HIGHLIGHT

Terdampar di Makassar Kota Tanpa Tujuan

13 Juli 2012 21:15:13 Dibaca :

Seharusnya Sabtu (14/7) dini hari ini saya sudah bercengkrama dengan kekasih hatiku di Palu setelah gagal berangkat dari Makassar Kamis 12/7 sore dengan Bus Liman antar Kota, Naik bus dengan jarak tempuh ribuan kilo bisa satu hari satu malam didalam mobil adalah pilihan terakhir ketika tidak mendapat tiket dalam penerbangan dari Makassar-Palu yang sangat padat memasuki liburan dan jelang puasa.

Gagal berangat naik bus dengan penuh kesal yang dipendam dalam diri, tapi teman seperjalanan, si gondrong yang punya nama Achyar Lani, tingkahnya yang plin-plan selalu bikin kesal. Dia yang memutuskan mengagalkan perjalanan pulang karena kesal jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul satu siang molor karena bus masih harus ganti ban dan perbaikan mesin.

Ceritanya, sampai jam lima sore bus belum ada tanda-tanda berangat. Akhirnya dia membatalkan keberangkatan dengan berbagai alasan meski saya sangat menolak, bagi saya, kita bersabar sampai bus besar itu beres. Tapi dasar, orangnya keras kepala  terus mendesak saya dengan alasan terakhir ada tiket pesawat yang akan dicarikan Mudin teman satu tim di Palu.

Dengan dua pertimbangan akhirnya saya mengikuti pendapat Achyar. Alasan saya nurut karena pertama, dalam perjalanan musafir secara berdua atau bersama-sama, bagi saya ketika seorang teman dengan tiba-tiba menolak melakukan perjalanan bersama hati kecil saya akan mengikuti teman yang menolak, khawatirnya terjadi sesuatu dijalan dan lebih memilih tetap bersama meski harus terdampar begini.

yang kedua, ada semacam harapan alternatif setelah menunda perjalanan dan melakukan perjalanan selanjutnya walaupun harus menghadapi hari-hari sulit setelah gagal berangkat, kami ini menjadi semacam manusia yang terdampar di Makassar.

Meskipun sebenarnya Makassar bukan kota yang asing bagi saya, saya masuk Makassar pada tahun 1997 saat menempuh pendudukan S1 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan meninggalkan Makassar pada tahun 2000 ke Jogja untuk melanjutkan studi.

Dari tahun 2000, saya baru kembali ke Makassar mulai tahun 2007, itupun tidak lama menetap, paling lama tiga hari karena pekerjaan dan kegiatan lainnya atau sekedar transit. Tapi hari ini, saya katakan terdampar, karena setelah pekerjaan selesai harusnya pada Rabu (11/7)  saya kembali ke Palu hari itu juga.

Tapi ini menjadi manusia terdampar, beruntung ada banyak teman di Makassar terutama teman-teman LSM yang biasa hidup apa adanya, kami terpaksa menumpang di Kantor Kontras Region Sulawesi di kompleks perumahan Adhiyaksa yang koordinatornya Suaib, kawan lama dari Palu,

Selanjutnya berpindah numpang di kantor Anti Corruption Comission (ACC) yang merupakan lembaga anti corupsi di Makassar tempat bergiatnya Abraham Samad sebelum jadi ketua KPK, kantornya di kompleks ruko dekat Panakukang sedikit bikin tenang untuk tidur dan mencatat, tempat teman-teman lama bergiat.

Sampai menjelang terbit fajar, kami masih berharap esok ada kabar baik, entah itu tiket pesawat yang dipesan teman Mudin di Palu atau terpaksa kami kembali memilih naik bus.

MAKASSAR BERUBAH WUJUD

Awal pertama ke Makassar pada tahun 2007, jalan raya di kota tidak sebegini padat seperti hari ini, Juli 2012 meski jalan-jalan utama sudah di perlebar di tambah lagi jalan tol. Tapi rupanya tidak mampu membendung padatnya kendaraan yang setiap hari hadir seperti bayi yang lahir.

Gedung-gedung tinggi semakin mencolok, Kota yang menjadi pintu gerbang kawasan timur Indonesia ini benar-benar telah berubah menjadi kota industri yang tidak ramah kepada musafir seperti kami ini yang berharap ada jalan kecil untuk sekedar jalan kaki di pinggiran jalan besar. Trotoar yang menjadi harapan satu-satunya pejalan kaki digusur demi pelebaran jalan. pejalan bersiliweran diantara becak, bentor, motor dan mobil-mobil.

Yang saya baca dahulu kala sewaktu masih duduk di bangku SD tentang Ujung Pandang yang kemudian oleh presiden Gus Dur berganti nama menjadi Makassar, adalah pusat perdagangan indonesia bagian timur.***

Subandi Arya MS

/sulawesi

kerja di poso, sulteng, hasilnya masih ditabung buat ziarah ke vietnam.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?