Yudha P Sunandar
Yudha P Sunandar Traveller

Lahir, besar, dan tinggal di Bandung. Senang mendengarkan cerita dan menuliskannya. Ngeblog di yudhaps.org.

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight

Apau Kayan, Denyut Peradaban Sungai di Halaman Terdepan Indonesia

20 Maret 2017   16:12 Diperbarui: 21 Maret 2017   00:53 172 3 2
Apau Kayan, Denyut Peradaban Sungai di Halaman Terdepan Indonesia
Pesawat Cessna Caravan milik Susi Air seperti ini yang membawa saya dari Malinau Kota menuju Bandara Long Ampung, Kayan Selatan. (Foto: Yudha PS)

Tidur lelap saya tiba-tiba terganggu oleh telinga kanan yang mulai kesakitan. Ketika memutuskan untuk membuka mata, pesawat Cessna Caravan yang saya tumpangi mulai turun dengan cepat. Di bawah sana, deretan pepohonan dan rumah penduduk mulai terlihat lebih jelas. Di monitor, ketinggian pesawat sudah mencapai 5 ribu kaki, dan terus turun hingga 3.100 kaki.

“Kencangkan sabuk pengaman,” teriak co-pilot sambil menoleh kepada penumpang di belakangnya. Di sebelahnya, pilot mengatur kecepatan pesawat sembari membelokkannya hingga sejajar dengan landasan bandara Long Ampung. Angin yang berhembus kencang membuat pilot harus memainkan kemudi lebih lihai. Setelah perjuangan yang keras tersebut, akhirnya pesawat berhasil mendarat.

“Banyak angin yah hari ini,” ungkap pilot bule tersebut kepada penumpang di belakangnya dalam Bahasa Indonesia. Saya hanya tersenyum lebar tanda puas dengan tontonan dramatis pendaratan pesawat tersebut.

“Terima kasih, Capt,” pamit saya yang dijawab oleh sang pilot dengan acungan jempol.


Tujuan perjalanan kali ini adalah Desa Long Nawang. Desa ini terletak sekitar 250 Kilometer dari Malinau Kota, Ibu Kota Kabupaten Malinau. Untuk menuju desa tersebut, saya harus menempuh perjalanan udara selama sekitar satu jam dari bandara yang terletak di Desa Long Ampung. Desa Long Nawang sendiri berjarak sekitar 20 Kilometer dari tempat saya mendarat.

Menginjakkan kaki di bandara Long Ampung sebenarnya tidak membuat saya lega sama sekali. Sebaliknya, saya justru merasa bingung. Pasalnya, orang-orang Long Nawang yang saya kenal sedang berada di Malinau. Mereka baru akan kembali selang beberapa hari setelah saya tiba di Long Ampung. Alasannya sederhana: pesanan pesawat sedang penuh.

Kabupaten Malinau sendiri merupakan salah satu daerah di Kalimantan Utara dengan wilayah berupa perbukitan dan rimba hutan hujan tropis. Kabupaten seluas Jawa Barat ini memiliki desa dan kecamatan yang tersebar dari ujung utara hingga ujung selatan Malinau. Sayangnya, jalan kabupaten yang menghubungkan antar desa dan kecamatan ini masih belum bagus. Umumnya, jalanannya masih berupa tanah berlumpur dengan kontur yang berkelak-kelok serta naik dan turun.

Tidak semua kendaraan bisa melalui jalanan ini. Umumnya, hanya kendaraan besar dan gardan-ganda saja yang mampu menembus jalanan tanah berlumpur. Itu pun dengan ancaman kendaraan akan terjebak di lumpur, terbalik, dan yang paling naas adalah masuk jurang. Kondisi ini membuat waktu tempuh ke desa-desa tersebut menjadi sangat lama.

Sebagai contoh, menuju Desa Long Nawang melalui jalur darat membutuhkan waktu sekitar tiga hari sampai satu pekan, tergantung cuaca dan kondisi jalan. Titik pemberangkatannya pun bukan dari Malinau Kota sebagai Ibu Kota Kabupaten Malinau, melainkan dari Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur. Jalan ke sana pun bisa dipastikan penuh dengan lika-liku dan kontur yang naik turun. Kondisi sebagian besar jalan, sudah pasti masih berupa tanah, berlumpur, dan berlubang besar.

Selain jalur darat, ada juga jalur sungai. Jalur ini sebenarnya penuh dengan resiko. Pasalnya, perahu harus melewati jeram dengan waktu tempuh mencapai beberapa hari. Setelah jalur darat dan udara ramai digunakan, jalur sungai ini sudah tidak lagi digunakan oleh masyarakat Long Nawang.

Melihat kondisi ini, wajar saja bila masyarakat di Malinau sangat tergantung dengan transportasi udara. Saking membutuhkannya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dan Pemerintah Kabupaten Malinau sampai menggelontorkan subsidi untuk transportasi udara ini. Jumlah subsidinya pun cukup besar, sekitar 4 kali harga tiket yang dibayarkan penumpang.

Pesawat yang digunakan pun termasuk kecil, yaitu berjenis Cessna Caravan. Pesawat ini hanya mampu mengangkut 12 penumpang. Ke Long Ampung sendiri, pihak maskapai hanya menyediakan tiga jurusan penerbangan, yaitu: Tanjung Selor - Long Ampung, Malinau - Long Ampung, dan Samarinda - Long Ampung.

