Antara Aku, Kau, dan Tika

14 April 2013 10:40:09 Dibaca :

Antara aku , kau, dan tika terjadi sebuah kerumitan. Aku yang berada di antara kalian , aku yang selalu di buat bingung oleh kalian terlebih oleh kau. Setiap saat kau bertanya tentang tika, segalanya tentang tika. Aku hanya bisa menjawab tentang tika yang sekedar ku ketahui tentang dia. Aku tak tahu dilema apa yang kalian alami di masa lalu. Hingga saat ku di pertemukan oleh kau, kau begitu bahagianya karena kau bertemu seseorang yang dekat dengan tika. Aku layani segala macam keingin tahuan mu soal tika. Setiap hari hingga dini hari. Aku tak merasa keberatan karena setidaknya aku mempunyai teman ngobrol. Kau bercerita tentang segala hal yang telah kau alami bersama tika. Percintaan kalian, suka cita kalian, hingga perpisahan yang menyakitkan kalian. Aku merasa mendapat sebuah sudut pandang baru tentang cinta, ya apa itu cinta. Kau adalah sosok yang selalu membicarakan tentang kesetiaan. Aku orang yang kurang percaya kepada kesetiaan. Kau adalah sosok yang tenggelam dalam penyesalan dan merasa terkhianati oleh kesetiaan itu sendiri. Kau selalu mempertanyakan alasan-alasan apa yang membuat tika pergi dari mu. Kau selalu bertanya dan bertanya kenapa. Aku sudah muak dengan semua pertanyaan mu, aku jawab semampu ku tapi kau selalu bertanya lagi dan lagi. Aku sudah kehabisan kata -kata ku........



Semarang terasa panas sekali siang itu. Pukul 12.00 siang aku pulang dari kampus, aku hanya berjalan kaki saja karena memang tidak terlalu jauh jarak dari kampus ke kos ku. Setiba di depan kos aku merasa tak jadi ingin masuk kos ku. Aku benci sosok yang sedang menunggu ku. Itulah kali pertama kita bertemu setelah kata- kata yang tidak enak terlontar darimu. Aku terhenyak sebentar di gerbang kos ku dan datang menghampiri ku. Aku tak punya banyak pilihan. Kau mengajakku duduk.


“ aku Cuma pengen kamu jujur sama aku, gak lebih!”


“ tik, aku udah jujur sama kamu “


“ tapi kenapa dia sampai bisa kesini? “


“ tika, dia Cuma mau kasih surprise party buat kamu! Apa salahnya? “


“ ah, kamu! Kamu kan tahu aku udah benci banget sama dia! Sebenarnya kamu tuh teman ku apa teman dia? “


“ aku teman kalian berdua”


“ aku kecewa sama kamu!, kamu bilang kamu Cuma mau have fun sama dia, tapi kamu malah bantu dia buat nemuin aku lagi! Aku udah senang bisa lepas dari dia. Tapi, tapi apa coba yang kamu lakuin?”


“ tika, aku gak tega sama dia, aku rasa gak ada salahnya kok mantan masih sempat kasih surprise sama mantannya, artinya dia masih care sama kamu!”


“ kamu udah kemakan omongannya! , semuanya bohong. Berapa lama kamu kenal aku? Dan berapa lama kamu kenal dia? “


“ini bukan masalah lamaan siapa kenal dengan siapa! Tapi aku Cuma... aku Cuma pengen bantuin dia aja!”


“ bantuin dia dan tega merusak hari spesial ku dengan hadirnya dia? Kamu tuh bego’ atau Cuma pura- pura bego’? “


“ terserah lah tik, aku Cuma bantuin dia doang. Titik!”


“ eh, jangan masuk dulu, aku belum kelar ngomong! “


“ pergi aja sana, aku males bahas masalah ini lagi. “


“ kamu sekarang gitu ya, berani- beraninya ngusir aku, kamu memang udah ketularan sama orang gila yang satu itu! “


“ terserah tik, aku capek sama kalian berdua, dan ini tempatku jadi aku berhak mengusir kamu “


“ ya udah, terserah juga! “


Kami berdua dalam pucuk amarah yang membara....


.....................


Hati ku serasa sesak sekali, tak tahan membendung air mata. Aku berteriak sekencang- kencangnya. Kenapa aku harus terlibat dalam dilema mereka. Aku berada diantara dua orang bertikai, tapi sebenarnya bukan pertikaian. Hanya saja kesalah pahaman yang sulit aku cerna dari kalian berdua. Handphone ku berdering, ku lihat layar nya, ya itu musuh tika yang menelepon.


