Kiat Aman Maling Ayam

17 Juni 2011 14:08:02 Dibaca :

Semula saya ragu menuliskan ‘ilmu hitam’ ini, namun karena ingin melunasi janji kepada Pak Aria8, maka saya lanjutkan juga. Keraguan lain adalah, kawatir ada yang memanfaatkan dengan mempraktekkannya, yang berarti saya kan bisa kecipratan dosa. Namun, setelah saya pikir-pikir, sepertinya kecil kemungkinan kekawatiran saya itu terjadi, karena jaman sudah berubah. Juga, dengan mengetahui modus operandi langsung dari pengakuan pelakunya ini, mudah-mudahan para pemilik ayam lebih berhati-hati dan waspada. Andai bermanfaat bagi pemilik ayam, itulah sebagai obat tobat, semoga bisa memperingan dosa saya di masa silam.

Tulisan ini terpicu oleh kisah masa kecil Pak Aria dan teman-temannya dalam usaha mencuri telur ayam untuk membeli bola. Namun, karena terlanjur ketahuan pemiliknya, telur-telur itupun terpaksa ditinggalkan, karena dirasa akan menghambat dalam upaya pelariannya (lengkapnya bisa dibaca di sini). Saya bisa membayangkan para ‘maling kecil’ dengan kejujuran dan keluguannya itu yang harus tergopoh-gopoh melarikan diri…alamiah sekali. Saya geli membaca kisah beliau, karena tentang ilmu ‘maling’ itu biasa saya lakukan pula.

Meski sama-sama maling, namun obyeknya berbeda. Kalau Pak Aria kecil mencuri telur, sedangkan saya mencuri induknya, ayamnya. Ini tidak berarti saya lebih hebat daripada Pak Aria, tetapi karena risiko yang saya lakukan lebih ringan daripada Pak Aria. Jika disuruh memilih, saya malah tidak punya nyali untuk maling telur.

Saya dan teman-teman (selanjutnya disebut ‘kami’) adalah anak-anak kolong (military brat), anak-anak tentara yang tinggal di sebuah komplek tentara/tangsi. Sebuah jalan umum memisahkan komplek kami  dengan  sebuah kampung yang teduh, penuh dengan pohon-pohon besar dan pohon buah. Beda dengan komplek kami yang rapi dengan tanaman perdu kecil-kecil dan jenis bunga-bungaan, karena tidak diijinkan oleh komandan komplek menanam pohon besar.

Kampung seberang itu juga tidak padat-padat amat, tetapi cukup luas dan banyak kebun buah yang jauh dari rumah penduduk, pemiliknya. Kami sering blusukan melalui jalan setapak  ke tempat-tempat itu dan tidak tahan untuk memetik buah yang ada sekedar mengisi perut kecil kami yang selalu saja lapar, seperti buah: mangga, rambutan, nanas, duku, langsep, dll. Kami juga punya beberapa teman sekolah di kampung itu, sehingga punya alasan melewati jalan dan kebun buah itu.

Di tahun 70-an, biasa orang adu ayam (jago), kami yang masih SD ikut-ikutan. Seseorang membawa ayam adalah biasa. Kalau ditanya orang dewasa kami bisa jawab mau meng-adu ayam ke rumah teman. Awalnya memang kami suka meng-adu ayam, tidak harus jago, ayam betina dan ayam kecil juga bisa. Ayam apa saja bisa diadu, asal sepadan. Kegembiaraan mengadu ayam sangat kami nikmati.

Sepanjang perjalanan ke rumah teman kampung yang biasa lewat kebun itu, jika bertemu dengan ayam yang sepadan dengan yang kami bawa, maka bisa diadu. Kami tentu jadi asyik sendiri. Rupanya ayam yang sedang berkelahi itu tidak memperhatikan kami, ia hanya fokus kepada lawannya dan lengah, sehingga kami bisa mudah memegang dan menangkapnya.

Ada pelajaran yang bisa dipetik, yaitu jika dua pihak sedang bertengkar, sejatinya sedang kehilangan kewaspadaan, mudah dimanfaatkan pihak ketiga. Di jaman penjajahan, Belanda sudah mempraktekkan dengan taktik ‘devide et empera’-nya. Juga, jika pengelola negara saling bertengkar seperti sekarang ini, tentu saja menjadi tidak fokus pada kewajibannya, yaitu membangun negara dan menyejahterakan rakyat. Dan akan ada pihak ketiga (bisa negara lain) yang memanfaatkannya.

Ops, kembali ke laptop. Dari seringnya memegang ayam orang itulah, kami jadi berpikir untuk memiliki. Jadilah ayam itu kami tangkap dan bawa pulang.

Kelompok yang lebih besar, yaitu kakak-kakak teman saya mengetahui jika kami bawa ayam curian, mereka merebut dan menyembelihnya. Kami tidak berani melawan dan cuma kebagian sedikit. Rupanya kiat kami ditiru juga oleh mereka. Mereka bisa membawa ayam jago yang besar, karena ‘pancingan’nya besar juga. Perbuatan ini jelas kami rahasiakan, sehingga ayah-ayah kami tidak mengetahuinya.

Hingga suatu ketika salah satu penduduk kampung, seorang bapak-bapak ada yang gila dan berteriak-teriak di jalan, kalau ayamnya sering hilang dicuri anak tangsi. Rupanya penduduk kampung selama ini mengetahuinya dan tidak berani mengungkit dan mengusutnya, barangkali takut dengan ayah-ayah kami… ABRI kok dilawan! Ya, tak hanya penduduk kampung, kamipun takut kepada ABRI--ayah kami sendiri, jika sampai ketahuan perbuatan kami. Makanya sejak itu kami tidak berani maling ayam lagi, hehehe. (Depok, 17 Juni 2011)

-------------------

Sumber Ilustrasi: http://lauraminer.com/post/1629119572/suradita-village-west-java-indonesia-children

Wisnu Susilo

/ws-thok

TERVERIFIKASI (BIRU)

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, bekerja di DKI Jakarta. Tak cuma 'nguplek' di Jawa saja, bersama Kompasiana ingin lebih melihat Dunia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?