Oleh-oleh Umrah Akhir Ramadhan 1432 H

07 Juli 2012 17:49:13 Dibaca :

Dalam rangka mengamalkan firman Allah dalam Surat Adh Dhuha ayat 11, Insya Allah ana akan menceritakan sebagian dari pengalaman umrah pada akhir Ramadhan 1432 H (Agustus 2011) kemarin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.”


Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).   (QS. Adh Dhuha : 11)



Asy Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat di atas sebagaimana dalam kitab tafsirnya yang berjudul Taisir Al Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan :


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ


Yaitu seluruh kenikmatan, baik nikmat agama maupun dunia


فَحَدِّثْ


Artinya, sanjunglah Allah atas kenikmatan tersebut. Khususkanlah dengan menyebut-nyebut nikmat itu jika memang di dalamnya terdapat kemaslahatan. Kalau tidak, maka sebut-sebutlah nikmat Allah itu secara mutlak. Karena menyebut-nyebut nikmat Allah ini akan mengajak kita bersyukur dan mendorong tumbuhnya rasa cinta kepada yang telah memberi nikmat tersebut. Sebab sesungguhnya, hati ini cenderung untuk mencintai siapa saja yang berbuat baik (kepadanya).



Berangkat Umrah


Dalam umrah ini ana berangkat berdua bersama ibunda tercinta melalui biro travel perjalanan haji/umrah. Kami (ana dan ibunda) mengambil paket lailatul qadar. Berangkat dari bandara Soekarno-Hatta pada hari kamis tanggal 18 Ramadhan 1432 H (18 Agustus 2011) menuju Jeddah tapi transit dahulu di Riyadh. Berangkat sore hari sekitar pukul 16.30 WIB dengan maskapai Saudi Arabian Airlines. Sebenarnya jadwal penerbangannya pukul 16.00 WIB, tapi ada beberapa rombongan (bukan rombongan biro travel ana) yang terlambat masuk ke pesawat sehingga terjadi keterlambatan penerbangan. Lama waktu penerbangan ke Riyadh sekitar 9 jam. Kemudian dilanjutkan penerbangan ke Jeddah dini hari Jum’at 19 Ramadhan 1432 H karena lamanya proses di bagian imigrasi. Lama waktu penerbangan dari bandara Riyadh ke Jeddah sekitar 2 jam. Sampai di bandara Jeddah sudah masuk waktu shubuh. Shalat di bandara Jeddah kemudian perjalanan dilanjutkan ke Madinah dengan menggunakan bis sekitar 5 jam.



Tiba di Madinah


Setelah perjalanan dari Jeddah ke Madinah dengan menggunakan bis sekitar 5 jam, kami tiba di hotel Fairuz yang terletak persis di depan Masjid Nabawi. Tiba di hotel 1 jam sebelum shalat jum’at di Masjid Nabawi dimulai. Kemudian mandi dan  berangkat ke masjid. Karena tiba di Madinah menjelang shalat Jum’at, maka kami bersama teman sekaramar mendapatkan masjid dalam keadaan penuh. Dan Alhamdulillah, kami mendapatkan tempat di lantai paling atas dari Masjid Nabawi. Pada waktu itu ana sempat merekam adzan, khutbah jum’at dan shalat jum’at. Namun qadarullah rekaman itu tidak tersimpan sehingga tidak bisa diupload. Pada sore harinya kami diajak mengelilingi kota madinah dan singgah di beberapa tempat termasuk mampir di masjid Quba untuk melaksanakan shalat 2 raka’at di sana.



Tiba di Makkah


Esok paginya hari Sabtu 20 Ramadhan 1432 H (20 Agustus 2011) perjalanan dilanjutkan ke Makkah. Sebelum ke Makkah kami rombongan biro travel segera menuju tempat miqat sebagai penduduk kota Madinah yaitu Dzulhulaifah atau yang dikenal dengan Bi’r Ali. Mengenakan kain ihram dari masjid di Bi’r Ali kemudian naik bis melanjutkan perjalanan ke kota Makkah. Lama waktu tempuhnya sekitar 8 jam. Tiba di hotel Dar Um Hani (kota Makkah) setelah ‘ashr sekitar jam 17.00 waktu Makkah. Kemudian ke hotel sebentar untuk persiapan pelaksanaan umrah.



