HIGHLIGHT

Mengatasi Minder

08 Agustus 2012 03:24:18 Dibaca :

CONFIDENT


Oleh : Sopyan Kamal




Minder dalam istilah Psikologi disebut dengan Infiority Compleks atau mempunyai rasa kecil hati terhadap dirinya yang menyebabkan dia selalu menganggap dirinya tidak bisa melakukan apa-apa.



Menurut Ustad Reza M. Syarif Minder disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar.


1. Fakator dari luar


Faktor dari luar yang menyebabkan seseorang menjadi minder adalah adanya sebuah sikap over estimate terhadap sesuatu yang datang dari luar dirinya, dia mempunyai prespsi berlebihan terhadap apa yang datang dari luar dirinya. Orang ini selalu merasa bahwa orang lain lebih dari dirinya.



Persaan ini muncul dikarenakan standar dalam mengukur seseorang dengan menggunakan standar materi bukan menggunakan standar yang prinsip, standar materi itu adalah standar yang bersipat materi seperti banyaknya harta, tingginya jabatan, bagusnya body dan sebagainya..ketika dalam proses interaksi menggunakan standar materi maka akan banyak alasan orang ini minder, dia akan merasa minder karena orang lain jabatannya lebih tinggi darinya, karena hartanya banyak dll.



Seharusnya dalam bergaul kita menggunakan standar spritual, yaitu keluasan jiwa berupa keimanan seperti sabda Nabi Muhammad Saw


“ Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dan bukanlah kekayaan itu dengan tingginya jabatan tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa” (al-hadist)



Contohnya coba kita perhatikan dalam shalat berjamaah, dalam shalat berjamaah yang paling pertama mendapatkan shaf paling depan adalah orang yang paling dulu datang ke barisan shalat, siapapun berhak berada di barisan terdepan tergantung siapa yang bersegera memenuhi panggilan ilahi, tidak memandang banyak harta dan tinggi jabatan.


Dan sesungguhnya derajat manusia di hadapan Allah itu sama yang membedakan adalah tingkat ketaqwaanya kepada Allah SWt.



Allah SWT berfirman “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)



2. Faktor dari dalam


Faktor dalam yang menyebabkan seseorang menjadi minder adalah adanya sikap under estimate terhadap diri sendiri, ini adalah sebuah sikap menilai diri lebih rendah dari harga sebenanya, Padahal Allah menciptakan manusia itu lengkap beserta dengan potensinya, ada potensi akal, potensi jiwa, fisik dan sebagainya,



Sikap menilai diri lebih rendah itu berawal dari sebuah pikiran yang negatif tentang dirinya sendiri. Pikiran negatif ini berasal dari pengalam hidup yang buruk dan tekanan dari luar,


Contoh pengalaman buruknya adalah sebagai berikut,


sebut saja ada seorang mahasiswa yang menghadapi ujian yang sebenarnya soal ujiannya biasa saja dan sering di bahas tetapi karena dia belum siap untuk ujian akhirnya dia grogi dalam mengerjakan ujian tersebut banyak pertanyaan yang di jawabnya dengan salah, ketika dia sedang mengerjakan soal ujian tiba-tiba dosen menghampiri mahasiswa tersebut setelah melihat dosen itu berkata “ kalau begini sepertinya kamu tidak layak untuk menjadi mahasiswa kamu cocoknya menjadi siswa SMP saja”, ucapan dosen itu di potret oleh mahasiswa ini sebagai sebuah pengalaman yang sangat membekas, lalu terjadi dialog dalam hatinya “oh iya dasar saya emang tidak cocok jadi mahasiswa saya cocoknya jadi siswa SMP saja”.


Pengalaman tersebut membekas dalam alam pikiran mahasiswa tersebut dan pengalaman tersebut mendapat pembenaran oleh pikiran, akhirnya mahasiswa tersebut merasa selalu minder.


Tekanan dari luar, contohnya sebagai berikut


Sebut saja seorang pekerja yang ingin mempertahankan prinsip hidupnya, sebut saja prisnip tersebut adalah prinsip kejujuran, ketika dia bekerja dia bergaul dengan banyak orang dan sering sekali lingkungannya menyerang prinsip kejujurannya tersebut dengan ungkapan sebagai berikut “ jaman sekarang itu mencari rezeki yang haram saja susah apalagi yang haram”, kalau si pekerja ini mampu mempertahankan prinsip kejujurannya tersebut maka dia adalah orang yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, tetapi kalau prinsipnya tersebut kalah oleh tekanan dari luar maka dia menjadi orang yang tidak percaya diri, harga dirinya akan jatuh karena tidak mampu mempertahankan prinsip kejujuran tersebut.


