Nurhasanah Munir
Nurhasanah Munir Staf Peneliti

I'm a dreamer & wisdom seeker // a lover of photography & traveling // writing for enjoying life to the full // find me on Twitter @Unamunir & FB: Una Munir

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Jiwaku Perempuan

9 Agustus 2017   14:12 Diperbarui: 9 Agustus 2017   14:37 163 1 0
Jiwaku Perempuan
Dokumentasi pribadi

Kehadiran Prof. Melani Budianta, Ph.D di Kursus Perempuan pada pertemuan ketiga angkatan III yang diselenggarakan oleh Agenda 18, semakin menambah semangat saya pribadi untuk dapat menuangkan ide, kritik, serta petualangan di dunia kata-kata. Kehadiran beliau yang seorang Guru Besar dari Universitas Indonesia juga seolah menghantam pikiran saya yang masih diterpa kurang percaya diri dan penuh keraguan untuk menulis. 

Beliau dengan kesahajaannya bersedia menemani para peserta kursus untuk mulai mengeluarkan kata-kata dari hati, mengekspresikannya melalui lisan dan tulisan. Ucapan terima kasih saya untuk segenap tim Agenda 18, yang telah bersusah-payah menghadirkan Prof. Melani ditengah kesibukan dan jadwal yang sudah pasti padat, apalagi di akhir pekan. Seorang "guru" teladan memang akan selalu menjadi teladan baik lahir maupun batin, perasaan saya yang begitu senang, bahagia, dan juga haru campur menjadi satu. 

Renungan adalah suatu aktifitas favorit saya, dengan harapan agar merenung artinya saya berkesempatan memahami fenomena di sekeliling, lingkungan sosial masyarakat apapun isu atau masalah yang terjadi. Misalnya saja, saat Prof. Melani meminta para peserta untuk menuliskan beberapa hal yang dibentuk dari 3 pertanyaan; pertama, siapakah 3 orang yang paling berpengaruh dalam hidup peserta? 

Saya merenung secara otomatis, mengumpulkan memori sebanyak-banyaknya sehingga dapat memabntu saya untuk menjawab pertanyaan yang cukup mendalam tersebut. Kemudian saya menemukan jawabannya, yakni almarhum Abah saya, ibu, dan juga seorang kawan saya yang sekarang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Universitas Indiana melalui jalur beasiswa dari AMINEF. 

Abah dan ibu saya merupakan tamatan Sekolah Dasar, namun kepedulian pada pendidikan 9 putera-puterinya sangat besar. Memberikan ruang yang sama bagi kami semua untuk dapat mengakses pendidikan yang sama. Dari 9 orang, hanya saya yang dikirim ke Jawa Timur oleh Abah untuk melanjutkan pendidikan ke Pesantren, padahal saya adalah anak perempuan bungsu dalam keluarga. Selama 10 tahun saya belajar jauh dari orang tua dan keluarga membuat saya menemukan jati diri yang sekarang. 

Awal kali saya akan dikirim ke Pesantren, saya hanya punya satu pedoman, yaitu ridho dari Abah dan Ibu. Dari semua hal, ridho orang tua yang selalu menjadi pegangan saya sejak itu sampai detik ini. Namanya Andi Herawati, kami bertemu pada tahun 2009 di kampus ICAS (Islamic College for Advanced Studies) ICAS yang bekerjasama dengan Universitas Paramadina untuk program S2 jurusan Falsafah Agama. 

Konsentrasi yang kami ambil adalah Tasawuf, sejak itu kami berkawan akrab meskipun usia kami terpaut 7 tahun. Saya memanggilnya Kak Hera, sama dengan nama salah satu kakak perempuan saya. Pribadi yang supel, tangguh, semangat, berdedikasi tinggi, cerdas, baik hati, dan inspiratif. Mengapa saya memilihnya diantara mereka yang paling menginspirasi? Karena Kak Hera merupakan "role model" bagi saya dalam dunia intelektual. 

Kak Hera mampu "menekuk" lawan dengan argumentasi-argumentasi rasional dan 'irfani saat berdiskusi dengan siapa saja. Kak Hera meminta saya juga untuk belajar bahasa Arab dengan kitab tertentu, disamping itu ia juga terlihat belajar bahasa Persia. Hubungan kami memang sudah seperti kakak dan adik, karena sudah banyak pengalaman dan momen yang kami lalui bersama. Yang menarik adalah saat pengajuan beasiswanya melalui LPDP ditolak oleh penguji, tapi kemudian ia pantang menyerah dan mengajukan lagi ke Fulbright - AMINEF dan DITERIMA! Momen inilah yang membuat saya tak berhenti terkagum-kagum padanya. 

