetik dengan laptop? "Apakah kita merancang sebuah PERANGKAT agar Sam bisa BEKERJA dengan SEORANG ASISTEN? Misalnya, Sam ngomong, dia NGETIK sambil Sam PANTAU hasil ketikannya di MONITOR yang BESAR dan mudah dilihat?" tanya Joli dalam chatt malam itu. Hadiah Kompasiana Sam The Biggest adalah seorang IT jempolan untuk JAVA, sungguh sia-sia kalau keahliannya itu ikutan lumpuh, sementara kemampuan tangan dan kepala masih sehat. Setelah melalui serangkaian usaha dan pengobatan, Hai Hai dan Happy mampu merancang sebuah alat bantu yang bisa digunakan Sam untuk mengetik sambil tiduran, lalu bagaimana kita membelikan NOTE BOOK? Tanpa diduga salah satu teman kami, Kompasianer Purnawan Kristanto memenangkan lomba kemerdekaan di Kompasiana, hadiahnya sebuah Note Book, pucuk dicinta ulam tiba. Joli menawar hadiah tersebut, Purnawan Kristanto menurunkan harga cukup drastis demi ikut membantu sahabat kami itu. Note Book pun akhirnya berada di tangan Sam The Biggest untuk mulai dipergunakan.

1354635290901085753
1354635290901085753

Begitulah benang merahnya, kenapa saya lelang plakat Kompasinaer Terfavorite yang saya terima. Walau saya menyesal, kenapa Ipad 2-nya tidak sekalian diberikan, bukankah bisa saya uangkan dengan lebih cepat lebih baik. Sebab kalau hadiah sudah sampai di rumah, persoalan akan berbeda, sebab musuhnya anak-anak, karena sudah terlanjur melihat barangnya. Dua hadiah yang kami dapat dari Kompasiana, Sam The Biggest telah ikut menikmatinya, ah sungguh rencana DIA benar-benar indah pada saatnya. Dan kami tidak tahu rencana apalagi yang akan DIA lakukan untuk kami, mengalir saja, yang jelas kami ingin melihat sahabat kami tetap tegar dalam penderitaan panjangnya itu. (2 alat yang berhasil dirancang untuk Sam, tampak belakang alat untuk memudahkan mengetik dengan Note Book-nya, dan alat yang baru bisa melatih kekuatan tangannya untuk belajar duduk). Dan pertemuan saya dengan Sam The Biggest berlangsung penuh keakraban, walau dia masih terbaring di lantai, kini sudah menggunakan CUBITUS, agar punggungnya tidak mudah lecet. Kondisinya makin membaik, kedua tangannya sudah lincah bermain notebook, sudah bisa menyapa kami di dunia maya walau tidak sesering dulu. Dalam pertemuan itu, kami mendapat ide merancang alat untuk melatih kedua tangan Sam agar membantu dia bisa duduk. Jika alat tersebut sudah jadi, kami berharap Sam bisa ada kemajuan, bisa duduk dan bergerak lebih banyak lagi.

13546355111888209409
13546355111888209409

Pahlawan Kemanusiaan Sesungguhnya Siapa di balik ketegaran seorang Sam dalam menjalani hari-hari dalam kamar kontrakan yang sempit itu? Saya benar-benar menemukan sosok wanita yang luar bisa pengabdiannya terhadap kemanusiaan. Saudara bukan, pembantu juga bukan, tapi beliau di sela-sela pekerjaannya ikut memudahkan Sam dalam kesendirian dan kesulitannya itu. Namanya Monah, sudah 3 lebaran dia tidak pulang hanya karena rasa kasihnya menemani Sam. Betapa luar biasanya wanita ini, betapa tulusnya wanita ini, betapa telatennya wanita ini, setiap hari membantu membersihkan tubuh Sam, membuang air kencing dan pup-nya. Menyuapinya, serta membuatkan dan menyuapi makan Sam sehari-hari. Saya terharu mendengarnya, saya terharu melihatnya. Tak mampu saya untuk menceritakan lebih panjang lagi terhadap pengabdian wanita ini, ketulusannya yang luar biasa, sungguh tak mudah mencari wanita seperti Monah yang mengabdi tanpa pamrih, hingga rela tak pulang ke kampung halaman menemui keluarganya demi menjaga Sam.

13546356951820200130
13546356951820200130

Kompasianer yang tinggal di Jakarta sering gelisah juga bila hujan deras mengguyur Jakarta, kontrakan Sam di daerah Kepak Duri Jakarta Barat, termasuk wilayah banjir. Untuk menuju ke tempatnya harus jalan kaki cukup jauh dari kami parkir mobil, sebab tidak mudah mobil masuk ke gang sempitnya. Kuatirnya, jika hujan deras, kontrakannya kebanjiran, bagaimana nasib Sam, apa dia harus menemui nasib yang begitu tragis? Sementara untuk menggotong dia, paling tidak dibutuhkan 6-8 orang baru bisa, saking besarnya tubuh dia. Kalau banjir besar, bagaimana para tetangganya tahu keberadaan Sam yang cuma terbaring di lantai itu? Bagaimana kalau air banjir meluap dari kamar mandi Sam dan membanjirinya? Orang-orang tentu sibuk menyelamatkan diri dan keluarganya sebelum menyelamatkan orang lain, sementara Sam hanya sendirian, Monah tentunya berada di tempat lain. Semoga kontrakannya tidak kebanjiran deh, harap kami. Sampai saat ini, kami hanya bisa melakukan apa yang kita bisa. Kami belum tahu solusi apa yang membuat Sam bisa sembuh dari sakitnya itu? Sam, senang sekali saya bisa menemuimu, sungguh saya kangen mendengar tawamu yang khas dan lepas itu, entah kapan saya bertemu lagi? Samuel Franklyn, percayalah rencana Tuhan lebih indah dibandingkan rencana kami, dalam waktu dekat atau kelak di kemudian hari, Tuhan pasti akan melakukan yang tepat untuk kebaikanmu.

1354634584412119868
1354634584412119868

Illustrasi : Koleksi Pribadi

(Bersambung)

Tulisan Kompasianival 2012 sebelumnya :

1. Ucapan Terima Kasih Paling Indah di Kompasiana

2. Bertemu Kompasianer Pikun di Kompasianival 2012

3. Waspadalah Melihat Pict Kompasianer di Kompasiana

4. Kompasianer Terfavorite Makan Bareng Dengan Jusuf Kalla

5. Waspadalah Dengan Silent Reader di Kompasiana

6. Plakat Kompasianer Terfavorite 2012 Berhasil Dilelang 7. Tanpa Mengikuti Lomba Dia Menerima Hadiah Dari Kompasiana