HIGHLIGHT

Tak Ada Gelar "Haji" di Saudi

23 April 2013 19:05:06 Dibaca :
Tak Ada Gelar "Haji" di Saudi
-

Ramai-ramai soal sinetron TV di Indonesia yang membawa-bawa gelar Haji dengan kelakuan manusianya yang kurang baik, saya jadi pengin urun cerita masalah gelar Haji di negeri dimana ibadah haji dilaksanakan, yaitu Saudi Arabia. Sepengetahuan saya yang tinggal satu setengah tahun di Saudi, tidak ada orang sini yang memakai gelar atau titel Haji. Lain halnya dengan para TKI yang masih terbawa budaya Indonesia untuk selalu mengenakan gelar Haji jika sudah menunaikan rukun kelima ini, bahkan saking terbiasanya pakai gelar ini, kalau ketemu antar TKI yang sudah kenal atau belum agar terlihat akrab memanggilnya pakai kata "Ji" maksudnya mas haji atau pak haji, padahal yang dipanggil belum tentu sudah berhaji. Kalau merujuk pada Fatwa Syaikh Shalih As Suhaimi, ketika menjawab pertanyaan: Para Haji ditempat kami, apabila seorang dari mereka telah kembali (ke daerahnya) tidak rela dipanggil "Wahai Fulan", namun harus ditambah "Haji Fulan"? Beliau men- jawab: "Ini perkara yang berbahaya sekali, sebagiannya menggantungkan tanda di rumahnya, biar dipanggil "Haji Fulan", dan meletakkan bingkai yang besar, kemudian digantungkan di rumahnya, atau disetiap sisi di ruang tamu. Tidak diragukan, perbuatan seperti ini tidak boleh, dan dikhawatirkan akan menyeretnya pada perbuatan riya" Dalam sejarah tidak satupun sahabat Nabi yang memakai gelar Haji, seperti Haji Abu Bakar, Haji Umar, HajiUstman, Haji Ali, termasuk juga para Imam Madzab, seperti Haji Hambali, Haji Imam Syafi atau Haji Imam Ahmad, serta pada diri Nabi shollallahualaihi wassallam pun tidak memakai gelar Haji Muhammad. Jika gelar ini baik tentu Nabi menggelari diri beliau dengan Haji Muhammad atau menggelari sahabat-sahabat dengan "Haji". Namun tak ada satupun yang diberi gelar, ini menunjukkan gelar ini tidak dibutuhkan dan tidak sepantasnya disematkan pada seseorang. Kembali ke masalah gelar haji yang diributkan dalam tayangan sinetron televisi, mungkin lebih tepat jika yang perlu diperbaiki isi tayangan agar lebih mendidik, tidak terlalu lebay menggambarkan tokoh dalam cerita tersebut. Intinya tontonan yang penuh tuntunan, edukatif bukan berisi amarah dan cemooh yang sarkastik. Dammam, 23/04/2013

Teguh Suprayogi

/www.warungaqiqah.com

TERVERIFIKASI (BIRU)

Therapist di Saudi Arabia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?