Pelaksanaan Ibadah Umrah


Kemudian setelah itu berangkat menuju Masjidil Haram yang jaraknya sekitar setengah kilometer atau kalau berjalan kaki sekitar 7-10 menit ketika jalanan menuju Masjidil Haram agak lapang dan lancar. Setelah sampai di Masjidil Haram kemudian thawaf yang mana kami thawaf di lantai dasar dan thawafnya dekat dengan ka’bah. Cara berjalan kami hanya setapak demi setapak mengingat penuhnya di tempat tersebut. Kemudian setelah selesai thawaf, kami shalat 2 raka’at di belakang maqam Ibrahim dan dilanjutkan dengan sa’i yang diawali dari bukit Shafa. Disela-sela sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, berkumandang adzan Maghrib tanda untuk berbuka puasa. Kami menepi sejenak untuk berbuka puasa dan melaksanakan shalat Maghrib, dan setelahnya melanjutkan sa’i dan tahallul.



Kegiatan Selama di Makkah


Selama di Makkah kami lebih sering berada di Masjidil Haram daripada di hotel atau tempat lainnya. Pernah suatu hari di pagi hari kami diajak berkeliling kota Makkah untuk mengenal tempat-tempat bersejarah, tapi itupun tidak lama hanya 1 hari tersebut dari jam 7 sampai jam 10 pagi. Karena kalau sudah melewati jam 10, maka bis tidak bisa lagi memasuki jalan di depan hotel.



Di antara nikmat yang Allah berikan kepada ana di kota Makkah & Madinah khususnya di Masjidil Haram & Masjid Nabawi :


1. Mencium Hajar Aswad, Mengusap Rukun Yamani, Shalat di Hijr Isma’il


Di antara keutamaannya yaitu sebagaimana hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,


“Sungguh! Allah akan membangkitkan sebuah batu (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia mempunyai dua mata untuk melihat dan sebuah lisan untuk berbicara. Ia akan menjadi saksi atas orang yang mengusapnya dengan benar.” (HR. Al Imam Asy Syafi’i, Al Imam Ahmad dan selain keduanya)


Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata tentang hadits di atas dalam kitab beliau Manasikul Hajj wal ‘Umrah, “Hadits ini adalah hadits yang qawiy (kuat), sebagaimana yang telah aku jelaskan dalam Al Hajjul Kabir (Hajjatun Nabi kama Rawahu Jabir).”


“Mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani benar-benar dapat menggugurkan dosa.”


Syaikh Al Albani berkata tentang hadits di atas dalam kitab beliau Manasikul Hajj wal ‘Umrah, “Dihasankan oleh At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim dan Adz Dzahabi.”


Alhamdulillah, Allah telah memudahkan ana untuk mencium Hajar Aswad, mengusap Rukun Yamani dan shalat sunnah 2 raka’at di Hijr Isma’il pada tanggal 22 Ramadhan 1432 H setelah shalat shubuh dalam 1 rangkaian thawaf yaitu pada putaran ketujuh.



2. Berbuka Puasa di Masjidil Haram


Berbuka puasa di Masjidil Haram merupakan kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dilupakan. Hal itu dikarenakan kita mendapatkan beberapa manfaat seperti bisa berkenalan dengan ikhwah dari berbagai negara. Biasanya berkenalan dengan orang timur tengah seperti Afghanistan, Pakistan, India, Irak, Bangladesh, dan lainnya. Di samping itu biasanya setelah shalat ‘ashr langsung menunggu waktu berbuka di masjid, tidak pulang dahulu ke hotel. Dan menunggu shalat setelah shalat merupakan keutamaan yang sangat besar sebagaimana hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُالْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ, فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ



“Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu pada keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin, pent.), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath.” (HR. Muslim no. 251)