Meskipun demikian, pihak maskapai hanya melayani penerbangan satu hingga dua kali sehari. Itu pun tergantung kondisi cuaca. Umumnya, bulan Desember setiap tahunnya, pihak maskapai sangat sedikit melakukan penerbangan ke wilayah pedalaman. Sebabnya adalah cuaca ekstrim dan tidak menentu yang cukup berbahaya bagi penerbangan pesawat kecil.

Seperti ketika saya hendak pulang ke Malinau melalui Bandara Long Ampung. Saat itu, langit sudah mendung dan pesawat juga belum kunjung datang. Ketika hujan mulai turun dengan derasnya, pesawat tampak berputar-putar di langit sebelah utara bandara. Karena kondisi cuaca semakin buruk, pesawat memutuskan untuk kembali ke Malinau dan mengurungkan niat untuk mendarat.

Padahal, Desember sendiri merupakan puncak mobilitas masyarakat Malinau ke desa-desa. Mereka umumnya pulang kampung untuk merayakan natal bersama keluarga. Tidak heran, kondisi ini membuat seseorang harus memesan pesawat jauh-jauh hari untuk mendapatkan penerbangan pada bulan Desember setiap tahunnya.

Bila seseorang harus mendadak pergi ke luar Long Ampung, mereka umumnya menunggu di bandara. Bahkan, tidak jarang mereka rela menginap beberapa hari hanya untuk mendapatkan penerbangan. Harapannya sederhana, ada calon penumpang yang membatalkan keberangkatan, sehingga bisa digantikan oleh mereka.

Hal ini juga sempat saya alami ketika hendak menuju Malinau. Saya harus menunggu di Bandara Long Ampung hingga tiga hari lamanya. Beruntung, masyarakat desa merupakan orang-orang yang ramah. Hal ini membuat saya mendapatkan tempat menginap selama dua malam, meskipun hanya sekadarnya saja.

***

Sembari menunggu bagasi, saya membuka ponsel saya dan menunggu sinyal terhubung. Lama menunggu, tapi telepon yang berisi kartu Telkomsel saya tidak juga mendapatkan sinyal. Padahal, saya harus menghubungi seseorang yang tengah berada di Long nawang. “Sudah beberapa hari tower mati, pak. Jadi tidak ada satu pun yang bisa menggunakan telepon selulernya,” jawab orang lokal yang saya tanyai perihal sinyal.

Pantas saja banyak orang yang mengira bahwa saya teknisi jaringan telepon seluler ketika saya mengaku berasal dari Jakarta. Pasalnya, mereka menunggu seorang teknisi untuk memperbaiki jaringan telekomunikasi seluler di Long Ampung. Selain itu, orang juga mengira bahwa saya teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pasalnya, PLTS yang ada di Long Nawang belum juga berfungsi. Padahal, PLTS tersebut sudah selesai dirakit. Hanya saja, listriknya tidak kunjung disalurkan ke rumah warga.

Tanpa pikir panjang, saya akhirnya memutuskan untuk menaiki mobil yang hendak menuju ke Long Nawang. Saat itu, hanya ada satu mobil yang tersedia. Sedangkan penumpang yang hendak pergi ke Long Nawang berjumlah 12 orang. Karena tidak muat, sebagian penumpang memilih untuk menginap di sanak saudaranya di Long Ampung.

Saya sendiri mencoba peruntungan dengan langsung meminta supir untuk mengangkut saya ke Long Nawang. “Di bak belakang tidak apa-apa, yah?” jawabnya yang langsung saya respon dengan anggukan kepala. Bersama saya, ada dua orang penumpang lainnya di belakang. Kami mencoba berdiri di antara barang-barang penumpang lainnya yang bertumpukan memenuhi bak belakang.

Transportasi dari Long Ampung menuju Long Nawang harus menggunakan mobil gardan-ganda. Agar bisa mengangkut banyak penumpang dan barang, umumnya mobil yang digunakan memiliki kabin-ganda. Mobil jenis ini mempertimbangkan jalanan menuju Long Ampung yang masih berupa tanah dan masih dalam tahap pengerasan. Di beberapa bagian, ada jalanan yang gagal dikeraskan karena batuan tergerus air. Bagian ini umumnya berupa tanah berlumpur yang licin.

Beruntung, siang itu Long Nawang dan Long Ampung sedang cerah tanpa guyuran hujan. Jalanan berupa tanah yang harus kami lewati tidak begitu mengganggu. Di beberapa bagian, mobil sempat selip. Namun, kelihaian sang pengemudi berhasil melalui segala rintangan yang kami hadapi di antara Long Ampung dan Long Nawang.

Saya dan dua orang lainnya di belakang harus memegang erat-erat batangan besi di bagian bak belakang mobil. Pasalnya, mobil berguncang sangat keras ketika melalui lubang dan jalanan tanah. Belum lagi bila jalanan tanah berada di jalur menanjak dan turun. Salah berpegangan, kami bisa jatuh ke bawah. Minimal, bagian perut dan pinggang terbentur keras ke badan mobil.

