Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019). Lakuna (Diva Press, 2021). Twitter/IG: @1bichara.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Belajar Menulis Memoar dari Sassoon dan Churchill

11 Desember 2020   22:26 Diperbarui: 12 Desember 2020   04:46 520 56 24 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Menulis Memoar dari Sassoon dan Churchill
Winston Spencer Churchill (Foto: Arsip Hulton/Getty Images)

Sebelum menjadi penulis, saya seorang pembaca yang rakus. Malahan sangat rakus. Saya mulai keranjingan membaca sejak SD. Apa saja saya baca. Dari cerita rakyat hingga resep makanan. Dari berita di koran hingga artikel di jurnal. Dari kitab suci hingga kitab Makassar kuno.

Pendek kata membaca apa saja. Akibat rakus membaca, saya terpaksa mengubur dalam-dalam hasrat menjadi kiper ternama. Sejak kelas II SMP, mata saya sudah minus 3,5. Julukan "calon kiper berbakat" akhirnya diganti oleh teman sepermainan menjadi "Lelaki dengan Kacamata Pantat Botol".

Lantaran julukan itu, saya mulai serius membaca puisi. Rak buku paman dan kenalan habis saya preteli. Buku-buku tentang teori menulis dalam bahasa Indonesia saya comot dari materi kuliah sepupu saya, Suriati Sulaiman. Perpustakaan Wilayah Sulsel pun saya jadikan taman bermain.

Suatu hari pada pertengahan Juni 1990, saat itu saya mulai duduk di bangku kelas III, seorang paman mengenalkan saya dengan Winston Spencer Churchill. Paman saya, Bukhari Muslim, tahu benar bahwa saya rakus buku.

Saya masih ingat buku itu. My Early Life. Sebuah memoar yang ditaja dengan apik oleh mantan tentara dan politisi elite. Saya tamatkan buku berbahasa Inggris itu selama enam bulan. Itu rekor buku terlama yang saya baca. Bukan apa-apa, saya membaca seraya membuka kamus.

Hari ini saya menyesali sekaligus mensyukuri kebaikan Om Bohari--sapaan saya kepada beliau. Saya menyesal karena mengembalikan buku apik itu. Mestinya saya bilang saja lupa ditaruh di mana ataudipinjam teman dan tidak kembali. Saya bersyukur karena mengembalikan buku tersebut, sebab dari situ saya paham betapa bahagianya hati pemilik buku tatkala bukunya dikembalikan.

O ya, Om Bohari pula yang melecut semangat saya untuk terus menulis puisi dan mengirim puisi itu ke koran nasional. Jadilah 1990 sebagai tahun yang membuat saya terkenal di Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Seluruh pegawai pos tahu nama dan kenal muka saya.

Bahkan Camat Tamalatea saat itu, Aspar Razak, kagum setelah tahu bahwa saya punya kenalan wartawan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Alasannya, hampir setiap minggu saya menerima surat dari redaktur. Beliau tidak tahu bahwa surat-surat itu berisi penolakan atas puisi-puisi saya. Geli, kan?

Ketika puisi pertama saya nangkring di Harian Pedoman Rakyat, koran tempat Om Bohari bekerja, guntingannya saya pajang di papan pengumuman SMP Negeri Tanetea. Om Bohari pula yang pertama menyindir saya. "Jangan sampai ini karya terakhirmu," kata beliau.

Namun, pamanda yang baik hati itu menghadiahkan buku kedua. Kali ini tidak dipinjamkan, tetapi dihadiahkan. Memoirs of a Fox-hunt Man. Karya Siegfried Sassoon. Lagi-lagi biografi. Barangkali Om Bohari sudah mencium bakat saya dalam menulis memoar sehingga buku sejenis yang beliau berikan kepada saya.

20 tahun kemudian. Seorang sahabat menantang saya. Pringadi Abdi Surya namanya. Dengan "sinis" ia berkata bahwa saya belum dan bukan siapa-siapa selama masih hanya bisa menulis puisi. Memang hingga 2010 saya sudah menulis 12 buku, tetapi semuanya buku tentang otak dan pertumbuhannya. Malah, saya belum punya antologi puisi tunggal.

Tiga minggu setelah ditantang Pringadi, 21 Maret 2010, cerpen pertama saya dimuat di Republika. Pakarena judulnya. Sejak itu cerpen-cerpen saya mulai unjuk gigih. Akan tetapi, tantangan baru muncul menjelang tutup tahun 2011. Kali ini datang dari Bamby Cahyadi. Kata sahabat saya itu, saya pasti kesulitan kalau menulis novel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x