Febrialdi Rusli Umar Ali
Febrialdi Rusli Umar Ali karyawan swasta

saya bapak dari dua orang anak yang bekerja di QATAR DUTY FREE(QATAR AIRWAYS),saya bisa juga dikunjungi dihttp://www.febrialdiali.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

featured

Curhat Presiden SBY sebagai Korban Pers dan Media Sosial

24 Oktober 2013   13:48 Diperbarui: 8 Februari 2017   17:50 1206 3 6
Curhat Presiden SBY sebagai Korban Pers dan Media Sosial
Foto: Tribunnews.com

Presiden SBY masih belum berhenti mengeluh dan merasa pribadinya sering diperlakukan tidak adil oleh berbagai pihak akhir-akhir ini. Puncak dari keluhan beliau itu telah dikeluarkannya dalam sebuah ledakan kemarahan dalam jumpa pers  pada tanggal 10-10-2013 yang lalu di Bandara Halim Perdanakusuma, dengan mengatakan semua kesaksian dan keterangan yang diberikan oleh Lutfi Hasan Ishaaq tentang Bunda Putri pada sidang pengadilan di hari yang sama, 1000% dan 2000% adalah bohong. 

Seminggu kemudian, Presiden SBY kembali beraksi keras terhadap pernyataan juru bicara Pergerakan Persatuan Indonesia (PPI), M Rahmad  yang  melontarkan berita penangkapan pendiri Partai Demokrat Subur Budi Santoso, oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Keterangan M. Rahmad ini juga diunggah ke Youtube. Presiden SBY menuding pernyataan ini seperti fitnah dan minta BIN untuk menjelaskannya supaya tidak berkembang menjadi berita yang menyesatkan. 

Berita penangkapan oleh BIN secara langsung akan mengarah ke Presiden SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Dalam sebuah acara silaturahim dengan Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode 2013-2015 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Rabu, Presiden SBY berkeluh kesah sebagai salah seorang korban pers dan media sosial. 

Presiden SBY mengakui telah dikritik dan dikecam sejak hari pertama menjabat Presiden. Presiden SBY mengakui salah satu korban dari pers. Walau demikian, beliau juga berterima kasih kepada pers atas kritikan dan kecaman yang bisa menjadi pendorong serta cambuk dalam menjalankan tugas hingga bisa bertahan menjadi presiden sampai sekarang. Presiden SBY mengakui kalau tidak dikritik oleh pers, mungkin dia bisa semena-mena dan berbuat semaunya saja. Sebuah pengakuan yang jujur dari seorang Presiden, 

Adapun curhat Presiden SBY tentang pemberitaan media terkait sumber berita yang tidak jelas. Presiden SBY menuding penggunaan media sosial sebagai sumber berita tidak bisa dipertanggungjawabkan, Beliau menuding berita seperti itu fitnah. Kesannya seperti mengadili dan isi beritanya juga tidak melalui cek silang terlebih dahulu sebelum dibuat. 

Sebagai contohnya, SBY memberi tahu tentang berita penunjukan Sutarman menjadi kapolri. Dalam berita itu, Sutarman namanya diusulkan oleh lobi seseorang, bukan usulan dari Kapolri. Presiden SBY langsung membantah berita itu tidak benar dan mengingatkan pengangkatan Sutarman sebagai kapolri sudah sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku. Menanggapi pernyataan Presiden SBY tentang media sosial sebagi sumber berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, Ketua Dewan Pers Bagir Mananangkat bicara. Bagir manan mengatakan media bisa saja mengambil berita dari mana saja baik dari media sosial maupun sumber yang dirahasiakan oleh pers. Bagir menjelaskan justru dari sumber itu pers bisa mendapatkan berita yang lengkap dan terbuka. Menurut Bagir justru media sosial di abad ini sudah menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat dan media sosial telah berjasa dalam memberikan informasi yang tidak mungkin bisa ditembus oleh pers secara resmi, tapi berita itu justru bisa ditembus oleh media sosial yang dekat dengan informasi langsung.

Pernyataan Presiden SBY tentang media sosial terkesan bermuka dua dalam penilaian dan pandangannya. Pernyataan beliau ini sangat sulit untuk diterima. Padahal dalam raksi dan pengamatan beliau. Beliau sendiri juga aktif di dunia sosial itu sendiri melalui akun Twitter dan Facebook. Presiden SBY juga terkesan egois dengan mengatakan dirinya menjadi korban media, tapi pernahkah Presiden berpikir betapa banyak rakyat yang sudah menjadi korban akibat perilaku pejabat negara yang dipimpinnya melakukan korupsi dan merugikan negara dan menyengsarakan rakyat banyak dan membuat kemiskinan bertambah parah? 

Presiden SBY juga tidak pernah memikirkan betapa semua rakyat yang  telah memilihnya menjadi Presiden, juga merupakan korban akibat kecewa dan tidak bisa membikin kebijaksanaan yang berpihak pada rakyat kecil dan selalu menguntungkan kaum kapitalis. Presiden SBY giliran kena kritik yang menohok dan tajam menuding media sosial sebagai sumber berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Presiden SBY seharusnya tidak memukul rata semua media sosial sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin Presiden SBY dalam keadaan galau dan kalut di penghujung jabatannya sebagai Presiden yang akan segera berakhir.