Dampak yang di akibatkan oleh rasa minder..


Ketika rasa minder ini terus menerus dipelihara maka akan menyebabkan terhalangnya kesuksesan dan secara otomatis kegagalanlah yang akan datang kepadanya, setelah dia gagal dia akan menyesal dan biasanya menyalahkan keadaan, dan ini salah satu sipat manusia yaitu suka membantah atau menyalahkan keadaan seperti yang dijelaskan dalam firman Allah :


“ Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Q.S Al-Kahfi ayat 54)



Penyakit minder ini kalau di pelihara tentu saja ini akan sangat membahayakan, penyakit ini akan membuat matinya tingkat kreativitas kita dalam hidup, bahkan lebih jauh lagi akan menjadikan pengecut dalam kehidupan ini, dia akan sangat kritis terhdap orang yang sukses dengan memberikan berbagai argumen kenapa dia sukses dan kenapa tidak sukses, sekarang marilah hentikan untuk memberikan alasan kenapa tidak sukses, karena itu akan menghabat diri, sekarang mari pikirkan bagaiman bisa sukses dalam menjalankan kehidupan ini.



Dalam agama islam sikap minder atau merendahkan diri sendiri merupakan sesuatu yang dilarang Allah SWT berfirman :



Artinya “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S Al-Imron 139)



Solusinya bagaimana..


1. Menjadikan Allah sebagai tempat bergantung (Allahu Shomad)


Orang menjadi tidak percaya diri karena dia bergantung kepada selain Allah, orang yang ingin mempunyai rasa percaya diri yang abadi maka harus bergantung kepada Allah, Allah yang meciptakan seluruh alam semesta ini, orang yang menggantung nasib dirinya kepada Allah adalah orang-orang yang beriman, ia percaya terhadap janji – janji Allah ketika percaya terhadap janji – janji Allah maka dia akan menjalankan hidup ini dengan rasa percaya diri yang tinggi, harga dirinya tidak bisa di ukur oleh materi.



Konsekuensi keimanan kepada Allah adalah menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah, karena seluruh hidupnya hanya untuk Allah. Dan dia akan mempercayai seluruh firman Allah yang ada dalam Al-Quran.



Orang yang mempunyai keimanan yang kuat kepada Allah maka ia akan berkhusnudhon pada Allah berprasangka baik terhadap apapun yang di berikan Allah, mempunyai prasangka bahawa semua kesulitan yang kita terima dalam hidup, kesulitan bukanlah sebuah hambatan untuk kita sukses tetapi kita harus menganggap bahwa kesulitan itu adalah sebuah hal yang akan mengangkat derjat hidup, harus diyakini bahwa untu mencapai kebahagian atau kesuksesan itu diperlukan sebagai pengungkit untuk menuju derajat hidup lebih tinggi dan pengungkitnya itu adalah kesusahan atau kesulitan hidup, karena di balik kesussahan pasti ada kemudahan sesuai dengan firman Allah :



Artinya : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Al-Insyirah ayat 5-6)



2. Mengikuti orang yang sukses yang kesuksesanya di akui oleh Allah yaitu Nabi Muhamad


Untuk mendapatkan rasa percaya diri maka harus ikut berserta orang-orang yang sukses, yang kesuksesanya di akui oleh Allah SWT yaitu Nabi Muhamad, Nabi Muhamad adalah orang yang paling percaya diri dalam hidupnya karena beliau menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah, bukti kepercayaan diri beliau adalah, saat kaum kafir Quraisy membujuk nabi dengan harta, tahta dan jabatan yang tinggi untuk menghentikan dakwahnya, lalu Nabi Muhamad dengan rasa percaya diri yang tinggi mengatakan “ senandainya matahari ditangan kananku bulan ditangan kiriku aku tidak akan pernah menghentikan dakwahku, yang bisa menghentikan dakwahku hanya Allah” begitu percaya dirinya Nabi mengatakan hal tersebut,



Kisah kepercayaan diri Nabi Muhamad adalah sebagai berikut, waktu itu Nabi sedang sendirian dengan tiba-tiba datanglah Seorang kafir yang bernama da’stur lalu dia menghunuskan pedangnya kepada Nabi, lalu dia berkata wahai Muhamad sekarang siapa yang akan menolongmu sebentarlagi kau akan mati ditanganku, kata da’tsur, lalu dengan penuh percaya diri Nabi Muhamad menjawab yang akan menolongku adalah Allah SWT, mendengar ucapan tersebut tubuh Da’tsur gemetar dan dia menjatuhkan pedangnya lalu Nabi ambil pedang tersebut dan di arahkan ke leher Da’tsur dan Nabi berkata Sekarang siapa yang akan menolongmu wahai Da’tsur, Da’tsur tidak mampu menjawab dan mengaku kalah terhadap nabi .



