HEADLINE

Merancang Pernikahan, Bukan Hanya tentang Pestanya

02 Desember 2016 15:43:15 Diperbarui: 02 Desember 2016 20:51:53 Dibaca : Komentar : Nilai :
Merancang Pernikahan, Bukan Hanya tentang Pestanya
Ilustrasi. Vemale.com

Merancang pernikahan,bukan melulu tentang pestanya. Ada hal yang sesungguhnya jauh lebih penting, yakni mendiskusikan tentang pendidikan anak yang kelak akan lahir dari hasil pernikahan. Hal inilah agaknya yang sejak dulu hingga kini luput dari perhatian. Bukan saja terlewatkan oleh pasangan muda mudi yang akan menikah, tapi juga terlupakan oleh para orang tua sebelum merestui pernikahan putra putri mereka. 

Maka ketika kelak anak anak lahir, pasangan suami istri ini menjadi gamang dalam melakukan upaya pendidikan bagi anak anak mereka. Akibatnya mereka akan menerapkan apa yang bagi mereka dianggap baik dan mendidik tanpa memikirkan efek negatif yang akan merusak masa depan anak anak mereka

Perlu kursus bagi pasangan muda mudi yang akan menikah

Ide untuk judul ini saya temukan dalam komentar salah satu Kompasianer yang bernama Hoja Nasarudin pada artikel saya yang berjudul "Waspadai KDRT Terhadap Anak, dengan Dalih Mendidik". Tulisan ini saya posting di tengah malam tadi. Salah satu komentar yang menarik adalah "ketika kita menikah, tidak ada yang mengajarkan kita untuk jadi orang tua yang bijak."

Bila menyimak dengan mendalam, komentarini sungguh sangat tepat. Mengingat selama ini hanya ada kursus kursus tentang persiapan pernikahan. Bagaimana kedua pasangan muda mudi yang sedang merencanakan pernikahan mereka mempersiapkan segala sesuatunya secara matang. Mulai dari rencana pesta pernikahannya akan dilangsungkan di kota mana, dengan gaya atau style yang bagaimana, atau mungkin mau lakukan upacara super kilat di Las Vegas yang hanya dalam waktu 10 menit. Selesai pemberkatan maka pernikahan sah dan mendapatkan Surat Nikah dari Pejabat di Las Vegas. 

Atau mau menikah dengan style"Garden Party" seperti yang diselenggarakan sewaktu putri bungsu kami menikah dengan pria Australia. Atau mungkin juga dengan pakaian adat Jawa atau Sunda serta cara adat setempat?

Semua persiapan baik melalui kursus ataupun konsultan hanya fokus dan berada dalam satu bingkai yakni bagaimana merayakan pesta pernikahan. Paling banter adalah sebatas memberikan wejanangan, agar pasangan muda mudi ini kelak sesudah menikah, hidup saling mencintai dengan tulus.
Perlu kursus bagaimana mendidik anak dengan baik.

Belum ada kursus pernikahan yang mantap

Setahu saya hingga saat ini belum pernah ada kursus yang mengajarkan bagaimana kelak bila kedua pasangan ini menikah dan dikaruniai anak anak, untuk mendidik mereka dengan penuh kasih sayang. Bagaimana mencegah agar jangan pernah ada KDRT dalam rumah tangga, baik dari suami kepada istri maupun sebaliknya dari pihak istri kepada suami. Jangan anggap bahwa tidak ada tindak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh istri terhadap suami. 

Beberapa orang teman kami,sudah mengalaminya. Ketika dalam kondisi sakit dan tidak berdaya, ditempatkan oleh istrinya di dapur atau di garasi mobil karena tidak mau rumahnya "dikotori" suaminya. Kami menengok dengan mata kepala sendiri, betapa ketika teman kami sakit parah, kami dapatkan hanya tergolek di kasur yang  diletakkan di dapur. Padahal rumahnya besar.

Sebuah fakta membuktikan, bahwa emansipasi tidak hanya berlangsung dari sudut positif, dalam memberikan kesempatan yang sama antara pria dan wanita untuk berkarir dalam bidang apapun. Namun ternyata juga sama dalam prilaku yang jauh dari kasih sayang.

Hanya sebuah masukan.
Ide ini mungkin saja hanya sekadar sebuah wacana, tapi tentunya diharapkan akan menjadi sebuah kemungkinan untuk dapat diterapkan. Khususnya bagi generasi muda mudi dalam upaya mempersiapkan mereka sedini mungkin menghadapi bahtera kehidupan. Tidak hanya mempersiapkan mereka secara finansial, kesehatan pasangan, tetapi tak kalah pentingnya mempersiapkan kursus kursus pernikahan yang lebih berbobot.

 Yakni agar mereka memahami bahwa sebuah pernikahan bukan hanya:

  1. masalah pesta yang meriah
  2. persiapan dana yang diperlukan 
  3. persiapan pakaiain kedua mempelai
  4. restu  kedua orang tua

Tidak kurang pentingya, mempersiapkan mereka, agar memahami bahwa:

  1. menikah bukan hanya antara dua orang
  2. tapi juga melibatkan kedua keluarga besar'
  3. siap untuk mendidik anak anak dengan baik
  4. siap untuk berbagi dalam suka dan duka

Karena dari keluarga yang dibesarkan dalam cinta kasih kedua orang tua. Diharapkan dengan demikian,kelak ketika anak anak tumbuh menjadi dewasa, mereka juga akan menerapkan hidup berdampingan dengan kasih sayang. Karena bagi anak anak, contoh teladan yang diberikan oleh kedua orang tua dan lingkungan di mana mereka lahir dan dibesarkan, akan tertanam dalam hati sanubari. Secara sadar, maupun refleks akan menjadi role model.

Karena itu ,jangan memberi contoh "role model " yang bengis, arogan dan tanpa berbelas kasih di dalam keluarga, karena kelak anak cucu, akan meniru perilaku yang kita pertontonkan di sepanjang jalan ketika mendidik mereka. Jadilah contoh yang membangun jiwa anak anak. Jangan malah menjadi contoh yang kelak akan merusak dan menghancurkan masa depan anak anak kita. Bila hal ini tetap dibiarkan terjadi, maka hal ini akan menjadi tanggung jawab kita secara moral.

Iluka, 2 Desember, 2016'

Tjiptadinata Effendi

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article