Setibanya di Long Nawang, tangan dan kaki saya langsung lemas dan gemetaran. Pasalnya, berpegangan erat ke badan mobil kemudian diguncang hebat selama satu jam bukan hal yang ringan. Terlebih lagi, saya memang jarang olah raga akhir-akhir ini, sehingga membuat otot-otot menjadi lemas dan gampang lelah.

Long Nawang sendiri merupakan desa yang menjadi Ibu Kota Kecamatan Kayan Hulu, Malinau, Kalimantan Utara. Desa ini jaraknya hanya dua jam menggunakan jalur darat dari perbatasan Indonesia-Malaysia. Di desa ini juga terdapat kantor Kecamatan Kayan Hulu, markas Polsek Kayan Hulu, dan markas Koramil Kayan Hulu.

Infrastruktur di Desa Long Nawang terbilang maju untuk ukuran desa pedalaman. Salah satunya adalah listrik yang sudah menyala selama 12 jam pada malam hari. Saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah membuat PLTS dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Long Nawang. Diharapkan, keduanya mampu memenuhi kebutuhan listrik Desa Long Nawang selama 24 jam sehari.

Menara telepon seluler juga sudah berdiri di desa Long Nawang. Menara ini menggunakan energi dari solar panel pada siang hari dan genset berbahan bakar solar pada malam hari. Bila hari cukup mendung, sinyal telepon akan mati pada sore hari karena persediaan listrik tidak cukup untuk menyalakan tower selama 12 jam. Sedangkan pada malam hari, menara telepon seluler akan berfungsi selama persediaan solar masih ada. Bila solar habis, maka sinyal telepon pun mati.

Area pemukiman Long Nawang juga sudah tertata dengan rapih. Jalan-jalan dibuat lebar dan mampu memuat sekitar 4 mobil minibus. Selain itu, jalannya juga sudah beraspal. Jalan aspalnya sendiri masih sederhana, yaitu terbuat dari batu yang ditata dan diratakan kemudian diguyur aspal. Meskipun begitu, jalanan ini sudah cukup nyaman untuk dilalui mobil dan motor.

Ke depannya, Desa Long Nawang tengah bersiap untuk menjadi pusat Kabupaten Apau Kayan. Oleh karena itu, desa ini tengah memperluas dataran dan wilayah pemukimannya dengan mengikis perbukitan yang ada di wilayah barat desa. Aktivitas ini dilakukan menggunakan peralatan berat yang disewa menggunakan dana desa.

Apau Kayan sendiri merupakan nama sebuah kerajaan yang wilayahnya seluas bakal calon kabupaten Apau Kayan kini. Kata “Apau” sendiri berarti “bentangan luas di dataran tinggi” dalam bahasa setempat. Sedangkan “Kayan” merujuk kepada suku Kayan yang pernah mendiami tempat tersebut, jauh sebelum masyarakat desa-desa di Apau Kayan hadir.

Menurut seorang keturunan bangsawan di Long Nawang, Raja Apau Kayan mendapatkan mandat untuk memerintah dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Dalam sejarah, hanya ada satu Raja Apau Kayan, yaitu Lencau Ingan. Namanya tertulis di Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI yang terletak di pertigaan jalan di depan Kantor Kecamatan Kayan Hilir kini.

Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI merupakan tugu peringatan untuk mengenang 12 masyarakat Apau Kayan yang turut berjuang dengan pasukan Republik Indonesia untuk mengusir penjajah dari bumi Kalimantan. Kala itu, raja yang memerintah adalah Lencau Ingan, sehingga namanya turut ditorehkan dalam Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI.

Namun, penggunaan istilah “kerajaan” bagi Apau Kayan dengan istilah “raja” bagi Leuncau Ingan masih menuai kontra di sebagian kalangan Apau Kayan di luar Long Nawang. Pasalnya, pada 1945, Leuncau Ingan sendiri hanyalah ketua adat di Long Nawang. Di Apau Kayan sendiri, Leuncau Ingan merupakan ketua adat tertua kala itu, sehingga masyarakat Apau Kayan banyak menaruh hormat dan meminta pendapat kepadanya.

Polemik datang ketika Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI di Long Nawang mulai dibangun. Menurut seorang warga asal Desa Data Dian, tugu dibuat oleh pihak luar tanpa berkonsultasi dengan masyarakat Apau Kayan. Hasilnya, sang pembuat tugu menyematkan kata Raja di depan nama Apau Kayan dan Lencau Ingan. Hal ini membuat banyak orang menyimpulkan bahwa Leuncau Ingan merupakan Raja Apau Kayan pada 1945.


***

Pagi di Long Nawang merupakan godaan tersendiri bagi saya. Pasalnya, iklimnya yang sejuk membuat saya berat untuk membuka mata dan keluar dari kantung tidur saya yang hangat. Tidak jarang, saya meneruskan tidur hingga jam 9 pagi atau melamun sambil memandangi jendela dan menikmati dinginnya pagi di Long Nawang.

Long Nawang sendiri berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, hampir sama seperti Bandung. Hutan yang masih masuk dalam kategori rimba di sekeliling desa, membuat udara dan suhu di Long Nawang relatif lebih rendah dibandingkan Bandung. Tidak heran, bagi saya, Long Nawang merupakan tempat yang nyaman untuk tidur dan berhibernasi, bahkan sampai tidur sepanjang hari.