“ ya, halo....” sapa ku dengan suara parau akibat menangis.


“ hei, kamu lagi sakit? “ kau jawab denagn suara khas mu


“ gak, aku habis nangis......” nada suara tertahan


“ kamu kenapa eh? Cerita lah “


“ mantan mu, teman ku yang kita sayangi, dia belum terima soal kehadiranmu di pesta ultahnya, dia nyalahin aku terus “


“ aduh, aku minta maaf, gara- gara aku hubungan kalian jadi nggak baik kaya gini”


“ hhhahah. Udah lah.. loe minta maaf jutaan kali juga gak merubah keadaan”


“ iya , aku tahu. Aku nyadar kok, sekarang aku juga lagi mikir gimana baikin kalian berdua”


“ udah lah terserah, aku lagi capek , emosi ku memuncak , aku belum bisa mikir apa- apa, dia juga masih emosi, biar kita cooling down dulu, baru aku bakal ngomong sama dia.”


“ oke deh, terserah kamu aja, sekali lagi aku minta maaf sama kamu”


“ iya iya udah ku maafin, aku mau tidur dulu udah yaaaa”


Tut.. tutt..ttut...


Ku putus sambungan telepon secara sepihak , aku tak perduli.Siang itu hanya berlalu bersama dengkuran tidur ku.


Menjelang maghrib handphone ku bergetar. Tapi tak langsung ku ambil karena aku mau mengambil air wudhu dan segera shalat. Setelah selesai shalat aku ambil handphone ku dan ku baca sms, tertera nama tika di layarnya. Ku buka dan sms itu berbunyi “ tolong jangan percaya kata-kata orang itu, dia itu sudah gila! Kalau kau masih menganggap aku teman mu.. dengarkan aku!”. Hah! , ada apa sih dengan kau dan tika?. Aku di landa dilemma yang menggalaukan. Langsung saja ku kirim sms dan bertanya kepada kau apa yang terjadi antara kau dan tika. Kau membalas sms ku dan bercerita panjang lebar. Kau mulai bercerita dari mana awal pertama kalian bertemu. Kau menyukai tika sejak kalian awal bertemu. Kalian menjalin hubungan yang spesial setelah itu. Cukup lama hubungan itu berlangsung menurut mu. Hingga suatu saat kau tak terima ketika tika memutuskan hubungan kalian berdua. Kau memohon – mohon kepada tika untuk tetap tinggal, tapi tika tetap pergi. Timbul amarah dalam dirimu. Kau tak terima di perlakukan seperti itu. Terlabih kau merasa bahwa tak ada masalah yang kentara antara kalian , pikir mu. Kau sempat berasumsi bahwa tika hanya bermain –main saja denganmu dan kau juga sempat menduga- duga apakah karena pihak ketiga?.... kemudian kau teringat mantan mu ,stella, kau bercerita bahwa tika sempat tidak suka dengan mantan mu itu dan terjadi kesalah pahaman antara kau dan tika. Hingga suatu saat kau mengajak tika untuk bertemu bertiga bersama stella untuk membahas kesalah pahaman kalian. Namun tika menolak untuk bertemu stella. Kau juga menduga lagi tentang alasan kenapa meninggalkan mu , kau bilang apa karena penampilanmu yang jauh dari kata “ rapi” , dengan rambut gimbal mu , kaos oblong mu hingga masalah rokok mu. Semua dugaan kau kemukakan untuk mewakili rasa penasaranmu kenapa tika meninggalkanmu. Ketika kau tanya kepada ku , aku tak bisa menjawab , aku tak tau apa-apa. Tika memang teman ku namun tak semua tentang tika ,aku mengetahuinya. Hingga pada pengakuan terakhir mu , kau mengaku kau pernah berbuat kasar kepada nya, kau sempat memaki maki , meludahi tika, di tempat umum. Kau beralibi bahwa kau melakukan semua itu karena semata-mata kau menginginkan kejelasan hubungan kalian berdua. Namun , tika tetaplah tika, jika dia sudah merasa di jahati dengan siapapun dia tidak akan perduli. Itulah yang membuat kau geram hingga kau melakukan perbuatan yang kasar itu. Dari cerita mu aku teringat tentang tulisan yang di buat tika,. Tentang sebuah kejadian dimana ada seorang cewek yang di lecehkan oleh seorang cowok di tempat umum. Apa yang di perbuat cowok itu sama persis seperti yang di lakukan oleh kau, namun di tulisan tika si cowok itu juga menampar si cewek. Aku langsung berkata padamu bahwa yang di maksudkan tika dalam tulisan tersebut adalah tentang dirinya dan kau. Namun, ketika ku sampaikan bahwa ada bagian menampar kau menyangkal tentang hal itu. Sungguh kontras. Kemudian ku coba menjawab pertanyaan mu , kenapa tika meninggalkanmu yaitu karena kau kasar. Itulah kalimat terakhir yang ada di tulisan tika “ kau kasar, sebab itu aku pergi”. Tapi kau tak serta merta menerima alasan itu karena menurutmu bahkan sebelum kejadian itu tika sudah mau pergi dari mu. Aku tak tahu harus menanggapi apa lagi. Kemudian kau hentikan percakapan kita berdua karena akau akan pergi bekerja. Ku iyakan kemauan mu. Karena aku mendaptkan kebenaran akhirnya ku tanya kan kepada tika tentang apa yang sudah di katakan oleh kau. Tapi apa yang ku dapat ? semuanya tidak benar dari sudut pandang tika. Dan aku bertanya kepada tika apa yang sebenarnya membuat mu meninggalkan kau?, tika tak pernah memberi jawaban pasti. Timbul keraguan dalam diriku, mana yang harus aku percaya, namun aku masih memandang tika karena dia teman ku dan aku lebih kenal lama dengannya. Aku mencoba untuk percaya kepada tika. Ku tutup malam dengan segala pikiran yang berkecamuk .


