Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Guru

You can't make an omelet without breaking a few eggs. Author and teacher ---(C)2013-2018

Selanjutnya

Tutup

Bola

Mengenang Jasa Para Karyawan/i Misi di Nusra, Sangat Ulet Tetapi Dilupakan

2 Mei 2014   03:59 Diperbarui: 26 November 2017   11:57 63 1 2

Luar biasa itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kinerja para karyawan/i bagi Gereja. Kalau Gereja adalah kita (para beriman kristen) maka mereka adalah para pemilik Gereja itu sendiri.

Ya, boleh dikatakan bahwa jasa para karyawan/i bagi misi di Nusra sangat besar. Mereka menghidupkan Gereja melalui semua bidang: listrik, guru agama, koster, pengurus lingkungan, liturgi, bangunan, guru, pertanian, peternakan, dapur, dll.

Saya tidak bisa membayangkan kalau Gereja katolik di Nusra tanpa mereka. Tanpa mereka, Gereja mungkin kesulitan hidup. Mereka ibarat benih yang jatuh di tanah yang subur,ikut berbuah dan membuat Gereja di Nusra berkembang hingga sat ini.Sejak misi gereja Katolik mulai menginjakkan kakinya di Nusa Tenggara, banyak kaum pribumi Nusa Tenggara yang direkrut untuk bekerja di biara-biara dan pastoran Katolik.

Dalam usia muda, banyak sama saudara/i kita itu didik oleh misi dengan keterampilan praktis lalu kemudian dikembalikan ke lingkungan keluarganya. Namun tak sedikit pula yang kemudian dimintakan untuk bekerja sebagai karyawan/i misi di lingkungan biara-biara atau gereja-gereja Katolik.

Para karyawan/i itu bekerja pada berbagai bilik pekerjaan, misalnya: sebagai tukang kayu atau tukang batu, tukang las besi, tukang cat, tukang jahit, bilik basuh, bagian dapur, bagian pertanian, bagian peternakan, dll. Para karyawan/i misi bekerja atas dasar pengabdian dan iman semata-mata.

Pada masa Hindia Belanda, oleh karena kurang kontrol ketat dari pemerintah, seringkali penghasilan yang diterima para karyawan/i ini hanya cukup untuk dapat hidup. Mereka ada yang menerima penghasilan di bawah standard upah yang layak. Namun oleh kesetiaan terhadap iman, mereka akhirnya terus setia bekerja hingga masa tua tiba, lalu berpulang tanpa sebuah gaji untuk jaminan hari tua yang layak.

Patut diakui bahwa persoalan pembayaran gaji di lingkungan biara atau misi gereja Katolik telah lama terdengar agak kurang wajar. Namun mereka tetap menerimanya dengan ikhlas bertahun-tahun bahkan hingga pensiun. Hal itu terjadi karena pertimbangan seiman, seagama dan sekeyakinan.

Lagi pula, para karyawan/i misi itu sering juga tak menuntut pembayaran yang besar, apalagi menuntut rupa-rupa kepada misi gereja, sebab misi gereja juga ialah mereka sendiri sedangkan para biarawan/i saja sedang terikat kaul-kaul kesucian, kemiskinan dan ketaatan.

Meksipun dengan gaji yang seadanya, mereka masih bisa hidup layak untuk membangun rumah, memelihara ternak, mengolah tanah dan memelihara putera/i mereka. Memang para karyawan/i misi masih tetap tetap terlihat cukup bahagia dengan gaji seadanya tak menuntut banyak hal.

Salah satu karyawan Seminari SMA Seminari Lalian, yang sudah almarhum ialah Bapak Fransiskus Asten, bertahun-tahun bekerja sebagai tenaga pembangun dan bekerja pada bagian Peternakan Seminari sejak muda hingga masa pensiunnya tetap merasa bersyukur dengan gaji yang diberikan oleh Alm. Pater Gerard Nikolaas Schrombges, SVD. Selama waktu hidupnya ia membangun rumah dan mengolah kebun hingga mengurus peternakan. Hasilnya sungguh berguna bagi misi, di mana anak-anaknya juga sudah mandiri semuanya, juga seorang puteranya kini kembali bekerja untuk menggantikan ayahnya di bagian Peternakan SMA Seminari Lalian.