Masyarakat Long Nawang merupakan keturunan Dayak Kenyah. Seperti pada umumnya suku Dayak, masyarakat Long Nawang memiliki kulit putih, mata sipit, dan berambut lurus. Ciri-ciri fisik ini sangat mirip dengan orang-orang Tionghoa. Besar kemungkinan masyarakat Dayak memang migran dari Asia Timur pada masa lalu, sehingga memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama dengan orang-orang Tionghoa modern.

Adapun kata “Long” berarti “Percabangan dua sungai” dalam bahasa setempat. Sedangkan “Nawang” merupakan nama sungai yang bertemu dengan Sungai Kayan. Pertemuan kedua sungai tersebut tepat berada di wilayah Desa Long Nawang kini.

Masyarakat Long Nawang merupakan contoh masyarakat yang tinggal di pesisir sungai Kalimatan. Selain memanfaatkannya sebagai sarana transportasi, masyarakat jenis ini juga memanfaatkan sungai sebagai sumber kehidupan, khususnya dalam hal ketersediaan air bersih untuk minum dan ikan sebagai sumber protein hewani.

Karena tinggal di tengah-tengah hutan hujan tropis Kalimantan, masyarakat Long Nawang banyak memanfaatkan kayu untuk mendukung kehidupan mereka, termasuk bahan baku rumah. Hanya saja, masa pemakaian kayu untuk rumah ini maksimal 20 tahun. Selebihnya, idealnya pemilik harus merenovasi rumahnya dengan kayu-kayu baru.

Kondisi ini disebabkan oleh jenis kayu yang banyak tersedia di hutan sekitar Long Nawang berjenis Meranti. Di Bandung, kayu ini terkenal kuat dan memiliki kualitas prima, sekitar satu tingkat di bawah Kayu Jati. Namun, ketika kayu ini berhadapan dengan air dan tanah, Meranti akan keropos dan hancur.

Untuk bahan baku rumah, masyarakat Dayak di Kalimantan lebih menyukai jenis Kayu Ulin. Masyarakat Jawa umumnya mengenal kayu tersebut sebagai Kayu Besi. Pasalnya, kayu ini mampu bertahan di air dan tanah, bahkan hingga ratusan tahun lamanya. Sayangnya, di Long Nawang, harga Kayu Ulin per kubiknya sangat mahal, hingga mencapai 10 juta Rupiah. “Harganya bisa lebih mahal tujuh sampai delapan kali lipat dibandingkan harga Kayu Meranti,” ungkap Juni, tuan rumah tempat saya menginap, ketika bercerita tentang rumah di Long Nawang.

Meskipun demikian, masyarakat Long Nawang enggan memilih rumah beton. Pasalnya, harga semen di sini cukup mahal, yaitu sekitar 300 sampai 500 ribu Rupiah per sak. Harga ini hampir sepuluh kali lipat dibandingkan harga semen di Bandung yang hanya berkisar 60 ribu Rupiah per sak. Belum lagi, tukang bangunan beton lebih banyak berada di kota. Tentunya, menghadirkan tukang bangunan beton ke Long Nawang bisa menambah tinggi biaya pembuatan rumah.

Kehidupan masyarakat Long Nawang jauh dari kesan primitif dan terbelakang. Di sini, sebagian besar masyarakatnya sudah hidup secara modern. Mereka sudah hidup dengan peralatan listrik, seperti: lemari pendingin, mesin cuci, penanak nasi otomatis, pemanas air otomatis, televisi, dan komputer. Padahal, listrik baru menyala selama 12 jam dalam sehari.

Transportasi pun sudah tidak lagi meniti sungai dengan mendayung perahu. Mereka sudah menggunakan pesawat dan mobil untuk bepergian dari dan ke Long Nawang. Bila pun harus melewati sungai, itu pun sudah menggunakan perahu bermesin. Umumnya, perahu ini digunakan oleh nelayan untuk mencari ikan hingga ke hilir sungai.

Dari segi keyakinan, masyarakat Long Nawang umumnya memeluk Kristen Protestan. Bila pun ada yang masih memeluk keyakinan lokal, umumnya mereka ini adalah orang tua yang sudah lanjut usia. Jumlah mereka pun sudah sangat sedikit sekali, bahkan di wilayah Apau Kayan sekali pun.

Sebagai agama “pendatang”, Kristen di Long Nawang beralkulturasi dengan nilai-nilai tradisi Apau Kayan. Salah satunya tampak dalam tradisi terkait kematian dan pemakaman. Masyarakat Long Nawang masih menggunakan peti mati yang dipahat dari kayu besar, seperti pendahulu mereka. Di setiap makam juga dibuat rumah-rumah kecil dengan ornamen tradisi dayak. Adapun salib ditempatkan di bagian depan masing-masing rumah makam tersebut.

Ada satu hal yang unik dalam hal pemakaman ini. Bagi keturunan Long Nawang yang meninggal dan dimakamkan di tempat lain, masyarakat di sini membuatkan sebuah tugu besar di area pemakaman. Tugu yang terbuat dari kayu ini berbentuk tombak dengan ornamen dayak. Tugu ini untuk mengenang kepergian keturunan Dayak Kenyah yang meninggal dan dikebumikan di luar desa.