Besoknya aku ceritakan semuanya kepada kau. Kau tak terima, kau mengumpat sesuka mu. Kau ingin sekali menemuinya dan bertanya langsung. Namun kau urungkan lagi niat mu. Hingga pada suatu titik kau memutuskan untuk menyerahkan hidup mu pada kesetiaan untuk tika. Hanya dengan alasan kau ingin menunjukkan pada tika , kesetiaan dan ketulusan cinta itu masih ada. Kau akan menyendiri tanpa pasangan kecuali tika mau kembali lagi pada mu. Tapi kau segera menyadarinya kembali bahwa itu tak mungkin terjadi .Kau berkata bahwa kau tak akan berkomitmen kepada wanita manapun selain tika hingga ajal menjemput mu. Aku mengatai mu pria bodoh, karena ku juga tak percaya bahwa ada pria seperti mu, itu hanyalah sebuah gombalan atau Cuma mencari simpati. Tapi prinsipmu sangat teguh. Lalu ku pikir ya sudah lah, setiap manusia berhak menentukan pilihan hidupnya . itulah pilihan hidup mu. Kau hanya ingin semua yang terbaik untuk tika. Dari apa yang akau alami dengan tika, aku belajar sesuatu. Hingga kau meminta bantuan ku untuk menyusun sebuah pesta ultah kejutan untuk tika. Aku pikir itu bukan rencana yang bagus. Namu kau langsung tepis ketakutan ku tentang kehadiranmu yang mungkin bisa mengganggu hari tika, kau bilang akau memakai kostum badut agar tika tak mengetahuinya. Ya baiklah aku setuju, ku Cuma ingin membantumu. Kita menyusun rencana sampai datangnya bencana tersebut. Tika mengenalimu dan segera mengusir mu dan juga aku. Rencana kita gagal. Kau pulang dengan kekalahan dan tika memusuhi ku. Ya itulah dilemma kita.


Sampai saat ini aku juga masih bingung kenapa aku bisa jatuh dalam dimensi yang aneh dimana aku terhimpit oleh ruang kesetiaaan mu dan keacuhan tika. Di sisi lain aku miris dengan kebodohan mu dan aku sedih dengan keangkuhan tika yang tak mau menjelaskan semua nya dengan jelas. Aku melanjutkan hidup ku , tika melanjutkan hidup nya , dan kau melanjutkan kesetiaanmu yang bodoh itu. Kita cari kebahgiaan masing-masing , antara aku , kau ,dan tika akan baik-baik saja.


TIM TOM

Tim Tom

/timtom

Simply extraordinary , Mantan TKW yang kadang suka nulis kadang enggak, sedikit melankolis, takut sama balon.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?