Perpeloncoan Itu Ternyata Masih Ada

18 Juli 2012 06:21:28 Dibaca :

Perpeloncoan terhadap siswa senior terhadap junior masih ada saat masa orientasi siswa (MOS). Hanya saja bedanya, bila jaman dulu atau yang sempat geger pada tempo hari perpeloncoan dalam bentuk fisik. Misalkan, dengan penamparan, pemukulan atau menendang (yang bersifat kekerasan) yang dilakukan senior kepada juniornya, sekarang perpeloncoannya dalam bentuk mental.


Seperti yang saya temui tadi siang. Secara tidak sengaja, saya berpapasan dengan rombongan siswa-siswa salah satu madrasah aliyah di Kota Tasikmalaya. Mereka sedang menyusuri jalan. Rata-rata setiap kelompoknya terdiri dari sepuluh orang. Kebanyakannya mereka siswa. Setiap kelompok, siswa laki-lakinya hanya dua orang. Mereka berjalan layaknya lomba gerak jalan. Lalu melantunkan jingle-jingle sembari teriak-teriak. Jingle yang dibawakan pada umumnya gubahan dari lagu-lagu yang kini sedang populer di belantika musik Indonesia.


Setiap siswa memakai papan nama yang terbuat dari kertas karton. Papan nama tersebut dikalungkan dengan tali rapia atau benang nilon. Selain nama yang mereka tulis, dalam papan tersebut juga bertuliskan asal dimana dia sekolah.


Selain itu, para siswa juga memakai topi kertas. Bentuk-bentuk topi tersebut ada yang seperti kerucut, ada pula berbentuk yang biasa digunakan tukang sulap (bulat dan memanjang ke atas). Agar terlihat semarak, dihiasi dengan gambar-gambar atau tempelen kertas ermas.


Selayaknya siswa yang sedang sekolah, mereka juga membawa tas. Ada yang diselendangkan namun ada pula yang digendong. Tasnya mereka buat sendiri dari bahan karton lalu dibungkus dengan kertas ermas sehingga terlihat mengkilap. Namun ada juga dari bekas kardus mie instan. Masih terlihat tulisan nama merek mienya.


Tak henti-hentinya mereka melantunkan jingle. Lalu di salah “pos” yang sudah ditentukan oleh seniornya, ia berhenti. Seniornya ada yang laki ada pula cewek. Mereka pun memberikan intruksi. Entah apa yang disampaikannya, karena kala itu saya menyaksikan dari jauh. Hanya saja, tiga orang dari mereka harus berakting. Beraneka ragam, peran yang harus mainkan. Ada yang harus menirukan banci, orang yang lagi makan dan lain-lain. Sementara siswa junior lainnya yang tidak kebagian tugas, mereka mendengarkan intruksi dari seniornya.


Usai memberikan instruksi, senior itu mengolesi semua wajah junior-juniornya dengan cairan berwarna putih di samping kanan maupun kiri. Lalu menempelan goresan-goresan putih itu. Mirip seperti suku indian. Selesai dilamuri cairan putih, para junior itu melanjutkan perjalanan munuju pos berikutnya.


Kalau dipikir secara rasional, buat apa sih hal-hal seperti itu dilakukan? Manfaatnya apa, selain para siswa junior itu harus menanggung malu. Kalau untuk melatih mental, apa harus dengan cara seperti itu? Saya kira ada cara lain yang lebih intelek. Misalnya dengan menggelar lomba pidato atau pun lomba akting dengan disaksikan oleh para siswa-siswa lainnya. Anehnya, para guru juga membiarkan para siswa-siswa senior itu memperlakukan para juniornya seperti itu. Saya pikir ini sebagai bentuk perpeloncoan mental yang tidak mendidik. (*)


Teten Sang Pemoela

/tetenjamaludin

Ini adalah catatan-catatan kecil pemikiran saya. Semoga bermanfaat untuk semua dan bisa turut membangun peradaban yang lebih baik.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?