HIGHLIGHT

"Efek Kupu-kupu" Cinta Dalam Rumah Tangga

17 September 2012 17:02:25 Dibaca :
"Efek Kupu-kupu" Cinta Dalam Rumah Tangga

Hmm.. ini agak sophisticated... namun saya mencoba menjelaskan dengan 'bahasa saya' sendiri.. Pernah memperhatikan kepakan sayap kupu-kupu terbang? Kita melihat kepakan sayap seekor kupu-kupu itu seperti pengulangan gerak.. Namun ternyata setiap kepakan sayap kupu-kupu itu sesungguhnya tidak pernah ada yang sama persis. Terlihat sama, pengulangan, namun jika diamati lebih detil, kepakan sayap kupu-kupu itu tak pernah sama. Perhatikan gambar di bawah ini Terlihat garis kurva yang berputar-putar, terlihat berhimpitan, namun tidak ada yang persis sama. Melalui kurva di atas saya ingin menggambarkan tentang pola percintaan suami istri. Terlihat romantis.. lantas renggang, lantas baikan... romantis lagi.. lalu bertengkar.. dan begitu seterusnya.. terlihat seperti pengulangan. Malah mungkin ada yang bilang seperti rollercoaster, berputar-putar, membuat jantung berdegup kencang.. lantas reda kembali, dan tenang.. lalu berputar lagi dan seterusnya. Namun pola pengulangan itu sesungguhnya tidak ada yang sama.. selalu berbeda bentuk, jalan cerita, dan hasil akhirnya. Terlihat sepele, berputar-putar, pengulangan pola yang sama, namun selalu berbeda bentuknya. Seorang matematikawan dan meteorolog dari MIT, AS, Edward Norton Lorenz, menelurkan sebuah istilah yang disebut "Buterfly Effect." Butterfly effect ini berhubungan erat dengan teori chaos. Lorenz menyatakan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brazil bisa berujung pada munculnya Tornado di Texas. Maksudnya adalah bahwa gerakan paling sepele pun bisa menyebabkan berbagai rangkaian lain yang berpengaruh dalam skala besar. Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis pergerakan sistem untuk jangka panjang. Anggaplah dua pasang manusia memulai sebuah langkah baru.. menikah, berumah tangga. Tidak peduli bagaimana awalnya, apakah berputar-putar seperti Skema Jatuh Cinta yang saya publish sebelumnya, dari sahabatan, 'TTM'-an, pacaran, dijodohkan, atau karena faktor-faktor lainnya yang menjadikan dua insan itu menikah. Nah dalam perjalanan rumah tangga yang equlibrium itu, stabil, akan selalu ada faktor-faktor kecil yang bisa mempengaruhi hadirnya prahara rumah tangga yang dahsyat. Pengaruh 0,0001 dengan 0,1 jika perjalanan rumah tangga itu digambarkan oleh kurva yang 'muter-muter' itu, akan berpengaruh pada hasil akhirnya. Lihat gambar di bawah ini. 13478923241448258978 Perhatikan kurva berwarna biru dengan kuning, terlihat serupa, dengan awal yang sama. Namun berbeda koordinatnya dalam perjalanannya, dan hasil akhirnya. Oke? lanjut... Nah jika dilihat dalam skala nano yang terkecil. Banyak hal-hal sepele di internal rumah tangga yang sedikit 'rusak' atau mengganggu kestabilan rumah tangga. Misalnya seperti si suami yang suka menaruh handuk di tempat tidur, tumpukan pakaian yang asal di lemari, atau hal-hal sepele lainnya. Hal-hal seperti ini saya sebut sebagai fraktal (masih dalam hubungannya dengan teori chaos). Fraktal ini yang dalam sebuah rumah tangga bisa menyebabkan missunderstanding di kedua belah pihak, yang memungkinkan hadirnya 'atraktor asing.' Atraktor asing di sini misalnya bisa seperti ketertarikan, hoby atau aktivitas salah satu pihak yang tidak disukai pasangannya. Atau bahkan atraktor asing itu adalah....... ya macam-macamlah... (silahkan isi sendiri :) ) Gangguan atau turbulensi rumah tangga yang sedikit 'rusak' itu (dalam skala kecil atau besar) mempengaruhi pola jalannya sebuah rumah tangga. Dan setiap pilihan atau langkah dari salah satu pihaknya bisa memiliki milyaran percabangan dan variasi probabilitas untuk hasil akhirnya. Lalu gimana? udah ruwet? hehehe... Jadinya musti gimana dong...? Ya kita perlu menyadari rumah tangga yang sedang dijalani ini telah sampai pada perhitungan koordinat berapa, apa saja yang telah mempengaruhinya sehingga kita sampai pada titik ini. We can't go back... hanya mengikuti kurva kehidupan rumah tangga yang telah kita tentukan sebelumnya akan berakhir ke mana... Masihkah ada pilihan untuk kembali ke titik sebelumnya..? Nampaknya tidak, namun kita masih bisa mempersiapkan diri akan sampai ke titik mana kita berakhir. (Erri Subakti) Kamu adalah Fraktal Kamu adalah Atraktor

Erri Subakti

/www.treecon.wordpress.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Menulis untuk Menulis."
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?