3. Melaksanakan Shalat Wajib, Shalat Sunnah, Shalat Jenazah dan Shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, serta shalat sunnah di Masjid Quba


a. Keutamaan Shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi


Dari Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


صلاة في مسجدي هذا، أفضل من ألف صلاة فيما سواه من المساجد، إلا المسجد الحرام، و صلاة في


المسجد الحرام، أفضل من صلاة في مسجدي هذا بمائة صلاة


Shalat di masjidku ini adalah lebih afdhal daripada seribu shalat di masjid lainny”, kecuali masjidil haram. Dan shalat di masjidil haram adalah lebih afdhal daripada shalat di masjidku ini dengan seratus kali.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, dan hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Jami’ karya Syaikh Al Albani  dengan no.3735)


Dari Jabir radhiyallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:


صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ ، وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ


Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan Ibnu Majah (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushiri. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).



b. Keutamaan ziarah ke masjid Quba’ dan shalat di sana


Adalah Nabi ’alaihissalaatu wassalamu berjanji kepada dirinya sendiri hendak ziarah ke Masjid Quba’, baik dengan jalan kaki maupun naik kendaraan beliau datang ke sana pada hari Sabtu, lalu mengerjakan shalat di sana  dua raka’at.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:69 no:1193 dan 1194, Muslim II:1024 no:1399, ’Aunul Ma’bud VI:25 no:2024, dan Nasa’i II:37).


Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:


من تطهّر في بيته، ثمّ أتى مسجد قباء، فصلّى فيه، كان له كأجر عمرة


Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya dan Ibnu Majah serta selain keduanya, dan hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Jami’ karya Syaikh Al Albani dengan no. 6030)



c. Keutamaan Shalat Jenazah


Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ


Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)


Dalam riwayat Muslim disebutkan,


« مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ » قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ »


“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 945)


Hampir selalu setelah shalat wajib ataupun tarawih ada shalat jenazah. Bahkan pernah ada suatu kejadian shalat jenazahnya 2 kali. Dalam artian setelah shalat wajib kemudian beberapa menit setelah itu dilaksanakan shalat jenazah dan setelah itu juga shalat jenazah lagi. Kemungkinan ada jenazah yang didatangkannya agak terlambat jadinya ketinggalan untuk dishalatkan. Wallahu a’lam.



d. Keutamaan Shalat Tarawih


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).


Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih.)



Shalat tarawih di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi sama dalam hal raka’atnya. Malam pertama sampai malam kedua puluh, shalat tarawih 23 raka’at termasuk witir, dari jam 9 malam sampai jam 11 malam. Memasuki malam kedua puluh satu, shalat tarawih 20 raka’at tanpa witir dari jam 9 malam sampai jam 11 malam, kemudian shalat tarawih lagi 13 raka’at termasuk witir dari jam 1 malam sampai jam 3 malam. Ada qunut witir yang shalat tarawihnya dari jam 1 sampai jam 3 malam. Jadi kalau malam pertama sampai malam kedua puluh, shalat tarawihnya ada 23 raka’at, sedangkan malam kedua puluh satu sampai malam terakhir, shalat tarawihnya ada 33 raka’at.


Untuk yang mengimami shalat tarawihnya, ana tidak tau nama dari imamnya. Namun ketika shalat tarawih di Masjid Nabawi yang hanya 1 malam di sana, ana yakin bahwa yang mengimami ketika itu yakni pada malam kedua puluh adalah Syaikh Ali Al Hudzaifi karena di samping beliau adalah Imam Masjid Nabawi saat ini dan juga sangat miripnya suara beliau dengan rekaman murattal yang ana punya dan setahu ana yang memiliki suara seperti itu hanyalah beliau sendiri, walaupun ana tidak tidak tahu rupa wajah beliau dan tidak pernah bertemu dengan beliau hafidzahullah.



