Perjuangan yang Sia-sia Bag I

05 September 2012 08:02:44 Dibaca :


Masih teringat jelas kenangan pahit manisnya masa-masa kecil ku di ingatan sampai saat ini. Masa masa kecilku yang penuh dengan kepahitan hidup, derita tiada hentinya, keluarga selalu di gerundungi oleh masalah keuangan. Maklum dulu desa tempat aku adalah salah satu desa yang terisolir yang berada diperbatasan provinsi sumatera barat dengan provinsi jambi. “Nama desa tempat aku dilahirkan bernama Koto Baru”. Dan ayahku sendiri hanya seorang pekerja buruh tani, yang pekerjaan tetapnya tidak ada. Ayahku bekerja bila ada yang meminta bantuan tenaganya buat pekerjaan di kebun yang dimiliki orang orang lebih memadai perekonomiannya dari pada kami. Dan tidak jarang ayahku disuruh mengurusin kebunnya dan disuruh tinggal didalam kebunnya.


Pada saat itu Indonesia tengah dilanda krisis global pada tahun 1998 sampai tahun 2000 dan aku baru duduk di bangku kelas II Sekolah Dasar yang ada di dekat desaku. Aku bernama Nofri, seorang anak laki-laki yang baru berunur Delapan (8) tahun, aku anak nomor dua dari tiga bersaudara (pada saat itu). Pada masa-masa itu aku belum terfikirkan akan kebutuhan kehidupan. Yang aku ketahui hanyalah sekolah, bermain menikmati masa-masa kecilku. Namun walaupun begitu aku setiap paginya sebelum berangkat pergi kesekolah, aku selalu berjualan kue keliling kampung dari pukul Lima subuh sampai pukul setengah tujuh pagi. Dan hasil yang aku dapatkan dari jualan kue keliling setiap pagi itu cukup buat membiaya seluruh keperluan sekolahku. Upahku berjualan kue sebenarnya tidak lah besar, terkadang aku mendapat upah sebesar Rp.500, kadang Rp. 1000 dan paling besar aku mendapakan upah Rp 1500. Selama Dua tahun, semenjak aku masuk Sekolah Dasar sampai aku duduk di bangku kelas II, aku tidak pernah meminta jajan kepada orang tua ku. bahkan semua peralatan tulis aku beli sendiri dari uang hasil aku jualan kue.


Namun sudah menjadi kehendak takdirku mau bilang apa lagi. Dimana hari yang aku tidak aku inginkan datang kedalam kehidupan ku sehingga membuat ayah dan ibuku harus meninggalkan kampung halaman ku. alasanya karena ayah dan ibu ku kesulitan untuk mencari pekerjaan buat menafkahi kehidupan kami sehari-hari di kampung, dan akhirnya ayah dan ibu ku memutuskan untuk pidah ke desa orang, dan itupun tidak tinggal di perkampungan warga setempat. Namun kami tinggal di sebuah pondok kebun karet milik juragaan ayahku yang baru. Kami disuruh menjaga kebun miliknya supaya tidak di ganggu oleh hama babi yang sering setiap malam menyatroni perkebunan bos ayahku itu.


Di ladang itu kami diberi beberapa ekor ternak ayam dan itik buat di kembangin. Semua ternak itu akulah yang mengurusnya, mulai dari mengeluarkan dari kandang, memberi makan, mengawasi dan sampai memasukan kedalam kandang kembali. Semua itu aku lakukan setiap hari, tampa ada hari liburnya walaupun tanggal merah.


Sebulan sudah lamanya aku tinggal bersama keluarga di kebun juragan ayahku itu. Lama kelamaan aku merasa jenuh bila hanya memelihara ternak ayam yang di berikan orang punya kebun dan berdiam diri di pondok seharian. Pada suatu saat orang yang punya kebun mampir di pondok yang kami huni dan dia bebicara bersama ayahku tentang perkebunan miliknya itu. Aku sendiri cuek saja. Dalam fikiran ku”ah masa bodoh dengan pecakapan orang dewasa. Bukan urusanku” fikirku.


Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki dewasa yang memanggil ku, panggil saja dia ngan sebutan pak ujang. “nak, sini nak” panggilnya.


Mendengar panggilan itu aku tersentak dari lamunanku dan lansung menoleh. Eh ternyata orang punya kebun yang memanggil ku dan tentu saja segera aku menghampirinya.


Aku menjawab panggilannya dengan nada biasa saja “ ada apa pak?” jawabku sambil bertanya.


Dia hanya tersenyum dan bertanya balik pada ku” nama kamu siapa nak?”tanyanya. “panggil saja nama ku dengan sebutan nofri pak” kembali aku menjawab petnyaannya.


Dan dia bertanya lagi kepadaku “kamu tidak sekolah nof?”mendengar pertanyaan itu aku termenung sejenak dan akhirnya menjawabnya,” tidak pak, kemarin dikampung aku sekolah hanya sampai kelas Dua SD pak” jawabku memelas.


“kamu mau tidak sekolah di desa dekat sini? Kalau kamu mau, nanti saya usahakan buat memasukan kamu kesekolah itu”


Aku kaget mendengar perkataannya barusan. Rasa senang dan rasa gelisah memenuhi perasaanku.