Kehidupan di Long Nawang relatif hening dan tenang serta aman. Masyarakatnya masih memegang teguh dua kunci khas desa, yaitu: kejujuran dan gotong royong. Nilai-nilai kejujuran sendiri tercermin dari keamanan lingkungan di Desa Long Nawang. Saking amannya, motor yang mereka gunakan selalu terparkir di pinggir jalan tanpa dikunci stangnya, bahkan selama 24 jam sehari dan tujuh hari sepekan.

Menariknya lagi, motor yang diparkir sekitar satu sampai dua jam di pinggir jalan, pemiliknya tidak pernah mencabut kuncinya. Hal yang lebih ekstrim lagi, sebagian warga bahkan menghilangkan fungsi kunci di motornya. “Buat apa motor pakai kunci kalau daerah kami aman?” tutur Juni, menirukan orang-orang beraliran ekstrim terkait keberadaan kunci motor.

Di beberapa rumah juga terdapat “Warung Kejujuran”. Salah satu yang saya temui adalah rumah petani cabai rawit yang menjual hasil panennya di depan rumah. Sang petani hanya menaruh cabai rawit yang telah dikemas dengan takaran tertentu. Di sebelahnya terdapat kaleng tempat pembeli menyimpan uang. Tidak lupa juga harga jual beserta petunjuk bagi mereka yang hendak membeli cabai.

Bagi para pembeli yang berminat dengan cabai rawit tersebut tinggal meninggalkan uang sebesar sepuluh ribu Rupiah dan mengambil cabainya. Bila nilai uangnya lebih besar dibandingkan harga cabai yang tertera, sang pembeli tinggal menaruh uangnya dan mengambil kembaliannya.

Sedangkan gotong royong tampak dari kekompakkan warga dalam konteks komunitas. Salah satunya terlihat dari aktivitas kerja bakti desa setiap Senin. Dengan kesadarannya masing-masing, mereka pergi ke luar rumah dan bekerja sama untuk membersihkan lingkungan di sekitar desa. Tanpa mengenal usia dan jenis kelamin serta profesi, masyarakat Long Nawang membawa parang dan pacul kemudian mulai bekerja dari pagi sampai siang menjelang.

Gotong royong dan kejujuran ini pula yang membuat suasana desa menjadi guyub. Suasana yang membuat siapa pun betah untuk datang dan menetap serta mengenangnya ketika pergi. Bahkan, suasana yang membuat pendatang dari kota seperti saya bermimpi dan berharap, “Semoga, suasana ini juga hadir di kota saya, bahkan negara saya, Indonesia.”

***

Matahari sudah berada di ufuk barat dan bersiap untuk menggambar senja petang yang indah. Namun, Ijon tidak juga bergegas untuk kembali ke desa. Alih-alih, dia malah menambatkan perahunya ke sebuah daratan kecil di tengah Sungai Kayan. Padahal, kondisi kami bertiga sudah basah kuyup dan kedinginan.

“Kita buat Lombok dulu, supaya tidak kedinginan,” tukas Ijon, seperti menjawab keheranan saya. Lombok sendiri merupakan sambal yang terbuat dari cabai rawit dan garam. Sejak dari Long Nawang, ternyata dia sudah membawa bekal berupa cabai rawit dan garam. Masing-masing dibungkusnya dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam tasnya yang kecil.

Dengan cekatan, Ijon mencari batu sebesar bola sepak dengan cekungan di tengahnya. Tidak lupa juga dia mencari batu yang lebih kecil. Cabai rawit dan garam ditempatkannya di cekungan yang berada di batu sebesar bola sepak kemudian ditumbuknya hingga halus. Lombok tersebut kemudian dicocol dengan menggunakan mentimun yang kami ambil dari kebun di sekitar hutan.

Perlahan, tubuh kami menghangat seiring semakin banyaknya lombok yang masuk ke perut kami. Semakin pedas dan ingus bercucuran, semakin bersemangat kami untuk melahap sajian sederhana di tepian sungai tersebut. “Ini cara kami menghangatkan tubuh ketika sedang menjala ikan,” ungkap Ijon, sambil melahap buah mentimun besar yang kedua.


Ijon bukanlah satu-satunya orang yang menghangatkan tubuh dengan cabai rawit dan mentimun ketika tengah pergi menjala ikan. Sebagian besar masyarakat Dayak Kenyah yang pergi mengarungi sungai dan menyusuri rimba di kawasan Apau Kayan melakukan hal tersebut. Kebiasaan ini erat kaitannya dengan cara hidup masyarakat rimba Kalimantan yang sepenuhnya masih menggantungkan hidupnya kepada kekayaan sumber daya hayati di dalam hutan, termasuk masyarakat Desa Long Nawang.

Salah satunya tampak dari cara mereka memenuhi kebutuhan protein hewaninya. Mereka masih memilih untuk menjala ikan di sungai atau berburu mamalia herbivora yang hidup di hutan Kalimantan, seperti: rusa, pelanduk, dan payau. Pilihan lainnya adalah babi hutan yang jumlahnya cukup banyak dibandingkan mamalia herbivora.

