Ya Aku Wahabi...Ada Masalah?

09 Juni 2012 00:15:32 Dibaca :
Ya Aku Wahabi...Ada Masalah?
lelakidarigunung.blogspot.com

Sambil menunggu konsumen yang membutuhkan jasa terapi, semalam menyimak tulisan Joko Wenampati yang berjudul Muslimin Kebingungan Mengidentifikasi Wahabi. Cukup seru, panas dan menggairahkan...hehehe. Dengan Samsung Galaxy Young bolak balik menyimak perdebatan, diskusi apa malah pertempuran? Yo wis terserah mau disebut apa. Sebagai orang awam yang terlahir dari keluarga yang sedikit paham agama, dan belum pernah nyantri, pemahaman agamaku nyaris hanya dapat dari sekolah, dan teman pergaulan saja, dan beberapa tahun terakhir ini saja mendapat ilmu dari kajian di beberapa masjid, dan tentu saja dari media cetak serta internet. Menyoal wahabi, sudah puluhan tahun yang lalu aku mengikuti berbagai macam tulisan serta buku yang pro dan kontra. Walau sejak kecil hidup dilingkungan Nahdiyin, namun karena masih Islam KTP, jadi belum banyak berpengaruh padaku. Baru setelah menikah, pengaruh dari teman-teman yang bermacam-macam latar belakang pemahaman keislamannya. Dan yang paling banyak dari buku-buku, dulu pernah jualan herbal di Masjid Kampus UGM, jadi sering numpang baca buku-buku pada teman yang yang jualan buku-buku islami. Singkat cerita, aku tidak peduli dengan stigma orang terhadap pemahaman agama yang kuyakini saat ini, termasuk di cap wahabi. Dari perenungan yang dalam serta introspeksi diri, aku suka dengan dakwah tauhid, kembali ke Al Quran dan Sunnah Nabi sesuai pemahaman para sahabat. Kalo ngomong seperti ini di bilang wahabi, ya aku wahabi. Jika dakwah menjauhkan masyarakat dari tahayul, bid'ah, khurofat di bilang wahabi, ya aku wahabi. Jika dakwah jangan mengagungkan kuburan atau doa meminta pada orang-orang shaleh yang telah mati dianggap wahabi, ya aku wahabi. Memelihara jenggot, memakai celana cingkrang di bilang wahabi, ya aku wahabi.(padahal celana kolorku ukuran tiga perempat) Tidak ikut tahlilan di bilang wahabi, ya aku wahabi (padahal aku tiap hari baca tahlil) Tidak baca qunut di bilang wahabi, ya aku wahabi (padahal di Saudi sini beberapa kali baca qunut nazilah) Mendukung diberlakukan perda syariah dibeberapa daerah bilang wahabi, ya aku wahabi. Dan masih banyak stempel yang di sematkan pada dakwah ini. Benar seperti di tulisan Joko Wenampati, muslimin bingung mendefinisikan wahabi, bahkan yang nuding wahabi ke orang atau kelompok lain belum tentu bisa mendefinisikan. Menisbatkan wahabi ke Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab saja sudah keliru. Bahkan ada yang mengatakan Ibnu Qoyyim dan gurunya Ibnu Taimiyah pengikut wahabi. Sungguh aneh, bahkan lucu atau malah bodoh, Ibnu Taimiyah yang lahir 661 H-728 H dituduh wahabi, dengan kata lain disebut mengikuti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir jauh sesudahnya, yaitu tahun 1115 H? Siapa yang mengikuti, siapa yang di ikuti? Walau masih belum mengamalkan ajaran agama ini dengan baik, saya berkeyakinan memahami agama ini dengan pemahaman para sahabat itu yang paling baik. Tidak penting bagiku cap wahabi, salafi atau stigma lain yang yang akan di berikan padaku . Sebagai muslim berusaha semampunya untuk beramar ma'ruf nahi munkar, tentu dengan cara yang baik atau hikmah. Sesungguhnya bukan dakwah menegakkan tauhid, sebagaimana inti dakwah para nabi, yang memecah belah ummat ini, melainkan dakwah lemah lembut yang membiarkan agama ini bercampur dengan kemusyrikan, adat istiadat, kepercayaan, bid'ah, khurofat dengan dalih menghindari perpecahan umat. Wallahu'alam

Teguh Suprayogi

/www.warungaqiqah.com

TERVERIFIKASI (BIRU)

Massage Therapist, Reflexologist and 'Tukang Kerokan'...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?