Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi wiraswasta

Entepreneur

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight

Merawat NKRI dengan Wisata Perbatasan

14 September 2017   07:13 Diperbarui: 16 September 2017   23:12 612 2 0
Merawat NKRI dengan Wisata Perbatasan
Dokumen pribadi

Pemerintahan Presiden Jokowi-JK dengan nawa citanya terus berusaha membenahi wilayah perbatasan, baik perbatasan di darat yang masyarakatnya bersentuhan langsung dengan negara tetangga, maupun perbatasan laut dan pulau-pulau terluar yang juga sebagai batas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terus dibenahi.

Daerah perbatasan di daratan dalam satu pulau di Pulau Flores, perbatasan   dengan Timor Leste. Kalimantan, Barat, Kalimantan Utara,  berbatasan dengan Malaysia.  Papua, berbatasan langsung dengan Papua Nuginie, semula dapur  atau wajah belakang  dipermak menjadi teras Negara.  Pos-pos perbatasan dipoles cantik  tampil ciamik. Infrastruktur jalan, listrik, telekomunikasi dan sarana pendidikan di perbatasan NKRI terus dibangun dengan desain modern dan menarik.

Pulau-pulau terluar berhadapan langsung dengan negara tetangga seperti Pulau Natuna, Pulau Miangas, Saumlaki, Tual,   juga terus dibenahi. Pulau Mingas,  Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Filipina kini mudah dijangkau dengan pesawat udara. Pulau berpenduduk  kurang dari 1000 orang ini, sebelumnya merupakan wilayah terpencil, akses hanya dengan kapal laut PELNI yang kedatanganya 2 minggu sekali. Pulau berpenduduk  pasukan TNI penjaga perbatasan  dan beberapa warga ini, kini mudah diakses, mudah didatangi dari segala penjuru.

Pulau Natuna di Laut Cina selatan yang berbatasan laut dengan Filipna, Malaysia, Singapura, dan Negara Asia Tenggara lainnya, juga menjadi perhatian pemerintah. Pulau terluar yang rawan disengketakan   terus diperkuat sebagai basis pertahanan negara. Bandara  TNI yang semula hanya untuk pertahanan  ditingkatkan  untuk kepentingan ekonomi dan pertahanan. Kekuatan  TNI juga dibangun di Natuna sebagai tanda Negara hadir.  

Keterpencilan dan ketertinggalan di perbatasan  baik di daratan dalam satu pulau maupun pulau terluar  secara cepat berangsur mulai sirna seiring pembangunan Bandara perintis dengan landasan pacu  minimal  1.500 meter, sehingga pesawat jenis CN 235 atau ATR dapat mendarat di pulau terluar NKRI di perbatasan.

Bila sebelum dibangun Bandara untuk pergi ke Miangas  butuh waktu berhari-hari dengan kapal laut dari  Bitung yang menjadi akses utama berjarak 400 km  ke pulau terluar dengan kapal laut PELNI,  kini cukup 1 jam dengan pesawat udara penerbangan dari Manado. Hadirnya transportasi udara telah mempercepat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di pulau-pulau terluar

 Pembangunan  daerah perbatasan mulai dirasakan warga yang tinggal di jauh dari Ibu Kota negara. Kini mereka sudah muali merasakan keadilan  sebagai warga NKRI dibanding sebelumnya yang   hanya ditugasi menjaga setiap jengkal wilayah NKRI di perbatasan. Pembangunan daerah perbatasan telah mengurangi kesenjangan antar wilayah.   Indonesia Barat, khususnya Jawa yang semuanya serba mudah diperoleh kini dirasakan pula warga di pulau terluar dengan perhatian pemerintah.

Pemerintah tidak hanya membangun  Bandara di pulau-pulau terluar yang telah membuka konektivitas  antar wilayah melalui jalur udara, namun juga dioperasikan kapal Tol Laut. Keterbatasan pesawat udara untuk mengangkut barang, ditopang dengan pengoperasian kapl Tol Luat untuk memenuhi kebutuhan  masyarakat  dalam jumlah besar  yang tidak dapat diangkut pesawat. Pemerintah cerdas memadukan transportasi udara dan kapal laut dalam meningkatkan denyut perekonomian di wilayah perbatasan.

