Dosen dan Presiden: Surat Bernilai yang Pasti Tak Terjawab

29 Februari 2012   03:06 Diperbarui: 25 Juni 2015   08:46 240 0 0

Seorang dosen di sebuah universitas ternama membuat artikel berjudul " Surat untuk Presiden".  Artikel tersebut dimuat diharian ternama Indonesia (kompas, 23 Februari 2012). Tulisan sang dosen sarat makna, mengunakan kata, kalimat yang mudah di cerna.


Nama dosen itu Acep Iwan Saidi, dosen ITB sekaligus ketua Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB, karena pak dosen juga seorang budayawan maka tulisan ia, sarat nilai Budaya. Pak iwan, sebagai pemilih presiden SBY pada tahun 2004, menurutnya memilih SBY sebagai presiden,tidak dengan sembarangan,tetapi melalui sebuah riset kecil-kecilan sebelum memilihnya. Seperti yang ditulisnya di kompas,pilihannya jatuh ke SBY, karena pada waktu itu sosok SBY mengingatkannya pada sosok Arok dalam roman Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Sosok Arok tidak hanya pembangun ajaran tetapi juga pembangun negeri. Didalamnya diri Arok terjelma gambaran tritunggal Brahma,Syiwa dan Wisynu yang memiliki kesaktian yang sangat dasyat. Inilah imajinasi sang dosen pada sososk SBY.


Namun dalam perjalanannya imajinasi pak dosen, tentang sosok Arok di jiwa presiden SBY sirna perlahan-lahan. Menurut mata batinnya, gambaran tritunggal (Brahma,syiwa dan Wisynu) sirna dalam diri presiden. Tidak ada sorot mata Sudra, sikap Satria dan esensi Brahmana di dalam diri SBY. Menurutnya hilanngya tritunggal didalam diri presiden, karena presiden terhisap gravitasi kekuasaan dan ia tidak mampu menaklukannya,sehingga kekuasaanya dikepung para bandit yang mengkorup kekayaan negara. Akibatnya presiden terlihat lemah didalam pemberantasan korupsi, walaupun ia memasang badan di barisan depan sebagai pendekar pembunuh koruptor.


Walaupun imajinasi pak dosen terhadap presiden perlahan terus  memupus, tetapi di akhir tulisannya ia tetap berharap kepada  presidennya, kutipannya: "Saya seorang dosen,Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang indonesia yang lebih baik di masa depan. jadi, tolong saya,Pak Presiden,tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi,apalagi dusta. Maka,jawablah permohonan ini dengan sebauah tindakan:bahwa besok pagi,saat fajar tuntas memintal malam,anada akan menjadi presiden yang revolusioner.Atas apa pun yang bernama kuasa,jadikanlah diri anda arok,sang pembangun itu!



Apa yang disampaikan dosen tersebut tentu menjadi harapan semua rakyat indonesia akan presidennya.
Banyak sudah orang yang berharap sama dengan dosen tersebut. Mereka menyampaikan harapan tersebut apakah melalui omongan maupun tulisan. Mereka itu ada disemua lapisan masyarakat, apakah itu orang kecil, akademisi,pers, tokoh pemuda,tokoh parpol maupun tokoh agama. Semua sudah bersuara, termasuk penulis sendiri yang pernah menulis di media ini ketika pertama kali presiden terpilih tahun 2009. Bedanya dengan  tulisan Pak dosen kita adalah, ia mampu menulis artikel tersebut, dengan memasukan  nilai budaya secara baik kedalam harapannya. Namun  apakah harapan ini akan terjawab dalam tindakan?. Rasanya sulit, apalagi mengharapkan presiden SBY menjadi presiden yang revolusioner, seperti Sukarno misalnya.

Mengikuti perjalanan kepemimpinan presiden SBY selama 8 tahun, membuka potret dirinya yang baik dan santun,tetapi minus ketegasan dan keberanian. Perilaku kepemimpinan SBY terus membuka kesempatan masyarakat untuk menilainya peragu. Kalau hasil survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey menunjukan kerinduan hadirnya pemimpin yang tegas dan berani didalam masyarakat, tentu karena masyarakat merasa tidak mendapatkan hal tersebut selama kepemimpinan presiden SBY. Beberapa kali terlihat,presiden mengambil sebuah keputusan bukan karena inisiatifnya,tetapi karena media ramai memberitakan  dan masyarakat terus mendesak presiden untuk untuk mengambil langkah yang cepat,tegas dan berani untuk menyikapi suatu masalah yang berkembang didalam masyarakat. Masyarakat tentu, bisa menduga-duga bahwa presiden, mengharapkan waktulah yang menyelesaikan masalah tersebut,sehingga terhindar dari resiko politik yang mungkin membelitnya. Sebuah pertanyaan mengelayut, apa yang dilakukan oleh presiden seandainya media dan masyarakat tidak menyorotinya?. Dalam kasus-kasus korupsi, pelanggran HAM terkait pertambangan, kasus-kasus TKI diluar negeri, kebebasan beribadah, ormas-ormas yang anarkis, premanisme dimasyarakat, rakyat tentu sangat mengarapkan ketegasan dan keberanian presiden dalam bertindak, bukan sekedar berwacana.


Seandainya kita membagi, kemampuan orang didalam memimpin sebuah organisasi pada 3 katagori yaitu manejer yang buruk,manejer yang  baik dan seorang pemimpin, bagi saya perilaku kepemimpinan SBY berada ditaraf kedua, manejer  yang baik. Manejer yang buruk, tidak mampu mengelola organisasi, sehingga organisasi yang dipimpinnya terperosok keberbagai masalah. Ia tidak mampu mempertahankan sistem yang telah ada, malah merusaknya menjadi lebih buruk. Manajer yang baik, mampu mengelola sistem yang ada untuk tetap berlangsung,tetapi tidak mampu merubahnya menjadi lebih baik. Sedangkan seorang pemimpin, tidak saja mampu mempertahankan sistem,tetapi juga mampu untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Manejer yang baik,tampaknya hanya pas, diorganisasi yang sehat, yang tidak mengalami gonjang-ganjing berbagai masalah. Karena tindakan kepemimpinannya, cenderung berdasarkan aturan,proses ,sistem yang telah ada,tanpa berani melakukan terobosan yang berarti. Organisasi tetap berjalan,tetapi tertutup menuju yang terbaik.


Indonesia,walaupun tidak dalam kondisi yang krisis,tetapi  bukanlah sebuah organisasi yang sehat, begitu banyak masalah yang dihadapi negeri ini utamanya korupsi,keadilan dan kemiskinan,maka yang dibutuhkannya bukan sekedar manajer yang baik,tetapi seorang pemimpin. Seorang pemimpin mampu melakukan perubahan. Ia bervisi, memotivasi,menginspirasi  juga tegas dan berani.


Sebagai rakyat Indonesia, kita tampaknya sulit mengharapkan SBY menjadi seorang  pemimpin yang revolusioner seperti harapan Pak dosen,memaksa-maksa ia berubah pun sangat sulit.Itulah pribadinya.Walaupun sepucuk senjata ada diatas kepalanya dan meminta ia berubah menjadi tegas dan berani pun tidak akan terjadi.


Namun, apapun yang terjadi dimasa pemerintahan SBY, kita harus tetap bersyukur, karena ia minimal mampu menjadi manejer yang baik bagi bangsa ini. Tugas kita sekarang adalah mencari presiden yang juga seorang pemimpin.