“kenapa diam nof?” Tanya nya kembali.


“tidak pak, aku tidak diam. Tapi aku Cuma bingung saja, apa mungkin aku bias sekolah lagi? Sedangkan tempat tinggal ku saja jauh dari pemukiman warga, dan untuk menuju kesekolah yang berada di kampung itu butuh 45 menit perjalanan dengan berjalan kaki pak. Dan medan yang ku tempuh kesana tidaklah jalan lintas yang ramai di lewati orang. Jalan kesini kan Cuma jalan setapak yang dibuat orang untuk pergi kekebunnya pak.” Jawabku.


“sebenarnya kamu ada keinginan tidak untuk melanjutkan sekolahmu yang sempat terputus? Kamu tau tidak, tidak ada kata tidak bias jika kita memiliki niat yang kuat untuk menggapai cita cita dan mewujutkan mimpi menjadi nyata.” Katanya sambil memberiku semangat untuk melanjutkan pendidikan ku yang sempat tertunda.


Aku sendiri hanya termenung dan berfikir akan tawaran juragan ayahku itu.


Waktu terus berjalan dan haripun sudah mulai sore, dan bapak-bapak itu sendiri mau bersiap-siap untuk pulang kerumahnya.


Malam harinya aku hanya bermenung diri sambil kembali memikirkan tawaran orang punya lading itu.


Lelah berdiam diri, Akhirnya aku meminta pendapat pada ayah dan ibuku. “pak, buk. Tadi orang punya kebun menawarkan aku sekolah di perkampungan. Boleh tidak buk, pak?” tanyaku pada mereka.


“semua terserah padamu, kamulah yang akan menentukan perjalanan hidupmu. Kami hanya bias member support dan membimbingmu dalam perjalanan kehidupan.”itulah yang aku dapatkan dari pertanyaanku kepada kedua orang tua ku.


Esok paginya aku kembali mengurusi ternak kami, dan pada saat itu aku sangat berharap orang punya kebun kembali mengunjungi kebunnya. Tapi harapanku hanya lah sebuah harapan yang tidak terpenuhi.


Dua minggu kemudian, tepatnya pada hari senin orang punya ladang akhirnya menampaka wujudnya diladang itu.


Dan pada tengah harinya bapak itupun pergi kepondok kami buat berteduh sambil beristirahat karenah telah letih bekerja membersihkan kebunnya bersama ayahku.


Setelah dia tiba di pondokku, aku memberanikan diri untuk bertanya padanya. “pak, apakah tawaran kemarin masih berlaku?”tanyaku.


“tawaran mana ya?? Emang kamu mau bekerja?” jawabnya samtersenyum.


Aku diam saja mendengar jawabannya itu. Mungkin dia memahami bahwa aku merasa kecewa dan kesal karena jawabannya barusan.


“emang benar kamu mau sekolah?


“iya pak, aku mau sekolah. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”tanyaku padanya.


“ya sudah, nanti saya bicarakan pada orang tua mu”


Percakapan kami terputus sampai disitu. Dan bapak itu berbicara pada ayahku lagi.


Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak tahu. Seperti biasanya aku tidak begitu perduli dengan pembicaraan mereka.


Dua hari kemudian ayahku tiba-tiba mengajak kami sekeluarga untuk kembali kekampung halaman kami dan sekaligus untuk belanja buat kebutuhan sembako harian kami. Hari itu adalah hari rabu, hari pasar pekan di kampung ku.


Setiba di kampung aku lansung bermain bersama teman-teman ku. itung-itung buat balas dendam karena hampir dua bulan tidak melihat keramaian dan tidak bisa bermain bersama teman-teman.


Seharian telah berlalu, dan akupun kembali kerumah, dan esoknya bersiap siap untuk pergi kebun yang kami jaga.


Sesampainya di kebun, aku melihat bahwa orang yang punya kebun telah berada di kebunnya itu.


Ayahku lansung menghapirinya dan aku mendengar bahwa mereka sedikit berbincang-bincang tentang kelanjutan sekolahku dan ayahku juga mengatakan bahwa dia telah meminta surat pindah dari SD pertama aku bersekolah. Aku sendiri asik mendengar pembicaraan mereka, dan akhirnya aku dipanggil pak ujang.”nof kesini sebentar. Kamu benarkan mau sekolah lagi. Nanti siang kamu ikut saya ke lawai ya. (lawai itu nama perkampungan yang ada di dekat kebun yang aku tempati). Kita akan menemui kepalah sekolah SD disana”katanya padaku.


“dengan senang hati pak, aku akan ikut bersama bapak” jawabku dengan nada gembira.


Siang harinya aku bersama pak ujang pergi ke desa lawai itu, dan aku pun diterima di sekolah itu. dan esoknya aku bangun pagi-pagi sekali, karena tidak sabar untuk memasuki sekolah baru.


