FEATURED

Uang Kertas Rp 100.000: The Most Beautifully Designed Versi Majalah TIME

14 Oktober 2015 12:03:31 Diperbarui: 18 Desember 2016 14:34:07 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Ingat uang, (HARUS) ingat Peruri. Itu kata saya. Meskipun sebagian orang akan mengingat Bank Bank, kantor tempatnya mendapatkan gaji, atau mesin ATM, sebuah benda di masa kini yang benar-benar 'menghasilkan' uang dalam bentuk fisik yang nyata.

Lalu, mengapa harus Peruri? Karena dari BUMN inilah, sejak tahun 1971, uang kertas dan uang logam 'dihasilkan' melalui sebuah proses yang cukup panjang, yang bisa jadi tidak dibayangkan oleh kebanyakan orang. Hingga saat ini, Peruri, telah mencetak beragam pecahan uang kertas dan uang logam. Pecahan uang terbesar negeri ini saat ini adalah Rp 100.000,-. Uang kertas dengan warna dominan merah itu, memiliki dua tokoh sebagai gambar utama di sisi depan uang kertas. Hal ini sangat berbeda, apabila dibandingkan dengan pecahan lain, Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000, Rp 20.000, maupun Rp 50.000 yang gambar utamanya berupa single figure. Peruri selanjutnya menyerahkan hasil cetaknya kepada Bank Indonesia selaku customer Peruri, dan sesuai fungsinya, Bank Indonesia mengatur sirkulasi uang ke seluruh wilayah Indonesia maupun wilayah tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Di tengah-tengah dua tokoh proklamasi, terdapat teks proklamasi lengkap dengan keterangan tahun yang sempat jadi bahan diskusi, yaitu 'tahoen 05'. Di sisi kanan atas, terdapat lambang negara Garuda, sedangkan di sisi kiri bawah terdapat dua lingkaran yang memiliki efek raba, berfungsi sebagai alat deteksi nominal uang bagi Saudara kita yang tuna netra. Sedangkan di sisi belakang, gedung MPR-DPR menghiasi hampir 50% area cetak dan gambar gedung tersebut menggunakan tinta khusus untuk uang yang memiliki efek raba (tactileeffect).

Gambar kepulauan nusantara lamat-lamat tampak di atas kanan gedung. Paduan warna kuning, hijau dan hijau toska menjadikan seluruh penampilan uang kertas Rp 100.000 ini menjadi kaya warna, namun tetap anggun.

Tak salah, jika majalah TIME, di April lalu, menetapkan uang Rp 100.000 ini sebagai salah satu dari 'The Most Beautifully Designed Currencies from Around the World. Turut bersanding di dalam pilihan uang kertas yang mengagumkan dalam peredaran dunia itu adalah:

1. Chinese Renminbi, pecahan 5
2. Nepalese Rupee, pecahan 5
3. Hongkong Dollar, pecahan 10
4. Indonesian Rupiah, pecahan 100.000
5. Costa Rican Colón, pecahan 20
6. New Zealand Dollar, pecahan 5
7. Qatari Riyal, pecahan 100
8. Kuwaiti Dinar, pecahan 1/2
9. Lebanese Pound, pecahan 50.000

Jika kita perhatikan desain semua pecahan rupiah yang sekarang beredar, akan terlihat sebuah kesamaan, yaitu pahlawan sebagai gambar utama. Terlihat juga aspek budaya atau ciri khas daerah asal dari para tokoh pahlawan yang ditempatkan di sisi sebaliknya. I Gusti Nguah Rai dengan pura di danau Beratan Bedugul, misalnya. Lalu, Oto Iskandar Dinata, dengan gadis pemetik teh di Jawa  Barat; Tuanku Imam Bonjol, dengan pEngrajin tenun Pandai Sikek, Sumatera Barat; Pangeran Antasari dengan tarian adat Dayak; dan seterusnya.

Lalu coba bandingkan dengan pecahan Rp 100.000. Disamping gedung MPR-DPR, naskah proklamasi, dan sebuah gambar rumah di sisi kanan di dekat gambar Soekarno, desain Rp 100.000 ini memiliki 'seribu cerita untuk disampaikan'. Tentang sejarah, tentang kemerdekaan, tentang kedaulatan rakyat.

Semoga, cerita selanjutnya adalah tentang menguatnya nilai Rupiah dan kedaulatan Rupiah itu sendiri.

Salam Kompasiana!

http://time.com/3769335/beautifully-designed-currencies/

Siwi Widjayanti Hadiprajitno

/siwiwidjaya

TERVERIFIKASI

Penyuka dunia tulis menulis -namun 'bukan blogger sejati'- dan mengenal Kompasiana baru saja. I love sketching and drawing, too. Alumni Undip & ITB•Buku: Antologi Puisi Membaca Kartini; Kumpulan Puisi Kopi 1.550 mdpl; Antologi Puisi 6,5 SR Luka Pidie Jaya•Praktisi komunikasi berijasah Chemical & Environmental Engineering•A lucky one.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana