Alangkah Lucunya Negeri ini

23 Mei 2013 01:45:03 Dibaca :

Judul di atas mungkin bagi sebagian orangsudah sangat familiar. Bagi anda yang menggemari film karya anak bangsa, "alangkah lucunya negeri ini" memang sebuah judul film yang dibintangi oleh Reza Rahardian. Memang di dalam film itu, dibahas tentang bagaimana orang yang ingin hidup dengan rejeki halal malah dipersulit sedangkan pejabat yang korup diberi penghormatan dan kemudahan. Namun pada tulisan kali ini saya tidak ingin membahas tentang film tersebut, karena menurut saya ada hal lain yang lebih lucu dari negeri ini. Mungkin saat ini anda sering mendengar istilah BJPS. BJPS adalah sistem asuransi jaminan sosial yang akan diterapkan di indonesia mulai januari 2014. walaupun sebentar lagi akan di jalankan, namun sampai saat ini masih terjadi tarik menarik mengenai premi yang harus dibayarkan pemerintah untuk rakyat miskin perbulannya. Pemerintah yang awalnya mengajukan dana 15000 per kepala rakyat miskin di tentang oleh Ikatan Dokter Indonesia dengan alasan dengan premi seperti itu maka tidak akan terwujud pelayanan medis yang maksimal. karena dengan premi seperti itu, jangankan untuk pelayanan medis yang terstandarisasi, untuk kesejahteraan dokter dan paramedis saja belum tercapai. IDI menyarankan premi dari pemerintah berkisar angka 38-60 ribu karena berkaca dari negara tetangga yang berkisar antara 60-80 ribu. Namun akhirnya pemerintah hanya sedikit melunak dgn menaikkan premi menjadi 22.000 dan kemungkinan kecil untuk dinaikkan lagi karena bisa membuat APBN jebol. Nah disini hal lucu negeri ini yang kata orang tua kita gemah ripah loh jinawi. Menurut Kemenkeu, dengan premi 22.000 saja sudah menguras APBN sebesar sekitar 25 triliun rupiah. Bagi para pembesar di negeri ini mungkin lebih baik memmbuang-buang uang 300 triliun untu mensubsidi BBM daripada 100 triliun untuk kesehatan. Padahal dengan memanjakan rakyat Indonesia akan BBM murah, membuat warga indonesia tidak tahu caranya hemat energi, dan yang lebih penting lagi uang 300 triliun tadi akan hilang menjadi karbomonoksida yang jelas akan merusak Bumi dan mengganggu kesehatan. Bayangkan untuk anggaran pendidikan saja, pemerintah hanya mengeluarkan 10% dari totla APBN 1000 triliun, brarti hanya sekitar 100 triliun. Untuk kesehatan, pemerintah sudah merasa terlalu berat untuk mengeluarkan 25 triliunyang notabene hanya 2,5 persen. Namun untuk subsidi BBM pemerintah rela mengeluarkan 300 triliun dan jika kurang, ya ditambah lagi subsidinya. alangkah lucunya negeri ini..... Bapak Presiden yang terhormat, Bapak Menteri yang terhormat, Anggota dewan yang terhormat. sudah saatnya negara kita mengelola keuangan menurut standar prioritas. Jangan hanya karena pencitraan politik saja anda membuat sebuah kebijakan yang membuat negara ini hancur. jangan membuat kebijakan populis, buatlah kebijakan yang membuat kami maju. semoga tulisan ini bisa mengetuk hati para pemimpin kita yang terhormat.

Muhammad Sidharta Krisna

/sidhartakrisna

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Lahir di Tangerang 6 Desember 1987, Memulai petualangan hidup di Kota Lampung sampai usia 1 tahun, lalu pindah ke Batusangkar Sumbar sampai usia 4 tahun. Usia 4-7 tahun dihabiskan di Kota karawang dengan menamatkan Taman kanak-kanak di TK Bhayangkari karawang dan melanjutkan ke SD nagasari 3 karawang. Menjelang akhir kelas 1 SD sempat melanjutkan pendidikan di SD Curug wetan Kab. Tangerang dan melanjutkan pendidikan kelas 2-5 SD di SDN Panggang 1 Jepara Jawa tengah. Memasuki akhir kelas 5 pidah sekolah mengikuti orang tua ke Mojokerto Jawa Timur untuk melanjutkan pendidikandi SDN Gedongan 1 Mojokerto dan ke tingkat sekolah menenegah pertama 2 Mojokerto. Saat pertengahan kelas 2 SMP kembali nomaden ke Kota Cirebon Jawa barat untuk melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Cirebon lalu meneruskan ke Sekolah Menegah atas 1 Cirebon. Karena Orang tua terkena Tsunami tahun 2004 di Aceh, maka saya harus berpindah sekolah lagi ke SMAN 2 Tangerang Banten dan menyelesaikan masa pendidikan 12 tahun di SMA tsb. Selepas menyelesaikan SMA, saya melanjutkan pendidikan ke FK UGM yogyakarta dan menamatkan profesi dokter di kota yang sama pada tahun 2012. Pada penempatan pertama saya memilih untuk hijrah ke Mataram Nusa tenggara Barat dan sampai saat ini saya kembali ke Yogyakarta untuk mengabdi di Almamater.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?