Cerpen

Seyummu atas Keberhasilanku Merupakan Kesuksesanku Sesungguhnya

8 Desember 2017   09:02 Diperbarui: 8 Desember 2017   09:39 466 0 0

Setiap orang memiliki keinginan agar dapat menjalani hidup sesuai yang diinginkan,melakukan hal-hal yang di nikmati, dan dikelilingi oleh orang-orang disenangi atau dihormati. Definisi tersebut bisa di ganti dengan kata sukses. Tetapi definisi sukses setiap orang itu biasanya berbeda-beda. Begitu pula dengan saya, ketika saya berada di Sekolah dasar saya selalu mempunyai cita-cita harus mendapatkan rangking 3 besar dan kesuksesan itu saya peroleh ketika saya duduk di kelas 3 ,pada saat itu saya mendapatkan rangking 2 saya benar-benar sangat bahagia, ingin rasanya cepat sampai di rumah dan memberitaukan kabar itu kepada ayah dan ibu. Ketika sampai dirumah ibu menyambutku dengan senyuman dan menanyakan saya mendapat rangking berapa, dengan bangga saya menjawab "saya mendapat rangking 2 buk". 

Ibu terlihat bahagia sekali sambil memeluk dan menciumku. Berbeda dengan ayahku beliau tampak biasa saja tanpa kagum sedikitpun kepadaku. Beliau hanya berkata "kalu bisa ya rangking 1" . Disitu perasaan saya agak kecewa kenapa ayah tidak sedikitpun bangga kepadaku. Saya semakin giat belajar agar saya bisa membuat ayah bangga, tetapi peringkat saya tidak meningkat tetapi malah menurun hanya masuk rangking 5 besar.

Sampai saya memasuki jenjang SMP ( Sekolah Menengah Pertama) disini saya berjanji harus lebih giat belajar agar ayah bangga kepada ku. Dan pada akhirnya hasil tidak pernah menghianati usaha. Allhamdulilah saya mendapat rangking 3 besar terus selama 3 tahun itu. Dan saya juga pernah menjadi ketua OSIS selama 1 periode sampai mewakili sekolah ketingkat provinsi. Tetapi hal itu juga belum membuat ayah bangga, dan setiap kali saya mendapat peringkat ekspresi ayah selalu biasa saja tidak pernah puas akan hasil saya. 

Setelah lulus saya melanjutkan ke SMA. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh sekitar 10 km, nah disini saya sudah mulai dewasa persaingan belajar pun juga sudah semakin sulit tetapi dalam prinsip saya sebelum masuk sekolah saya yakin bisa mendapatkan rangking 3 besar dan fokus untuk membuat ayah dan ibu bangga.setelah berjalan 1 semester saatnya menunggu hasil, untuk pengambilan rapot di ambil langsung oleh orang tua murid. Ketika ibu keluar dari kelas saya penuh harap dengan rangking saya yang sangat baik. tetapi apa yang terjadi ? 

Perkiraan saya meleset jauh jangankan mendapatkan rangking 3 besar masuk ke 10 besar saja tidak. Saya mendapat peringkat 12, dan disitu saya kaget dan benar- benar tidak percaya. Saya menangis tetapi ibuk selalu menjadi malaikatku yang selalu memotivasiku saat aku benar- benar terpuruk,beliau memelukku sambil berkata "tidak apa-apa besok lebih di tingkatkan lagi ya nak,tetap semangat" . Walaupun lebih tenang tetapi pikiran saya masih terselimuti rasa takut karena membuat ayah kecewa dan marah. 

Saya pulang dengan perasaan yang kacau dan sesampainya dirumah ayah sudah menunggu dikursi dengan pertanyaan yang saya takutkan yaitu " rangking berapa nak?" dengan rasa takut saya menjawab "12 yah" dan seketika itu ayah memarahiku yang katanya saya malas belajar dan main terus. Dan di situ saya hanya bisa menangis, dan berkata didalam hati " saya harus bisa lebih baik lagi".

Setelah itu saya lebih semangat dan saya mengikuti kejuaran 02SN pencak silat seni putri tingkat kabupaten. Selama mengikuti kejuaraan tersebut saya mendapat 2 kali juara 2 dan dapat melanjutkan ketingkat provinsi. Setelah mendapatkan juara dan mendapatkan uang tidak banyak sih tapi saya mau hasil ini saya berikan kepada ayah dan ibu. Tak hanya itu peringkat saya juga mulai meningkat ya walupun hanya masuk 10 besar. 

Setelah wisuda kelas XII ayah dan ibu datang untuk menghadiri wisuda anaknya, disitu ada sesi dimana setiap murid di panggil Nama,putri dari, dan prestasi yang pernah diraih selama berada di SMA. Disitu saatnya ayah dan ibu melihat prestasi-prestasi yang saya raih selama di SMA dan mereka senyum lebar dan terlihat bahagia sekali , dan saya benar-benar bersyukur dan berdoa " Ya Allah biarkanlah senyum itu Selalu terukir diwajah mereka, Amin".