Di sekolah baru ku itu aku di terima dengan baik oleh kawan-kawan baruku. Prestasi sendiri di sekolah tidak begitu buruk, setiap catur wulan aku selalu mendapatkan peringkat ke Empat (4) dari Tiga Puluh Lima (35) siswa. Dari siswa siswi yang sekelas bersama ku, akulah yang paling menonjol nilainya di segi matematika.


Bukan bermaksut menyombongkan diri. Tapi itulah kenyataannya. Aku selalu unggul di bidang ini dari pada teman-teman yang lainnya. Para guru selalu memujiku di bidang matematika ini. Karena nilai-nilai yang aku dapatkan selalu tinggi. Tidak pernah di bawah Sembilan Puluh.


Kehidupan ku terus berlansung dengan bahagia selama Dua tahun kedepannya.


Dua tahun sudah aku bersekolah di SDN 10 Lawai itu, dan akupun sudah duduk di bangku kelas Empat.


Karena aku tidak mau terlambat sampai sekolah. seperti biasa, aku selalu bangun pagi-pagi sekali untuk pergi kesekolah. hari itu adalah hari sabtu, dan disekolahku saat itu tidak ada kegiatan belajar mengajar. Selain mengisi daftar absen kehadiran. Kami pergi kesekolah juga ingin melihat daftar ujian catur wulan III atau ujian kenaikan kelas.


Sepulang dari sekolah, aku kaget melihat orang tuaku tengah berkemas-kemas barang. Spontan aku bertanya pada ayahku.” Yah, kita mau kemana? Kok semua barang di kemasin?”Tanyaku heran.


“kita akan pulang nak” jawab ayahku.


“Kenapa yah? Apa ayah di pecat sama pak ujang?” tanyaku lagi.


“tidak nof. Pak ujang tidak memecat ayah, tapi memang kontrak ayah di kebunnya ini sudah berakhir. Dan lagi pula kebun karet milik pak ujang sudah bisa di deres, jadi tidak butuh di jaga lagi.”ayahku mencoba menjelaskan kepadaku.


“terus bagai mana dengan sekolahkku yang sebentar lagi akan memasuki ujian kenaikan kelas ya”


“yam au gimana lagi nof. Kita tidak mungkin tinggal disini tampa di gaji”


Dengan rasa sedih aku lansung pergi ke belakan pondok menuju kandang ayam dan itik guna membereskan ternakku untuk di bawa pulang kampung.


Ujian kenaikan kelas telah berlalu. Dan kini sedang masa libur dua minggu.


Sempat terfikir dibenakku untuk melanjutkan sekolah ku lagi di tempat aku bersekolah semula.


Dan akupun meminta bantuan ayahku untuk mengurus surat pindah sekolahku dari SDN 10 Lawai ke SDN 02 koto baru.


Ayahku mengatakan bahwa dia mau saja mengabulkan permintaan ku, tapi apakah aku bersedia mengulang kembali duduk di bangku kelas Empat SD dari awal.


Mau tidak mau, aku harus mengulang kembali dari awal.


Ayahku telah meminta surat pindahku dan aku kembali di terima di sekolah lamaku. Dan kini aku bersekolah seperti biasanya, dan tetap berjualan kue keliling setiap paginya.


Sekarang entah apa lagi yang terjadi, tiba-tiba saja ayahku mengajak kami pindah ke Basrah provinsi Riau.


Sebenarnya aku mau tetap tinggal di kampung guna melanjukan sekolahku. Tapi apa la daya, aku hanya seorang anak lelaki yang baru berusia 10 tahun. Ibu ku tidak mengijinkan aku tinggal bersama tetanggaku.


Aku terpaksa ikut bersama mereka lagi dan sekolahku kembali putus di tengah jalan.


Dalam perjalanan menuju Basrah aku berharap disana aku bisa bersekolah kembali. Namun sesampai di tempat tujuan semua harapan ku sirna, karena tempat yang akan aku tempati bukan lah sebuah perkampungan ataupun pedesaan. Namun hanya hutan belantara yang aku lewati. Setelah aku mengamati setia perjalanan , dan akhirnya aku bertanya kepada ayah.” Yah, sebenarnya kita mau kemana?”tanyaku.


“kita akan tinggal di sebuah perusahaan penanaman batang kasia nak”jawab ayahku.


“apa disana ada sekolah dasar yah?”tanyaku lagi.


“hahaha…kamu bercanda ya nak. Disini kan PT yang baru buka, dan di lokasi yang akan kita tempati masih banyak hutan yang belum di tebang”


Mendengar jawaban dari ayahku itu aku hanya terdiam tampa banyak Tanya lagi.


Dalam fikiranku,aku harus pasrah menerima keadaanku dan harus menjalani takdir hidupku tampa menyicipi pendidikan formal layaknya anak-anak lainnya.


Hanya satu pepatah yang menjadi pedoma hidupku pada saat itu.


Pepatah itu berbunyi “Alam takambang manjadi guru” artinya, dimana pun kita berada, dan apapun yang kita lalui, semua itu bisa kita jadikan pelajaran untuk pegangan hidup dimasa depan.

Nof Reza

/www.nofri.dhameks.com

saya seorang anak yang tidak memiliki pengetahuan luas.namun saya ingin belajar untuk memiliki pengetahuan lebih.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?