Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Berkat Kompasiana, Janda Pejuang Ini Tak Lagi Tinggal di Kandang

6 Maret 2017   16:05 Diperbarui: 6 Maret 2017   17:02 2187 64 57
Berkat Kompasiana, Janda Pejuang Ini Tak Lagi Tinggal di Kandang
Rumah mba Kesi yang baru (foto: dok pri)

Masih ingat dengan Sukesi (76) warga Bendosari RT 01 RW 05, Kumpulrejo, Sidomukti, Kota Salatiga yang dulunya tinggal di rumah mirip kandang? Sekarang, janda tanpa anak tersebut relatif  nyaman tinggal di kediaman yang mungil namun rapi. Perubahan nasipnya yang berpuluh tahun terlunta, berkat Kompasiana kita. Seperti apa kondisinya dahulu dan sekarang, berikut catatannya.

Sukesi yang biasa disapa mbah Kesi (nenek Kesi), sebenarnya seorang janda mantan pejuang 1945. Almarhum suaminya, yakni Setyo Ramelan tercatat sebagai veteran era perjuangan yang diakui oleh pemerintah. Terbukti, ia tiap bulan rutin menerima pensiun sebesar Rp 400.000 di tahun 2008. Sayang, menjelang kematiannya, Setyo Ramelan menggadaikan SK pensiunnya  dengan angsuran mencapai Rp 330.000 perbulan.

Rumah mbah Kesi sebelum dibongkar (foto: dok pri)
Rumah mbah Kesi sebelum dibongkar (foto: dok pri)

Nekadnya Setya Ramelan dalam menggadaikan SK pensiun inilah yang membuat kehidupan rumah tangga pasangan uzur tersebut makin terpuruk. Bagaimana tidak ? Setelah dipotong angsuran, sisa uang yang diterima tinggal Rp 70.000 perbulan. Akibat himpitan ekonomi yang makin berat, akhirnya tahun 2008 Setya Ramelan kalap dan bunuh diri.

Meninggalnya sang suami, langsung membuat diri mbah Kemi kelimpungan. Karena sisa uang pensiun tak mencukupi untuk hidup, ia pun berinovasi dengan meminjam ke Koperasi Simpan Pinjam (KSP) keliling yang cara berhutangnya cukup mudah, yakni berbekal KTP. “Untuk pinjaman Rp 100.000, saban hari mengangsur Rp 13.000 kali 10,” ungkapnya.

Inovasi yang dilakukan mbah Kesi, ternyata berkepanjangan. Kendati pinjamannya tak seberapa, namun karena tiap hari dipergunakan untuk makan, akhirnya hutang tersebut menjadi permanen. Setiap kali lunas, ia mengambil lagi dan berjalan bertahun- tahun. “ Kalau terdesak tidak punya uang untuk mengangsur, saya menjual ayam dulu,” ungkapnya dalam bahasa Jawa.

Bertahun- tahun hidup serba kekurangan, maka penampilan mbah Kesi (maaf) mirip gelandangan. Jangankan memperbaiki rumahnya yang hanya berukuran sekitar 4 X 6 meter, untuk makan sehari- hari saja sudah setengah mati. Akibatnya, kediaman peninggalan mendiang suami, mirip tongkang pecah. Temannya tiap malam hanya ayam dan anjing piaraan yang setiap saat nyaris ia keloni, menyedihkan.

Seperti ini kondiri rumah sebelum dibedah (foto: dok pri)
Seperti ini kondiri rumah sebelum dibedah (foto: dok pri)

Rumah Layak Huni

Kabar tentang ngenesnya hidup janda mantan pejuang ini, awalnya saya dengar dari salah satu aktivis lingkungan di Salatiga. Usai mendapat informasi, saya segera mencari keberadaan mbah Kesi. Hasilnya, benar adanya. Begitu tiba di rumahnya , aroma khas langsung menyergap lubang hidung. Kolaborasi bau kotoran ayam, pesing, apek dan lembab menyatu sehingga semakin lengkap melesak ke dada.

