HIGHLIGHT

Analisis Teori Sastra dalam Novel Bekisar Merah

20 Desember 2012 14:43:19 Dibaca :

Novel “Bekisar Merah” Karya Ahmad Tohari

Dalam menganalisis novel ini saya akan menggunakan pendekatan struktural sebagai dasar melanjutkan pendeketan dengan menggunakan pendekatan psikologi kepribadian. Pendekatan struktural dilakukan dengan menganalisis unsur intrinsik novel yaitu unsur tokoh, latar dan alur. Kemudian baru dilakukan analisis kejiwaan tokoh utama. Setelah mendapatkan gambaran jelas tentang tokoh dan pemicu dilema dalam kehidupan tokoh utama, barulah akan dipaparkan kesimpulan yang terjadi dalam kehidupan tokoh yang di paparkan oleh penulis.

Sebelum saya menganalisis unsur intrinsik novel, sedikit saya akan memaparkan gambaran kehidupan tokoh utama. Novel ini diawali dengan penceritaan sebuah perjalanan hidup seorang wanita yang bernama Lasi. Karena Lasi seperti orang Cina, ia sering di cemooh warga sekitar desanya yaitu desa Karangsoga sebagai anak haram dari seorang tentara Jepang yang dulu bertugas di desa Karangsoga. Ibu lasi sudah menceritakan hal sebenarnya pada tokoh. Benar memang ibu Lasi diperkosa dan Lasi lahir tiga tahun setelah pemerkosaan tersebut. Tetapi tetap saja menurut warga Karangsoga ia adalah anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya karena warga yang tidak mengetahui hal sebenarnya.

Sejak kecil hidup Lasi tak pernah bahagia, di cemooh oleh teman-teman masa kecilnya, juga warga Karangsoga yang selalu menganggap remeh dia. Tetapi ada satu temannya yang tak pernah mencemooh dia yaitu Kanjat. Bahkan, setelah menikah pun Lasi di khianati oleh suami dengan menghamili wanita pincang yang bernama Sipah. Setelah kejadian itu dia merasa sangat terpukul dan merasa hidupnya tiada berguna. Akhirya dia pergi ke Jakarta dengan menumpang sebuah truk yang menyetorkan nira-nira ke pabrik di Jakarta. Sesampai di Jakarta, sopir truk benama pardi menitipkan Lasi pada sebuah warung yang banyak wanita menjual diri pada sopir-sopir yang sering mampir di warung itu. Disitulah kehidupan Lasi semakin menanjak. Ia dengan tidak sadar di jual oleh pemilik warung, bernama bu Koneng kepada temannya yang bernama bu Lanting, seorang wanita yang sering mencarikan istri pejabat-pejabat untuk diberi bayaran selanjutnya.

Kemudian Lasi yang seorang wanita desa polos, pendidikan yang hanya tamat SD itu, di jual oleh bu Lanting kepada seorang overste purnawira sebuah PT bernama pak Handarbeni. Lasi yang diibaratkan bekisar merah oleh Handarbeni karena Handarbeni yang sudah punya dua istri tersebut diberikan segala kemewahan, tetapi tetap saja hati Lasi yang merasakan dilema karena dia mencintai teman masa kecilnya yang bernama Kanjat. Walaupun Kanjat mencintai Lasi, tapi tetap saja mereka tidak bisa menyatu sebab Lasi yang sudah menjadi milik orang lain dan Kanjat yang sudah menjadi seorang dosen merasa dibutuhkan oleh warga Karangsoga untuk membantu kemiskinan di desanya.

Selanjutnya akan saya paparkan unsur intrinsik dari novel Bekisar Merah dengan gambaran penulis yang merasa dekat terhadap realitas kehidupan. Yaitu dengan memunculkan gambaran penderitaan sebuah perjalanan hidup seorang wanita yang penuh dengan liku-liku kehidupan. Gambaran tokoh Lasi, tokoh utama dalam novel ini dipaparkan sebagai tokoh wanita yang memiliki paras cantik, mata yang berkelopak tebal, alisnya yang kuat dan agak naik pada kedua ujungnya, seperti orang Cina. Dia wanita yang mempunyai daya tarik sangat mempesona dengan kulitnya yang putih, lebih putih dari perempuan manapun dan memberi keindahan khas terutama pada bagian wajahnya yang memiliki lekuk sangat bagus pada pipi kirinya. Sehingga dengan kecantikannya, ia banyak menimpa masalah yang terus-menerus tiada henti sampai akhir penceritaan pada novel ini.

Bekisar Merah menceritakan seorang tokoh wanita yang tinggal di sebuah desa pada pegunungan vulkanik bernama Karangsoga dengan masyarakatnya yang miskin. Desa Karangsoga merupakan salah satu potret desa yang miskin keadaan dengan masyarakat yang juga miskin. Desa Karangsoga adalah kampung yang adem ayem, indah dan jarang ada konflik yang nyata. Budaya masyarakatnya miskin, mayoritas adalah penyadap kelapa. Mereka hanya mengandalkan sumber daya alam yang ada. Karena letak yang tinggi maka kelapa yang dihasilkan di desa itu tidak berbuah bagus. Satu-satunya jalan adalah diambil niranya untuk dibuat gula kelapa. Profesi sebagai penyadap ini adalah profesi yang turun temurun dari nenek moyangnya karena mereka tidak mempunyai alternatif pekerjaan lain. Pendidikan warganya yang rendah, rata-rata hanya sampai SD. Orang tua mereka tak mampu menyekolahkan anak-anak mereka. Harga gula kelapa pun sering dimainkan para tengkulak.

Gambaran alur pada novel ini dipaparkan dengan alur campuran. Penulis novel ini menggambarkan kejadian bagian awal dengan suatu kejadian dimana Darsa suami tokoh jatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira, suatu hal yang biasa terjadi di Karangsoga. Kemudian flash back dengan memaparkan masa kecil tokoh. Tetapi setelah itu penulis menggambarkan tokoh lanjutan dari bagian pertama ketika tokoh mendapat penghianatan dari suami tokoh dan kemudian lanjut menceritakan waktu-waktu berikutnya.

Kemudian saya juga memaparkan konflik yang terus menerus terjadi pada tokoh Lasi di novel ini. Kejiwaan tokoh Lasi sejak kecil tak pernah bahagia, pada masa kanak-kanak ia selalu di cemooh oleh teman-teman sepermainannya. Ia di bilang sebagai Lasipang yaitu Lasi anak Jepang padahal nama aslinya adalah Lasiyah. Begitu guncang jiwa Lasi yang demikian, kenyataannya ayah Lasi adalah Wiryaji, suami ibunya sekarang. Penulis menggambarkan Lasi yang terlarut dalam lamunan, memikirkan godaan teman-temannya sebagai tekanan jiwa dari tokoh pada masa kanak-kanak, yang seharusnya masa kanak-kanak sebagai masa untuk bermain, bersenang-senang dengan teman sebayanya. Tetapi Lasi tak pernah merasakan hal tersebut, malah ia terbebani karena godaan teman-temannya yang tak pernah berhenti.

Lasi yang dikatakan seperti orang Cina, menyebabkan dirinya sering di cemooh warga sekitar desanya yaitu desa Karangsoga sebagai anak haram dari seorang tentara Jepang yang dulu bertugas di desa Karangsoga. Ibu lasi sudah menceritakan hal sebenarnya pada Lasi agar tidak terlalu merasakan dilema dalam hidupnya. Benar memang ibu Lasi diperkosa tapi Lasi lahir tiga tahun setelah pemerkosaan tersebut. Tetap saja menurut warga Karangsoga ia adalah anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya karena warga yang tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Sehingga konflik batin antara Lasi dengan orang sekitar Lasi yang menganggap ia anak haram itu, juga membuat tokoh semakin merasakan penderitaan dalam jiwanya.

