Obituari Akun Olas 'Black Horse'

19 Juli 2012 23:41:37 Dibaca :

Akun Kompasiana Black Horse (kompasiana.com/olas) telah eksis sejak tanggal 5 Maret 2010 atau telah dua tahun lebih. Namun, tanggal 17 Juli 2012 pukul 22:44, Bung Olas 'Black Horse' menyatakan undur diri dari Kompasiana melalui tulisan bertajuk "Terima Kasih Admin, Terima Kasih Semua", yang dipublish tanggal 18 Juli 2012 pukul 00.13.

Bayangkan. Setelah dua tahun lebih, 70 artikel, dan 3.723 tanggapan ternyata berakhir seperti ini. Bung Olas Black Horse umpama samurai harakiri tepat tengah malam.

Banyak romantika saya dan Bung Olas selama berinteraksi di Kompasiana. Termasuk kebersamaan dalam beberapa "peperangan" di kolom komentar dengan banyak akun lain. Sebut saja dalam satu "perang Badar" dan "perang Khandaq" dalam tiga bulan terakhir kemunculan saya di Kompasiana.

Interaksi terakhir saya dengan Bung Olas terjadi tanggal 16 Juli 2012 pukul 19:04:20. Saat itu ia mengomentari artikel saya yang berjudul "Mengapa Prabowo Sebaiknya Ditangkap". Seperti sudah jadi ciri khasnya, ia berkomentar lalu tertawa kah...kah...kah. Sungguh tak menyangka jika ini komentar terakhirnya.

Terus terang saya meniru gaya Bung Olas menanggapi komentar orang lain. Pertama-tama komentar yang hendak ditanggapi dicopas lalu dimasukan dalam kurung, barulah tanggapan ditulis di bawah kalimat dalam kurung tersebut. Sehingga alur tanggapan sistematis dan terhindar dari meleset komentar.

Namun semua tinggal cerita. Sebagaimana dikutip dalam artikel terakhir Bung Olas, Admin menyatakan ia telah membuat pernyataan melecehkan, merendahkan, maupun menyerang pribadi dan/atau unsur SARA. Sayangnya, Admin tidak spesifik menyebutkan pernyataan mana yang telah mempertentangkan SARA tersebut. Setidaknya Admin memberi link jadilah, bisa untuk rujukan dan bahan introspeksi bagi pemilik akun Kompasiana lainnya.

Yang pasti, jika Bung Olas mempermanenkan pengunduran dirinya di Kompasiana maka tak pelak, sekali lagi, Kompasiana kehilangan penulis cerdas yang sangat menguasai bidang spesifik kajiannya. Bukan hanya cerdas tapi juga berpikir inklusif, pluralis dan pro pada kebhinnekaan di Indonesia.

Diam-diam saya mengharapkan Bung Olas melanjutkan karyanya atau muncul kembali dengan akun baru yang benar-benar baru, dengan foto profil tertentu, umpama ladang yang baru saja dibuka dan siap ditanami aneka rupa palawija. Tentu saja gaya ini bukan watak Bung Olas.

Saya merasa kehilangan.

Sutomo Paguci

/sutomo-paguci

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis sebagai rekreasi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?