4. Berdoa di Tempat, Waktu, dan Keadaan yang Mustajab


Doa orang yang umrah termasuk di antara doa yang mustajab apalagi dipanjatkan pada tempat, waktu dan keadaan yang mustajab. Yang menunjukkan hal tersebut adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang melaksanakan haji, dan orang yang melakukan umrah adalah utusan Allah. Dia menyeru mereka untuk mengerjakan amalan-amalan itu lalu merekapun mengerjakan seruan-Nya, sehingga ketika mereka berdoa meminta kepada-Nya maka Dia pun memberi mereka.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami: 4171)



5. Berkenalan dengan Ikhwah dari Berbagai Negara


Merupakan kelebihan umrah ketika bulan Ramadhan yaitu ketika banyak sekali jama’ah dari segala penjuru dunia berdatangan ke kota Makkah untuk menunaikan umrah dan menjalankan ibadah bulan Ramadhan di sana, tidak seperti umrah di luar bulan Ramadhan. Kami banyak berkenalan dengan ikhwah dari negara tetangga seperti Malaysia, Filipina maupun negara Timur Tengah seperti Palestina, Afghanistan, India, Irak, Nigeria, dan yang lainnya. Jangan sungkan untuk berkenalan dengan ikhwah lain, meskipun tidak bisa berbahasa Arab, bicaralah dengan bahasa Inggris, karena rata-rata mereka bisa bahasa Inggris. Bahkan kadang-kadang mereka juga bisa Indonesia, seperti para pedagang/penjual. Dan mereka tidak segan untuk berbicara dalam bahasa Indonesia walaupun mereka orang Arab. Tidak jarang mereka merespon ucapan kita dengan bahasa Indonesia, padahal kita awalnya sudah berbicara dalam bahasa Arab maupun Inggris. Hal ini dikarenakan orang Indonesia sudah terkenal ciri khasnya di sana dalam hal wajah maupun pakaian (biasanya orang Indonesia mengenakan baju koko dan sarung).



6. Meminum Air Zam-Zam dan Membawanya Pulang


Baik di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, air zam-zam sudah tersedia di sana. Gelasnya pun sudah ada di tempat/galon besar yang ditempatkan di pinggir dekat jalan orang lalu lalang di dalam masjid. Untuk lebih jelasnya silakan download fotonya pada link di akhir artikel ini. Untuk orang-orang yang mengambil air zam-zam untuk dibawa pulang, maka tempat pengambilannya ada di area pelataran Masjidil Haram melalui keran-keran.


Keistimewaan lainnya dari meminum air zam-zam yang baru saja ana ketahui ketika umrah di bulan ramadhan kemarin yaitu bahwa meminum air zam-zam dalam jumlah yang banyak tidak menyebabkan kita buang air kecil. Wallahu a’lam, karena ana merasakannya begitu. Lain halnya ketika puasa awal bulan Ramadhan yang ana masih berada di Indonesia, minum ketika sahur ataupun buka, maka beberapa jam kemudian maka sudah ingin buang air kecil. Pada awalnya ana kira ini hanya terjadi pada diri ana sendiri, tapi ketika sudah sampai di Indonesia, ibu ana juga menceritakan bahwa hal tersebut juga terjadi pada beliau.



Beberapa nasihat dan tips bagi ikhwah yang ingin umrah khususnya di bulan Ramadhan :


1. Keutamaan umrah di bulan Ramadhan


Cukuplah hadits berikut untuk menerangkan keutamaan umrah di bulan Ramadhan yang sangat besar :


فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى


“Sesungguhnya menunaikan umrah di Bulan Ramadhan pahalanya senilai berhaji bersamaku”. (HR. Al Bukhari serta Al Fath 4/82 dan 3/603 HR. Muslim 2/918)



2. Nasihat sebelum berangkat umrah


a. Berdoalah kepada Allah agar dipermudahkan untuk berangkat umrah, memohon kemudahan dalam perjalanan maupun setelah sampai di sana dan perjalanan pulang ke tanah air.


b. Memperbanyak ibadah di tanah air. Karena ana melihat ibadah ana yang dikerjakan di tanah air, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan oleh ikhwah di Makkah maupun Madinah. Sekaligus hal ini merupakan latihan agar kuat beribadah di sana nanti. Contohnya, perlamalah dalam melakukan qiyam (berdiri) dengan membaca surat yang agak panjang sewaktu shalat. Hal ini untuk membiasakan diri agar tidak kaget sewaktu melaksanakan shalat tarawih di Masjidil Haram ataupun di Masjid Nabawi yang memang merupakan kebiasaan di sana bahwa bacaan suratnya panjang dengan target 1 juz dibaca dalam 1 malam shalat tarawih.


