PILIHAN HEADLINE

Menulis di Kompasiana, 'Pekerjaan' yang Sulit Dipahami Banyak Orang

19 Maret 2017 21:58:36 Diperbarui: 20 Maret 2017 02:45:50 Dibaca : 433 Komentar : 36 Nilai : 39 Durasi Baca :
Menulis di Kompasiana, 'Pekerjaan' yang Sulit Dipahami Banyak Orang
Ngompasiana memberi pengalaman yang luar biasa (dok.pri)

“Sekali nulis berapa bang?”
“Buat bayar kuota (internet) darimana, bang?”

Beragam pertanyaan muncul ketika menjelaskan aktivitas saya menulis di Kompasiana. Ketika saya menjawab bahwa sama sekali tidak uangnya, hampir semua orang merasa heran.

“Koq mau bang?”

Siapa yang tertarik untuk melakukan pekerjaan secara gratis di era sekarang ini? Bayangkan, kerja tanpa mendapat uang sepeser pun malah hitungannya nombok. Bukan saja soal biaya internet tetapi ongkos transport atau uang makan.

Coba tanya Pak Bambang Setyawan, penerima 2 award di tahun 2016 itu. Berapa dana yang harus dirogoh dari koceknya sendiri ketika membuat sebuah reportase. Dari artikel-artikelnya kelihatan bagaimana mobile-nya kompasianer itu. Bisa hari ini di Cirebon, besoknya kembali ke rumahnya di Salatiga,lalu besok lusanya sudah posting dari Kutoarjo.

Masyarakat berpikir Kompasianer juga sama seperti wartawan. Memang tidak salah sih, karena apa yang dilakukan sama-sama mencari dan menulis berita. Mereka yang melek internet pun banyak yang tidak tahu apa itu Jurnalisme Warga. Kompasiana bahkan dikira Kompas.

Susah dimengerti memang, bahkan oleh keluarga sendiri. Bukan itu saja, oleh sesama blogger pun kita dianggap aneh. Silakan tanya kepada bloger copas dan bloger buzzer atau influencer. Karena ada prinsip setiap artikel yang diposting harus mempunyai nilai ekonomis.

Jika bukan karena uang, apakah menulis demi mencari kepuasan? Begini, ada sebuah kalimat bijak dalam Bahasa Inggris “Live is to give good impact”. Bisa diartikan beragam tetapi intinya bagaimana hidup dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Belum lama kita membaca sebuah artikel yang viral, dimana ada seorang janda pejuang yang dulunya hidup di rumah yang mirip kadang hewan mendapat bantuan dari berbagai pihak. Silakan baca di sini. Begitulah, artikel tersebut ternyata berdampak secara luar biasa.

Ketika dulu menulis artikel tentang bom di sebuah Gereja di Medan (baca). Ada agenda yang harus ditunda karena meliput ke lokasi kejadian. Walau tanpa berita tersebut, media-media online sudah pasti memberitakan. Tetapi ada rasa ‘keharusan’ sebagai Kompasianer yang tinggal di Medan untuk membagikannya kepada pembaca Kompasiana.

Ketika meliput acara kongres Masyarakat Adat baru-baru ini saya mendapat kenalan baru. Awalnya cukup antusias untuk ikut menulis di internet. Tetapi akhirnya niatnya mengkeret ketika tahu saya tidak dibayar oleh siapapun.

Bagaimana tidak, untuk datang ke lokasi saja sudah butuh perjuangan karena penuh kubangan. Mesti rajin ngider juga mencari narasumber dan foto. Mesti cuek bebek dengan awak media mainstream lain yang pegangannya DSLR. Sedangkan kita cuma pakai kamera saku dan tanpa ID Card lagi! Belum lagi terpaksa pulang sampai rumah pukul 10 malam karena menunggu selesainya acara puncak kongres tersebut.

Kadang ada hal-hal yang lebih bernilai dari uang. Kepuasan? Bisa jadi, tetapi urusan kepuasan sudah berada di urutan paling buncit. Terus terang terkadang rasa puas itu sendiri tidak pernah muncul. Pokoknya berlalu begitu saja. 

Ini persoalan tanggungjawab sebagai netizen yaitu berkenaan dengan informasi dan edukasi. Itulah nilai yang harus diberikan kepada masyarakat. Ketika kita menyadari bahwa talenta kita adalah menulis maka itulah sarana perjuangan kita.

Secara pribadi turun ke lapangan mencari berita, bertemu orang-orang luar biasa akan memberi pengalaman dan pelajaran hidup. Pengalaman-pengalaman yang terkadang memincu adrenalin. Sesuatu yang tidak bisa dimiliki banyak orang.

Saya melihat banyak rekan Kompasianer berbagi ilmu kepenulisan lewat workshop. Salah seorang rekan bahkan membuat buku dan aktif memberi pelatihan. Sesuatu yang luar biasa karena semuanya free alias kerja sosial. Apa yang dicari dari melepas waktu untuk keluarga tercinta atau pergi menembus dinginnya malam untuk orang lain itu?

“Terus bagaimana dapat uangnya kalau nggak dibayar. Nggak ngerti saya bang?”

Kenyataannya memang ngompasiana adalah jenis pekerjaan yang membingungkan bagi banyak orang. Tetapi percayalah apa yang dilakukan di sini tidak kalah mulia dari pekerjaan lain. Tuhan tidak pernah tidur. Selalunya, Dia bekerja melalui cara-cara yang sama sekali tidak kita duga.

#AyoMenulis

Venusgazer EP

/venusgazer

TERVERIFIKASI

#You'llNeverWalkAlone |Twitter @venusgazer |email venusgazer@yahoo.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana