PILIHAN HEADLINE

ICD Jogja, Seru dan Menyalakan Semangat Komunitas

15 Mei 2017 08:16:20 Diperbarui: 16 Mei 2017 12:44:27 Dibaca : 302 Komentar : 12 Nilai : 12 Durasi Baca :
ICD Jogja, Seru dan Menyalakan Semangat Komunitas
Panggung Utama ICD Jogja di Plaza Ngasem | foto dok. pribadi

Gelaran Indonesia Community Day  (ICD) 2017 di Jogja sudah berakhir. Namun, keseruan dan makna pertemuan komunitas Nasional pada Sabtu (13/5) lalu masih terasa hingga kini. Meskipun saya hanya bisa hadir pada pukul 13.30 hingga 21.30, karena paginya harus “ngantor” dulu, namun banyak kesan yang saya peroleh. Yang rasanya sayang kalau hanya disimpan dalam hati. Baiknya saya tulis dan sebar.

Selamat dan Terima Kasih untuk Kompasiana

Pertama, selamat untuk Kompasiana, seluruh tim penyelenggara dan sponsor yang sukses menggelar ICD Jogja. Sukses mendatangkan komunitas dari berbagai daerah. Sukses “mendatangkan” teman-teman Kompasianer Palembang (KOMPAL), seperti Bang Dues Arbain, Dokter Posma, Bu Elly Suryani dan lainnya. Yang tak kalah penting adalah pempek bawaan Mereka,hehehe. Lumayan untuk mengobati rindu saya pada kampung halaman. Mokasih Bu Elly dan kanco-kanco Kompal lainnyo.

Kompasiana juga sukses “menarik” Mbak Wily Wijaya yang datang dari Medan. Meskipun katanya Beliau sekalian ada acara di Solo, namun niat untuk menghadiri ICD Jogja layak mendapat apresiasi. Ide memboyong Kompasiner Jakarta dan sekitarnya dalam satu bus, terbukti ampuh meramaikan ICD Jogja. Terutama rombongan KPK dan Koplak Yo Band dari Jakarta, yang berhasil menggaet “Koplakers” lokal.

Bahkan, Om Nanang Diyanto rela menembus dinginnya udara subuh, dengan berkendara sepeda motor dari Ponorogo ke Jogja hanya untuk menghadiri ICD. Beliau tampaknya tak ingin ketinggalan keseruan berkumpul dengan anggota komunitas Planet Kenthir lainnya, seperti Bu Marla Suryani, Mbak Selsa, Pak Dokter Posma, Pak Guru Bain Saptaman dan lainnya. Koplak Yo Band dan Planet Kenthir gabung, yo mesti rame! hakakaka….

Event ICD Jogja adalah event Kompasiana terbesar yang pertama kali saya ikuti. Saya pribadi mengucapkan terimakasih pada Kompasiana dan panitia lain berhasil telah memberikan wadah untuk bertemu dengan kompasianer. Sebuah kebahagiaan bisa bertemu langsung dengan Kompasianer, yang sebelumnya hanya berinteraksi lewat Kompasiana dan media sosial. Bertemu dengan Bang Dues Arbain, penulis sastra yang telah melahirkan banyak buku. Saya baru tau, ternyata, kami berasal dari kecamatan yang sama di Sumatera Selatan. Juga bertemu langsung dengan Kompasianer kocak, Pak Bain Saptaman, yang juga Wong Kito Galo.

