Kawin Kontrak = Melegalkan Zina

05 Juli 2012 01:19:03 Dibaca :

Banyaknya komentar atas tulisanku yang berjudul Musim Kawin Kontrak Telah Tiba, di Kompasiana hari selasa kemarin tanggal 4 Juli 2012 membuatku menulis kembali poin-poin yang ditanyakan atau dipermasalahkan. Mohon maaf tidak bisa membalas satu persatu dikarenakan kesibukan aktivitas harian.

Tulisan itu merupakan kegalauan hati saya terhadap beberapa sikap dan penilaian klien saya terhadap perempuan Indonesia, berdasar interview baik yang disengaja atau tidak disengaja yang saya lakukan ketika melakukan terapi pijat.

Bahwa saya mengatakan para pelaku kawin kontrak, kebanyakan dari kaum yang melegalkan nikah mut'ah, itu fakta yang tak terbantahkan berdasarkan interview yang saya lakukan. Ini hasil wawancara saya selama hampir satu tahun bekerja di kota Dammam, Saudi Arabia. Lingkupnya memang hanya sebatas pasien yang datang ke klinik tempat kerja saya atau yang saya tangani langsung. Perkiraan sudah hampir sembilanratusan orang yang pernah saya tangani. Walau tidak punya data angka, kaum yang melegalkan nikah mut'ah cukup banyak di propinsi timur Saudi ini. Dan seperti yang pernah saya tulis, bos-ku juga termasuk kaum ini.

Kalau urusan orang-orang Arab yang datang ke kawasan Puncak, termasuk kaum yang melegalkan nikah mut'ah atau tidak, itu bukan urusan saya. Silakan yang di Indonesia kalau tertarik untuk menelisik keberadaan para turis Timur Tengah ini. Sudah banyak juga artikel yang menulis tentang ini, bahkan beberapa tivi sudah mengulasnya.

Memang benar kebanyakan dari mereka yang pengin kawin kontrak alasan utamanya urusan syahwat, khususnya si lelaki, dan motif ekonomi atau duit untuk sang wanita, namun bagi sebagian pria Arab ini, agar tidak terjerumus ke zina, dan "legal", maka dibuatlah kawin kontrak(baca: kawin mut'ah). Walau saya menganggap tetap perzina- han jika nikahnya tidak memenuhi rukun nikah dan hanya bertujuan nikah untuk waktu tertentu saja atau sesaat. Nikah yang jauh dari esensi perkawinan dalam Islam.

Akhirnya saya berpendapat, mengikuti ulama yang mengharamkan kawin mut'ah. Demi menjaga martabat dan kehormatan wanita. Bagi yang mengakui kawin mut'ah ini silakan saja dengan keyakinannya, dan sebaiknya untuk kalangan anda sendiri saja. Karena tak mungkin menyatukan pemahaman masalah ini.

Dan saya berharap pemerintah daerah dan masyarakat bisa mengatasi masalah ini, karena praktek ini semakin masif berkembang dibeberapa daerah. Menjadi tugas kita bersama agar tidak berkembang lebih jauh lagi. Mohon maaf bila ada salah kata.

Wallahu'alam... Dammam, 5 Juli 2012

Teguh Suprayogi

/www.warungaqiqah.com

TERVERIFIKASI (BIRU)

Therapist di Saudi Arabia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?