Meskipun demikian, mamalia ini tidak selalu tersedia di hutan di sekitar Apau Kayan setiap saat. Umumnya, mereka hanya muncul ketika musim buah-buahan tiba, sekitar bulan Februari hingga April setiap tahunnya. Di luar waktu tersebut, masyarakat harus masuk rimba lebih dalam untuk mendapatkan buruannya, bahkan hingga wilayah negara tetangga. Jelas ini bukan keputusan yang mudah dan murah, khususnya bagi masyarakat yang memburu untuk mendapatkan uang, bukan untuk kesenangan.

Pilihan lainnya, masyarakat Long Nawang mengkonsumsi reptil yang hidup di sekitar sungai, seperti: ular dan biawak. Bahkan, daging jenis ini kerap dijajakan oleh penjual keliling. Daging-daging reptil ini biasanya sudah dibersihkan dan siap untuk dimasak. Khusus untuk ular sebesar paha orang dewasa sepanjang mobil minibus, umumnya pedagang sudah memotongnya menjadi bagian-bagian kecil dengan berat sekitar 1-3 Kilogram.

Menariknya, masyarakat Long Nawang enggan beternak untuk memenuhi kebutuhan protein hewaninya sehari-hari. Bila pun mereka beternak babi, umumnya hewan ini hanya disajikan untuk acara-acara besar, seperti: perayaan natal, pernikahan, dan kematian.


Adapun sapi dan kambing, masyarakat Long Nawang tidak pernah memasukkan kedua hewan tersebut sebagai pilihan konsumsi. Bagi mereka, rasa daging kambing sendiri tidak cocok dengan lidah sebagian besar masyarakat Long Nawang.

Sedangkan sapi, masyarakat tidak terlalu suka dengan hewan yang satu ini. Pasalnya, mereka menilai hewan ini cukup jorok dan menjijikan. Pandangan ini bermula ketika masyarakat Long Nawang mendapatkan bantuan sapi dari pemerintah. Sapi-sapi ini biasanya mereka gembalakan di sekitar kuburan.

Kala itu, masyarakat Apau Kayan belum mengubur jenazah orang-orang yang wafat. Umumnya, jenazah di tempatkan di sebuah rumah panggung seukuran peti mati di area pemakaman. Pada bulan-bulan awal, jenazah ini terurai bakteri dan mengeluarkan cairan hitam.

Cairan hitam ini kemudian menetes dan mengalir di tiang-tiang rumah panggung kuburan. Nah, sapi-sapi ini kerap terlihat menjilati cairan hitam yang berasal dari jenazah tersebut. Hal inilah yang membuat masyarakat Long Nawang antipati terhadap sapi, sampai saat ini. Meskipun semua jenazah di Apau Kayan sudah dikubur di dalam tanah, tetapi memori tentang sapi yang menjilati cairan hitam jenazah masih terpatri di dalam kenangan mereka.

Sumber kehidupan lainnya adalah ladang. Masyarakat Long Nawang membuka ladang di hutan yang berstatus tanah milik desa. Umumnya, mereka menanam tumbuhan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti: padi ladang dan sayuran.

Terkait aktivitas berladang, Pemerintah Malinau sendiri beberapa kali memberikan bantuan bibit-bibit tanaman kepada masyarakat Long Nawang. Bibit terakhir adalah nanas. Masyarakat langsung menanamnya secara besar-besaran di lahan mereka. Sayangnya, setelah tanaman nanas panen, tidak ada solusi untuk mendistribusikannya ke daerah lain. Akhirnya, nanas-nanas itu membusuk dan terbuang dengan percuma.

Pemerintah memang giat memberikan bantuan ke Long Nawang. “Sayangnya, bantuan bibit tersebut tidak diiringi dengan visi paska panennya,” tandas Juni Ibau, guru yang jadi teman diskusi selama saya menginap di rumahnya di Long Nawang. Juni kemudian tertarik ketika saya menceritakan kisah seorang kawan yang menanam kopi di dataran tinggi Cimenyan, Bandung.

Menanam kopi membutuhkan tegakkan berupa pepohonan yang tinggi dan meneduhkan sekelilingnya. Dengan hutan yang masih asri, masyarakat bisa menanam kopi di tengah-tengah hutan tanpa menebang pepohonan yang berada di dalamnya. Pilihan ini tampaknya lebih bijak dibandingkan menanam sayuran dan tanaman buah-buahan non-kayu yang harus membabat hutan dan pepohonan.

Di tambah lagi, kopi merupakan komoditas pertanian yang mampu bertahan lama ketika sudah diolah dan dikeringkan, sehingga jauh dari ancaman membusuk dan terbuang percuma. Terlebih lagi, nilai kopi cenderung tinggi di pasaran internasional. Bila berhasil mendapatkan jalur distribusi yang tepat, tentunya kopi bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Long Nawang.

***

Cerita tentang Desa Long Nawang dan Apau Kayan banyak hilang dari benak masyarakat Indonesia saat ini. Di mata pemerintahan Indonesia sebelumnya, daerah ini dilihat sama seperti wilayah-wilayah perbatasan dan pedalaman Indonesia pada umumnya: terpencil, terpinggirkan, dan tertinggal.