Para karyawan misi Katolik adalah pekerja yang ulet, cekatan dan kemampuan otodidak yang luar biasa. Mereka tidak pernah menuntut untuk dibayar sesuai standard nasional. Selama masa Hindia Belanda, mereka tetap bekerja sama dengan para misionaris Eropa, kemudian setelah kemerdekaan Indonesia, mereka bekerja sama dengan para biarawan/i dan imam sebangsa.

Kebanyakan dari antara mereka tidak dibayar sesuai regulasi nasional tentang upah yang layak namun cukup dibayar seadanya saja, itu sudah cukup, yang terpenting bahwa mereka bisa selain bekerja bersama kaum misionaris Katolik, mereka juga dapat belajar dan hidup sesuai dengan iman Katolik. Tak dapat dipungkiri bahwa jasa para karyawan/i misi Katolik itu memang sungguh besar.

Sejak kedatangan para misionaris Eropa hingga kini, keberadaan mereka sangat disyukuri oleh teladan kerja keras, ketekunan dan juga kesederhanaan yang telah ditampakkan dan keuletan luar biasa yang telah diperlihatkan.

Para biarawan SVD Eropa di Nusa Tenggara juga telah sungguh menyadari sumbangsih luar biasa dari para karyawan/i misi gereja Katolik sejak dahulu hingga kini.

Dalam sejarahnya, ketika Alm. Br. Fransiskus Bakker, SVD diberitahu oleh Tahta Suci Vatikan untuk menerima Bintang Kepausan Pro Ecclesia et Patria pada masa Hindia Belanda karena jasa-jasanya membangun gereja di Nusa Tenggara, ketika itu Br. Fransiskus Bakker, SVD menolak dengan tegas. Sebagai gantinya, Br. Fransiskus Bakker, SVD mengusulkan kepada Sri Paus di Vatikan ketika itu untuk menganugerahkan penghargaan itu saja kepada 3 pembangun Nusa Tenggara terbaik pilihan Br. Fransiskus Bakker, SVD sendiri untuk menerima Bintang Kepausan Pro Ecclesia et Patria.

Jadilah kepada ketiga tukang pribumi Hindia Belanda, Sri Paus di Vatikan berkenan telah menganugerahkan Bintang Kepausan Pro Ecclesia et Patria atas jasa mereka bekerja selama bertahun-tahun bersama Br. Fransiskus Bakker, SVD untuk membangun gedung-gedung gereja dan biara, serta pastoran di Nusa Tenggara. Keuletan, kerja keras, ketekunan dan kesederhanaan yang luar biasa telah ditunjukkan putera-putera Indonesia pada zaman Hindia Belanda.

Penganugerahan Bintang Vatikan itu terjadi hanya beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka. Jadi kenyataan itu merupakan salah satu tanda bahwa tak lama lagi Indonesia akan merdeka.

Memang akhirnya telah terjadi bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Bung Karno sendiri juga merupakan seorang Insinyur pembangun.

Penganugerahan Bintang Vatikan merupakan salah satu bukti bahwa para karyawan/i Katolik di Nusa Tenggara telah bekerja keras dan kini generasi mereka berhak untuk hidup dalam alam kebebasan. Rupanya mereka juga bagaikan benih yang ditaburkan dan menghasilkan ratusan jutaan buah yang bagus dan bersinar bagi Gereja universal.

Sumber: berdasarkan pengalaman pribadi sebagai Seminaris (1990-1994) dan frater biarawan SVD yang tinggal dalam biara SVD dari tahun 1994-1998. Selanjut saya menyelesaikan pendidikan di STFK Ledalero-Flores tahun 2002.