HEADLINE HIGHLIGHT

Menatap Malioboro Baru dari Tempat Sampah dan Trotoar

25 September 2012 02:53:24 Dibaca :
Menatap Malioboro Baru dari Tempat Sampah dan Trotoar

Saya agak terkejut dan seperti baru menyadari sebuah kondisi yang selama ini ada di tempat ini namun luput dari perhatian saya dan mungkin banyak orang yang pernah mengunjungi landmark kota Yogya ini. Entah memang dari dulu seperti ini atau baru-baru saja terjadi. Namun pertanyaan teman kemarin sore membuat saya tahu bahwa ternyata ada masalah sepele yang selama ini harusnya tak dijumpai di kawasan sebesar dan seterkenal Malioboro.

Jelang  sore kemarin saya mengajak teman berkunjung ke Malioboro dengan berjalan kaki dari Hotel Mutiara menuju Pasar Beringharjo hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret. Lelah berjalan kami pun beristirahat di sepanjang trotoar di muka Museum Benteng Vredeburg sambil menikmati es teh yang kami pesan dari seorang penjual minuman keliling bernama Ibu Mirah.

Usai menghabiskan es teh, teman saya menanyakan tempat sampah. Saya pun mengambil gelas plastik bekas minumannya dan berjalan menuju satu tempat dengan harapan akan menjumpai tempat sampah di sana. Berdiri memandangi sekitar saya tak menjumpai satupun tempat sampah. Sayapun kembali dengan gelas plastik bekas minuman masih ada di tangan. Teman saya akhirnya berjalan beberapa meter menjauhi tempat duduk, namun ia juga tak menjumpai tempat sampah.

Selama ini jika berjalan-jalan saya memang selalu membawa botol minuman sendiri hingga jarang mencari tempat sampah. Dan kemarin sorelah untuk pertama kali saya tersadar bahwa selama ini di tempat yang sering saya kunjungi ini ternyata miskin tempat sampah. Di sekitar tempat kami duduk di sepanjang trotoar di muka Benteng Vredeburg hingga sebelum Plaza Monumen Serangan Umum 1 Maret hanya ada satu tempat sampah yang menurut saya kurang layak dan tidak cukup untuk menampung sampah pengunjung yang melewati jalanan ini setiap hari.

1348535625192704454susahnya mencari tempat sampah di sepanjang jalan ini

1348533656774174150

sampah plastik banyak dijumpai dibuang di tempat-tempat yang seharusnya bebas dari sampah di sepanjang trotoar Benteng Vredeburg, sementara tempat sampah yang ada kurang layak

Rupanya memang demikian adanya. Setidaknya penjual minuman tersebut mengamini perihal kurang tersedianya tempat sampah di sekitar Malioboro. Ia pun bercerita kalau selama ini ia dan beberapa pedagang asongan lainnya berinisiatif menyediakan kantung plastik untuk bekas minuman pembelinya. Selanjutnya ia akan membuangnya sendiri jika ada petugas sampah yang datang. Kepada petugas sampah ia akan memberi imbalan 5000 rupiah atau membayar dengan segelas kopi jika petugas sampah datang hanya seorang diri. Sedangkan jika petugas sampah yang datang lebih dari seorang, maka sebanyak itupula gelas kopi yang ia sediakan untuk membayarnya. Apa yang dilakukan Ibu Mirah ini tentu sangat baik karena masih ada penjual yang berinisiatif menjaga kebersihan meski ia pedagang asongan yang hanya menjual es teh dan kopi panas. Namun hal ini rasanya kurang  pantas karena mengharapkan kesadaran dan inisiatif para penjual  tidak membuat tanggung jawab penyediaan tempat sampah di Malioboro beralih tangan.

Ibu penjual minuman lalu bercerita dan menunjukkan bahwa tiadanya tempat sampah di sekitar tempat kami berada membuat banyak pengunjung mau tidak mau membuang sampah di bawah pohon atau di sekitar tempat duduk di sepanjang trotoar. Dan ternyata benar, tak perlu jauh-jauh menemukan buktinya, di belakang tempat kami duduk ada banyak sampah plastik yang dibuang di bawah pohon. Saya dan teman saya hanya bisa saling tatap dan merasa heran untuk beberapa saat.

Pengalaman ini membuat saya makin mengerti mengapa banyak orang tua kini merasa kalau Malioboro sudah bukan tempat yang nyaman lagi. Mereka dulu menikmati Malioboro sebagai kawasan budaya sekaligus belanja yang ramah untuk pejalan kaki dengan keadaan masih teratur meski pedagang juga sudah lama ada di sana. Namun kini ?. Setidaknya semenjak menginjakkan kaki pertama kali di Yogyakarta saya merasa tempat ini biasa saja. Cenderung sumpek dan tidak teratur meski pesona Malioboro di beberapa sisi tetap tak bisa dipungkiri.

Maka tak heran jika ide revitalisasi dan penataan ulang kawasan Malioboro akhirnya didengungkan dan kini mulai menunjukkan tanda-tanda realisasinya.

Malioboro kini sedang menata dirinya lagi. Pembangunan jalur hijau yang tidak asal tanam mungkin akan jadi salah satunya. Beberapa tempat yang dulu ditanami dengan beberapa tanaman bunga berukuran kecil dan berhabitus semak kini tengah disiapkan ulang. Memang menjadi tampak gersang namun itu sebuah langkah persiapan.