Da’tsur yang pada mulanya begitu percaya diri mengancam Nabi pada akhirnya mengaku kalah terhadap nabi, ini di karenakan sandaran kepercayaan diri Da’tsur adalah sebuah pedang sedangkan Nabi terhadap Allah, ketika Da’tsur tidak memegang pedang maka hilanglah rasa percaya dirinya tersebut, jadi kalau kita bersandar terhadap selain Allah maka kepercayaan diri yang kita dapatkan hanyalah sementara, banyak orang yang begitu percaya diri di karenakan jabatannya setelah turun jabatan dia kehilangan kepercayaan diri, orang yang kepercayaan dirinya di karenakan harta maka ketika hartanya tidak ada maka hilanglah kepercayaan dirinya.



Maka ketika kita ingin mendapatkan kepercayaan diri yang manatap kita harus mengambil contoh orang yang paling sukses di dunia ini yaitu Nabi Muhamad Saw.



3. Menjadikan Al-Quran dan hadist Sebagai pedoman dalam hidup


Unttuk menjaga kepercayaan diri supaya konsisten maka kita harus mempunyai pegangan dalam hidup ini, dan pegangan yang paling mantap untuk mejaga hidup adalah AL-Quran dan hadist, AL-quran dan hadist adalah sebuah kitab suci yang di dalamnya banyak petunjuk yang memberikan inspirasi dan motivasi untuk manusia dalam menjalankan kehidupannya.



4. Meyakini bahwa diri ini adalah spesial,


Manusia adalah mahluk yang paling spesial yang ciptakan oleh Allah, Allah SWT Berfirman :


“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik” (Q.S At-Thin ayat 4)


Dalam firman ini Allah menyatakan bahwa diantara mahluk Allah yang Allah ciptakan adalah manusialah ciptaanNya yang terbaik, di ayat tersebut ada kata ahsan. Dalam tata bahasa kita mengenal kata perbandingan, ada per bandingan comparative dan ada perbandingan superlative, kata baik adalah kata comparative sedangkan terbaik adalah kata super lative, baik dalam bahasa arab adalah hasan, sedangkan yang terbaik adalah Ahsan, maka kata Ahsan dalam ayat tersebut menerangkan bahwa manusialah ciptaan Allah yang terbaik, Allah sendirilah yang menegaskan bahwa manusia ini adalah ciptaan Allah yang terbaik di antara milyaran ciptaan Allah.



Ketika Allah sendiri yang menyatakan bahwa manusialah ciptaanNya yang terbaik lalu kenapa kita harus minder dalam menjalankan kehidupan ini, kalau kita minder berarti kita ragu akan firman Allah, kalau kita ragu akan firman Allah maka kita ragu kepada Allah, kalau kita ragu pada Allah maka kemungkinan terbesar kita belum beriman kepada Allah. Inilah fungsi iman yang benar kepada Allah, kalau kita memang sungguh beriman kepada Allah maka niscaya kita tidak akan takut lagi dalam menjalani hidup ini.



Dalam Surah Al-insyirah Allah menegaskan bahwa di balik kesusahan pasti ada kemudahan, Allah menegaskan hal tersebut dengan mengulangi kalimat tersebut dalam satu surah yang sama dan berturut-turut. Jadi Khusnudhon pada Allah akan membuat diri menjadi percaya diri dalam menghadapi kehidupan ini, kenapa ? karena dia bersandar terhdap Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung.



5. Banyak berdoa kepada Allah agar terhindar dari penyakit minder, karena yang paling berkepentingan


agar manusia mempunyai rasa minder adalah setan, seperti yang di fimankan oleh Allah



Artinya “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (Al-Falaq ayat 5)



Pekerjaan setan adalah membuat kita was-was, kadang kala dalam hidup kita menghadapi yang sebenarnya masalah itu spele tapi karena bisikan setan akhirnya kita memandang bahwa masalah itu besar sehingga kita tidak percaya diri dalam menghadapi masalah tersebut, maka seringlah kita membaca surah An-Nas agar kita terhindar dari bisikan setan.



Allah mengajarkan sebuah doa agar kita selalu bisa pecaya diri dalam menghadapi hidup ini doa ini di ajarkan melalu Nabi Musa, Allah SWT berfirman :



Artinya : Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekauan lidahku, Supaya mereka mengerti perkataanku. (Q.S Thaha 25-28)






Penulis Adalah seorang Pegawai Honorer di SMK Negeri 38 Jakarta




Sopyan Kamal

/sopyan_kamal

Saya seorang karyawan di smkn 38 jakarta hobi saya menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?