pilihan headline

Hujan Datang, Waspadai Leptospirosis!

11 Agustus 2017   11:25 Diperbarui: 11 Agustus 2017   19:09 351 2 0
Hujan Datang, Waspadai Leptospirosis!
Ilustrasi. 123RF.com

Beberapa hari terakhir ini hujan sudah mulai mengguyur Indonesia, terlebih di wilayah Jawa Tengah. Hujan ini memiliki variasi dalam hal intensitasnya. Kadang hujan turun dengan derasnya, kadang hanya rintik saja. Hujan dengan intensitas yg besar memiliki potensi untuk menggenangi wilayah yang saluran airnya tidak lancar, bahkan bisa menyebabkan banjir jika masalah tersebut tidak segera diatasi.

Genangan air ini bisa menimbulkan beberapa masalah kesehatan yang berakibat fatal bagi manusia, salah satunya adalah penyakit leptospirosis. Leptospirosis ini dikenal sebagai penyakit pasca banjir, karena biasanya masyarakat terkena penyakit ini setelah banjir terjadi. Di beberapa daerah kejadian leptospirosis berawal dari adanya banjir.

Masyarakat masih banyak yang tidak tahu tentang penyakit leptospirosis. Leptospirosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh masuknya bakteri Leptospira ke dalam tubuh manusia. Bagaimana bakteri ini bisa masuk ke dalam tubuh manusia? Bakteri masuk ke dalam tubuh jika ada "port de entry" atau jalan masuk, baik melaui luka yang ada di pemukaan tubuh, membran atau mukosa tubuh.

Jika Leptospira masuk ke dalam tubuh kita, apa yang akan terjadi? Secara alamiah, respon tubuh jika ada benda asing yang masuk ke tubuh, secara otomatis akan melawan benda asing tersebut, termasuk Leptospira. Jika Leptospira yang masuk bukan kelompok yang ganas dan daya tahan tubuh kita dalam keadaan yang prima, maka Leptospira akan dikalahkan oleh kekebalan tubuh kita. Lain halnya kalau Leptospira yang masuk kelompok ganas, ditambah dengan daya tahan tubuh yang sedang menurun, bisa-bisa kita kalah terhadap serangan tersebut, bahkan dapat menimbulkan kematian.

Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia, dari 100 penderita leptospirosis, yang meninggal mencapai 5 sampai 70 penderita. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2014 ada empat provinsi yang melaporkan adanya kasus leptospirosis di wilayahnya. Empat provinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. Persentase angka kematian penderita leptospirosis di Indonesia adalah sebesar 11,75%, sedangkan di Jawa Tengah adalah sebesar 16,16%.

Berdasarkan gejalanya, leptospirosis digolongan menjadi Leptospiraringan atau dalam istilah medis disebut leptospirosis non ikterik dan Leptospira berat atau disebut dengan leptospirosis ikterik. Manifestasi gejala leptospirosis yang menginfeksi tubuh bisa beraneka macam. Mulai dari demam, menggigil, sakit kepala, nyeri pada otot, muntah, diare, nyeri pada perut, jaundice, mata kemerahan, komplikasi ginjal akut, kegagalan fungsi hati, perdarahan paru yang parah dan yang paling berbahaya leptospirosis bisa mengakibatkan kematian jika tidak segera ditangani dengan benar.

Infeksi Leptospiradiobati dengan antibiotik dan bisa disembuhkan jika ditangani segera mungkin. Leptospirosis dengan manifestasi ringan dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin. Sedangkan yang berat dapat diobati dengan penisillin G, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin.

Binatang perantara penular leptospirosis salah satunya adalah tikus. Tikus yang terinfeksi oleh Leptospira kondisinya sehat, karena bakteri ini hidup secara komensal di ginjal tikus. Bakteri dari tikus yang terinfeksi dikeluarkan melalui urin dan disebarkan ke lingkungan. Lingkungan kesukaan tikus adalah lingkungan yang kumuh dan memiliki saluran air yang buruk, dekat dengan pembuangan sampah dan dekat dengan tempat penyimpanan makanan.  Sedangkan Leptospirasenang hidup di tempat yang lembab, berair dan tidak terpapar dengan sinar matahari. Pada saat musim penghujan kita bisa dengan mudah menemukan lingkungan seperti itu.

Jika dalam suatu wilayah ada tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira kencing di daerah teritorialnya, di mana kondisi lingkungan lembab, berair dan tidak terpapar sinar matahari, maka bakteri tersebut akan hidup. Kedekatan hubungan antar manusia dan tikus akan memudahkan terjadinya penularan penyakit. 

Apabila manusia tanpa menggunakan alat pelindung diri beraktifitas di tempat tersebut maka kemungkinan besar bakteri akan masuk ke dalam tubuhnya melalui luka yang ada di permukaan kulit ataupun membran mukosa. Dari situlah bakteri mulai melakukan infeksi, menyerang kekebalan tubuh manusia.

Leptospira yang masuk melalui luka atau membran mukosa akan berkembang di dalam darah dan jaringan tubuh manusia yang selanjutnya akan ikut beredar dalam sistem peredaran darah hingga sampai pada ginjal dan hati. Di ginjal, Leptospira menyebabkan terjadinya radang ginjal, sedangkan di hati menyebabkan gangguan fungsi hati.

Mengingat akibat buruk yang ditimbulkan oleh Leptospira, sebaiknya kita melakukan pencegahan supaya tidak terpapar oleh bakteri tersebut. Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak dengan urin atau cairan tubuh binatang yang terinfeksi, terlebih jika kita memiliki luka di kulit. Selain itu pencegahan bisa dilakukan dengan memakai alas kaki tertutup jika kita terpaksa melakukan aktivitas di tempat yang becek dan lembab. Selain itu hal utama yang harus dilakukan adalah dengan penatalaksanaan lingkungan yang baik, mengusahakan lingkungan tetap bersih dan sehat.