HIGHLIGHT

Buku yang Bisa Mengajak Kita Melanglang Buana

14 Mei 2012 03:14:51 Dibaca :
Buku yang Bisa Mengajak Kita Melanglang Buana
Buku Tua Bahasa Sepanyol

Sejak kecil saya memang suka  membaca buku. Hobi ini dimulai dengan membaca bermacam-macam komik. Sekarang ratusan buku telah mengisi perpustakaan pribadi saya. Buku-buku dari berbagai topik dan bahasa ada disana. Selain buku sastra dari yang ringan sampai berat sampai ke buku yang santai, novel dan juga yang terpenting di dalam koleksi buku saya adalah berjenis-jenis buku pelajaran bahasa asing.

Saya kembali melihat deretan buku-buku saya. Selain buku pelajaran bahasa yang lazim dipelajari seperti bahasa Jerman, ataupun Arab, ternyata saya memiliki koleksi buku pelajaran bahasa yang kurang lazim dipelajari seperti bahasa Farsi, bahasa Laos, Vietnam , Thai dan juga bahasa Tagalog. Tetapi yang paling banyak adalah buku-buku berbahasa Sepanyol.

Saya teringat pertama kali mempelajari bahasa ini ketika sering meminjam buku di perpustakaan sebuah universitas negri lebih dari 30 tahun yang lalu, Walaupun saya kuliah di fakultas teknik, ternyata saya suka sekali meminjam buku pelajaran bahasa asing. Akibatnya walaupun tidak terlalu lancar saya tetap bisa membaca dan juga sedikit bicara beberapa bahasa yang ternyata di kemudian hari sempat membantu dan memudahkan perjalan saya melanglang buana.

13369639091765563156
Halaman Dalam yang Indah

Sebuah buku yang kelihatan usang dan sudah menguning menarik perhatian saya. Buku yang judulnya “Spanish Book One” ini bergambar orang berkuda dengan warna kuning coklat dan hitam yang dominan. Yang menarik di bagian dalamnya banyak gambar-gambar mengenai kebudayaan Sapnyol yang tersebar tidak saja di negri asalnya tetapi juga di Nuevo Mundo atau dunia baru di Amerika Tengah dan Selatan. Dalam buku ini. Saya juga diperkenalkan dengan sang maestro Don Quijote del la Mancha yaitu Miguel de Cervantes Savedraa.

13369639441568966009
Halaman dalam penuh gambar

Buku ini tergolong antik karena merupakan terbitan tahun 1944. Dan kalau tidak salah saya beli di sebuah toko buku loak di daerah Senen pada awal tahun 1980-an. Di dalam buku ini selain belajar bahasa dan juga kebudayaan Spanyol, saya pun dapat mengembara mengenali kota-kota indah. Buku ini membawa saya berkeliling dan mengenali akan keindahan kota Madrid yang dulunya memiliki perpustakan umum di tepi jalan. Selain itu, pembaca juga diajak mengenali keindahan kota kota-kota penting lainnya seperti Granada , Sevilla , Toledo, Burgos, Valencia, Barcelona dan lain-lainnya.

13369639711577610204
Sebuah Gambar penginapan di Spanyol zaman Baheula

Tidak itu saja, buku ini juga mengajak saya berkelana ke Amerika . Bercerita tentang tentang kehidupan di Mexico, Cuba, Puerto Rico, Kolombia  serta Ecuador dan Chile. Selain itu , kita juga diajak berkelana melihat universitas tua di Montevideo, kehidupan gauchos atau koboi di las pampas atau padang rumput yang luas  di Argentina. Dan juga gambaran  betapa modernnya kota Buenos Aires pada saat itu dengan kereta api bawah tanah atau Subte yang sudah ada sejak awal abad ke duapuluh.

1336964027687261798
Terbitan 1944..

Dan siapa sangka, berkat membaca buku itu, saya pun kemudian memiliki impian untuk mengunjungi tempat-tempat yang diceritakan di buku itu. Dan terbukti di kemudian hari saya pun bisa mengunjungi sebagian dari kota-kota yang menarik tadi. Dalam kurun waktu yang berbeda, namun tetap menggunakan idioma atau bahasa yang sama. Siapa sangka di kemudian hari saya pun sempat mengunjungi sebuah tempat yang digambarkan dan diuraikan dengan indahnya di buku ini yaitu Alhambra atau Istana Merah di Granada.

