Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Penulis

Perawat Rindu, Penyuka Sendu, dan Pencinta @amelwidyaa. Twitter: @1bichara; IG: @khrisnapabichara

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menulis Itu Meniru Kreativitas Tuhan

15 April 2018   13:30 Diperbarui: 16 April 2018   13:08 2049 11 4
Menulis Itu Meniru Kreativitas Tuhan
Dokumentasi Pribadi. Juru Potret: Arco Transept

Ketika mengisi Kelas Menulis Fiksi (KMF) yang digelar oleh Katahati Production pada Sabtu, 17 Maret 2018 di AH Restocafe Fakultas Ekonomi UI, seorang peserta bertanya kepada saya, "Apakah Daeng sudah merancang keseluruhan cerita sebelum menulis atau langsung menulis begitu ide melintas?"

Saat itu, saya merasa ditodong sedemikian rupa dan tidak bisa mengelak. Saya tidak tahu persis jawaban apa yang pas dan tepat untuk saat itu. Saya mendadak merasa seperti pisang yang tak berdaya dikuliti sebelum akhirnya dikunyah habis. Akhirnya, saya menjawab sekenanya. "Saya menggunakan kedua cara itu, tetapi cara yang pertama sering kali lebih berhasil dibanding cara kedua."

Apabila cerita sudah kelar di benak sebelum saya tulis, kemungkinan buntu di tengah jalan sangatlah kecil. Beda halnya jika rancangan cerita belum utuh atau sempurna, kadang ada saja kendala yang muncul saat menulis sehingga, dengan berat hati, saya pilih menunda perampungan cerita itu. Jangankan mengarang novel, sebelum menganggit cerpen saja saya terlebih dahulu menyusun peta naskah--orang lain mungkin menyebutnya kerangka atau plot--dan grafik emosi.

Saya mesti seteliti mungkin meletakkan kata-kata bermuatan ekspresi tertentu, tekanan emosi, atau isyarat-isyarat lain yang menjadikan cerita saya lebih mudah dicerna, dapat dipercaya, dan syukur-syukur meninggalkan kesan mendalam di hati pembaca. Namun saya menyadari bahwa tidak semua usaha berhasil sesuai harapan. Namanya juga usaha, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Simpulannya, saya menulis dengan cara merampungkan cerita itu di benak saya dan saya gambarkan secara terperinci lewat rancangan yang saya namai peta naskah dan grafik emosi.

Pada kesempatan yang sama, peserta Kelas Menulis Fiksi lain bertanya, "Mengapa Daeng menulis?" Pertanyaan ini semenohok pertanyaan pertama, meskipun jawabannya lebih enteng. Motivasi saya menulis sangat bersahaja. Saya tidak bermimpi jadi orang tenar karena menulis. Andaipun ada satu-dua pembaca mengenal saya, itu bonus belaka.

Saya menulis sebagai usaha melawan sepi. Saya penyendiri dan hati saya mudah sekali diremukkan sepi. Pernyataan Colette Dowling sangat jitu menggambarkan alasan mengapa saya menulis. Penulis sekaligus terapis dari Amerika Serikat itu menyatakan dalam buku larisnya, The Cinderella Complex, "Yang memaksa saya menulis adalah saya tidak ingin lagi sendirian." Jika selama ini beberapa orang melihat saya sebagai pribadi yang mudah lebur dalam obrolan, gampang tertawa saat berbincang-bincang, atau hangat dalam bercakap-cakap, itu hanyalah lapisan kulit bawang pertama kepribadian saya. Pada lapisan berikutnya, saya tetaplah penyendiri yang kerap kelimpungan karena kesepian.

Sebut saja, saya lebih sering makan di dalam daripada makan di luar.

Saya berharap, ketika saya tengah sendirian maka tulisan saya akan menemukan kamu dan mengajakmu mengobrol dari hati ke hati. Atau menemukan pembaca yang lain dan mengajaknya berbincang-bincang dengan hangat. Manakala itu terjadi, saya tidak merasa kesepian lagi--semenyendiri apa pun. Itu sebabnya saya berusaha segigih mungkin supaya tulisan saya sedapat-dapatnya serupa teman yang bisa diajak berbincang-bincang ke sana kemari oleh pikiran atau imajinasi pembaca.

Karena tulisan saya dihajatkan menjelma sebagai teman bagi pembaca, saya mesti cermat dan telaten memindahkan diri--pikiran, gagasan, pendapat, kenangan, dan perasaan--saya ke dalam cerita. Dengan kata lain, cerita anggitan saya adalah saya sendiri, karena pada tiap-tiap cerita itu ada ruh yang saya tiupkan ke tiap demi tiap huruf. Maka, menulis bagi saya semacam meniru kreativitas Tuhan. Saya percaya bahwa pengarang adalah tuhan bagi cerita-cerita yang dikarangnya.

Dalam satu cerita, saya pasti menciptakan tokoh, menarik garis takdir bagi tokoh itu, menentukan di mana tokoh itu dilahirkan dan kapan tokoh itu dimatikan, memastikan masalah apa yang mesti saya lilitkan ke pundak si tokoh dan membiarkannya menemukan cara untuk keluar dari lilitan masalah itu, serta memastikan tokoh itu punya pikiran, pendapat, sikap, dan perasaan sendiri. Barangkali ada tokoh yang menentang dan melawan saya, tidak apa-apa. Tuhan saja ditentang dan dilawan oleh Iblis karena kebijakan-Nya menciptakan tokoh utama di muka bumi: bernama Manusia.

