Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Mestinya Sembilan Kata Ini Masuk KBBI

16 Desember 2018   01:13 Diperbarui: 16 Desember 2018   15:58 2863 46 38
Mestinya Sembilan Kata Ini Masuk KBBI
Ilustrasi: Pixabay

Seorang sahabat saya di Twitter, @greenziezs, bertanya seperti ini, "Apakah bisa, demi estetika, seseorang menggunakan kata yang tidak ada di dalam KBBI dalam puisinya?"

Dengan lugas saya menjawab, "Tidak ada masalah. Dalam beberapa tulisan, juga puisi, saya memakai kata 'kulacino'. Tidak ada di KBBI. Artinya 'genangan air di permukaan bidang, seperti meja, yang terbentuk akibat gelas dingin atau berisi minuman dingin'."

Kulacino berasal dari bahasa Italia. Dari kata culaccino. Jika diserap ke dalam bahasa Indonesia maka penulisannya menjadi kulacino. Hal sama bisa diberlakukan pada kapucino untuk cappuccino.

Mengapa saya memakai kulacino? Alasan saya sepele: belum ada kata serupa untuk menggambarkan "genangan air di permukaan bidang" tadi. Apakah bahasa Indonesia kismin, maaf, miskin? O, tidak. KBBI sudah memuat 127.036 lema. Itu bukan jumlah yang sedikit. Namun, banyak bukan berarti sempurna. Dengan kata lain, masih ada celah dalam bahasa Indonesia sehingga peluang untuk terus menyerap kata dari "laut lepas bernama bahasa daerah" atau "rimba luas bernama bahasa asing" selalu terbuka.

Dampak jawilan sahabat di akun Twitter itulah yang memantik tulisan ini. Sore tadi, entah mengapa tiba-tiba saya merasa sangat lemas. Semacam lunglai tanpa sebab. Padahal, raga dan jiwa saya segar bugar. Tidak sakit apa-apa.

Kondisi lunglai tanpa sebab dalam bahasa Makassar kuno disebut benro. Dari sanalah ide tulisan ini muncul. Kebetulan saya ingin sejenak mengalihkan pikiran setelah lumayan penat akibat memikirkan tokoh-tokoh di dalam novel lama--selama beberapa tahun mengeram di laptop--yang sedang saya rampungkan. Semacam "mencicil tulisan yang tidak selesai-selesai karena disiplin rendah".

Lahirlah tulisan ini sebagai upaya urun saran untuk memperkaya bahasa Indonesia. Ada sembilan kata yang saya pilih dan tapis dari beberapa kamus bahasa Makassar, juga dari kerak-kerak ingatan yang saya simpan dalam bentuk repih-repih tulisan.

Kenapa cuma sembilan? Saya cuma punya waktu setengah jam untuk menulis artikel ini. Setelah itu, saya harus kembali bercengkerama dengan Muhammad Emir Makkarawa dan Andi Nayanika Marennu--dua tokoh utama dalam novel saya.

Pertama, banyang. Kata ini masuk kaum adjektiva, jadi bisa didahului lebih atau sangat. Artinya "rasa cemas karena takut tidak sanggup menghadapi kehilangan". Biasanya diikuti keringat dingin, debar jantung tak beraturan, sesak napas, atau pusing yang tidak jelas sebabnya. Siapa yang pernah mengalami perasaan semacam ini?

Dalam lontarak bilang, naskah tua yang ditulis dalam aksara dan bahasa Makassar, banyang mesti hati-hati dibaca agar sesuai  dengan konteks kalimat. Bukan apa-apa, penulisan kata ini serupa dengan bannyang dan banyak. Ketiga kata itu sama-sama menggunakan huruf /ba/ dan /nya/, tetapi beda pelafalan. Selain itu, beda pula maknanya. Bannyang berarti angin kencang, sedangkan banyak ialah angsa.

Saya mengeja kata ini ketika membaca sebuah naskah lontarak bilang. Naskah itu disodorkan oleh Bapak Ilyas Mattewakkang, mantan Bupati Jeneponto (Sulawesi Selatan). Beliau juga putra Mattewakkang Kr. Raja, raja terakhir Kerajaan Binamu.

Kedua, baricalla. Dalam bahasa Indonesia, baricalla berarti "suka mencela". Mirip pencemeeh atau pencemooh, hanya saja baricalla merujuk pada "mencela akibat berbeda pandangan, kecewa karena sesuatu hal, atau tersakiti".

Cakupan pemakaian kata baricalla lebih luas dibanding pencemeeh. Jika ada orang yang mengejek mantannya gara-gara diputuskan begitu saja, sehingga apa saja yang berkaitan dengan si mantan akan dicela, itulah baricalla. Pendek kata, apa saja dicela.

Dalam gonjang-ganjing politik menjelang Pilpres 2019, jemaah baricalla banyak sekali. Akibat beda pilihan, semua dari kubu lawan akan dicela habis-habisan. Seolah-olah kubu lawan tidak punya secuil pun kebaikan. Maklum saja, namanya juga juru cela.

Saya memakai kata ini sebagai judul novel, Barichalla. Mengapa pakai 'ch' padahal konsonan ganda /ch/ tidak dikenal dalam bahasa Indonesia? Tenang. Tidak usah ngegas atau nyolot. Nama saya juga pakai /ch/, kok. Pabichara.

Khusus untuk arti nama saya, jangan disangka maknanya "tukang bicara" atau "jago ngomong". Nama saya dicomot dari sebuah jabatan strategis di kerajaan-kerajaan Makassar. Kalau digiring ke masa sekarang, artinya setara dengan diplomat. Keren, kan?

Ketiga, benro. Kondisi saat kita sangat takut gagal, seperti takut tidak lulus tes atau acara yang akan digelar akan berjalan tidak lancar. Perasaan ini biasanya disertai rasa cemas berlebihan, gugup tak tertahankan, nafsu makan hilang, dan susah tidur hingga "sesuatu yang ditakuti itu" berlalu. Kata ini berasal dari bahasa Makassar kuno.

Selain itu, benro juga pas bagi orang yang merasa cemas tidak bisa membahagiakan orang yang mencintainya. Arkian, cemas lantaran ketakutan pada sesuatu yang belum terjadi tepat pula disebut benro. Misalnya, perasaan ketua panitia sebuah kegiatan yang susah tidur sampai pagi tiba.

Sebenarnya benro agak mirip dengan perasaan saat jatuh cinta: pipi berasa hangat hanya karena melihat orang tercinta di kejauhan; senang sampai jantung berdentum-dentum hanya karena orang tercinta berdiri di dekat kita; atau didera cemas ketika berhari-hari tidak melihat si pepuja hati.

Jika kamu mengalami kecemasan sampai-sampai lunglai tanpa juntrungan, itulah benro.

Keempat, genra. Kata ini cocok bagi mereka yang doyan mempertengkarkan sesuatu yang tidak perlu, semisal mengapa semut selalu berciuman pada saat berpapasan atau kenapa ular meninggalkan kerosong (kulit yang sudah diganti). 

Di samping itu, genra tepat juga digunakan untuk menyebut mereka yang keranjingan berdebat sengit tentang mengapa si ini begini dan si itu begitu.

Genra berbeda dengan sawala, karena genra cenderung pada perdebatan yang tidak perlu. Beda juga dengan diskusi, sebab genra tidak mementingkan hasil akhir. Malah sering kali orang yang bergenra diakhiri percekcokan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2