Analisis Teori Sastra dalam Novel Saman

20 Desember 2012 14:44:44 Dibaca :

Novel “Saman” Karya Ayu Utami

Pendekatan yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

sosiologi sastra dengan menggunakan teori Strukturalisme. Sedangkan kajian yang diteliti dalam novel ini adalah struktur novel Saman karya Ayu Utami, lingkungan sosial pengarang yaitu Ayu Utami, lingkungan sosial novelnya saat diciptakan, dan pandangan dunia pengarang yang terefleksi dalam novel Saman karya Ayu Utami.

Sebelum menganalisis kajian-kajian tersebut, perlu diketahui sekilas gambaran tentang novel Saman ini. Novel ini bermula dari tokoh yang nama awlanya adalah Wisanggeni. Tokoh tinggal bersama keluarga di sebuah desa bernama Perabumulih, kota yang masih sunyi. Wisanggeni adalah anak yang beruntung karena ia dapat dilahirkan oleh ibunya tanpa ada kecacatan. Sesudah Wis tidak tau kenapa ibunya tidak bisa melahirkan, entah itu hilang atau memang ibunya yang sakit. Setelah ibunya meninggal, ia dan ayahnya meninggalkan kota itu.

Wis yang pada saat itu sudah lulus sarjana pertanian pada umur 26 tahun, ia menyerahkan dirinya menjadi seorang pastur disebuah gereja. Dan saat itu ia di tugaskan untuk kembali pada desanya yang dulu yaitu perabumulih. Disitulah ia bertemu seorang gadis bernama Upi yang di tolongnya saat masuk ke sumur. Lama kelamaan upi, wanita yang berlatar belakang mental tersebut membuat hati Wis untuk ingin selalu membantunya. Wis semakin masuk dalam dunia Upi, baik keluarga ataupun desa Upi yang tertimpa masalah karena pemaksaan penebangan pohon karet menjadi pohon kelapa sawit dari sebuah PT. Wis semakin merasa harus membela desa Lubukrantau, desa Upi. Sehingga mengakibatkan ia disekap dan disiksa di sebuah markas PT.

Warga yang sangat geram dan marah pada saat itu, mereka membakar markas tersebut, atas bantuan tuhan Wis pun akhirnya bisa menyelamatkan diri dan lari ke sebuah gereja dimana para suster gereja merawatnya. Di tengah-tengah kejadian itu ada sebuah cerita dari Laila, seorang wanita yang dulu pernah mencintai Wis saat mereka sama-sama kuliah. Laila bertemu dengan seorang pekerja kapal yang bernama Sihar, lelaki yang sudah beristri. Semakin lama mereka semakin dekat karena adanya suatu permasalahan antara Sihar dan bosnya, Rosano.

Kembali ke Wis yang keadaanya belum begitu pulih, ia dituduh sebagai pelaku pembakaran markas PT. Dan Wis tidak mungkin untuk menyerahkan dirinya ke polisi, Sihar yang ditolong oleh Yasmin dan cok, teman Laila berhasil melarikan diri ke New York dan berganti nama menjadi Saman. Yasmin yang pada saat itu sudah punya suami, di tengah-tengah perjalanan menuju New York, Yasmin dan Saman selalu bersama karena itulah mereka merasakan sesuatu yang aneh dalam diri mereka, dan mereka menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta. Akhirnya mereka melakukan persetubuhan.

Begitulah sedikit gambaran tentang novel Saman, dari gambaran di atas saya dapat menemukan analisis tentang struktur novel Saman melalui penggambaran unsur intrinsik novel yaitu unsur tokoh, latar dan alur. Tokoh utama dalam novel ini adalah Saman. Saman digambarkan sebagai tokoh yang religius, mempunyai solidaritas tinggi, ekonomis, suka bekerja keras, pemikir, optimis, dan percaya kepada hal-hal gaib. Kemudian alur dalam novel Saman dibagi menjadi dua yaitu alur utama dan alur bawahan. Alur utama merujuk pada penceritaan tokoh Saman, sedangkan alur bawahan yaitu alur yang merujuk pada penceritaan tokoh Laila. Selanjutnya gambaran latar cerita pada novel Saman terjadi di New York, pabrik kilang minyak, Pulau Matak, Perabumulih, sebuah gereja, Lubukrantau, ruang penyekapan, rumah sakit, dan terjadi pada tahun 1962 sampai 1996. Adapun tema dalam novel Saman adalah tentang seks, cinta, politik, dan agama.