c. Memperbanyak membaca buku/kitab tentang umrah/haji dan tanyalah pengalaman orang-orang yang sudah berangkat supaya mengerti bagaimana gambaran keadaan nantinya sewaktu di sana. Serta dengarkanlah kajian-kajian yang membahas umrah/haji.


d. Sering-seringlah berolahraga. Olahraga diperlukan agar kita dapat mengetahui kondisi keletihan kita sudah sampai sejauh mana. Umrah di akhir bulan Ramadhan dan beribadah di 10 hari terakhir bulan puasa di sana merupakan satu-satunya ibadah yang menurut ana tidak ada yang menyaingi capeknya sekalipun olahraga yang biasa ana kerjakan. Keletihan yang sangat ditambah dengan mata yang berat, namun Alhamdulillah ditutupi dengan kesenangan beribadah sehingga dapat dikatakan “capek tapi senang dan pengen lagi ke sana”, momen yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Latihan yang sangat diperlukan yaitu terutama latihan otot perut, dada, tangan dan kaki. Karena latihan tersebut untuk memperbanyak thawaf, melatih ketika berhimpit-himpitan ketika shalat, berjalan, mencium hajar aswad, dan melatih lamanya berdiri ketika shalat.



3. Tips mencium Hajar Aswad


Mungkin di sini ana tidak ingin membagi tips bagaimana cara mencium Hajar Aswad. Karena setelah ana googling dan tanya kepada ikhwah yang sudah mencium Hajar Aswad ternyata tidak selalu sama caranya. Bisa saja cara orang berbeda-beda untuk menciumnya. Jadi ana hanya ingin menceritakan bagaimana ana dapat mencium Hajar Aswad.


Ana melakukan thawaf pertama kali yaitu pada thawaf umrah tanggal 20 Ramadhan setelah ashr. Kemudian thawaf yang kedua kali yaitu thawaf sunnah pada tanggal 21 Ramadhan setelah shubuh sekitar jam 6 pagi di lantai atas. Pada saat itu ana ingin lihat kondisi banyaknya jama’ah yang melakukan thawaf di lantai dasar. Memang pada pagi itu terlihat penuh sesak jama’ah yang thawaf di lantai dasar. Lalu pada esok harinya tanggal 22 Ramadhan pagi harinya setelah shubuh sekitar jam 6 pagi, ana ingin mencoba thawaf di lantai dasar, walaupun tidak ada niat untuk mencium Hajar Aswad. Ternyata sebelum thawaf, ana melihat jama’ah yang thawaf di lantai dasar tidak begitu penuh sebagaimana yang ana lihat ketika ana thawaf di lantai atas kemarinnya. Oleh karena itu, ana langsung saja thawaf dimulai dari putaran yang tempatnya agak jauh dari ka’bah. Wallahu a’lam, ana pada saat itu tidak ada niat untuk bisa mencium hajar aswad karena penuhnya jama’ah, namun entah kenapa semakin mendekati putaran selanjutnya, serasa tubuh ini tertarik mendekat ke ka’bah. Pada putaran ke-6 ana bisa mengusap Rukun Yamani dan pada putaran ke-7 bisa shalat di Hijr Isma’il dan setelahnya bisa mencium Hajar Aswad, yang sebelumnya “antri” setelah menunggu di bawah laskar yang berdiri di dekat pintu ka’bah, Alhamdulillah. Sederhananya : semakin putaran thawaf bertambah, maka hendaknya semakin mendekat ke ka’bah untuk melihat kondisi jama’ah yang ingin mencium Hajar Aswad. Setelah itu, pada putaran terakhir, langsung menuju ke bawah laskar yang berdiri/bergelantungan di dekat pintu ka’bah. Dan jangan lupa untuk buang air terlebih dahulu sebelum thawaf walaupun tidak merasa untuk buang air.



