HIGHLIGHT

Cerita Tiga Hati

01 Mei 2013 22:08:42 Dibaca :

Ini kisahku, cerita tiga hati, cerita hidupku. Bukan cerita tiga cinta, bukan pula tentang cinta segitiga. Hanya tiga hati, hatiku, hati sahabatku dan hati sahabatku satu lagi.


Yuana, Yuke, dan Yuli, tiga sahabat yang sangat dekat. Bukan sahabat sejak kecil, tetapi baru bertemu saat SMA. Sahabat yang berawal dari kebetulan nama yang berurutan di buku absen sekolah. Entah siapa yang mengawali sebutan tiga sahabat itu kian populer di sekolah . Sehingga jika salah satu dari tiga sahabat tak terlihat, maka siap-siap saja menjawab beberapa pertanyaan yang sama, “Yuan ke mana?”, “Mana Yuke?” atau “bla..bla...bla..”.


Tiga Sahabat, sangat jauh dari teori persahabatan . Yang kutahu dalam teori bahwa persahabatan terbentuk karena sifat yang sama, minat yang sama, ide yang sama, atau apapun yang banyak kesamaan. Tetapi tiga sahabat yang ini ? hemmm.... sifat kita sangat berlawanan. Yuana, cantik, berkulit putih, bersuara pelan, kepala menunduk saat berbicara dengan cowok, rajin, dan selalu mengiyakan apapun yang aku lakukan. Sedangkan Yuke, pendiam, tegas, tidak segan-segan menegurku kalau aku salah, suka mentraktir, sangat perhatikan kebersihan, tidak terlalu cantik tapi anak orang kaya. Nah aku? Tidak rajin, sedikit tomboy, cenderung berantakan, paling cerewet, tidak cantik tetapi manis (itu menurutku), supel dan sedikit cerdas, aku juga paling miskin diantara kedua sahabatku itu. Tak banyak cerita menarik saat kita masih sekolah, hanya tiga sahabat yang akrab, selalu bersama di mana saja.


Cerita ini dimulai saat aku sudah beranak dua, baru kusadari bahwa Si Yuke, belum menikah juga, padahal anakku yang pertama sudah kelas 4 SD. Jiwa sahabatku seketika berkesiap, aku harus carikan jodoh buat Yuke, itu tekadku. Aku mulai sering main ke rumahnya. Hingga suatu hari saat dia belum datang langsung saja aku masuk kamarnya. Sudah kebiasaanku sejak masih sekolah tidak ada rasa sungkan untuk mengotak atik barang-barang dia, begitu juga saat itu. Tanpa pikir panjang kubuka-buka lemarinya. Mataku terbelalak ! otakku tak bisa percaya, detak jantungku hampir tak terkendali. Feeling kewanitaanku seketika bereaksi, mengapa Yuke tetap menyimpan barang –barang yang dulu pernah dipakai Hudan, sosok laki-laki yang kini jadi suamiku?. Ada dasi SMA, buku tulis (tulisan tangan Hudan), tali pramuka, bulpoint, yang semuanya bertuliskan nama suamiku. Segera kurapikan barang-barang itu. Kuatur nafas, akupun keluar kamar.


Berhari-hari kucari informasi tentang dia. Kuhubungi beberapa teman yang dulu satu sekolah. Sampai pada kesimpulanku, dulu ia menyukai suamiku, namun ia menyimpan saja perasaannya karena malu. Aku ingat, suamiku dulu adalah Ketua Osis , siswa paling cerdas di sekolah kita. Saat itu aku suka dia, dan aku tak malu-malu nembak dia, walaupun aku cewek, cara berfikirku simple, diterima syukur, tidak diterima ya tidak apa-apa, yang penting bagiku dia harus tahu perasaanku.


Entah malaikat apa yang membisikiku, mungkin terinspirasi dari film “Ayat-ayat Cinta” tiba-tiba muncul begitu saja keinginanku untuk jadikan dia istri ke dua suamiku. Ya Allah... aku serius atau tidak? Aku sendiri tidak mengerti, dalam pikiranku hanya ingin dia segera menikah, dan jika dia yang dimatsna suamiku, mungkin aku bisa terima, dia sahabat baikku. Aku mulai bercanda dengan suamiku, kusinggung sedikit demi sedikit rencanaku. Suamikupun mengiyakan dengan bercanda pula, entah apa yang ada di dalam hatinya, aku tidak tahu.


Ternyata Allah berkehendak lain, di tengah niatku untuk menjadikan dia adikku, datanglah sang pelamar itu. “Alhamdulillah”... aku sujud syukur turut berbahagia. Sahabatku, Yuke, menikah. Aku tersenyum sendiri dalam hati, sambil terus mengingat cerita Ayat-ayat Cinta, andai Maria tidak meninggal, masihkah Aisha tetap bertahan dalam keikhlasan ?. Demikian juga aku, andai Yuke tidak segera menikah, apa yang terjadi padaku?


Itu cerita dua tahun yang lalu. Dan kini, satu cerita lagi yang cukup membuat kepalaku seakan mau pecah, jantungku mau copot, dan hatiku meledak-ledak ! Aku menjerit tertahan,, “Ya Allah... mengapa sahabat-sahabatku, wanita-wanita muslimah yang sangat baik, mengapa sulit sekali mendapat jodoh?, sedangkan aku yang tidak sebaik mereka terlalu banyak Engkau beri kenikmatan?, apakah ini hanya ujian bagiku, dan apakah kelak akan Engkau cabut rahmat-Mu? Bermacam-macam pertanyaan mengalir begitu saja dalam kekalutanku.


Aku sama sekali tak menyangka ! Yuana, sahabatku yang paling cantik, belum juga menikah. Apa kurangnya dia?, pekerjaan mapan, rumah sudah tersedia, tunggu apalagi?. Kadang aku merasa hidup ini tidak adil. Walaupun aku ada di posisi paling beruntung di antara sahabatku. Aku penasaran, apa yang membuat Yuana tidak menikah?


Kutemui Yuana, aku berbicara dari hati ke hati, kutatap matanya, seakan-akan aku ingin mencari kebenaran antara ucap dan tatapannya. Yuana yang dulu selalu mendukungku untuk ungkapkan perasaan pada Hudan, Yuana yang dulu selalu membantuku mencari kamus saat aku tidak mengerti arti surat Hudan yang berbahasa Inggris. Oh Yuana,, dengan penuh kejujuran kau bilang ingin mencari suami yang seperti Hudan. Yuana, aku baru mengerti, engkau dulu mencintai Hudan kan? Yuana begitu dalamkah cintamu pada Hudan hingga kaupun terobsesi mencari suami yang sama persis dengan Hudan?


Aku hanya bisa diam, aku tak mau lagi berspekulasi seperti yang pernah aku lakukan saat Yuke belum mendapat jodoh. Aku tak mau lagi membagi suamiku. Maafkan aku Yuke, Yuana, saat itu aku tidak tahu kalau kalian juga mencintai Hudan.


Yhunk Yuliani

/yhunk

Konselor yang ingin menyambung silaturrahim lewat tulisan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?