1336964058930477653
Buku saya yang terbaru

Dan ternyata hasil atau buah dari kebiasaan belajar dan membaca buku ini pun dapat bermanfaat di kemudian hari. Salah satunya adalah kemampuan saya berbahasa spanyol, walaupun terbatas, yang telah menyelamatkan saya dari menjadi “gelandangan” di Cordoba, sebuah kota di Andalusia yang pernah menyaksikan kejayaan Islam di masa lalu di semenanjung Iberia ini.

Kereta AVE atau Alta Velocidad de Espana yang kalau secara literal diterjemahkan menjadi Kereta Kecepatan Tinggi Spanyol berangkat meninggalkan stasiun Madrid. Perjalanan sejauh lebih 300 kilometer ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam dengan kecepatan puncak mencapai sekitar 270 km per jam. Perjalanan dari Madrid menuju Cordoba melewati Ciudad Real dengan tujuan akhir Sevilla itu pun berlangsung dengan mulus melalui daratan semenanjung Iberia yang dipenuhi padang rumput yang luas.

Sesampainya di stasiun Cordoba, cukup banyak penumpang yang turun dan kereta AVE melanjutkan perjalanan ke kota Sevilla. Pada saat itu, yaitu di tahun 1997 , penggunaan internet belum terlalu umum, sehingga kebiasaan saya adalah memesan hotel dari Bandara atau stasiun kereta. Namun di stasiun ini, saya tidak dapat menemukan sebuah tempat informasi ataupun tempat reservasi hotel. Sementara semua orang yang ditanya kalau kita berbahasa Ingrris akan menggelengkan tangan sambil berkata “No ingles”.

Akhirnya saya pun memberanikan bertanya dalam bahasa Spanyol : “Por pavor, podria usted decirme donde esta la informacion”, demikian cara saya mencoba mengucapkan bagaimana cara yang sopan untuk menanyakan dimana  tempat informasi. Terus terang saja bahasa Sepanyol saya secara gramatik masih agak kacau , maklum saya tidak pernah secara resmi ikut kursus melainkan hanya otodidak melalui buku “Teach Your Self Book” dan salah satunya adalah buku tua tadi. Akhirnya saya ditunjukan sebuah telpon umum .

Saya memasukkan beberapa keping uang koin peseta ke dalam telpon umum dan menelpon angka informacion yang kalau di Indonesia adalah 108 . Seorang gadis menyambut telpon saya dengan bahasa Sepanyolnya yang merdu. Akhirnya dengan terbata-bata saya pun minta tolong untuk dicarikan nomer telpon sebuah hotel. Namun dia kembali bertanya :Que es el nombre del hotel? Maksudnya apa nama hotelnya. Untungnya saya teringat nama sebuah hotel  dan sang operator pun menyebutnya nomer hotel yang terdiri dari 7 angka . Akhirnya saya pun mencatat nomer telpon yang kalau tidak salah banyak angka yang diulang sehingga beberapa kali disebutkan dos, dos yang artinya dua. Nomer telpon itupun kemudian saya ulangi lagi sambil mengucapkan “Muchas Gracias

Beruntung, setelah menelpon ke hotel, barulah resepsionis membalas dengan bahasa Inggris ketika saya memulai pembicaraan dengan bahasa Inggris. Dan setelah memesan kamar dan mencatat alamat hotel saya pun dengan kemudian mencari taksi dari stasiun menuju ke Hotel melawati jalan-jalan di kota Cordoba.

Seandainya saya sama sekali tidak bisa berbahasa Spanyol, dan semua orang di stasiun semuanya hanya menjawan “No Ingles”, mungkin akan cukup sulit untuk menemukan hotel dan menikmati perjalanan ke tempat-tempat menarik termasuk sebuah masjid yang telah menjadi gereja dengan nama “La Mezquita de Cordoba” di kota yang dibelah sebuah sungai terkenal dengan nama El Rio Guadalquivir ini.

Karena itu berteman dengan buku tetap merupakan kebiasaan yang baik dan di suatu saat kita dapat menikmati manfaatnya. Kalau saya bisa, anda pun bisa!

Taufik Uieks

/taufikuieks

TERVERIFIKASI (BIRU)

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?