Nenek "Berbibir Merah" di Lereng Merapi

16 Maret 2012 09:37:39 Dibaca :
Nenek "Berbibir Merah" di Lereng Merapi
Foto karya : kampungjati7

Malam itu aku buka "forum curhat" dan melihat kejenuhanku di jawab oleh sahabatku "Tarjum". Aku sangat tertarik, dengan beberapa ide yang dia berikan. Dia memberikan dua pilihan, yaitu pergi ke panti asuhan dan bermain bersama anak-anak di sana atau pergi ke pedesaan dan melakukan aktifitas dengan gadis-gadis desa yang tentunya nggak biasa aku lakukan. Kebetulan untuk pilihan pertama, sudah bukan hal baru dalam kehidupanku, karena alhamdulillah, sejak 5 tahun terakhir atau lebih tepatnya setelah aku mendapatkan pekerjaan dan berpenghasilan sendiri, aku ikut mengelola suatu yayasan panti asuhan. Jadi bagiku, bermain dan berbagi bersama anak-anak panti adalah hal yang biasa aku lakukan. Tiba-tiba aku teringat, akan keadaan penduduk di sekitar gunung merapi yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat di mana aku tinggal. Dan langsung terbesit dalam pikiranku, akhir pekan nanti akan aku habiskan waktu untuk mengunjungi saudara-saudaraku yang ada di sekitar merapi. Berkunjung ke Lereng Merapi Akhir pekan pun tiba. Beruntung ada dua sahabatku yang mau menemaniku kesana. Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 pagi. Aku sengaja memilih waktu pagi hari, karena aku ingin mendapatkan dan menikmati dingin serta sejuknya udara pegunungan di pagi hari. Dan benar saja, bukan hanya dingin dan sejuk yang aku dapatkan, tapi hampir setengah dari tubuh ini beku, mobil pun hampir tak bisa jalan karena jalanan masih tertutup oleh kabut. Kami putuskan untuk berhenti di pangkalan bus pariwisatayang saat itu masih sangat sepi. Belum ada satu kendaraan bahkan satu orangpun yang berhenti atau melintasi tempat itu. Meskipun hawa dingin seakan menusuk tulang, tapi kami bertiga justru penasaran, ingin terus keatas mencoba sekuat apa tubuh kita menahan dinginnya angin pegunungan. Akhirnya mobil kita parkir di pangkalan bus tadi dan kita nekat berjalan kaki tanpa alas kaki naik ke puncak yang lebih tinggi. Sambil berlari-lari kecil dengan tujuan mencari keringat agar tubuh menjadi hangat. Padahal sebenernya nggak ngefek juga sih... hehehe. Sekitar kurang lebih satu kilometer perjalanan, kita sampai di puncak gardu pandang merapi, kabut sudah mulai turun, dan Subhanallah.... kita di beri hadiah oleh Allah SWT, kemegahan pemandangan alam pegunungannya dipagi hari, sejuknya udara yang ketika menghirup terasa kesejukannya masuk dari hidung dan menyelinap hingga ke otak. Benar-benar berasa kayak komputer yang abis di restart....! (ga ada hubungannya deh!) Menikmati Kemegahan Alam Lereng Merapi Sejenak kita diam sambil ngos-ngosan karena kecapekan. Kita nemuin sungai kecil di bawah pohon-pohon pinus. Kita coba mendekat untuk cuci tangan dan kaki. Tapi setelah kita sampai di aliran air kecil itu, subhanallah, kita lihat lagi kemegahan dari allah... airnya. Benar-benar jernih, bening, bahkan terlihat berkaca-kaca. Ada hiasan rumput-rumput hijau yang bergoyang di dalamnya dan batu-batu hitam yang tertata rapi di sana. Alhasil bukannya cuci kaki dan tangan, tapi kita malah buru-buru pengen mencicipi kesegaran air itu. Setelah aku mencoba untuk mengambil air itu dengan tanganku... Bbbbrrrrrrrr....... Dinginnya maaaaaaaaaaaaak. Frezer dirumah aja kalah ama ni air.. hahaha... dingin banget. Waktu aku coba buat minum tu air, enggak seger lagi rasanya, tapi beku sampe ke otak... xixixixi. Tapi subhanallah, lagi-lagi nggak ada kata lain yang bisa aku sebut, kecuali memuji keagungan Allah. Aku lihat jam, sudah menunjukan pukul 06.30. Tapi suasana di sana masih hening, masih sangat sepi dan belum ada tanda-tanda kehidupan lain, selain suara burung-burung di atas langit. Kita bertiga akhirnya duduk-duduk dipinggir jalan, sambil menikmati pemandangan alam dan menghirup oksigen pegunungan yang benar-benar menyegarkan. Sekitar pukul 07.00 baru terlihat ada kendaraan yang melintas. Dan setelah itu muncul beberapa warga desa sekitar yang mungkin akan pergi ke kebun mereka memanen dan merawat tanaman-tanaman mereka. Bertemu Petani Desa yang Ramah Puas beristirahat, akhirnya kami bertiga memutuskan untuk jalan-jalan lagi di sekitar sana. Kami mencari pemukiman warga dan alhamdulillah, diperjalanan kami bertemu dengan beberapa penduduk yang sedang memanen hasil tanaman mereka. Ada banyak perkebunan di sana dan kebanyakan mereka menaman cabai, kubis, sawi, tomat, daun bawang dan seledri.

