Berbuka Puasa dengan Hidangan Istimewa Kampung

15 Agustus 2011 02:13:44 Dibaca :

Siapa yang tidak senang dengan buka bersama? Saya adalah salah satu orang yang menyenanginya. Bukan karena apa, tapi lebih untuk mempererat kebersamaan. Kebersamaan inilah yang pada nantinya akan memperkuat tali silaturahim. Sebuah upaya untuk membina hubungan yang harmonis antar pribadi. Tak terkecuali diantara kami, orang-orang yang sering bertemu dikarenakan satu keperluan, yakni membuat dokumen ekspor di bagian pelayanan Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Surakarta. Pada Ramadhan tahun lalu, kami—orang-orang yang sering mengurus Certivicate of Origin berikut staff pelayanan Daglu Disperindagkop Kota Surakarta—berinisiatif berbuka bersama di salah satu rumah makan di Solo. Waktu yang dipilih adalah H-8. Karena keesokan harinya, kami praktis tidak lagi beraktifitas seperti biasa. Truk-truk kontainer yang menjadi lahan bisnis  kami—yang bekerja di bidang jasa ekspedisi muatan kapal laut (EMKL)—tidak diperbolehkan  menyusuri jalanan, karena menurut DLLAJ, mulai H-7 jalanan difokuskan untuk arus mudik.  Truk-truk sembako sebagai pengecualian. Karena itulah, menjelang H-7 kebutuhan truk kontainer justru meningkat. Para eksportir berusaha agar sepekan sebelum lebaran barang telah dikirim. Kantor kami yang bertindak sebagai layanan jasa transportasi tentu saja telah mempersiapkan secara dini. Termasuk membooking truk agar bisa stuffing tepat pada waktunya. H-8 Ramadhan tahun lalu, kantor kami mendapat Shipping Instruction (SI) dari pelanggan kami yang berkedudukan di Klaten. SI tersebut berisi permintaan agar kami menyediakan armada truk kontainer 40 feet untuk keperluan stuffing jam tiga sore. Segera saja SI tersebut kami proses. Untuk kasus tertentu saya sering mengawal truk. Seperti kasus yang terjadi pada truk yang  akan digunakan di Klaten itu. Sopir yang berangkat atas orderku ternyata belum pernah ke lokasi stuffing. Setidaknya saya akan mengawal dari pertigaan Kartasura hingga lokasi stuffing di Klaten. Untuk itulah saya menunggunya di pertigaan Kartasura sekitar jam 3 sore. Keadaan tidak lebih baik karena sopir tidak membawa hp. Itu akan menyulitkan koordinasi. Terlebih mengetahui posisi truk sudah sampai dimana. Jam 15.30,  di pertigaan Kartasura. Truk yang kupesan belum juga nampak. Berdasarkan info yang saya peroleh, truk berwarna merah. Saya juga sudah mencatat nomor polisinya. Sedang warna kontainer sudah bisa dipastikan juga berwarna merah, karena telah menjadi ciri khas shipping line-nya. Tidak hanya itu. Nomor kontainer yang terpampang di lambung dan punggung kontainer akan memudahan saya untuk menemukan truk jika melintas. Tapi hingga 1 jam berselang, truk belum juga lewat. Akan sedikit mengurangi kegelisahan jika sopir truk membawa hp-nya, sehingga saya bisa menanyakan dimana posisinya. Jam 17.00 truk masih juga belum terlihat. Hal ini jelas membuat saya jengkel. Shipper sudah berulang kali menanyakan. Tapi  jawaban saya masih sama: truk belum nampak. Saya maklum shipper agak kurang senang dengan keterlambatan ini. Keterlambatan truk sama halnya dengan memundurkan jam stuffing. Hal itu terkait dengan jam lembur karyawan bongkar muat di gudang. Berarti dia juga akan pulang lebih malam hingga proses stuffing selesai. Saya menangkap nada kecewa dari shipper. Tapi mungkinkah sopir menangkap nada kecewa saya terhadapnya. Bahkan lewat jam lima sore, saya tidak mengetahui posisi sopir dimana. Yang sudah-sudah, biasanya sopir datang di lokasi satu jam lebih awal. Tapi kali ini justru terlambat dua jam.Keterlaluan. Jam 5 sore lebih 10 menit, setengah jam lagi acara buka bersama dengan teman-teman EMKL tiba. Tapi truk masih juga belum nampak. Saya masih tetap menunggu dengan sedikit menggerutu. Melalui pesan singkat, saya mendapat informasi jika teman-teman EMKL sebagian sudah datang ke rumah makan tempat kami akan berbuka puasa bersama. Hingga suatu ketika. Itu.Lihatlah! Truk warna merah. Dengan kontainer berwarna sama. Sebentar. Nomor kontainernya sama dengan dalam catatanku. Ya benar. Itu dia truknya. Sementara truk itu melintas, saya langsung menelepon shipper bahwa truk segera datang. Tidak lama kemudian menyetater motor dan