Dilihat dari lingkungan sosial pengarangnya, Ayu Utami merupakan pengarang novel sekaligus aktivis. Beliau menamatkan kuliah di jurusan Sastra Rusia, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sebelum menulis novel, beliau aktif sebagai wartawan di majalah Matra, Forum Keadilan dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, Ayu ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini beliau bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, yaitu novel Saman ini, dengan novel ini beliau mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Novel Saman merupakan penggambaran kehidupan masyarakat saat novel  tersebut diciptakan. Novel Saman merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat Indonesia yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan Orde Baru, yang terjadi pada tahun  1990-an. Pemerintah pada waktu itu di bawah kekuasaan Soeharto. Pada masa Orde Baru muncul konflik baru yang memanifestasikan dalam bentuk demonstrasi mahasiswa yang memprotes beberapa  kebijakan pemerintah Orde Baru, diantaranya kasus tanah, perburuan, pendekatan keamanan, dan hak azasi manusia peristiwa unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan petani atau buruh. Saman menceritakan sampai peristiwa persengketaan tanah dan kerusuhan yang  terjadi di Medan pada masa Orde Baru.  Selain itu novel Saman juga menceritakan mengenai perjuangan seorang pemuda bernama Saman, yang dalam perjalanan karirnya sebagai seorang pastor harus menyaksikan penderitaan penduduk desa yang ditindas oleh negara melalui  aparat militernya padahal penduduk desa yang tak memiliki kesalahan apapun.

Tokoh problematik dalam novel Saman adalah tokoh yang bernama Saman.  Saman ditentukan sebagai tokoh problematik karena Saman merupakan tokoh yang  mempunyai masalah paling banyak dalam cerita dibandingkan dengan tokoh-tokoh  lainnya. Melalui masalah-masalah inilah penulis memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya. Padangan dunia penulis dalam novel Saman karya Ayu Utami yaitu penulis mempunyai rasa simpati pada nasib yang dialami oleh penduduk transmigrasi Sei Kumbang dan penulis berusaha untuk menolak pandangan bahwa laki-laki selalu lebih berkuasa dibanding perempuan. Lebih dari itu penulis ingin menyeimbangkan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terlihat dari adanya pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh penulis pada tokoh problematik. Pemberian solusi-solusi pada tokoh problematik ini sesuai dengan latar belakang lingkungan sosial penulis. Tokoh problematik dalam novel Saman adalah tokoh yang bernama Saman.  Saman ditentukan sebagai tokoh problematik karena Saman merupakan tokoh yang  mempunyai masalah paling banyak dalam cerita dibandingkan dengan tokoh-tokoh  lainnya. Melalui masalah-masalah inilah pengarang memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinya. Pandangan dunia penulis dalam novel Saman karya Ayu Utami yaitu penulis yang mempunyai rasa simpati pada nasib yang dialami oleh penduduk transmigrasi Sei Kumbang dan penulis yang berusaha untuk menolak pandangan bahwa laki-laki selalu mendominasi perempuan. Lebih dari itu pengarang ingin menyeimbangkan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terlihat dari adanya pemberian solusi-solusi yang diberikan oleh pengarang pada tokoh problematik. Pemberian solusi-solusi pada tokoh problematik ini sesuai dengan latar belakang lingkungan sosial pengarang.

Kesimpulan yang dapat di ambil dari novel Saman jika dikaji menggunakan pendekatan sosialisme melalui teori struktualisme yaitu analisis yang seksama dan menyeluruh terhadap relasi-relasi berbagai unsur yang membangun teks sastra dianggap akan menghasilkan suatu pengetahuan tentang sistem sastra.Oleh karena itu, objek sistem satra dikaji dengan detail dalam setiap novel yang dianalisis dengan pendeketan sosialisme karena seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh.

Binti N Rosida

/www.bintinrosida.com

jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?