4. Beberapa perlengkapan yang seyogyanya dibawa


Selain perlengkapan yang harus dibawa seperti kain ihram, pakaian, dan lainnya, ada beberapa perlengkapan yang seyogyanya dibawa seperti :


a. Obat batuk dan diare, karena hampir seluruh jama’ah khususnya kemarin yang berasal dari Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) mengalami batuk. Bahkan di satu pesawat dalam perjalanan pulang ke Indonesia satu deret tempat duduk pada batuk semua. Obat diare diperlukan karena sebagian jama’ah apabila mengalami perubahan makan makanan yang tidak biasanya maka bisa terkena diare.


b. Kaca mata hitam, karena untuk melindungi mata agar tidak merah. Angin/udara di sana tidak sama dengan di sini. Kalau di Indonesia angin/udaranya tenang, sedangkan di Arab Saudi angin/udaranya berhembus agak kencang dan berhawa panas.


c. Imamah/sorban, untuk menutupi wajah ketika cuaca sangat panas dan angin yang berhembus dengan berhawa panas. Ana kemarin tidak bawa imamah/sorban, jadi ana menggunakan sajadah ketika berada di jalanan untuk menutupi kepala dan wajah ana ketika berangkat ke Masjidil Haram.


d. Charger portable dan colokan listrik yang lubangnya ada tiga (untuk isi ulang baterai HP), karena di Arab Saudi colokan listriknya ada tiga, berbeda dengan di Indonesia yang colokan listriknya hanya dua.


e. Minyak Zaitun dan Vitamin, diperlukan untuk mengoleskan ke bibir karena bibir kita bisa pecah-pecah di sana. Dan ini sudah ana alami, bibir ana kering dan pecah-pecah dan kalau dikelupas mengeluarkan darah. Atas saran beberapa teman, agar mengoleskan minyak zaitun ke bibir dan mengkonsumsi banyak vitamin C dan buah-buahan.



5. Tips agar tidak tersesat di Masjidil Haram dan di jalan ketika kembali ke hotel


Agar tidak tersesat di jalanan, segera kenalilah hotel tempat ada berada dan daerah sekitarnya. Jadikan suatu bangunan yang kelihatan mencolok sebagai patokan antum berjalan ketika kembali ke hotel dari Masjidil Haram. Dahulu ana menginap di Hotel Dar Um Hani, maka ana jadikan patokannya adalah Makkah Royal Clock. Jalan ke hotel ada di sebelah kanan Makkah Royal Clock. Sehingga di manapun ana shalat di dalam Masjidil Haram maka ana tinggal melihat Makkah Royal Clock yang memang sangat mudah terlihat dari dalam Masjidil Haram untuk kembali ke hotel.


Sedangkan apabila berada di dalam Masjidil Haram, kenalilah dari pintu/gate berapa anda masuk, begitu pula dengan eskalatornya apabila ingin shalat di lantai atas. Alhamdulillah, di dalam Masjidil Haram walaupun begitu luas, namun mudah untuk dihapal jalan-jalannya, dari gate ini nanti jalan ke sana tembus ke gate itu, naik eskalator ini dan turun eskalator sana gampang untuk kembali ke hotel. Tidak seperti kekhawatiran teman ana yang ketika ana telepon dari Makkah, dia menanyakan apakah tidak tersesat nantinya di dalam Masjidil Haram. Lalu kata ana, ana tidak tersesat karena daerah di dalam Masjidil Haram mudah untuk dihafal dan memang ana menjadikan Makkah Royal Clock sebagai patokan dalam berjalan. Sejak dari hari pertama ana memisah dari rombongan untuk berkeliling seputar Masjidil Haram untuk mencari tempat-tempat yang berbeda untuk shalat, untuk berbuka, dan lainnya. Misalkan ana shalat ‘Ashr di lantai 2, maka setelah itu untuk menunggu waktu berbuka, biasanya ana jalan ke tempat lain untuk berbuka dan mengerjakan shalat Maghrib.