menyusul truk yang ternyata sudah jauh di depan saya. Berkendara diantara mobil-mobil pribadi, bis antar provinsi, truk pasir, truk barang, pick up dan juga sepeda motor lainnya. Tenang. Tak usah terburu-buru. Tak usah bermanuver yang tak perlu. Toh truk yang ditunggu sudah di depan mata. Akhirnya saya bisa menyejajarkan posisi di sebelah kanan truk, tempat kemudi berada. Posisi saya tepat di samping roda truk yang tingginya sedikit lebih tinggi dari saya ketika mengendarai sepeda motor. Dari bawah saya berteriak bahwa saya akan mengantarkan hingga tempat stuffing. Si sopir paham. Dan saya melaju lebih cepat di depan truk. Jalanan yang ramai tidak bisa membuat truk bergerak dengan cepat. Saya harus menjaga jarak agar tidak terlalu jauh dengan truk. Sebagai orang yang lebih sering bekerja di luar ruangan, membuat saya harus bergerak cepat. Bukan hanya cepat dalam mengambil keputusan, namun juga bergerak gesit untuk menyelesaikan masalah yang muncul di luar dugaan. Hal tersebut dilakukan guna memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan kami. Sadar akan pekerjaan dengan mobilitas tinggi tersebut, sepeda motor menjadi pilihan untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor. Kondisi sepeda motor yang prima menjadi keharusan. Untuk itu perawatan secara berkala juga menjadi mutlak dilakukan. Setidaknya sepeda motor perlu mendapat perawatan atau service dan ganti oli dengan oli yang berkualitas terbaik, memiliki tingkat kemurnian tertinggi dan stabil terhadap suhu dan oksidasi dengan penguapan ekstra rendah. Oli TOP1 memenuhi syarat tersebut. Dengan oli tersebut akan menghasilkan gesekan minimal dan akselerasi yang maksimal. Dan yang tak kalah pentingnya akan mencegah mesin cepat aus. Lebih dari itu, saya harus memastikan bahwa sepeda motor berfungsi dengan baik. Lampu kota, lampu sein, klakson, kopling, rantai roda dan rem menjadi hal penting untuk diperhatikan. Hal tersebut perlu dilakukan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan meminimalisir risiko ketika dalam perjalanan. Saya dan sopir berikut truk kontainernya sampai tempat tujuan bertepatan dengan adzan maghrib. Seharusnya bisa langsung stuffing. Tapi berhubung sudah maghrib, kegiatan stuffing akan dilakukan setelah berbuka dan sholat maghib. Seharusnya saat ini saya berada di sebuah rumah makan di Solo untuk berbuka bersama. Pasti akan menyenangkan karena teman-teman akan membawa cerita-cerita yang menyegarkan. Belum lagi menu makanan yang beraneka ragam dan menggugah selera. Lalu kemana saya akan berbuka puasa? Tidak jauh dari pabrik ada sebuah warung ‘HIK’ di pinggir jalan. HIK adalah kependekan dari Hidangan Istimewa Kampung. Begitu orang Solo menamai warung yang menjajakan aneka makanan ini. Ciri khasnya adalah sebuah gerobak dengan tiga buah ceret minuman di atas tungku. Menu andalah HIK adalah nasi kucing. Selebihnya aneka gorengan dan sate. Orang Jogja menamainya dengan sebutan angkringan. Sedang orang Semarang menyebutnya Kafe Meong, karena menjajakan nasi kucing. Disebut nasi kucing karena nasi bungkus sekepalan tangan orang dewasa itu diberi lauk seiris kecil ikan asin. Di sanalah saya berbuka puasa. Dengan bersepeda motor, saya ajak sopir untuk berbuka puasa di HIK pinggir jalan itu. Kini saya berbuka puasa bersama. Bersama dengan sopir truk yang sempat membuat saya jengkel. Namun perbincangan ringan membuat kejengkelan yang tadi saya alami menjadi larut. Darinya saya memahami kenapa dia tidak membawa hp. Katanya hp yang biasa digunakan terpaksa ditinggal di rumah, karena sang istri sedang menunggu berita penting dari saudaranya. Harap maklum mereka hanya memiliki satu buah hp. Dari dia, saya juga mendapatkan informasi bahwa di pintu tol Tembalang Semarang sempat terjadi antrian panjang. Belum lagi kemacetan yang cukup lama di Banyumanik Semarang akibat truk yang melintang dari arah Semarang. Informasi itu membuat saya maklum akan keterlambatannya. Segelas teh hangat, sebungkus nasi kucing, tempe goreng dan satu tusuk sate ayam cukup untuk berbuka puasa. Sungguh nikmat rasanya.

Wahyu Dewanto

/wahyudewanto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Anggota komunitas angkringan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?