Pandangan ini sangat bertolak-belakang dengan penilaian pemerintah kolonial Hindia Belanda ketika masih bercokol di Indonesia. Menjelang abad 20, pemerintah Hindia Belanda sudah melirik Apau Kayan sebagai wilayah strategis.

Kesimpulan ini tampak dari sudah adanya pemerintahan Hindia Belanda untuk wilayah Apau Kayan. Daftar para pemimpin pemerintahan sekaligus jabatannya tertera di Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI kini. Saya pribadi lupa memotret sisi para pemimpin yang pernah bertugas di Apau Kayan. Namun, seingat saya, wilayah ini menjadi karesidenan tersendiri pada masa pemerintahan Hindia Belanda.


Bukti lainnya tampak dari mulai adanya pemukiman masyarakat Belanda dan Eropa di Long Nawang pada awal tahun 1900-an. Mereka membangun rumah-rumah permanen yang terbuat dari beton dan beratap genting. Tentunya, rencana pemerintah Hindia Belanda untuk membangun rumah permanen di Long Nawang bukanlah keputusan yang main-main. Mereka kemungkinan mendasari pilihan tersebut atas dasar nilai strategis wilayah Apau Kayan.

Area pemukiman ini berada di wilayah utara kantor Kecamatan Kayan Hulu. Sayangnya, ketika Jepang masuk ke Indonesia, rumah-rumah ini habis dibombardir oleh meriam-meriam tentara Jepang hingga hancur. Selain itu, masyarakat Belanda dan Eropa yang bermukim di Long Nawang dibunuh hingga mati, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka ditembaki di sebuah parit yang lokasinya berada tepat di sebelah utara kantor Kecamatan Kayan Hulu saat ini.

Kini, area pemukiman masyarakat Eropa di Long Nawang sudah rata dengan tanah. Di tempat tersebut, kini berdiri komplek SMP dan SMA untuk tempat belajar anak-anak Desa Long Nawang dan sekitarnya. Meskipun demikian, di beberapa bagian, masih ada sisa-sisa pondasi bangunan masyarakat Eropa. Puing-puing ini menjadi saksi bisu keberadaan masyarakat Eropa di Long Nawang sekaligus kekejaman tentara Jepang yang tanpa ampun membunuh orang-orang Eropa tersebut.

Selain pemukiman, di belakang Tugu Perjuangan Kemerdekaan RI juga terdapat makam orang-orang Eropa. Hal ini menandakan bahwa bangsa-bangsa Eropa ini sudah cukup lama berada di Desa Long Nawang. Kini, sisa-sisa makam-makam tersebut sudah hilang tergusur pembukaan lahan untuk area pemukiman. Adapun jasad-jasad yang terkubur di dalamnya sudah dibawa pulang ke Belanda oleh para ahli warisnya.

Kembali ke nilai strategis wilayah Apau Kayan. Bercermin dari masa lalu tersebut, masyarakat Apau Kayan modern mulai berencana untuk berpisah dari Kabupaten Malinau dan memulai kabupaten baru berjuluk Apau Kayan. Kini, usaha tersebut tengah digawangi oleh sebuah tim persiapan pemekaran kabupaten baru yang beranggotakan elit masyarakat Apau Kayan.

Meskipun demikian, usaha ini masih menuai pro-kontra di kalangan masyarakat Apau Kayan. Salah satunya adalah belum adanya sumber pendapatan asli daerah yang memadai untuk Kabupaten Apau Kayan pada masa yang akan datang. Bagaimana pun, sebuah kabupaten baru membutuhkan dana yang besar untuk membangun dan mengelola pemerintahannya. "Jangan sampai Kabupaten Apau Kayan ini malah bangkrut di tengah jalan karena PAD-nya kurang memadai," tutur salah seorang masyarakat Long Nawang, ketika saya mencuri dengar percakapan mereka tentang pemekaran kabupaten baru.

Isu lainnya yang muncul adalah soal ibu kota Kabupaten Apau Kayan. Dari segi historis, semua orang sepakat untuk menjadikan Desa Long Nawang sebagai calon ibu kota Kabupaten Apau Kayan. "Namun, dari segi geografis dan infrastruktur, Long Ampung lebih siap untuk dijadikan ibu kota Kabupaten Apau Kayan," kisah Aprido Lorens, staf Kecamatan Kayan Selatan.

Desa Long Ampung sendiri berada di Kecamatan Kayan Selatan. Letaknya hanya sekitar 20 Kilometer dari Long Nawang. Dataran di Long Ampung sendiri lebih luas dibandingkan dataran di Long Nawang. Hal ini membuat banyak infrastruktur strategis dibangun di sini.

Loren mengisahkan bahwa Long Ampung sendiri sudah memiliki rumah sakit bertaraf internasional. Rumah sakit ini dibangun oleh pemerintah nasional. Menurut Lorens, rencananya fasilitas ini akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2017 mendatang. Saat ini, rumah sakit tersebut masih dalam tahap berbenah, khususnya dalam hal fasilitas dan tenaga medis.


Fasilitas lainnya adalah bandara. Bandara Long Ampung memiliki kondisi yang lebih layak dibandingkan bandara di desa-desa lainnya di Apau Kayan. Umumnya, landasan pacu di desa-desa hanya berupa tanah dengan panjang kurang dari satu Kilometer.