6. Tips mencari tempat/shaf di dalam Masjidil Haram


Mencari shaf di dalam Masjidil Haram pada bulan Ramadhan sangatlah sulit. Waktu yang diperlukan untuk mencari shaf lebih lama daripada waktu untuk berjalan dari hotel ke masjid. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk ke masjid kurang lebih 2 jam sebelum masuk waktu shalat. Bahkan pernah ketika ingin shalat jum’at pada hari ke 26 Ramadhan ana pergi dari hotel sekitar jam 10, namun jama’ah sudah penuh sesak mulai dari jalan hingga ke dalam masjid. Hingga ana dapat shaf di tempat sa’i. Elevatornya sudah tidak bisa menampung dan akhirnya ana menggunakan lift untuk mendapatkan tempat sa’i di lantai atas dan dapatlah shaf di tempat sa’i yang sudah penuh sesak juga.


Selain itu, dianjurkan juga apabila hari pertama sudah datang, segeralah berkeliling di dalam Masjidil Haram untuk melihat keadaan/tempat mana saja yang tempat itu longgar untuk dijadikan tempat terakhir dalam mencari shaf apabila sudah terdesak tidak bisa mendapatkan tempat lagi. Shaf di Masjidil Haram yang padat ada di bagian yang ber-AC. Ciri-cirinya bisa dilihat pada tiang yang memiliki lubang di bagian bawah. Dari lubang tersebut mengeluarkan AC yang  cukup dingin. Sedangkan yang tidak ber-AC, shafnya agak longgar. Sehingga tempat terakhir ana bila sudah terdesak ada di lantai 2 bagian depan yang tidak ber-AC walaupun memang agak panas/pengap.





Penutup


Pesan terakhir buat ikhwah yang ingin umrah di bulan Ramadhan yaitu jangan samakan antara umrah di bulan Ramadhan dengan umrah di luar bulan Ramadhan bahkan haji. Ibu ana yang sudah berangkat haji mengatakan bahwa umrah di bulan Ramadhan 3 kali lebih cape’ dibandingkan dengan haji dan lebih ramai jama’ahnya. Karena Masjidil Haram pada musim haji hanya ramai ketika hari tertentunya saja, sedangkan di bulan Ramadhan Masjidil Haram penuh sepanjang waktu dan juga ada shalat tarawihnya dan juga kita puasa di siang harinya, yang mana hal tersebut tidak didapatkan pada musim haji.


Mungkin hanya itu sebagian pengalaman dan nasihat yang dapat ana sampaikan. Semoga apa yang ana tulis dapat menggugah antum semua untuk melaksanakan umrah khususnya di bulan Ramadhan. Berikut ini merupakan oleh-oleh berupa hasil rekaman pribadi ana sendiri dan juga gambar jepretan kamera handphone selama umrah.


Download Rekaman Audio MP3



Adzan, Khutbah & Shalat Jum’at Masjidil Haram 26 Ramadhan 1432 H

Takbiran sebelum shalat ‘iedul fitri masjidil haram 1432 H

Shalat & Khutbah ‘Iedul Fitri Masjidil Haram 1432 H

Adzan, Shalat Isya & Shalat Jenazah Masjidil Haram 2 Syawwal 1432 H

Adzan, Shalat Shubuh & Shalat Jenazah Masjidil Haram 2 Syawwal 1432 H

Download Foto Oleh-Oleh Umrah Akhir Ramadhan

(yang berisifoto kepadatan thawaf, Masjidil Haram, buka puasa, bangunan di depan Masjidil Haram, bangunan yang diambil dari kamar hotel, hotel tempat ana menginap di Makkah, Jabal Nur, Jabal Rahmah, Laut Merah, Makkah Royal Clock, tempat air zam-zam yang berada di dalam Masjidil Haram, tenda di Mina)

Sumber : http://portal-ilmu.net/2011/10/oleh-oleh-umrah-akhir-ramadhan-1432-h-download-rekaman/

Risetia Anggraito

/thalibulilmi

Hanyalah seorang penuntut ilmu...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?