Saat saya tanya mengapa bisa demikian, dia hanya menjawab: sungguh Tuhan punya rencana lain! Penguji LPDP menganggap porposal doktoral yang diajukan tidak sesuai dengan "alam masyarakat Indonesia", dan mereka sangsi bahwa Kak Hera akan menjadi figur yang berbahaya lantaran ingin meneliti Sufi (modern) Perempuan di Amerika Serikat. Sungguh, mereka mengalami kejumudan! --- kami berdua tertawa terkekeh, bahwa sekelas doktor penguji masih mengalami fase paranoid terhadap suatu tradisi yang sama sekali belum mereka pelajari dan alami. 

Sekarang saya disini, menata lagi dan merencanakan hal-hal yang ingin saya capai di kemudian hari. Bagi saya, menulis adalah salah satu kegiatan rutin sejak SD, hanya sekedar curahan hati berupa pengalaman atau kejadian sehari-hari, perasaan senang atau sedih dan lain-lain. Hobi tersebut bahkan berlanjut saat memasuki dunia pesantren, mulai mengirimkan hasil karya foto dengan memberi caption di harian Nasional Republika, tayangnya 3 bulan kemudian. 

Namun pengalaman tersebut membuat saya menjadi nyaman tentang eksistensi diri yang sebenarnya, sesuai minat dan juga motivasi untuk memberi kontribusi nyata di bidang yang saya tekuni. Tahun-tahun berlalu, sampai saya mulai melirik kemunculan media sosial bernama Friendster, Blog, Facebook, Flickr, dan Kompasiana. 

Disanalah saya mulai berkenalan dan berinteraksi dengan orang-orang baru melalui tulisan-tulisan pendek, foto-foto hasil karya saya yang dilengkapi dengan caption, dan seterusnya. Saya seorang perempuan yang akhirnya menemukan kebebasan dalam mengekspresikan diri, memiliki kawan dan kritikus di tempat "antah barantah" tapi tetap memiliki esensi yang bisa diambil dalam interaksi sosial.

Saya ingat betul saat Prof. Melani menegaskan bahwa teori menulis bukan apa-apa jika kita tidak mulai untuk menulis. Faktanya memang betul demikian, ketika kita menulis tapi takut tidak sesuai dengan teori A atau B, yang terjadi tulisan yang ingin kita tulis niscaya tidak akan selesai. Jadi, sudah sebaiknya kita menulis apa yang terbesit dalam benak dan suara hati, mulai lagi untuk mengolah perasaan dan pikiran untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. 

Jika kita tidak peka dan sensitif terhadap hal-hal yang bersentuhan langsung dengan diri kita, kita tidak akan bisa menanggapi, dikarenakan ada ruang yang tertutp untuk menulis, yaitu intuisi dan jiwa. Intuisi dan jiwa yang sifatnya terbuka akan lebih mudah memantulkan ide meskipun datang hanya sekejap lalu pergi, tapi bagi mereka yang mengendalikan intuisi tersebut, ide yang lewat dalam sekejap tadi, sejatinya akan tetap ada dan menunggu untuk diolah dalam berbagai media. 

Semua itu karena saling berhubungan satu sama lain dengan pemantiknya bernama kepekaan. Namun ada kala, kesulitan-kesulitan sebagai perempuan juga saya alami dalam beberapa keadaan tertentu, meskipun buat saya hal tersebut masih bisa saya atasi sendiri. Dibesarkan dalam keluarga yang tradisional dan demokratis secara bersamaan, menjadikan saya sebagai seorang perempuan yang fleksibel untuk berperilaku sesuai situasi dan kondisi, kerena memang begitulah yang saya dapatkan dari didikan Abah, Ibu serta kakak-kakak di rumah. 

Mendapat kesempatan untuk bekerja di beberapa tempat juga menambah pengalaman bagaimana kita berkomunikasi dengan berbagai macam karakter orang. Abah selalu mengarahkan anak-anak perempuannya untuk membantu ia bekerja. Memiliki keahlian dalam membuat taman hias, Abah dipercaya untuk memasok tanaman-tanaman hias dan menyulap taman-taman orang menjadi indah dipandang mata. 

Saya dan kakak-kakak perempuan selalu bersemangat bila mobil pick-up bermuatan tanaman-tanaman hias dari yang kecil sampai yang besar tiba di pekarangan depan rumah, itu artinya pekerjaan kami akan segera dimulai. Membedakan antara tanaman yang kecil dan besar, membuka pot yang terbuat dari plastik, kemudian mengumpulkan tanaman-tanaman sesuai jenisnya menjadi satu. 

Dari cacing, ulat besar, hingga binatang kaki seribu ataupun lintah sudah menjadi kawan akrab kami semua. Ajaran yang ditanamkan oleh Abah ini yang masih saya tanamkan dalam diri, perempuan tidak boleh manja, harus mandiri, memiliki empati, tidak boleh bergantung banyak pada orang lain, dan harus memiliki prinsip hidup agar kita memiliki kekuatan untuk menyelam dalam kehidupan yang berselimut penuh misteri. []