13485347601012988870

penataan ulang jalur hijau dan taman menjadi bagian dari konsep Malioboro baru

Reklame beragam ukuran yang selama ini mendominasi langit Malioboro juga akan ditertibkan dengan menata ulang letak dan ukurannya. Dan dari sekian banyak langkah penataan Malioboro, ada satu citra utama yang ingin dibangun kembali oleh Yogyakarta yakni menjadikan Malioboro sebagai kawasan yang ramah untuk pejalan kaki. Beberapa mengatakan Malioboro akan dijadikan kawasan bebas kendaraan. Jika hal ini benar tentu akan sangat menyenangkan. Tapi saya ragu hal itu bisa terwujud dengan segera. Malioboro mungkin bisa dikembalikan menjadi tempat yang nyaman untuk pejalan kaki tapi membuatnya bebas kendaraan saya belum bisa membayangkan karena kawasan Stasiun Tugu di ujung Malioboro rencananya juga akan dikembangkan. Jika nantinya akan dilakukan pengalihan jalan, sukar menebak jalan mana yang akan menjadi pelarian lalu lintas dari dan menuju Malioboro mengingat Yogyakarta terutama daerah di sekitar Malioboro sangat miskin jalan besar. Seluruhnya merupakan kawasan padat yang berupa perumahan warga dan sentra-sentra industri kreatif.

Namun ide menjadikan Malioboro sebagai kawasan bebas kendaraan tetap patut untuk dijaga. Setidaknya Malioboro kini sudah sangat tidak nyaman untuk pejalan kaki. Hampir seluruh trotoar di kawasan Malioboro termasuk Jalan A. Yani sudah berubah fungsi sebagai tempat parkir kendaraan bermotor. Mencari parkir mobil pun susahnya setengah mati kecuali kalau hendak masuk ke dalam mall yang berada di jantung Malioboro. Sementara sisi lainnya dipenuhi oleh pedagang yang berjejer mengambil dua pertiga bagian trotoar. Cobalah berjalan di daerah ini, saat pengunjung berpapasan dari dua arah maka cara terbaik adalah dengan mengalah untuk berhenti beberapa detik sambil menunggu giliran melangkah. Memang bagi sebagian orang hal ini bagian dari daya tarik Malioboro, sebuah kawasan belanja sekaligus wisata. Namun kenyamanan tetap hal utama yang dibutuhkan oleh pengunjung di manapun. Pengunjung Malioboro harus sering rela turun ke bahu jalan melawan kendaraan hanya untuk bisa berjalan sedikit lebih luang.

13485350061786847716sudut kawasan Malioboro yang penuh sesak tidak menyisakan ruang bagi pejalan kaki

13485335491615583857satpol PP kini setiap hari menjaga sudut kawasan Malioboro terutama di sepanjang trotoar Benteng Vredeburg hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret

Secara perlahan beberapa kawasan di Malioboro mulai dibenahi. Meski di sepanjang trotoar tempat kami kemarin sore tidak dijumpai tempat sampah yang layak, namun kawasan ini kini telah cukup lega untuk berjalan kaki atau sekedar melepas lelah. Jika beberapa bulan lalu kawasan ini dipenuhi penjual aksesoris, makanan hingga pengasong, maka hal itu kini sudah sangat berkurang. Satpol PP kini semakin rutin turun ke Malioboro. Setidaknya hampir setiap hari pada pukul 11 siang dan jelang pukul 3 sore mereka akan berada di kawasan sekitar Monumen Serangan Umum 1 Maret, Benteng Vredeburg hingga depan Gedung Istana Kepresidenan Yogyakarta. Hal ini membuat banyak pedagang angkat kaki karena tak ingin dagangannya disita meski mereka masih selalu mencuri kesempatan untuk kembali berjualan saat Satpol PP telah pergi.

Bukan hanya dengan “memasang” Satpol PP berjumlah belasan, tegakan berupa besi yang membentuk celah berkelok di tengah trotoar juga telah dipasang di tempat ini. Besi yang dicat warna kuning tersebut disusun sedemikian rupa agar bisa dilalui pejalan kaki namun tak bisa dilewati becak, motor ataupun sepeda yang selama ini sering mengambil trotoar sebagai jalannya.

Kawasan yang dulu menjadi salah satu kantung parkir sepeda motor kini telah dipagari dengan beton-beton berukuran kecil yang dipasang berjejer di pinggir trotoar. Kondisi ini membuat pengguna motor tak lagi bisa masuk untuk memarkir kendaraannya. Lalu di mana Malioboro akan menyediakan kantung-kantung parkir baru untuk para pengunjungnya ?. Kita berharap semua sudah dipikirkan.

13485331461421496708

13485333621435826184

Semoga saja ini semua menjadi langkah awal untuk sebuah upaya maju menjadikan Malioboro sebagai kawasan yang nyaman dan ramah untuk orang-orang yang ingin menikmati Yogyakarta langsung di jantung kotanya.

Saya dan teman  pun akhirnya pergi dan berbalik arah. Sepanjang jalan kami iseng mencari dan menghitung seberapa banyak tempat sampah yang kami jumpai dari depan Benteng Vredeburg hingga Hotel Mutiara. Ternyata jumlahnya sangat sedikit. Hanya di trotoar di depan Mall Malioboro saja kami menjumpai beberapa tempat sampah berukuran besar yang dicat dengan baik.

13485370842078978535tempat sampah seperti ini hanya dijumpai di area sekitar mall/pusat perbelanjaan

Setelah sore kemarin, kini saya menjadi semakin tak sabar menanti wujud Malioboro baru. Semoga saja segera terwujud.

13485353161979958942

Hendra Wardhana

/wardhanahendra

TERVERIFIKASI (BIRU)

soulmateKAHITNA | menyukai Anggrek Alam Indonesia | tidak suka rokok & masakan pedas | @_hendrawardhana | wardhanahendra.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?