HIGHLIGHT

7 Alasan Tulisan Tak Dibaca!

04 Juni 2012 23:59:18 Dibaca :
7 Alasan Tulisan Tak Dibaca!
Tulisan seburuk apapun masih lebih baik ketimbang lupa. Ilustrasi: pribadi dan blogspot.com

Banyak orang yang menulis setengah hati dan ragu-ragu, pikirannya dihinggapi berbagai pertanyaan klasik: " Ada tidak ya yang membaca?" " Aduh sudah banyak penulis, tapi kok tak ada yang baca ya?" " Kok yang baca sedikit?" " Gimana ya caranya agar pembacanya banyak?" " Buat apa menulis kalau tak ada yang membaca?" Dan banyak "tembok-tembok" penghalang yang yang dibentangkan oleh pemikirannya sendiri, sehingga menulisnya menjadi setengah hati, tak tuntas, main-main dan asal jadi, repotnya ketika diberi koment tulisan tak bermutu, tak jelas arah dan tujuannya, tulisan sampah dan sebagainya, marahnya bukan main, seperti orang"kebakaran jenggot". Loh bukankah salahnya sendiri membuat tulisan yang tak bermutu, yang tak menarik bahkan asal tulis. Jadilah sebuah tulisan yang "malu-maluin" atau bikin malu saja! Kalau sudah berusaha menulis  sebaik mungkin dan tak ada yang membaca itu soal lain, perkara pembaca memang punya keunikan sendiri, karena setiap pembaca punya kriteria atau sasaran masing-masing, lagi pula begitu banyak orang yang minat baca tak homogen alias beragam. Bisa saja tulisan bagus, tapi tak dibaca orang, sebaliknya ada tulisan yang biasa saja, tapi karena judulnya menarik dan disajikan dengan lugas diserbu pembaca. "Jadi gimana dong?" Nah muncul lagi pertanyaan itu, jawabnya sebenarnya ada pada diri masing-masing. Tapi baiklah, mari kita bedah mengapa sebuah tulisan atau artikel bagus, tapi tak ada yang baca atau sedikit pembacanya! 1. Tulisannya bagus tapi isinya tak ada, loh kok bisa? Iya, karena yang terpaku pada tatabahasa baku yang kering, sehingga yang mau disampaikan menjadi terbaca kaku, susah dimengerti, ini tulisan mauanya kemana, judulnya A, tapi isinya B. Atau dari satu alinea ke alinea yang lain tak nyambung, asal banyak dan asal bunyi. 2. Menulisnya setengah hati, karena sudah membuat tembok sendiri dalam pemikirannya, takut tulisannya tak dibaca orang, takut tulisannya dihina orang, takut tulisannya dilecehkan orang dan seterusnya, jadilah sebuah tulisan yang tidak utuh, sepotong-sepotong dan tak tuntas. Menulis setengah hati terlihat dari isi tulisan yang tak membawa pesan apa-apa, padahal setiap tulisan ini membawa misinya sendiri, dan tak mungkin sebuah tulisan yang pendek sekalipun tanpa misi, apa lagi sebuah artikel panjang dan yang dibahas masalah serius tentu misinya jelas. 3. Tidak fokus alias terlalu luas, sehingga apa yang mau dituliskan melebar ke mana-mana, yang muncul dalam pikirannya semuanya ditulis, walau tak berhubungan dengan tema atau judul yang sedang dibicarakan, jadi kesanya banyak dan panjang, tapi tak berhubungan satu sama lain. Dengan kata lain, ketika menulis tentang lumpur Lapindo misalnya, yang muncul dalam tulisan itu justru lemper, makanan kesukaan banyak orang, tak nyambung kan? 4. Masih banyak pembaca yang melihat penulisnya, bukan apa isi bacaan tersebut. Dengan demikian bagi penulis terkenal sudah tak ada masalah, apapun yang ditulisnya akan dibaca orang, sebaliknya yang belum terkenal atau belum dikenal orang, sukar untuk pembaca tertarik pada tulisan-tulisannya, mau tak mau bagi yang belum dikenal pembaca harus berjuang lebih keras dan menulis lebih banyak, agar dirinya dikenal orang dan kalau sudah dikenal, seperti para penulis novel yang "Best Seller" tulisannya akan diserbu pembaca. 5. Peristiwa buruk adalah berita bagus, kontradiksi ini akan selalu berlaku bagi yang namanya sebuah berita, dimanapun dan sampai kapanpun! Dengan demikian kerusakan, bencana alam, kematian tokoh besar, tabrakan, demontrasi yang anarkis, peperangan, kebobrokan sebuah lembaga dan lain sebagainya adalah "santapan" empuk bagi para kuli tinta atau siapapun yang menulis sebuah berita, baik media cetak maupun media elektronik. Dengan dasar pemikiran seperti itu, maka berita buruk selalu dicari orang, ini nyata, begitulah sebagian besar pembaca berita. Ironis memang, kalau sebuah berita buruk justru membuat pembaca berita meningkat pesat, banyak kasus yang menyatakan kebenaran ini, masih ingat dengan Shukoi yang menabrak gunung sehingga sebuah tulisan di ruang ini diklik jutaan pembaca, atau peristiwa Indomie dan lain sebagainya. Namun moment seperti ini bukan rutin dan sangat keji kalau ingin menulis berita harus menunggu sebuah bencana besar dan pembaca menjadi jutaan! 6. Tak membaca tulisan orang lain atau tak memberi koment pada tulisan orang, yang terakhir berlaku bagi tulisan dijaringan sosial, baik di FB, Twitter, Kompasiana, Multiplay, Wordpress dan lain-lain. Karena bentuknya jaringan sosial dan berhubungan satu dengan yang lain, maka bila sipenulis tak membaca tulisan temannya atau tak memberi koment pada tulisan temannya, maka kalau temannya punya sipat pendendam, tulisannnyapun tak akan dibaca, walau tulisan tersebut bagus! 7. Banyak tulisan atau artikel namun sedikit waktu, inipun menjadi kendalan sendiri untuk membaca sebuah tulisan, sehingga dalam jaringan sosial tak semua tulisan  dibaca teman lainnya, karena keterbatasn waktu, akhirnya pembacapun mengambil jalan pintas dengan membuat skala prioritas, jadi didahulukan membaca tulisan yang penting, informatif,  menarik dan enak dibaca. "Jadi gimana dong?" Aduh masih bertanya lagi -bertanya lagi, kapan menulisnya? Sudah tulis dulu, dibaca orang orang atau tidak, itu urusan ke 17!

Syaripudin Zuhri

/virays

TERVERIFIKASI (BIRU)

Saya senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup :" Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, maka buat apa kau dilahirkan?"
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?