1331889262899968727
Tresya dan Pemetik Cabai. Foto by Tresya
13318895421901242581
Tresya belajar metik cabai : Foto by Tresya
Waktu itu ada dua orang ibu sedang memanen cabai. Kami menyapa mereka, dengan ramahnya mereka membalas salam kita dan menawarkan untuk mampir ke kebun mereka. Dengan senang hati kita terjun ke kebun ibu-ibu tadi. Kita berjabat tangan dan mereka menanyakan asal kita. Sempat ngobrol beberapa saat, kita mohon ijin untuk membantu mereka memanen cabai, dan dengan senang hati pula mereka mengijinkan serta mengajari kita bagaimana caranya memanen cabai. Seru banget. Gak cuma ibu-ibu dan cabai yang kita temui di sana, tapi ulat bulu, serangga, kotoran ayam, kotoran sapi (pupuk kandang) dan rumput-rumput berduri juga ikut menyambut kedatangan kita. Tapi apalah arti itu semua, justru dengan adanya mereka, menambah kecerian dan pengalaman buat kita.
13318897621546337497
Tresya dan Nenek
Nggak lama kemudian, datang dari jauh seorang nenek-nenek yang jalan tanpa alas kaki sambil menggendong keranjang dari bambu. Nenek itu menghampiri kita, dan dengan cerianya dia menyapa kita sambil tersenyum manis. Terlihat gigi-giginya yang sudah menghitam, bibirnya yang merah karena kina dan suaranya yang lantang penuh keramahan seakan dia ingin bergabung bersama kita. Sungguh, aku terpikat oleh nenek satu ini, meski usianya sudah sangat banyak, kalo menurutku sih sekitar 70 tahunan, tapi semangat serta keceriaannya tiada batas. Kalo aja ada penghargaan nenek ter "ceria" di dunia, pasti dia dapet juara pertama nya... wkwkwkwk.... Tanpa canggung dia ikut gabung sama kita dan itu sangat-sangat menambah keceriaan serta kehebohan suasana pagi di pegunungan. Kemudian dia menawarkan kita untuk mampir ke rumahnya, yang kebetulan tak jauh juga dari tempat itu. Lalu kita berjalan bersama, sambil bercerita dan tibalah kita di rumahnya. Ada satu anak perempuannya dan tiga orang cucunya. Mereka juga tak kalah ramahnya dengan nenek itu. Menikmati Keripik Singkong di Rumah Sang Nenek
13318899151156165065
Tresya, Anak dan 3 Cucu Nenek. Foto by Tresya
Begitu kami datang, langsung kami disuguhi teh panas dan cemilan-cemilan kecil dalam toples wafer "Astor". Dikira temenku isinya beneran wafer astor, eh ternyata setelah dibuka isinya ceriping ketela, itupun sudah tinggal separo... hahaha, kami tertawa geli tapi sangat bahagia. Sejenak aku merenungkan, sungguh mulia hati penduduk di sini, terutama nenek dan keluarganya ini. Mereka menyambut kita, orang baru yang sama sekali belum mereka kenal. Bahkan kedatangan kita di sinipun tidak ada urusannya dengan mereka, tapi mereka tetap menyambut kita dengan penuh keramahan dan kehangatan. Sangat berbeda dengan cara pandang rekan-rekan kita yang ada di kota ketika mereka menemui orang baru, alih-alih ramah, yang ada hanya prasangka buruk, curiga dan curiga. Yang paling membuatku terharu, mereka benar-benar menganggap tamu adalah raja. Dengan keterbatasan mereka, ketika kami datang, apapun yang mereka punya mereka coba hidangkan. Sungguh, ceriping ketela dan teh yang tak seberapa manis, nikmatnya melebihi donut J'co atau Orange juice yang ada di mall-mall. Cukup lama kami singgah di rumah nenek, kami ikut membantu nenek memanen daun bawang untuk dijual kembali di pasar. Kulihat, temanku asyik meminjamkan HP nya kepada cucu-cucu nenek tadi. Mereka terlihat sangat senang, melihat dan mencoba mainan baru yang mungkin selama ini belum pernah mereka lihat. Pelajaran Ikhlas dan Syukur dari Kesahajaan Keluarga Petani Disela-sela perbincangan kami, aku bertanya, di mana kakek dan suami dari anaknya? Nenekpun bercerita, bahwa kakek sudah meninggal sekitar 30 tahun yang lalu, dan suami dari anaknya menjadi buruh bangunan di Jakarta. Biasanya dia pulang setahun sekali ketika lebaran. Dan setiap bulan dia hanya mampu mengirimi istri dan ketiga anaknya uang Rp.250.000,-. Aku sangat kaget mendengar nominal tersebut, tapi dengan ikhlasnya mbak Yanti, anak dari nenek itu berkata, "Alhamdulillah cukup mbak, berapa aja saya dikirimi yang penting suami saya di sana sehat dan bisa makan setiap hari. Kalo kami di sini gampang, banyak sayuran yang bisa kami petik, kami masak dan kami makan. Kalo bapaknya anak-anak di sana kan nggak punya kebun mbak, jadi makanan harus beli.” Subhanallah, betapa besar hati mbak Yanti, dengan ikhlasnya dia menjaga, merawat ibu serta ketiga anaknya dengan Rp. 250.000,- per bulan. Nggak bisa aku bayangin kalo aku di posisi mbak Yanti. Dengan gajiku saat ini aja, kadang aku masih merasa kurang, tapi dia benar-benar seorang wonder woman! Sekitar pukul 10.00 pagi, kita baru sadar kalo kita kelaparan. Dari subuh banyak sekali yang sudah kita kerjakan dan otomatis banyak juga energi yang kita keluarkan. Kita baru sadar juga kalo kita sudah meninggalkan mobil kita di pangkalan bus, yang kata si nenek kalo jam segini di sana dijadikan pasar kecil oleh penduduk sekitar. Alamaaaaaaaaaaaak, jadi apa mobil kita di sana? Setelah puas bermain-main dan bersenda-gurau, akhirnya kami pamit untuk pulang. Kami diantar oleh nenek, anak dan cucu-cucunya sampai ke pangkalan bus. Dan alhamdulillah, mobil kita aman disana. Kita justru bertemu dengan pasar kecil, yang menyajikan sayur mayur yang masih sangat-sangat segar dan subhanaallah, harganya sangat-sangat muraaaaah. Mungkin karena memang ini adalah hasil panen sendiri, orang di sana juga belum tau harga-harga di pasaran. Sebagai ucapan terima kasih, kami bertiga berinisiatif untuk membelanjakan nenek dan anak cucunya sayur-mayur, lauk-pauk dan bahan pokok lainnya. Tidak banyak yang bisa kami berikan, tapi lagi-lagi kepolosan mereka dan tingginya rasa syukur mereka membuat kita jadi merasa, bahwa di mana rasa syukurku? Allah telah memberiku rejeki yang tak ternilai. Setiap bulan jutaan rupiah yang ia berikan padaku, setiap hari kesehatan dan kebahagiaan yang ia anugerahkan untukku, tapi masih saja aku ingin lebih dan lebih. Jarang sekali ucapan syukur terucap dari bibirku seperti rasa syukur nenek dan anaknya ketika menerima sembako dan sayur mayur dariku. Pulang dari Lereng Merapi, Membawa Kenangan Indah dan Bermakna
133189004911578101
Merenung di Gardu Pandang Merapi : Foto by Tresya
Kawan, banyak sekali pelajaran dari perjalananku yang hanya beberapa jam ini. Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku kenikmatan kedua bola mata, hingga aku bisa melihat betapa megahnya duniamu ini. Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku anugerah kedua daun telinga, hingga aku bisa mendengar merdunya suara burung-burung dan gemericik air yang mengalir di sungai kecilmu. Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku hidung, hingga aku bisa menikmati sejuknya oksigen dan segarnya embun pagi mu. Terima kasih ya Allah, engkau pertemukan aku dengan nenek beserta keluarganya, hingga banyak sekali pelajaran hidup yang bisa aku petik dari mereka. Aku lampirkan foto-fotoku bersama nenek, ibu-ibu, mbak Yanti beserta anak-anaknya. Tidak banyak yang bisa aku dokumentasikan karena keasyikan di sana. Dan HP ku pun dibuat mainan anak-anaknya mbak Yanti, jadi hanya beberapa foto yang bisa aku dapatkan. Guys, sekian pengalaman liburanku dalam rangka menghilangkan kejenuhan. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kalian. Ketika merasa jenuh atau ingin mencari hal-hal baru dalam hidup, carilah tempat-tempat yang berkaitan langsung dengan alam. Karena kebesaran Tuhan terlihat melalui alam semesta ciptaan-Nya yang jauh lebih megah dibandingkan cafe-cafe atau club-club malam yang menawarkan sejuta hiburan. Sekian dari Tresya, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Cerita inspiratif ini dikutif dari penuturan Tresya di Forum Curhat. Cerita-cerita inspiratif lainnya bisa anda baca blog Curhatkita. Sumber foto ilustrasi : http://kampungjati7.deviantart.com/#/d2z749z

Foto dokumentasi Tresya Agnashila

Tarjum Sahmad

/tarjum

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Saya suka sekali menulis dan berbagi cerita di media sosial terutama di blog Tarjum.com dan Facebook. Saya juga menulis buku dan ebook. Facebook: tarjum, Twitter: @tarjum.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?