Pulau-pulau di perbatasan memiliki keindahan alam pantai, bawah laut, kuliner khusunya ikan dan budaya yang belum pernah disaksikan warga di luar wilayahnya. Potensi budaya, kuliner, wisata alam dan potensi lainnya harus dikembangkan dengan kemasan   wisata perbatasan. Koneksi transportasi udara yang telah terbangun, pemenuhan kebutuhan yang lebih terjamin dengan adanya Tol Laut diharapkan mendorong pemerintah dan pelaku wisata untuk mendatangkan wisatawan dari dalam negeri dan manca negara untuk datang ke wilayah perbatasan NKRI.

Di pulau perbatasan perlu disiapkan sumber daya manusia (SDM) mumpuni dibidang pariwisata sehingga dapat mengemas paket-paket  wisata keliling pulau dengan kapal laut,  wisata keliling pulau dengan transportasi darat dan paket menarik lainnya untuk mendorong minat warga, khususnya Jabodetabek  untuk berkunjung ke perbatasan NKRI.  

Wisata perbatasan NKRI bukan  sekedar mendatangkan orang dari khususnya Jawa dengan penduduk terbanyak, namun wisata perbatasan akan mendorong kemajuan pendidikan,  ekonomi dan budaya di  wilayah perbatasan. Melalui wisata perbatasan, penduduk  saudara-suadara kita  di  perbatasan dapat meningkat  pengetahuanya, pengalamanya, perekonomianya karena bertemu dengan banyak orang. Mereka dapat menyewakan rumahnya  untuk menginap, memasak untuk para tamu dan berbagai aktivitas ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan.  

Melalui wisata perbatasan, warga Indonesia dapat mengenal wilayahnya. NKRI yang terdiri lebih dari 17.000 pulau jangan hanya dihafal dan dilihat di peta saja, namun harus kita  kunjungi  untuk meningkatkan ketahanan nasional, toleransi, budaya dan ekonomi.  Dengan wisata perbatasan pasukan TNI penjaga perbatasan juga tidak sendiri lagi, mereka akan banyak teman sesama warga yang datang  menemani mereka bertugas di perbatasan.

Wisata perbatasan harus mulai diperkenalkan, dikampanyekan agar warga Indonesia sadar, masih banyak potensi wisata dalam negeri menjanjikan yang dapat dikunjungi. Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN dan Kementerian Kominfo dapat bersinergi meningkatkan infrastruktur wisata di daerah perbatasan. Pelaku jasa transportasi dan pariwisata dapat  mengemas paket-paket  wisata perbatasan NKRI. Misalnya rute segi tiga Jakarta/Surabaya-Miangas-Rote.  Natuna-Miangas-Papua dan kemas menarik lainnya. Dengan paket-paket menarik wisata perbatasan akan  banyak dikunjungi orang.

Para traveler dari kelas backpacker hingga kelas atas tentu ingin berkunjung ke perbatasan negeri. Wisata ke perbatasan NKRI  dapat dikemas   berangkat Jumat kembali Ahad  (PJKA) dengan menggabungkan beberapa rute menarik, misalnya Jayapura (Papua)-Miangas-Rote-Jakarta, waktunya cukup untuk sekedar menginjakkan kaki di perbatasan negeri, namun bila ingin tinggal lebih lama, bisa ambil paket seminggu dan seterusnya. 

Pemerintah pusat, para  Gubernur,  wali kota/bupati di perbatasan dapat mengeluarkan sertifikat kunjungan wisatawan sebagai bukti pernah menginjakkan kaki di perbatasan NKRI.  Wali Kota Sabang  telah mengeluarkan sertifikat kunjungan ke titik nol, Indonesia barat bagi warga yang pernah menginjakkan kaki di Pulau Sabang.

Wisata ke perbatasan menjadi potensi bagi negeri ini untuk meningkatan  pergerakan wisatawan  dalam negeri dan menggerakkan perekonomian wilayah. Pembangunan perbatasan NKRI berpotensi meningkat perekonomian negara, karena itu langkah Presiden Jokowi perlu diapresiasi. Apresiasi kepada pemerintah bukan hanya diucapkan, namun perlu langkah nyata setiap pelaku ekonomi  dengan mengemas  wisata perbatasan.

Wisata perbatasan dapat menjaga dan merawat NKRI dari berbagai ancaman. Ke depan  wilayah terluar akan  mandiri dengan meningkatnya ekonomi. Mungkin di masa mendatang  wilayah perbatasan dapat hidup tanpa subsidi seiring banyaknya wisatawan mengunjungi wilayah perbatasan NKRI. ***