Mohon tunggu...
Agung Setiawan
Agung Setiawan Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Pribadi yang ingin memaknai hidup dan membagikannya. http://fransalchemist.com/ | @fransalchemist | fransalchemist@gmail.com "To love another person, is to see the face of God."

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Basilica del Santo Nino: Simbol Katolisitas dan Harapan Warga Filipina

12 Juni 2017   10:34 Diperbarui: 5 Maret 2020   17:31 1460 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Basilica del Santo Nino: Simbol Katolisitas dan Harapan Warga Filipina
Basilica Santo Nino yang ramai dikunjungi peziarah lokal maupun mancanegara

Matahari terasa begitu terik. Debu beramburan disapu kendaraan melintas. Pejalan kaki semakin tersingkir, kepanasan dan menghirup berbagai polusi. Aroma kota pelabuhan semakin kental dengan kehadiran truk kontainer yang menjejal di jalanan yang padat. "Serasa di Tanjung Priok ya," gumamku dalam hati.

Tapi ini bukan Priok, bukan pula di Indonesia. Ini adalah Cebu, sebuah kota di Filipina. Negara tetangga yang secara topografi memang tidak jauh berbeda dengan tanah air. Tantangan alam tersebut harus dilalui untuk mengunjungi destinasi wajib di Cebu. Tiap orang yang saya tanya, ada apa di Cebu, jawabannya sama,"Basilica del Santo Nino!"

Kami, tentu masih bersama Sari, tidak memilih jalan mudah untuk pergi ke sana. Kami berangkat dari Mactan, pulau kecil di selatan Cebu, dengan menggunakan Jeepney, angkutan umum khas Filipina. (Baca: Jeepney, Angkot Filipina yang Bebas dari Asap Rokok)

Tidak ada Jeepney yang langsung ke Basilica. Dari sekian banyak Jeepney yang lewat di depan hotel, kami harus memilih Jeepney yang tujuan akhirnya di Park Mall, Cebu. Ini seperti terminal yang terintegrasi dengan sebuah pusat perbelanjaan. Perjalanan dilanjutkan dengan Jeepney yang mengarah ke Basilica. Saya katakan mengarah karena tidak melewati Basilica. Kami harus jalan kita-kira 500 meter.

Perjalanan dengan Jeepney inilah yang membuat kami merasakan betapa panasnya Cebu. Terlebih, Jeepney tidak mempunyai jendela, sehingga aroma pelabuhan sungguh melekat. Baik itu melalui hidung maupun kulit yang merasakan pekatnya kadar garam yang menempel.

Turun dari Jeepney, kaki langsung melangkah dengan cepat dan kepala agak menunduk untuk menghindari panas. Namun sesaat langkah terhenti tatkala melihat seorang bapak di depan saya berhenti, menghadap ke arah dalam dan membuat tanda salib. Saat itulah saya menyadari bahwa saya berada di depan Gereja Cebu Metropolitan Cathedral atau juga disebut The Metropolitan Cathedral of the Holy Angels and of St. Vitales. Tidak heran, negara ini dikenal dengan penganut Katolik yang taat. Tidak sampai 5 menit kemudian kami sampai di pelataran Basilica del Santo Nino.

Hari itu, Jumat 7 April 2017, Basilica tampak ramai sekali. Tidak lama kemudian, kami baru menyadari akan ada perayaan ekaristi. Dirundung rasa tidak tahu dan penasaran, kami ikut saja gerakan sebagian besar orang. Belakangan kami tahu, ini adalah ekaristi Jumat Pertama. Misa tampak seperti biasa. Yang menjadi pemandangan tidak biasa, selepas misa, ratusan orang ngantre untuk mendapatkan percikan air dari petugas. Air yang didapat, dipakai untuk membasuh muka sembari berharap mendapat berkat dari Yang Mahakuasa.

Basilica del Santo Nino
Di tempat saya berdiri saat ekaristi, adalah pelataran. Di sinilah tempat menyelenggarakan ekaristi pada perayaan besar sehingga bisa menampung banyak umat. Sisi altar adalah sebuah gedung bertuliskan Santo Nino: Source of Communion, Protector of Creation. Gedung yang terkesan baru itu terdapat 2 pantung Santo Nino atau sering kita dengar sebagai patung Kanak-kanak Yesus.Nama Santo Nino yang terkesan Spanyol itu baru "nyambung" dengan gedung di belakang saya. Inilah Basilica del Santo Nino, sebuah gedung gereja megah bergaya Spanyol. Di dalam gereja inilah, tersimpan Patung Santo Nino yang dibawa oleh Ferdinand Magellan, orang Spanyol yang mengawali sejarah kekatolikan di Filipina.

Jejak misonaris di Cebu diawali dengan kisah petualangan pelaut Spanyol bernama Ferdinand Magellan. Dalam sebuah ekspedisi, yang dikenal dengan Ekspedisi Loaisa, ia ingin menjelajah Samudra Pasifik guna menemukan pulau bernama Spice Island. Sejarah mencatat, pada 7 April 1521 Magellan tidak mendarat di Spice Island, tetapi di Cebu.

Walau tidak mendapatkan pulau yang mereka tuju, dikatakan bahwa Magellan tidak merasa kecewa. Lantaran, sambutan penduduk terhadap Magellan dan rombongan sangat ramah. Pemukiman pelabuhan yang terdiri dari sejumlah desa nelayan itu dipimpin oleh seorang chieftain, Rajah Humabon dan istrinya bernama Ratu Juana.

Hubungan antara Magellan dan Raja sangat baik. Tidak hanya dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran agama. Raja dan Ratu menerima baik agama Katolik yang diperkenalkan Magellan. Salah satu tandanya adalah Magellan menancapkan sebuah salib kayu yang besar di tanah Cebu, tidak lama sejak kedatangannya pada 14 April 1521. Salib tersebut masih ada sampai sekarang dan tersimpan di sebuah bangunan kecil, di sebelah gedung Basilica. Salib ini dikenal denga sebutan Magellan's Cross. Dalam konteks yang berbeda, Magellan's Cross bisa diartikan sebagai awal dari mulainya kolonialisasi Spanyol atas Filipina.

Magellan's Cross yang masih ada sampai sekarang, terletak di dekat Basilica Santo Nino
Magellan's Cross yang masih ada sampai sekarang, terletak di dekat Basilica Santo Nino
Kemudian, puncak dari katolisitas di Cebu adalah pembaptisan serentak 800 orang termasuk raja dan ratu. Bahkan, Magellan memberikan hadiah kepada Ratu sebuah patung Kanak-kanak Yesus, yang sampai saat ini dikenal dengan sebutan Santo Nino.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN