HIGHLIGHT

Belajar Lebih Teliti dengan (Cara) Menulis

16 April 2012 21:35:15 Dibaca :
Belajar Lebih Teliti dengan (Cara) Menulis

Meski tidak secepat kemajuan teman-teman Kompasianer yang aktif dan produktif, saya pribadi merasakan kemajuan sejak tepat dua tahun yang lalu (17 April 2010) bergabung dengan Kompasiana. Kompasiana membuat saya lebih antusias menulis. Hasilnya kira-kira dua kali lebih produktif (minimal seminggu satu tulisan; sebelum bergabung mah cuma satu tulisan per dua minggu, hehehe). Hal yang lebih penting dari sekedar produktifitas adalah manfaat dari menulis itu sendiri. Sudah banyak manfaat yang ditulis teman-teman Kompasianer. Salah satunya adalah kita menjadi lebih teliti. Setidak-tidaknya itu yang saya rasakan.

Jika mengalami keraguan dalam menuliskan sebuah kata, saya bisa merujuk pada buku, media massa atau mengecek ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jika ragu dengan tanda baca, saya bisa juga merujuk pada buku, media massa atau pun melongok Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Pada mulanya terasa sebagai kendala, namun selanjutnya menjadi lancar dan tidak ragu lagi dalam menuliskan kata atau tanda baca itu.

Salah satu sosok Kompasianer yang saya kagumi dalam ketelitian adalah Pak Gustaaf Kusno. Saya percaya banyak pembacayang mengenal beliau, atau minimal 10.567 Kompasianer (per tulisan ini saya unggah) yang telah membaca tulisan beliau yang berjudul “Rayuan Cinta Gombal”. Tulisan Pak Gustaaf sering HL, masuk Kompasiana Freez dan koran Kompas. Selain tema kesehatan, bahasa dan pengetahuan umum, salah satu ‘jenis’ tulisan beliau yang menarik, menghibur dan bermanfaat adalah tentang ‘typo’ dan ‘kelirumologi’ yang termuat di koran-koran terkemuka baik dalam maupun luar negeri. Bagaimana Pak Gustaaf mengritik koran sekaliber Kompas yang masih saja membuat kesalahan, bahkan blunder.

Selama dua tahun ini saya belajar dari tulisan beliau. Pelajaran yang saya tangkap adalah menjadi penulis yang baik perlu teliti dan akurat. Pelajaran ketelitian atau kehati-hatian yang saya dapatkan dari menulis, meliputi:

1. Teliti menuliskan kosakata bahasa Indonesia

Pedoman penggunaan kosakata bahasa Indonesia yang benar yang menjadi rujukan saya adalah buku, media massa juga KBBI. Misalnya kata-kata: risiko, hobi, kemarin, salat, dll, sebagai pengganti: resiko, hobby, kemaren, sholat, dll. Pedoman yang saya ikuti, jika kita tidak menjumpai sebuah kata di dalam KBBI, kita menuliskannya dengan huruf miring (italic).

Setiap saat selalu bertambah kosakata bahasa Indonesia baik dari bahasa asing maupun dari bahasa serumpun. KBBI terbaru berusaha memuat tambahan kosakata itu. Sayang KBBI yang saya miliki sudah kadaluwarsa (edisi ketiga), namun tetap saya pakai (belum ada anggaran untuk membeli edisi yang terbaru, hehehe), berharap ada yang mengoreksinya jika saya keliru menuliskannya.

2. Teliti menuliskan fakta

Fakta atau kejadian nyata sering menjadi sarana penting dalam tulisan untuk meyakinkan pembaca. Tulisan kita akan dianggap kurang bermutu jika fakta-nya tidak benar/bohong. Mudah sekali mengemukakan fakta jika kita sendiri yang mengalaminya. Namun jika tidak, kita perlu menanyakan atau mengecek kepada sumber-sumber yang dipercaya. Fakta sepertinya tidak terlalu dituntut keakuratannya dalam karangan fiksi.

Kita perlu hati-hati memilih kata-kata: selalu, sering, kadang, semua, banyak, sedikit, dll, untuk dibandingkan dengan kenyataan sebenarnya. Juga berhati-hati terhadap penggunaannya yang tak sengaja bisa terpeleset ke arah labelling atau generealisasi.

Boleh saja kita menggebu-gebu dan yakin terhadap kesimpulan opini kita, namun sebaiknya perlu mengecek juga kenyataan yang ada. Misalnya opini yang menyatakan, rusaknya pendidikan menjadi penyebab ambruknya sebuah negara. Dari kenyataan yang ada, ambruknya negara (misalnya: Yugoslavia dan Uni Soviet) ternyata karena hal lainnya. Jika toh masih ingin memaksakan opini, kita bisa saja mengatakan, rusaknya pendidikan secara tidak langsung menjadi penyebab ambruknya sebuah negara.

3. Teliti dalam berlogika

Setelah selesai menulis dan membaca kembali (ber-inkubasi), sering kita menemukan ketidakkonsistenan. Di depan kita menyatakan yakin, namun di belakang menuliskan ‘mungkin’ yang terkesan ragu.

