HIGHLIGHT

Pernikahan Ala Santri

13 Juli 2012 15:19:45 Dibaca :

Perjumpaan saya dengan istri merupakan berkah. Itu terjadi justru ketika saya baru saja diputus oleh calon saya sebelumnya, karena ada pihak ketiga. Prosesnya juga cepat. Kami ketemu, saling merasa cocok, kemudian kami tunangan. Terus terang kami tidak melalui proses pacaran, layaknya anak muda sekarang. Karena dalam tradisi kami yang besar dalam kultur pesantren, pacaran dianggap “tabu”.


Selama tunangan kami juga jarang berkomunikasi. Calon saya sedang menyelesaikan kuliahnya di pesantren, sementara saya mengajar di pesantren yang berbeda sambil menyelesaikan kuliah di Malang, setelah sebelumnya lulus dari perguruan tinggi negeri di Jakarta.


Ketika kami menyepakati untuk menikah, situasinya juga gawat darurat. Rembuk pernikahan di antara kami terjadi di depan wartel di kota kami, karena kebetulan calon istri sedang mengikuti diklat qira’ah untuk dikirim ke MTQ tingkat Jawa Timur.


Saya bilang sama dia, “gimana kalau pernikahan kita langsungkan bulan depan?”


kalau saya menolak?,” dia balik bertanya


Saya jawab, “terpaksa saya akan mencari yang siap…”


Rupanya “ancaman” saya mujarrab. Dia tak berkutik. Sepakat saya melangsunkan pernikahan bulan depan. Tinggal kami berunding sama masing-masing keluarga kami.


2002, itulah tahun yang mengubah hidup saya. Tahun dimana saya menikah dengan seorang gadis yang sekarang telah memberi saya dua anak, perempuan (8 tahun) dan laki-laki (2 tahun). Mengingat-ingat pernikahan saya yang tanpa gemerlap dan tanpa pesta tidak membuat saya menyesal. Karena perubahan hidup saya bukan karena pestanya, tetapi karena peralihan dari masa kesendirian ke masa berdua. Peralihan yang mensyaratkan peleburan ego pribadi.


18 september 2002. Itulah tepatnya tanggal –bulan – tahun pernikahan kami. Pada hal tanggal 17 september, siang harinya saya masih berada di Malang karena menyelesaikan studi. Saya baru tiba di rumah malam harinya sekitar jam 21.00 setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7-8 jam naik bis. Esok harinya jam 07.00 WIB saya sudah harus berangkat bersama keluarga ke rumah calon istri, tempat akad nikah dilangsungkan.


Ada tiga mobil yang mengiringi keberangkatan saya. semua keluarga mulai kakak, adik, paman ikut dalam rombongan. Kecuali ayah dan ibu yang dalam tradisi saya memang “tidak boleh” ikut ketika akad nikah dilangsungkan di rumah calon istri. Perjalanan ke rumah calon istri butuh waktu normalnya 1 jam hingga 1,5 jam. Karena meski satu kota, saya harus menyeberang laut sekitar 15-25 menit. Belum kalau “tongkang” tidak cepat berangkat, karena harus menunggu penumpang.


Tiba di rumah calon istri para undangan sudah menunggu. Jumlahnya sekitar 70 orang. para undangan bersila di mushalla dan depan mushalla yang sudah digelari tikar. Sangat “sunyi” karena hanya ada suara music padang pasir dari sound system yang juga sederhana. Sambil menunggu akad nikah dimulai saya juga duduk bersila. Hingga akhirnya saya dipanggil untuk menghadap kyai yang mau menikahkan kami disaksikan kepala KUA, aparat desa, saudara saya dan calon istri, serta para tetangga di sekitar rumah calon istri. Ketika akad nikah selesai, saya “digiring” ke dalam rumah dimana istri saya sudah menunggu di sana.


Begitulah pernikahan kami. Sangat sederhana. Melangsungkan pernikahan sangat sederhana bagi mertua keluarga kami bukan pekerjaan mudah. Terutama mertua harus melawan arus terhadap tradisi di daerahnya yang biasanya minimal pernikahan harus dirayakan sehari semalam. Bahkan ada yang dua hari dua malam lengkap dengan hiburan tradisional atau dangdutan.


Tetapi keluarga kami memilih merayakannya dengan sederhana. Termasuk saya dan istri sejak sebelum menikah juga sepakat merayakannya dengan sederhana. Kami merasa, pesta pernikahan dengan biaya besar bukan tidak penting. Tetapi bagi kami substansi pernikahan bukan di pesta. Pernikahan yang “sacral” justru terletak ketika melangsungkan akad nikah dimana saya harus menyertakan komitmen atas nama Allah untuk menjadi suami dan pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah.


Banyak teman yang memberi kesaksian bahwa tanpa ada pesta, pernikahan ibarat kurang bumbu. Setidaknya kami tidak memiliki kenangan manis yang akan terus hinggap di memori kami hingga tua. Tapi kami tidak menyesal. Toh memori-memori lain yang berfungsi sebagai penguat komitmen kami bisa diciptakan di luar pesta pernikahan.


Banyak juga berpendapat tanpa proses pacaran, keluarga akan rentan karena butuh waktu untuk saling memahami karakter masing-masing. Tapi pengalaman kami justru kok tidak. Yang penting pasangan sudah tahu track record-nya yang bisa diketahui melalui kenalan atau saudara jauhnya.


Alhamdulillah hingga 10 tahun pernikahan kami, tanpa pacaran dan gemerlap pesta, praktis tak memiliki prahara keluarga yang dahsyat. Dari pernikahan kami sudah lahir dua orang anak, perempuan dan laki-laki. Bahwa ada perbedaan pendapat, konflik, benturan kepentingan, tentu tak bisa dihindari. Tetapi riak itu bisa kami hadapi. Komitmen kami untuk setia dunia-akhirat mampu menawarkan segenap kemauan untuk menang yang kadang muncul di antara kami. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan-Nya kepada kami, agar keluarga kami terpandu terus dalam terang jalan-Nya.


Selamat menempuh hidup baru bagi mbak Uly Hape dan Yusep Hendarsyah. Kemeriahan pesta semoga menjadi kemeriahan dalam keluarga Anda dunia-akhirat, serta mampu mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dalam arti yang sebenarnya. Amien.



[hi...hi...jadi malu]

Matorsakalangkong


Pulau Garam, 13 Juli 2012



A. Dardiri Zubairi

/www.kompasiana.com-dardiri

TERVERIFIKASI (HIJAU)

membangun pengetahuan dari pinggir(an) blog pribadi http://rampak-naong.blogspot.com/
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?