Setelah saya lulus SMA saya melanjutkan cita-cita saya yang harus saya capai yaitu terus belajar dan selalu bisa membaggakan kedua orangtua saya. Pada saat saya ingin menentukan universitas yang saya inginkan terjadi selisih paham antara saya dan ayah. Saya ingin kuliah di salah satu universitas di Yogyakarta tetapi ayah tidak sependapat dengan saya, beliau ingin saya kuliah di Jambi saja. Karena di agar dekat dengan rumah, karena saya tahu sebenarnya ayah berat membiarkan saya pergi jauh dari rumah dan jauh dari orang tua. Karena walaupun ayah yang selalu cuek tetapi sebenarnya beliau sangat sayang dan selalu memberikan apa yang saya inginkan,selalu menepati janji-janjinya dan tidak pernah mengingkari. 

Dan pada akhirnya ayah menyetujui jika saya kuliah di Jogja, mungkin ibu memberi pengertian kepada ayah sehingga ayah setuju dengan keputusan saya. Sampai saya mau berangkat ke Jogja semua keluarga besar berkumpul dirumah, disitu pesaran saya sangat sedih saya harus jauh dari mereka. Ketika berpamitan air mata itu sudah tidak bisa terbendung lagi semuanya menangis sampai ayah yang merupakan sosok terkuat yang pernah kutemui pun juga meneteskan air mata, setiap kali besalaman dan berpelukan ke anggota semua keluarga mereka sambil menangis dan berkata " sekolah yang bener ya nak,jangan pernah mengecewakan kami, do'a kami menyertaimu" . 

Aku benar-benar bersyukur telah diberikan orang-orang yang begitu sayang kepadaku. Dan saya berjanji akan meraih cita-cita saya agar dapat membanggakan mereka dan menjadi contoh bagi adik dan keponakan-keponakan saya.

Hari itu hari pertama saya kuliah dan hari pertama saya menjadi seorang mahasiswi.dan dihari itu pula saya berjanji akan selalu membanggakan orang-orang yang sayang kepada saya dan khususnya untuk ayah dan ibu. Di semester pertama alhamdulilah saya memperoleh IPK yang lumayan, tetapi dengan IPK segitu pun ayah juga belum bangga kepadaku dan saya tetap semangat karna ibu pernah bilang "sebenarnya ayah itu bangga kepadamu, hanya saja dia tidak mau memperlihatkan hal itu kepadamu, karna ayah tidak mau kalau kamu sampai terlena akan keberhasilanmu dan menyepelekannya". Dan mulai saat itu saya tidak terlalu kecewa dengan perkataan ayah yang tidak pernah puas dengan hasil saya. 

Justru saya menjadikan kata-kata itu sebagi motivasi agar saya bisa lebih baik lagi. Tidak sampai disitu saya terus berusaha bagaimana membuat ayah bangga, sampai saya kembali mengikuti kejuaraan pencak silat seni putri yaitu Yogyakarta Champhionship 2. Ayah benar- benar mendukung agar saya mengikuti kejuarann tersebut dan kali ini beliau berbeda,beliau meberikan motivasi yang membuat saya benar-benar semangat "kamu tidak perlu memikirkan kalah atau menang nak, yang penting kamu berani dulu". Karena pada saat itu saya minder sebab kejuaraan yang saya ikuti saat itu tingkat nasional.

Sampai saya mengikuti kejuaraan tersebut ayah dan ibu tidak berhenti memberikan semangat, dan setelah menunggu pengumuman kejuaraan, ternyata saya tidak mendapatkan juara tersebut. Kecewa itu pasti, bagimana saya menyampaikan hal ini kepada ayah dan ibu.tapi mau tidak mau harus saya sampaikan. Tetapi mereka tidak kecewa justru mereka bangga dan ayah berkata " tidak apa- apa nak, kamu sudah hebat, kamu sudah berhasil melawan ketakutanmu jadikan ini pengalaman agar kedepannya kamu bisa lebih baik lagi". Kata-kata itu yang membuat hatiku seketika nyaman dan tenang. 

Ya allah terimakasih engkau telah memberikan sosok orang tua yang sempurna kepadaku. Memberikan sosok ayah sebagai pahlawan dan panutanku dan sosok seorang ibu yang seperti malaikat penghangatku. Aku selalu berdoa ya Allah selalu berikanlah kebahagiaan kepada mereka. Sebelum saya benar-benar bisa membuat mereka bahagia, saya hanya ingin membalas semua pengorbannan dan kasih sayang mereka semampu saya walaupun tidak mungkin terbalaskan semuanya. walaupun kita belum pernah membuat orangtua kita bangga atau bahagia setidaknya jangan pernah membuat mereka kecewa. Jadi kesuksesan saya yang sesungguhnya adalah senyum ayah dan ibu atas keberhasilanku.