Mohon tunggu...
Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Mohon Tunggu... Guru dan Penulis.

Mencipta wacana bermutu dari sistem berpikir Plato dan Aristoteles. Sarjana Filsafat dari STFK Ledalero sejak tahun 2002 dan seorang guru profesional sejak tahun 2008. Email: mengkakablasius@yahoo.com. --(C)2013-2020.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Inilah Pekerjaan yang Cocok "di Rumah Aja" Demi Meningkatkan Kualitas Kesehatan Para Warga Pedalaman

28 September 2020   04:33 Diperbarui: 28 September 2020   04:36 84 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Inilah Pekerjaan yang Cocok "di Rumah Aja" Demi Meningkatkan Kualitas Kesehatan Para Warga Pedalaman
Para wanita sedang menenun di Desa Faturika, Kec. Raimanuk-Kab. Belu. Gambar diambil pada tahun 2018 sebelum Pandemi Corona.(Foto: Yandi/Beritagar.id).

Di rumah aja selama Pandemi Corona, mengapa tidak menenun saja? Menenun kain adalah pekerjaan favorit kaum wanita tradisional yang dapat dilakukan di rumah aja. 

Dalam zaman internet ini, aktivitas menenun tetap berharga. Pekerjaan favorit kaum wanita tradisional suku-suku di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak dilakukan secara digital. 

Keahlian dalam menenun mereka peroleh secara mandiri. Banyak dari kaum wanita ini dilatih untuk menjadi penenun trampil dalam pendidikan non formal dari Kursus Suluh Labur.

Dalam foto di atas, kelompok wanita tradisional Tetum ini sedang menenun untuk menghasilkan kain adat pada tahun 2018. Kain adat itu nantinya dipakai untuk beberapa kebutuhan, seperti: menari, pertemuan adat, selimut, pakaian, adat pernikahan dan kematian. 

"Di Rumah Aja", dan Tetap Bekerja

Di wilayah Tetum Belu, kaum wanita dikenal dengan sebutan "sasanan-talin", sedangkan kaum pria dikenal dengan sebutan "taha-besi". Sebutan "sasanan-talin" bagi wanita dikarena tugas pokok wanita adalah "memasak, menenun dan merawat anak" di rumah saja. Sedangkan sebutan 'taha-besi' bagi pria dikarenakan tugas pokok pria adalah "bertani dan beternak" di kebun.

Pekerjaan yang cocok di rumah aja seperti yang dilakukan Maria Hoar, dkk pada tahun 2018 di Faturika, Kec. Raimanuk, Belu-Prov. NTT. (Foto: Beritagar.id).
Pekerjaan yang cocok di rumah aja seperti yang dilakukan Maria Hoar, dkk pada tahun 2018 di Faturika, Kec. Raimanuk, Belu-Prov. NTT. (Foto: Beritagar.id).
Hebat benar apa yang dilakukan kelompok para wanita desa Faturika di Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu ini. Tentu selama karantina akibat Pandemi Corona mereka juga sibuk menenun. Mereka masing-masing tenggelam dalam kesibukan menenun. Sesekali mereka berceritera atau sharing tentang cara mereka menenun.

Aktivitas menenun adalah salah satu tradisi adat istiadat berharga yang dimiliki kaum wanita etnis Tetum ini di dalam dan sekitar rumah adat. Jika demikian maka betapa enaknya menjadi orang desa pedalaman. Sudah tidak terkena kemungkinan serangan virus Corona, malah diajak kerja di rumah aja, dan mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) secara rutin selama Pandemi Corona berlangsung.

Ini kain seharga Rp 35 juta. (Foto: Kilastimor.com).
Ini kain seharga Rp 35 juta. (Foto: Kilastimor.com).
Sepotong kain adat hasil tenun para wanita ini bisa laku seharga Rp 500.000 di pasaran adat. Saya pernah membeli sebuah kain adat Belu di Toko Manumean Atambua seharga Rp 500 ribu, harga demikian tergolong murah. Beberapa kain adat lelaki atau pria Belu berharga sekitar Rp 1,5 juta malahan di toko Manumean. Kata sang baba penjual kain-kain adat itu, makin klasik sebuah kain adat makin mahal harga kain adat itu. Di pameran Culture Fashion Festival di GOR L.A. Bone Tulamalae pada 23 Oktober 2017, harga kain tenun ikat Kec. Raimanauk-Belu motif Cicak mencapai Rp 35 juta. 

Boleh dikatakan para wanita dalam gambar di atas ini mengartikan kata "di rumah aja" sebagai ajakan pemerintah bagi mereka untuk menenun. Para wanita ini terlihat sehat dan cekatan. Inilah bukti bagaimana ajakan pemerintah bagi para warga untuk tinggal di rumah saja mendapatkan banyak manfaat bagi kaum wanita di desa-desa.

Selama Pandemi Corona, semua warga yang tinggal di desa-desa pedalaman juga hanya tinggal di rumah saja. Selama ini para warga melakukan aktivitas sesuai dengan musim-musim selama satu tahun. Selama musim panas, para warga beternak dan menyiapkan kebun. Lalu selama musim hujan warga berternak dan berkebun: menanam, membersihkan kebun dan memanen. Meskipun ada wabah Pandemi Corona, para warga di desa-desa tidak terpengaruh dengan Pandemi Corona sebab saban hari mereka melakukan kegiatan di kebun dan padang.

Tentang Pandemi Corona, para warga yang paling terpengaruh ialah pedagang, pekerja kebun, perkerja kantoran, guru dan pekerja industri. Semua warga diwajibkan oleh pemerintah untuk menjalankan karantina di rumah saja. Dengan hanya tinggal di rumah aja, kualitas kesehatan mereka meningkat dengan cepat. Memang fasilitas hidup di rumah tidak semewah fasilitas hidup orang-orang kota, hanya saja dengan tinggal di rumah saja, mereka dapat berkumpul kembali dan sibuk mengurusi diri mereka sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN