Filosofi Pendakian

03 Februari 2015 10:38:49 Diperbarui: 17 Juni 2015 04:54:17 Dibaca : 1088 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Filosofi Pendakian
1422934661304636244

Dok Pribadi

Masa muda biasanya dikenal dengan masa yang tak terlupakan bagi setiap manusia. Pada saat usia muda, terutama bagi mereka yang belum menikah atau single lagi besar-besarnya tenaga dan semangat yang mereka miliki. Namun jika mereka menyalurkan tenaga yang berlebihan tersebut misalnya ke kegiatan pendakian gunung, maka mereka pasti mengalami dan dapat mengambil hikmah dari kegiatan pendakian gunung, diantaranya adalah:


1.Mendaki gunung adalah perjalanan menaklukan diri sendiri


Kegiatan pendakian adalah perjalanan menuju puncak. Dalam hal ini si pendaki dituntut untuk menekan ego diri sendiri agar menaklukan zona nyamannya. Jikalau kita dirumah masing-masing serba ada dirumah yang kita tempati, namun digunung kita dituntutuntuk makan seadanya.Mengontrol perilaku kita dimana mungkin diantara kita suka emosi dengan mengumpat, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas karna digunung biasanya tempat hidupnya hewan buas yang seringkali mengintai kita dari kejauhan yang tidak suka suara gaduh dan pastinya penunggu-penunggu lain yang tak kasat mata. Maka gununglah tempat yang pas untuk para pendaki mengontrol egonya. Yang bisa mengontrol egonyalah yang berhak mencapai puncak.


2.Saat tak ada yang bisa jadi tumpuan, kamu akan belajar agar percaya akan segala kemampuan dan keyakinan


Kegiatan pendakian berati pendaki harus menaklukan diri sendiri dan berdiri tegap untuk menaklukan alam bebas. Kegiatan ini menuntut para pendaki untuk mampu beradaptasi dengan keadaan alam sekitar yang tak ada listrik, sinyal internet maupun telpon. Justru dengan kondisi inilah para pendaki belajar menggunakan seluruh panca indera dan mempelajari tanda-tanda alam sekitar. Misalnya mengapa hewan-hewan gunung seringkali turun gunung, maka hal itu menunjukan pertanda bahwa gunung akan meletus. Dari hal inilah para pendaki bisa menikmati seluruh kondisi alam bebas dengan mengoptimalkan seluruh panca indera dan berjuang dengan tenaga sendiri untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi.


3.Kegiatan ini memang mengeluarkan bulir-bulir peluh yang banyak bercucuran, namun dari hal ini kamu akan menghargai hal kecil yang sering diremehkan


Hal ini bila dilihat secara kasat mata dipandang kegiatan yang sederhana dan sepele. Namun dari hal ini pendaki dilatih untuk menghargai hal yang sering kali dianggap hal yang remeh. Namun dari hal sepele lah hidup mati pendaki ditentukan. Contohnya, ketika kita direstoran maupun dirumah seringkali makan tidak habis. Namun bila digunung, para pendaki dituntut makan seadanya berdasarkan logistik yang mereka bawa karena mereka yakin karena setiap suap logistik yang mereka makan merupakan sumber kekuatan. Begitu juga dengan air. Ketika stok air para pendaki habis maka ketika mereka menemukan sumber mata air maka mereka akan bergembira layaknya baru lulus dari sekolah.


4.Semangat solidaritas yang seringkali dibagikan secara cuma-cuma, membuat para pendaki ketagihan untuk melakukan pendakian bersama


Seorang pendaki tidakkan ragu untuk menyemangati pendaki lain agar bersama-sama mencapai puncak. Tak jarang terdengar kata-kata penyemangat seperti ini: “ ayo sedikit lagi brow, tanggung kalo ga nyampe puncak, semangat elo pasti bisa kawan!” Selain itu para pendaki juga tidak ragu membagikan logistik mereka kepada pendaki lain meskipun belum mengenal satu sama lain. Karena mereka yakin bila membagikan logistik kepada pendaki lain maka akan ada jiwa yang terselamatkan. Tanpa disadari gunung mempunyai kekuatan supranatural yang membuat para pendaki yang saling mengenal.


5.Walaupun gunungyang sama yang pernah didaki, namun seringkali menampilkan pesona baru yang sulit dilupai


Kadang kita merasa tertegun, mengapa ada pendaki yang mau mendaki gunung yang sama…? Bukannya gunung yang sama, kenangan yang dilalui juga sama…? Yaa.. mungkin yang didaki adalah gunung yang sama. Tapi pasti ada kenangan yang berbeda didalamnya.Hal yang berbeda mungkin saja teman pendakian, jalur yang dilewati dan kondisi cuaca yang berbeda. Pengalaman yang berbedalah yang membuat para pendaki sering berkunjung ke tempat yang sama.


6.Kondisi alam yang megah inilah membuat para pendaki belajar merendah


Tanpa disadari manusia seringkali jumawa. Merasa bahwa manusia mahluk ciptaan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan mahluk yang lainnya. Bahkan seringkali menidakan keberadaan mahluk lainnya seperti buang sampah sembarangan. Nah, gunung merupakan secuil surga kecil yang luar biasa keindahannya, sekaligus merupakan tempat belajar bagi para pendaki untuk merendahkan hati karena dirinya tidak lebih butiran debu dihadapan alam semesta ciptaan-NYA.


7.Dengan berhasilnya mencapai puncak yang tinggi, pendaki menyadari bahwa masih banyak tempat yang harus dikunjungi


Setelah perjalanan yang melelahkan, menguras waktu, tenaga dan biaya yang tak sedikit jumlahnya pada akhirnya jerih payah mereka terbayar lunas! Dimana langit dan bumi bertemu dibatas cakrawala yang bagaikan surga diatas awan, menyajikan panorama alam yang luar biasa indahnya. Dari hal inilah membuat pendaki yakin bahwa masih banyak tempat lain yang masih harus dikunjungi.


8.Dari kegiatan pendakian membuat para pendaki belajar tabah, kerena berhasilnya sebuah pendakian adalah ketika tiba dirumah


Kegiatan pendakian adalah kegiatan yang mempetaruhkan nyawa, karena tidak hanya fisik yang kuat tapi juga disertai mental yang kuat! Memanggul keril yang beratnya puluhan kilogram, berjalan mendaki bukit yang jaraknya ratusan kilometer. Belum lagi kondisi cuaca yang tak bisa diprediksi. Kadang panas terik dan kadang hujan yang disertai badai.itulah tantangan yang mereka hadapi. Namun dari hal inilah membuat para pendaki belajar tentang ketegaran dan tabah dalam melewati setiap masalah.Namun bagi mereka yang sudah terbiasa, hal ini bukanlah kenekatan penaklukan alam namun tiba dirumah dengan selamat.


9.Pendakian mengajarkan pendaki untuk melangkah, karena alam semesta selalu menghargai setiap jerih lelah


Kemegahan alam yang tampak dari puncak gunung, bukanlah hal yang mudah direngkuh. Perlu persiapan fisik yang matang minimal sebulan sebelum pendakian. Persiapan yang biasa dilakukan biasanya jogging kecil dipagi hari dan latihan angkat beban. Walaupun mereka sudah siap secara fisik, namun dalam hati ada keraguan apakah mereka bisa mencapai puncak? Yaaa…! Dari hal inilah para pendaki belajar untuk memberanikan diri untuk melangkah. Hanya dengan disertai keyakinan yang teguh dalam hati dan niat untuk melangkah membuat para pendaki berhasil mencapai puncak yang dikehendaki. Karena pada hakikatnya setiap hal yang besar selalu dimulai dari hal yang terkecil.


10.Sepulang dari mendaki selalu menghasilkan pentingnya bersyukur dan kerendah hatian


Saat pendakian,pendaki bergumul untuk menaklukan keegoisan masing-masing, menahan beratnya keril yang dipikul, menaklukan ganasnya cuaca dan berhasil mencapai puncak. Ketika dipuncak biasanya mereka berlutut dan bersyukur kepada Yang Esa. Mereka menyadari bahwa tanpa bantuan teman-teman pendaki lain yang merupakan perpanjangan kasih Tuhan Yang Esa, mereka takkan sampai dipuncak tertinggi.


11.Pendakian membuat karakter seseorang bukan yang dulu lagi


Setiap manusia membutuhkan usaha yang gigih agar kehidupannya lebih bermakna dan berati bagi setiap orang. Pendakian gunung bukanlah jalan-jalan biasa, namun kegiatan ini adalah kegiatan yang hanya bisa dihasilkan dengn keyakinan besar dan keberanian untuk melangkah. Jika para pendaki mengaplikasikan hal ini dalam study maupun karir mereka, cepat atau lambat mereka akan mencapai puncak hidup yang sesungguhnya!

Mugie Pamungkas

/sigagalagap

Karyawan swasta yang penikmat kopi, pecandu ketinggian, penggila Juventus, pecinta novel, pemuja kaum hawa, penikmat puisi beserta sastra, penulis, penyajak, penyair, jurnalist dan juga chef... "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang "
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana