Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Media Sosial Menjadi Fasilitas Perekrutan Jaringan Teroris

19 Juni 2017   22:16 Diperbarui: 19 Juni 2017   22:19 88 2 0
Media Sosial Menjadi Fasilitas Perekrutan Jaringan Teroris
Komik Ngoplah (Sumber: Komik)

Sabtu 17 Juni 2017 sore, saya menghadiri acara Ngoplah yang diadakan oleh komunitas Kompasiana penggemar film - KOMIK. Pada sore itu diputar film dokumenter "Jihad Selfie" yang mengungkapkan bahaya media sosial yang dimanfaatkan kaum ekstrimis guna mempengaruhi  kaum muda.

Film pendek berdurasi 50 menit ini diproduseri oleh Noor Huda ismail, seorang peneliti Global Terorism yang kini menetap di Melbourne, Australia.

Noor Huda sangat miris akan nasib anak muda yang direkrut oleh jaringan teroris internasional, dari data yang ia kumpulkan sudah tercatat 500 orang asal Indonesia yang sudah bergabung dengan jaringan teroris internasional. Perekrutan anggota sekarang dilakukan dengan taktis dan efisien melalui media sosial seperti Facebook.

Media sosial seperti halnya peralatan memiliki dua sisi seperti mata uang, sisi baik dan sisi buruk. Misal pisau ditangan seorang chef sangat berguna untuk memotong daging, sebaliknya ditangan seorang pembunuh pisau dapat menghabisi nyawa orang.

Media sosial seperti Facebook, sisi baiknya mampu menghubungkan mereka yang berjauhan, saya pernah menemukan teman yang tidak pernah bertemu 30 tahun melalui Facebook. Meski kami tinggal di kota dan negara berbeda, namun kami dapat berkomunikasi dengan baik, saling bertukar kabar, foto dan video. Sebaliknya Facebook juga mampu menyebarkan propaganda sesat dengan cepat, menyebarkan foto-foto menyeramkan, cara membuat bom hingga perekrutan anggota jaringan teroris. Penyebaran faham fanatisme tentang jihad hingga kebanggaan membawa senjata serta keberhasilan misi pemboman yang diganjar masuk surga dan disambut 72 bidadari.

Sinopsis Film

Film ini diawali dari Turki yang dulu terkenal dengan Otoman kerajaan islam terbesar. Turki lazimnya digunakan sebagai sarana untuk masuk ke negara konflik seperti Syria dan Libya.

Dikisahkan dalam film itu, Akbar Maulana asal Aceh, pemuda dari keluarga bahagia dan mendapat bea siswa untuk membentuk imam dan qotib di Turki. Ia memiliki kemampuan public speaking yang baik sehingga banyak disukai sesama mahasiswa.

Salah seorang sahabatnya Yazid, yang sudah menjadi anggota jaringan teroris internasional, membuatnya terkagum karena melihat fotonya di Facebook tampak gagah dengan menyandang senjata AK47. Yazid akhirnya dikabarkan meninggal tahun 2015 di Syria.

Meski memiliki talenta berbicara di depan publik, sebenarnya Akbar adalah seorang penyendiri, ia hanya main Facebook dan game di kamarnya, kurang bergaul secara sosial bermasyarakat. Akbar selalu menggunakan media sosial WA dan Facebook saat berkomunikasi dengan Yazid.

Melalui media sosial Facebook, Akbar juga mengenal Wildan yang menjadi pelaku bom bunuh diri di iraq, Wildan adalah hasil perekrutan Akbar dari sosial media. Teman Wildan, Izam sangat tidak menyangka Wildan yang dikenalnya dengan baik telah melakukan tindakan terorisme.

Masih beruntung, Akbar ingat pesan ibunya, akhirnya tidak jadi bergabung dengan jaringan teroris internasional dan kembali ke Aceh.

Kiprah Yayasan

Film ini diedarkan Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) ke seluruh dunia, di Indonesia ke kampus, pesantren, gereja dan komunitas yang memiliki minat terhadap perdamaian, demikian penjelasan singkat Dete Aliah (Managing Director) mengenai yayasan sosial yang didirikan tahun 2008.

Tujuan film dokumenter ini guna mengingatkan kaum muda baik laki-laki maupun perempuan, agar tidak mudah direkrut melalui media sosial untuk bergabung dengan jaringan teroris internasional. Sudah cukup 500 anak muda Indonesia yang terlanjur bergabung dengan jaringan teroris internasional. Sebagai orang tua, Anda harus melindungi anak-anak Anda, agar menggunakan media sosial lebih bijak.

Indonesia sebagai negara ke tiga terbesar keanggotaan pada media sosial Facebook setelah Amerika Serikat dan India patut selalu mewaspadai pemanfaatan media sosial.

YPP pertama kali mengedarkan film "Prison on Paradise" tentang korban bom Bali, saat ini sedang merencanakan pembuatan film ke tiga mengenai orang Indonesia yang sadar dan meninggalkan jaringan teroris internasional. Namun masih belum terealisasi karena perlu berhati-hati guna menjaga keselamatan nara sumber.

Acara Ngoplah diakhiri dengan buka puasa bersama, dengan hidangan yang disponsori oleh Gula Jawa.

Logo Komik
Logo Komik