Kemudian penulis juga menggambarkan kejiwaan tokoh Lasi sebelum dikhianati Darsa. Penulis memaparkan Lasi sebagai tokoh wanita yang mempunyai karakter taat pada suami, ia juga di gambarkan untuk menjadi seorang wanita yang mau bekerja demi untuk menafkahi keluarga. Tokoh Lasi di novel ini tidak mempunyai cacat sedikit pun, cantik, baik, dan hampir sempurna jika dijadiakan sebagai seorang istri. Hanya saja dalam novel ini penulis menceritakan bahwa tokoh Lasi dan suaminya belum juga punya anak setelah menikah selama dua tahun. Ini sudah menjadi beban tersendiri oleh Lasi yang mengakibatkan Darsa suami tokoh menghianati dengan menghamili perawan pincang yang tinggal di desa tersebut.

Kejiwaan tokoh Lasi sesudah dikhianati Darsa pun terus berguncang, banyak hal-hal yang dengan tidak sadar tokoh lakukan. Ia yang tiba-tiba memberhentikan sebuah truk, dan ikut bersamanya kemudian pergi ke Jakarta itu merupakan sesuatu yang tidak pikir panjang dalam memutuskan masalah. Penulis disini menggambarkan Lasi yang sudah lelah hidup di desa yang penuh musibah itu dengan pergi ke sebuah kota yaitu Jakarta dengan tujuan untuk malupakan penghianatan suami tokoh, juga ingin menghindar dari warga desa yang penuh dengan pikiran negatif tentang dirinya.

Tidak selesai begitu saja kejiwaan tokoh Lasi ketika Di Jakarta semakin penuh sesak. Tokoh di hadapkan dengan sesuatu yang sangat di luar batas pemikiran wanita desa yang polos dan tau akan kehidupan budaya luar desanya. Kejiwaan tokoh terlihat saat melihat banyak wanita yang menemani para lelaki hanya dalam satu malam atau satu waktu. Apalagi penulis mempertemukan tokoh Lasi dengan orang-orang yang memanfaatkan dirinya sebagai sumber mata pencahariaan. Sehingga menyebabkan tokoh Lasi di novel ini semakin dilema dalam menghadapi hidup, di satu sisi ia tak ingin terlarut dalam harta tetapi di sisi lain ia berharap agar bisa membuktikan pada warga Karangsoga bahwa ia bisa sukses walaupun hidup dengan pengucilan-pengucilan di desanya.

Kemudian penulis menggambarkan tokoh Lasi yang memilih memiliki kekayaan harta untuk membahagiakan fisiknya dan membalas dendam pada warga Karangsoga. dilema yang dihadapi tokoh sangat kuat, sehingga keputusan-keputusan yang diambil tanpa adanya pikir panjang. Perubahan yang terjadi pada tokoh tersebut terjadi karena adanya konflik dengan lingkungan sekitarnya. Baik itu dengan Darsa, bu Lanting wanita yang memanfaatkan dirinya untuk mencari harta, juga Handarbeni, suami ke dua tokoh yang menikah karena semata menjadikan ia sebagai bekisar merahnya. Kemudian perubahan kejiwaan Lasi juga disebabkan adanya konflik dengan dirinya, dengan melamun, dan membayangkan sesuatu yang diluar kehendak dirinya. Juga disebabkan oleh konflik Lasi terhadap keluarganya, terutama ibu yang melahirkan tokoh dengan tuduhan para warga Karangsoga yang menjadikan Lasi terkucilkan sejak kecil.