Barangkali kamu bertanya-tanya mengapa pembuka tulisan ini sedemikian personal. Ya, menulis adalah kegiatan yang sangat personal. Motivasi yang melatarinya pun sangat pribadi. Ada yang ingin tenar, walaupun menjadi penyanyi jauh lebih mudah terkenal dibanding jadi penulis. Ada yang ingin kaya, meskipun sadar bahwa penulis di Indonesia bukan profesi yang tepat untuk menumpuk duit sebanyak-banyaknya. Ada pula yang ingin berbagi kepada khalayak pembaca, baik berbagi secuil gagasan maupun sejumput kenangan.

Motivasi terakhir itulah yang mendasari pilihan saya menulis.

Tiap-tiap pencerita penting mencamkan petuah Umberto Eco, novelis berkebangsaan Italia, "Kalau saya bercerita, saya akan menempatkan adegan yang saya tulis di depan saya. Hal itu membuat saya lebih akrab dengan apa yang terjadi dan membantu saya masuk ke dalam tokoh-tokohnya." Perhatikan bagian yang saya cetak miring. Pengaranglah yang masuk ke dalam tokoh-tokoh ciptaannya. Bukan sebaliknya: tokoh-tokoh dalam cerita sebenarnya adalah pengarang dalam karakter yang berbeda.

Dokumentasi Pribadi. Juru Potret: Arco Transept
Dokumentasi Pribadi. Juru Potret: Arco Transept
Bagaimana kita menutup cerita?

Tirulah kreativitas Tuhan. Dia suguhkan dua jalan bagi manusia: kebaikan dan kejahatan, terang benderang atau gelap gulita, lurus atau bengkok. Tokoh-tokoh dalam cerita kita bebaskan menentukan alur hidup dan plot nasibnya masing-masing. Apakah tokoh saya menyukai akhir yang menyakitkan dan penuh air mata? Keluarkan tokoh dari ceritamu, minta ia duduk di hadapanmu, lalu tanyakanlah kepadanya akhir cerita seperti apa yang dia inginkan. Ini gila! Ah, pengarang memang gila, bukan? Singkatnya: tirulah kreativitas Tuhan: membentangkan jalan dan merentangkan pilihan. Perkara mau ke kiri atau ke kanan, mau selamat atau menderita, manusialah yang menentukan jalan dan pilihannya sendiri. Begitu pula para tokoh dalam cerita kita.

Dengan penuh kerendahan hati, izinkan saya babar langkah-langkah yang saya lakukan sebelum, sewaktu, dan setelah menutup cerita--baik cerpen maupun novel. Tentu saja, ini endapan pengalaman saya belaka dan belum tentu cocok kamu terapkan dalam laku kepengaranganmu. Namun, setidaknya kamu dapat becermin dari pengalaman bersahaja saya.

Pertama, membebaskan diri. Bahwa saya sudah menyusun peta naskah dengan amat terperinci sebelum menulis cerita, itu benar. Bahwa saya telah menggambar grafik emosi secara amat cermat, itu betul. Tetapi peta naskah dan grafik emosi itu lentur, bukan batu mati yang kaku dan tak bisa dipahat. Sewaktu menulis, peta naskah dan grafik emosi itu laksana gelang karet yang bisa saya tarik-ulur sesuai kebutuhan, namun tetap saya jaga agar gelang karet itu tidak putus lantaran terlalu regang.

Begitu menulis, saya memasuki gerbang kemerdekaan. Menulis adalah ruang lapang bagi saya untuk bereksperimen sesuai karakter dan kehendak para tokoh dalam cerita. Meski begitu, saya tetap menyadari bahwa pengendara sepeda motor saja mesti patuh pada rambu-rambu. Tidak boleh sekehendak hati melajukan sepeda motor di jalan raya. Kalau tidak, ia akan membahayakan nyawanya sendiri. Bahkan, nyawa pengguna jalan yang lain. Salah menempatkan tanda baca, misalnya, akan merepotkan penyelaras aksara. Salah penempatan alinea, misalnya lagi, akan membingungkan penyunting. Salah menerakan data dan penanda makna, misal yang lain, berpeluang menyesatkan pembaca atau membuat pembaca kehilangan kepercayaan pada runtunan cerita.

Kedua, biarkan kata-kata mengalir deras. Setelah semua kelar di kepala--tokoh, plot, dan latar--saya segera menulis. Penulis seperti saya jarang bisa tidur nyenyak atau makan lahap ketika satu cerita sudah menggedor-gedor dada. Saat menulis, saya jauhkan dulu "beban gramatika" seperti tanda baca, diksi, atau apa saja yang dapat membuat pikiran saya menjadi seperti supir bertemu polisi tidur di jalan sepi di tengah malam buta. Sunting-menyunting selalu saya jadikan urusan dan urutan terakhir dalam proses menulis.

Meski begitu, kata-kata yang saya biarkan mengalir deras itu bukanlah mobil dengan rem yang blong. Tidak. Ada rambu-rambu di tiap tikungan atau area tertentu: melenceng jauh akan membuat saya kehilangan arah. Saya tidak mau terjun bebas ke curam dalam, enggan pula tersesat dan tak menemukan terminal akhir--sebab saya sadar bahwa lepas kendali akan membuat cerita yang saya tulis melebar ke mana-mana dan kehilangan arah. Itulah gunanya cerita selesai di kepala sebelum ditulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2