Sedangkan di di Long Ampung, landasan pacu sudah berupa aspal dengan panjang 1,2 Kilometer dan lebar 23 meter. Saat ini, bandara Long Ampung tengah berbenah. Selain meningkatkan fasilitas, landasan pacu di Long Ampung juga sedang dipersiapkan untuk pesawat yang lebih besar.

"Rencananya, landasan pacu Long Ampung akan memiliki panjang 1,6 Kilometer dengan lebar 30 meter," ungkap Rustam, salah satu staf bandara Long Ampung. Menurutnya, kondisi tersebut memungkinkan pesawat baling-baling berberbadan besar seperti Herkules dan ATR bisa mendarat di Long Ampung.

Ke depan, Apau Kayan akan menjadi salah satu daerah strategis dan terdepan untuk mempertahankan Indonesia. Selain strategis bagi pertahanan negara, wilayah ini juga akan strategis bagi ekonomi dan sosial-politik masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di Kalimantan Utara. Membangun Apau Kayan, tentunya membangun juga nasionalisme masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang tinggal di sepanjang wilayah terdepan negara.


***

Kehidupan perbatasan selalu menuai tantangan yang lebih besar dibandingkan hidup di kota-kota besar. Selain sulitnya akses transportasi, harga barang-barang pun relatif mahal. Salah satu contoh yang sudah saya sebutkan di atas adalah semen. Sebelum jalur darat dibuka, semen didistribusikan melalui udara. Hal ini membuat harganya mencapai lebih dari satu juta Rupiah per sak.

Setelah jalur darat dibuka, harga semen bisa turun lebih dari setengahnya. Hanya saja, jalan yang masih tanah dan relatif berlumpur serta berlubang tersebut membuat biaya transportasi barang-barang dari Samarinda masih cenderung tinggi.

Selain semen, bahan bakar juga termasuk komoditas yang berharga tinggi. Sebagai contohnya adalah solar. Satu liter solar di Long Nawang harganya mencapai 18 ribu Rupiah. Bandingkan dengan di Jawa yang harganya di bawah 10 ribu per liternya. Oleh karena itu, masyarakat Long Nawang seringkali heran dengan demo besar-besaran di Pulau Jawa yang menuntut turunnya harga bahan bakar minyak.

“Di Long Nawang, kami tenang-tenang saja bila harga bahan bakar minyak naik sampai lima ribu Rupiah,” ungkap Wayan Onikarya, penduduk Long Nawang keturunan Bali ini. “Lalu, kenapa di Jawa harus protes besar-besaran? Padahal, harga bahan bakar minyak cuma naik lima ratus rupiah saja,” tanyanya kemudian.

Meskipun demikian, masyarakat Long Nawang tengah menaruh harap kepada pemerintah Indonesia saat ini. Pasalnya, Joko Widodo berencana untuk menyamakan harga bahan bakar minyak di seluruh Indonesia, termasuk Long Nawang.

"Rencananya pom bensin akan dibangun di sini," tunjuk Aprido Lorens, pemilik mobil gardan-ganda sembari menunjuk lokasi di antara Long Nawang dan Long Ampung, ketika mengantarkan saya ke bandara. Meskipun demikian, pegawai Kecamatan Kayan Selatan ini belum mengetahui kapan rencana tersebut akan terwujud. "Semoga dalam waktu dekat ini," tuturnya kemudian.

Sembari menunggu rencana pemerintah nasional tersebut, guna menyiasati tingginya harga kebutuhan pokok, banyak masyarakat Long Nawang yang memilih berbelanja di Malaysia. Salah satunya adalah gas untuk kebutuhan rumah tangga. Gas berlabel Mygaz dengan kapasitas 14 Kilogram ini dijual seharga 70 ringgit per tabungnya, atau sekitar 250 ribu Rupiah. Ditambah biaya transportasi, harganya di Long Nawang mencapai 500 ribu Rupiah.


Masyarakat Long Nawang dan sekitar perbatasan sendiri bisa keluar-masuk wilayah Malaysia dengan mudah. Mereka tidak perlu memiliki atau menunjukkan passport untuk menyeberang ke negara tetangga. Umumnya, mereka berbelanja peralatan rumah tangga atau pun mengunjungi sanak saudara yang tinggal dan sudah menjadi warga negara Malaysia.

Kehidupan masyarakat dayak di Malaysia sendiri jauh lebih baik daripada masyarakat Dayak di Indonesia. Malaysia sendiri menjamin pendidikan dan kesehatan masyarakat dayak di wilayahnya dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada Indonesia. Infrastruktur pun sudah jauh lebih baik, terutama listrik dan transportasi darat.

Meskipun begitu, masyarakat Long Nawang tidak tertarik untuk pindah ke Malaysia, padahal mereka mampu. Mereka berusaha mempertahankan Indonesia, meski harus bertahan di tengah keterbatasan pedalaman dan sabar melihat carut-marut Jakarta. “Kami, di Long Nawang, selalu mendoakan mereka yang ada di Jakarta sana agar lebih baik dan memajukan Indonesia,” ungkap Juni, usai santap malam, sembari melihat tayangan berita di sebuah televisi nasional.***