Saya teringat Jaya Suprana dalam kaleidoskopi kelirumologinya yang mengulas kesalahan Daniel Defoe dalam novel terkenalnya, Robinson Crusoe. Diceritakan (maaf, tidak persis-persis amat), setelah kapalnya terdampar, Robinson berenang dengan telanjang bulat ke pantai. Namun, sesampainya di darat ia mengeluarkan perbekalan dari saku bajunya.

4. Teliti menuliskan nama orang, jabatan, institusi, lembaga dan sejenisnya

Meski William Shakespeare menyatakan apalah arti sebuah nama, namun percayalah seseorang atau pihak tertentu kurang atau tidak senang jika nama dan jabatannya ditulis keliru. Pada kartu undangan pernikahan sering tertulis permohonan maaf jika keliru dalam penulisan nama dan jabatan. Mengurangi kekeliruan, sebisa mungkin mengecek kembali sebelum tulisan diunggah.

Kekeliruan kadang saya alami ketika menuliskan status seseorang. Saya menulis pak di depan namanya, karena memperkirakan seorang bapak, ternyata seorang ibu atau wanita. Ini bisa terjadi karena nama multiseks (bisa untuk laki-laki atau wanita, misalnya nama-nama: eka, lilik, dsb) maupun uniseks (untuk satu jenis kelamin saja, misalnya nama-nama: budi, yayuk, dll.)yang tidak sesuai dengan umumnya.

5. Teliti menuliskan kaidah-kaidah dalam pedoman umum bahasa Indonesia yang disempurnakan

Sebetulnya EYD edisi tahun 1975 ataupun edisi tahun 1987 sudah diganti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Peraturan menteri itu dari yang saya browsing meliputi: pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan. [1]

Lagi-lagi saya belum punya peraturan menteri yang baru itu dan terlanjur mempelajari kaidah-kaidah EYD. Saya sekedar menduga saja (perlu mengecek) tidak banyak perubahannya, karena yang saya lihat dari tulisan-tulisan di media massa sepertinya masih sama dengan EYD edisi sebelumnya.

Sambil terus belajar menulis, saya berusaha menerapkan kaidah-kaiadah EYD ini sebisanya. Senang jika menemukan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan di Kompasiana.

6. Teliti menuliskan sumber atau referensi bacaan

Etikanya sudah jelas, yaitu jika kita tidak ingin dicap sebagai plagiator, kita perlu menuliskan sumber dan referensi bacaan sejelas-jelasnya dan sebenar-benarnya. Tidak perlu malu dan gengsi mengakui sebagian tulisan kita berasal dari tulisan orang lain. Sudah umum, jarang ada sebuah buku atau tulisan yang benar-benar murni memuat ide orisinal penulisnya. Meski pernyataan yang kita kutip sudah umum, tetap saja bisa menuliskan sumbernya anonim, menginformasikan bahwa itu bukan pernyataan orisinil kita.

Kalau bisa sih yang kita kutip tidak terlalu banyak, sehingga mendominasi tulisan kita. Jika yang kita kutip terlalu banyak, bisa-bisa kita dikatakan sebagai epigon, yaitu penulis yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya meniru.

7. Teliti dalam membaca tulisan orang lain dan memberikan komentar

Saya pernah memberikan komentar dari tulisan teman Kompasianer yang berupa sebuah pertanyaan. Ternyata jawaban sudah ada dalam tulisan itu. Jelas saya malu karena tidak teliti membacanya. Demikian pula sebaliknya, saya kadang mendapatkan komentar dari tulisan saya yang sebetulnya sudah saya tulis. Saya hanya menduga, pemberi komentar kurang teliti membacanya. Bagaimanapun saya tetap menghargainya, karena dibaca saja saya sudah sangat berterima kasih.

Dengan belajar teliti dalam tulisan, semoga selanjutnya lebih teliti lagi dalam segala bidang kehidupan lainnya.

Terima kasih kepada Admin dan teman-teman Kompasianer yang telah memberikan informasi, reportase, opini maupun imajinasinya (berupa karangan fiksi) yang sangat menarik, menginspirasi, menghibur dan bermanfaat. Sangat indah dan menyejukkan kebersamaan (sharing and connecting) di Kompasiana.

Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih juga kepada semua pembaca yang telah sudi meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya dan juga atas tanggapannya. Yang saya baca ternyata kuantitasnya terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah pembaca tulisan saya. Untuk itu maafkanlah! Maaf juga jika tulisan saya kurang berkenan. Salam hangat dan sukses selalu. (Depok, 17 April 2012)

----------------

Referensi:

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Yang_Disempurnakan

Sumber Ilustrasi: http://www.thinkbling.com/coins/pics/Magnifiers_Loupes_1.jpg

Wisnu Susilo

/ws-thok

TERVERIFIKASI (BIRU)

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, bekerja di DKI Jakarta. Tak cuma 'nguplek' di Jawa saja, bersama Kompasiana ingin lebih melihat Dunia.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?