Gambaran kejiwaan Lasi digambarkan penulis melalui mimpi atau hasrat tersembunyi yaitu pada tiap-tiap impian Lasi yang tak pernah terwujud itu membuktikan bahwa tokoh Lasi di novel ini digariskan sebagai wanita yang penuh dengan dilema penderitaan yang mendalam. Lalu digambarkan pula kejiwaan Lasi pada setiap cerita dengan ia melamunkan sesuatu yang terjadi pada dirinya, ini membuktikan seberapa dalam penderitaannya pada konflik-konflik yang terjadi dengan orang sekitarnya. Juga digambarkan bahwa tokoh tersebut sering membuka ingatan-ingatan masa lalunya sebagai gambaran kejiwaan yang ia miliki.

Dilema yang dihadapi Lasi dipaparkan dalam tokoh yang bingung memilih sesuatu diantara dua pilihan yang sama beratnya. Ketika ia menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak punya hal yang istimewa lagi di desanya, juga ia semakin tertekan dengan adanya cemooh-cemooh dari warga Karangsoga. Tokoh yang dihadapkan dengan konflik-konflik tentang dirinya dan sekitarnya, membuat tokoh terbalut pada dilema. Yaitu memilih untuk melupakan dan bangkit tapi hanya kebahagian lahir atau tetap pada kenestapaan tapi mendapat kebahagiaan batin.

Tokoh juga terlihat mendapatkan kejiwaan yang begitu dilema ketika oleh bu Lanting ditawarkan laki-laki yang akan menikahi dia, adalah lelaki yang kaya bisa memberi Lasi apa saja. Tetapi di sisi lain ia yang ingin bersama teman masa kecilnya Kanjat, seorang dosen anak dari tengkulak desa Karangsoga membuat dilema semakin kuat. Dan akhirnya karena kejiwaan tokoh yang sedang menghadapi dilema kuat, pilihan yang di buat tokoh adalah pilihan yang tak membuat dia bahagia.

Kemudian dilema tersebut terus berkepanjangan ketika tokoh Lasi ingin bersatu dengan Kanjat, tapi Lasi yang sedang dilema terlalu memikirkan dampak negatif warga Karangsoga jika ia menikah dengan anak tengkulak yang sudah menjadi dosen tersebut, menjadikan tokoh dan yang dicintainya tidak dapat bersatu. Terlebih juga Kanjat yang tidak mungkin menikahi Lasi karena Lasi yang stasusnya sudah menikah dengan orang lain, membuat Lasi semakin dilema menghadapi situasi dan hatinya. Dan kemudian karena kejiwaan Lasi yang penuh dilema dengan memilih sesuatu yang tidak seharusnya dipilih sehingga membuat tokoh Lasi tidak bisa bersatu dengan pujaan hatinya.

Hasil pendekatan ini menunjukan bahwa dilema kejiwaan yang menjadi-jadi dan terus menerus dalam diri tokoh utama, disebabkan oleh konflik-konflik yang terjadi dengan batinnya dan dengan lingkungan masyarakat. Konflik tersebut menciptakan tekanan dalam jiwa tokoh, sehingga menjadi suatu dilema dalam setiap keputusan yang hendak diambil. Konflik-konflik itu tidak selesai sehingga menciptakan kekecewaan, kepahitan dan dendam sosial yang mendalam dalam jiwa tokoh tersebut. Hal itu menjadi momok ketakutan dalam jiwa tokoh ketakutan tersebut dapat terlihat dengan jelas melalui mimpi, lamunan dan ingatan tokoh.

Kesimpulan dari analisis pendekatan struktualisme yang saya paparkan yaitu melakukan pendeketan bahasa secara terstruktur untuk menemukan sebuah pemahaman yang tidak ambigu. Juga bahasa yang terstruktur akan diketahui pemahaman makna bahasanya dengan jelas. Dapat diketahui secara tersirat bahwa kesimpulan dari novel yang dipaparkan melalui teori struktualisme ini adalah, pentingnya pengembangan mental dan kejiwaan seseorang untuk dibangun dengan benar sejak masa kecil setiap orang. Hal itu yang kemudian menjadikan seseorang memiliki kepercayaan diri ketika bertumbuh menjadi dewasa.

Binti N Rosida

/www.bintinrosida.com

jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?