Ruangan berukuran sekitar 4x6 meter penuh barang-barang tidak terpakai. Sementara di lantai , terlihat kotoran ayam ada di mana-mana bercampur tai anjing. Saat saya melongok kamarnya, terlihat anjing piaraan mbah Kesi tengah bermain di atas kasur berwarna cokelat kehitaman saking kotornya. Ia mengaku, kediamannya telah berubah fungsi menjadi kandang sekaligus tempat tinggal.

Pembongkaran perdana dipimpin calon Walikota Salatiga (foto: dok pri)
Pembongkaran perdana dipimpin calon Walikota Salatiga (foto: dok pri)

Ketika ada kesempatan berkeliling memutari kandang merangkap rumah itu, sama sekali tidak terlihat adanya MCK. Karena nyaris seluruh gentingnya sudah banyak yang pecah, maka air hujan bebas membasahi lantai tanah. Akibatnya, penjuru ruangan becek. Bila nenek renta itu tak hati-hati melangkah, alamat terjerembab. Pasalnya, tak terlihat adanya aliran listrik otomatis ya gelap gulita di malam hari.

Ada perasaan sedih yang mendalam pada diri saya, bagaimana mungkin nenek uzur ini bertahun-tahun hidup di kandang tanpa terdeteksi aparat pemerintahan? Setelah mendapat penuturan dari mbah Kesi secara jelas penyebab porak porandanya kehidupannya, akhirnya saya berpamitan sembari berfikir apa yang perlu saya lakukan.

Baner bedah rumah dari relawan (foto: dok pri)
Baner bedah rumah dari relawan (foto: dok pri)

Dalam benak saya jelas timbul berbagai pertanyaan, duh! Negara ini sudah 71 tahun merdeka, namun masih ada janda pejuang yang bertahun-tahun tinggal di kandang berbaur bersama anjing dan ayam piaraan. Banyak orang kaya, tapi banyak pula yang tidak peduli. Begitu juga dengan media, sepertinya ikut abai memberitakannya.

Sore harinya, segala fakta yang saya temukan di lapangan segera saya kupas dalam artikel berjudul Janda Pejuang Ini, Bertahun-tahun Hidup di Kandang tayang tanggal 6 Oktober 2016. Hanya dalam hitungan jam, artikel itu melesat dibaca ribuan orang. Bahkan, share di facebook mencapai angka 3.000 an.

Begini penampilan rumah nenek sekarang (foto:dok pri)
Begini penampilan rumah nenek sekarang (foto:dok pri)

Paska munculnya artikel di Kompasiana, berbagai pihak seperti terhenyak. Sikap apatis dan abai yang selama ini diperlihatkan publik, mendadak berubah total. Simpati campur empati berdatangan, aneh… selama bertahun- tahun mereka pada kemana? Melalui dua kali pertemuan, akhirnya 10 hari kemudian terbentuk panitia bedah rumah yang terdiri atas Komunitas Sedulur Yaris, warga RT 01 RW 05 Bendosari serta jemaat Gereja GKJ Salib Putih.

Rumah kandang milik mbah Kesi, Minggu tanggal 16 Oktober 2016 secara bergotong royong diratakan, patungan berbagai pihak berhasil mendirikan tempat tinggal yang layak huni, dilengkapi dengan sarana MCK. Senin (6/3) siang, ketika saya bertandang ke lokasi, nenek tersebut tengah ke pasar. Rumah bercat biru dipadu putih, sepertinya jauh lebih memanusiakan dibanding sebelumnya. Itulah catatan mengenai janda pejuang yang menempati kandang selama bertahun- tahun, nasipnya berubah berkat Kompasiana. Artinya, Kompasiana masih tetap luar biasa dan bermanfaat untuk umat. (*)