Bincang dengan pak Bain, The King,Om Nanang, dll | dok. Mbak Wahyu Prihastuti
Bincang dengan pak Bain, The King,Om Nanang, dll | dok. Mbak Wahyu Prihastuti

Saya berkesempatan ngobrol dengan Bang Zulfikar Akbar, serta mendapat ilmu menulis cepat dan pendek dari Beliau. Melalui wawacanda oleh Mbak Yayat di booth K-Jog, akhirnya saya tau bahwa Nyonya Vale tersebut tak kalah gesit dengan sepeda motor YZR-M1 milik Valentino Rossi. Suaranya tak kalah ramai dengan suara saat balapan Moto-GP, hakakakaa… Bertemu dengan banyak kompasianer adalah kesempatan yang sangat berharga. Terimakasih Kompasiana,

Keseruan Menghidupkan Benda Mati Bareng Papermoon Puppet Theatre

Tak hanya Koplak Yo Band dan Planet Kenthir“memecahkan” suasana ICD Sabtu kemarin. Di panggung utama Plaza Ngasem, Papermoon Puppet Theatre berhasil menarik perhatian pengunjung dengan teknik “menghidupkan” kertas.

Papermoon Puppet Theater beraksi di panggung utama ICD Jogja | foto dok. pribadi
Papermoon Puppet Theater beraksi di panggung utama ICD Jogja | foto dok. pribadi

Kertas adalah benda mati yang kerap digunakan sebagai latas tulisan. Namun, melalui tangan kreatif dan ide imajinatif dari Papermoon Puppet Theater, kertas bisa “hidup” dan “menghidupkan”. Hidup berkat sentuhan karakter pada kertas tersebut, misalnya karakter manusia, hewan atau tumbuhan. Karakter yang Papermoon Puppet Theatre berikan pada kertas tersebut, nyatanya bisa menghidupkan suasana panggung utama ICD Jogja ini. Puluhan pengunjung tampak gembira menyaksikan kertas-kertas yanghidup dengna karakter beragam.

Puluhan Pengunjung Memperhatian Keseruan Menghidupkan Mainan Kertas | foto dok. pribadi
Puluhan Pengunjung Memperhatian Keseruan Menghidupkan Mainan Kertas | foto dok. pribadi

Satu pelajaran berharga yang bisa saya petik dari pertunjukkan Papermoon Puppet Theatre ini adalah segala sesuatu memiliki daya tarik dan “kehidupannya” masing-masing. Selembar kertas pun jika dibentuk dengan kreativitas dan imajinasi, akan menjadi sesuatu yang hidup dan menarik untuk ditampilkan. Jika ingin kehidupan ini menjadi lebih hidup, maka hidupkanlah lingkungan sekitar.

Menyebar Pesan dan Mimpi Lewat ICD Melalui Saung Mimpi

Plaza Ngasem tak hanya menyuguhkan keseruan pertemuan rekan-rekan komunitas dan boneka kertas Papermoon Puppet Theater. Tetapi juga menyebar pesan dan mimpi positif, khususnya lewat Saung Mimpi. Berada di dekat booth Kompasiana, booth Saung Mimpi berhasil menarik perhatian saya. Komunitas tersebut bergerak dibidang pendidikan, utamanya mengenalkan secara kreatif mengenai profesi masa depan untuk anak-anak.

Pohon Mimpi Milik Komunitas Saung Mimpi | foto dok. pribadi
Pohon Mimpi Milik Komunitas Saung Mimpi | foto dok. pribadi

Lewat “Pohon Mimpi” yang diletakkan di depan booth-nya, Saung Mimpi mengajak pengunjung ICD untuk menyebarkan pesan dan mimpi positif untuk anak-anak. Saya pun tak ingin ketinggalan untuk turut menyebar pesan.

Pesan Saya Untuk Anak Indonesia | foto dok. pribadi
Pesan Saya Untuk Anak Indonesia | foto dok. pribadi

Pesan Pengunjung Untuk Anak Indonesia | foto dok. pribadi
Pesan Pengunjung Untuk Anak Indonesia | foto dok. pribadi

Menurut saya, penggunaan pohon untuk menulis pesan adalah cara yang kreatif. Mungkin agar pesan dan mimpi tersebut terus tumbuh dan berkembang seperti pohon. Mimpi yang mengispirasi dan menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Seperti penyebaran dahan dan ranting pohon, dari kecil hingga tumbuh membesar dan semakin banyak. Seperti itulah mimpi dan penyebarannya.

ICD Mengajak Pengunjung untuk Bergerak

Tak hanya mengajak bermimpi lewat Saung Mimpi, ICD Jogja ini juga mengajak pengunjungnya untuk bergerak nyata. Seperti yang disampaikan oleh komunitas KETJILBERGERAK di panggung utama Plaza Ngasem. Ketjilbergerak adalah wadah kreasi seniman muda Jogja yang fokus pada isu kebhinekaan, pendidikan, perdamaian dan ruang publik.

Perwakilan Komunitas KETJILBERGERAK Saat Talkshow Di Panggung Utama Plaza Ngasem | foto dok. pribadi
Perwakilan Komunitas KETJILBERGERAK Saat Talkshow Di Panggung Utama Plaza Ngasem | foto dok. pribadi

Saat talkshow di panggung utama ICD, ketjilbergerak menyampaikan berbagai kiprah dan gerakannya pada isu-isu sosial. Saat ini, ditengah tren isu tergerusnya kebhinekaan, ketjilbergerak sedang mengkampanyekan gerakan “Jogja mBhinneka”. Gerakan tersebut merupakan perwujudan untuk menghidupi dan merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika, yang dikemas dalam berbagai karya seni menarik.

Mereka juga mengajak anak muda untuk bergerak dangan caranya masing-masing. Tentunya bergerak dan berkontribusi pada lingkungan sosial sekitar. “kecil-kecil gak papa, yang penting bergerak” begitu kata perwakilan komunitas ketjilbergerak sesaat sebelum menutup talkshow di panggung Plaza Ngasem. Bergeraklah untuk aksi sosial, meskipun itu kecil.

Menyalakan Semangat Komunitas untuk Peduli Sesama

Senthir yang menemani talkshow KETJILBERGERAK | foto dok. pribadi
Senthir yang menemani talkshow KETJILBERGERAK | foto dok. pribadi

Sekecil apapun gerakan positif yang Kita buat untuk mengangkat isu sosial yang sedang beredar, akan berdampak besar pada lingkungan sekitar. Ibarat lampu Senthir –yang kemarin turut menghiasi panggung Plaza Ngasem-, cahayanya kecil namun bisa menerangi lingkungan sekitar. Apalagi jika Senthir ini ditemani senthir-senthir lain dan digabungkan, cahayanya akan lebih terang. Begitulah sejatinya komunitas, yang merupakan gabungan atau kumpulan orang-orang yang memiliki visi yang sama dan bergerak bersama. Gerakan kecil juga bisa menginspirasi orang lain untuk turut serta.

Saya yakin, melaui ICD Jogja ini, akan semakin menguatkan komunitas untuk terus bergerak memberi manfaat pada lingkungan sekitar. Senthir ICD tidak akan padam, berkat bahan bakar yang terus dituang oleh komunitas-komunitas yang memang konsen dan peduli pada isu yang sedang menyala. Juga oleh komunitas-komunitas yang menyalakan semangat untuk membatu sesama.

Terlebih, Marzuki Mohamad alias Kill the DJ, di sela-sela penampilannya bersama Jogja Hiphop Fondation (JHF), menyampaikan bahwa keberadaan komunitas memang sangat diperlukan. Terutama saat Pemerintah lambat dalam merespon atau membantu masyarakat, komunitas akan menjadi barisan terdepan dalam menolong sesama.

Statementpendiri JHF tersebut membakar semangat pengunjung ICD. Yang tampak dipermukaan memang membakar semangat pengunjung untuk ber-Hiphop ria, namun sedikit-banyak, pernyataan Kill the DJ tersebut membangkitkan semangat untuk terus bergerak positif melalui komunitas. Menyalakan api semangat komunitas kecil –komunitas senthir- untuk terus bergerak menjadi besar. Menjadi “api unggun” yang menerangi lingkungan lebih luas lagi. Semoga.

Yosep Efendi

/yosepefendi

TERVERIFIKASI

Selalu berusaha menjadi murid yang "baik" [@yosepefendi1] [www.otonews.id]
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana