Ning

23 Juli 2014 17:37:52 Dibaca :

Ning terbangun di atas dipan beralas tikar pandan, tubuhnya berpeluh dan telanjang bulat, laki-laki di sampingnya pun tertidur dengan posisi yang sangat tidak enak dipandang mata. Segera saja Ning bangkit, dan saat dirinya bangkit, tubuh dempal laki-laki berperawakan tambun itu menggeliat, liur yang menggantung di sudut bibirnya mengalir menuju telinganya.

Buru-buru Ning mengumpulkan pakaiannya yang tercecer di segala penjuru ruangan berukuran 3x4 meter tanpa perabot tersebut. Begitu selesai mengumpulkan pakaiannya yang tercerai-berai, Ning segera menuju kamar mandi kecil di dalam ruangan tersebut untuk sekadar membasuh sisa-sisa mani yang melumuri tubuh sintalnya.

Tak pernah sedikitpun Ning bermimpi menjadi pelacur, ditindih belasan tubuh laki-laki dalam satu malam. Baginya ini semua hanyalah upaya yang harus dilakukannya untuk menyambung hidup, memberi makan mulut bapak dan ibunya.

Saat Ning keluar kamar mandi, laki-laki bulat dengan wajah bengis itu sudah bangun rupanya, laki-laki itu salah satu orang yang selalu mencari Ning apabila sudah memuncak birahinya. Bagi banyak orang lain laki-laki itu adalah seorang yang kasar dan suka memukul, tapi bagi Ning laki-laki itu adalah salah satu malaikat pelindungnya di lembah nista ini. Laki-laki bernama Baskoro itu, memberinya perlindungan dengan  bayaran tubuh indahnya.

"Sampun kreso kundur, Ning," tanya Baskoro yang sudah memakai celana dalamnya.

"Nggih Pak, Wau Bapak Kesaren, kulo ajrih ngwungoken Bapak," jawab Ning sambil mengikat rambutnya menjadi ekor kuda.

"Lho, yo nggih mboten menopo nduk, mriki, lungguh sekedhap teng mriki," kata Baskoro sambil menepuk sisi dipan itu.

"Nggih Pak," jawab Ning menghapiri.

Baskoro segera saja mengeluarkan dompet dari dalam celananya yang tersampir di sisi dipan yang satunya. Diambilnya 10 lembar uang berwarna merah dan diserahkannya kepada Ning.

"Menopo niki Pak," kata Ning dengan wajah terkejut.

"Lho, niki arto nduk," jawab Baskoro santai.

"Nggih kula ngertos pak, nanging damel menopo?"

"Ning, aku ini ndak pernah mbayar setiap habis main sama kamu, mbok ya biar sekali-sekali saya mbayar, lha wong kamu itu di sini kerja kok, anggap saja ini rapelan dari servis kamu yang kemarin-kemarin itu."

Kata-kata Baskoro tidak menyakitinya, disadari oleh Ning, Baskoro adalah salah satu preman dan seperti preman lainnya dia juga pastinya tidak berpendidikan. Bagi Ning, Baskoro lebih dari sekadar laki-laki hidung belang.

"Ning, sebentar lagi itu lebaran, belikan Bapak dan Ibumu pakaian dan makanan yang enak, lha wong lebaran kok."

"Ng..nganu Pak, kulo nggih sampun gadhah arto konjuk wiyaran Pa," jawab Ning. "Artonipun kanjuk anak Bapak mawon."

"Lho, sudah ambil saja, wes ini, saya memaksa," kata Baskoro sambil menjejalkan uang satu juta rupiah ke dalam tangan Ning. "Wes ayo kamu pulang, sudah mau subuh ini."

===

Senangnya Ning bukan kepalang, terbayang di matanya, begitu fajar dia bisa mengajak Ibunya untuk pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan menjelang lebaran. Dia membayangkan akan membeli labu siam, kacang panjang, ketupat, dan mungkin menthok untuk dijadikan opor. Ya, bapak sudah lama ingin makan daging menthok.

Juga akan dibelikannya baju koko untuk Bapak pergi sholat ied, juga kain jarik dan kebaya kutubaru buat Ibu. Ning tidak perlu baju baru, baginya uang itu, terlebih dahulu untuk Bapak dan Ibunya. Tak pernah sekalipun Ning punya cukup uang untuk membelikan Bapak dan Ibunya baju baru setiap lebaran datang.

Dengan senyum yang merekah lebar dan langkah yang dipercepat agar segera sampai di rumah, Ning tidak sadar sepasang mata tengah mengintainya. Sepasang mata berwarna merah yang seolah menanti mangsanya di dalam gelap bayang pohon bambu yang rimbun tumbuh di sepanjang jalan.

Langkah Ning berhenti seketika, saat si pemilik mata nan merah menyalang itu melompat ke hadapannya, dengan seringai yang menyeramkan dia menyambut wajah getir Ning yang kaget.

Adalah Waskito, mantan suaminya yang tega menjualnya ke tempat pelacuran hanya demi uang lima ratus ribu rupiah.

"Mas Kito," desah Ning mengucap nama laki-laki itu dengan ketakutan di ujung-ujung jarinya.

Seolah dapat merasakan aroma ketakutan yang keluar dari tiap inchi tubuh Ning, makin lebar seringainya dan makin berani dia melangkahkan kaki mendekati Ning. Tanpa banyak kata Waskito sudah menarik Ning ke dalam semak kebun bambu yang lebat dan penuh bayang. Waskito berusaha melucuti pakaian Ning, dan walau Ning adalah seorang pelacur, tak begitu saja dia pasrah tanpa perlawanan.

"Heh, kowe iki pelacur, kok ora gelam tho," kata Waskito ditingkahi tubuh Ning yang tengah memberontak sekuat tenaga.

"Aku ora sudi To, dibayarpun aku ora sudi," desis Ning sambil terus berusaha melawan.

Perlawanan Ning membuat Waskito semakin brutal, dan tepat setelah Ning meludahi wajah laki-laki setengah mabuk itu, Waskito seperti kesetanan. Ditamparnya wajah Ning berkali-kali, diantuk-antukannya kepala Ning ke tanah, dan yang terakhir diambilnya pisau lipat yang selalu disimpannya di ikat pinggangnya, dan tanpa belas kasihan ditikamnya dada Ning berkali-kali, bahkan permohonan minta ampun dari Ning pun tak dihiraukannya.

Setelah dirasa Ning tak bergerak lagi, Waskito menghentikan perbuatannya, namun hal itu tidak serta merta membuatnya lepas dari belenggu sang iblis. Waskito langsung saja menggagahi tubuh tak berdaya Ning, seolah ingin melumatnya menjadi tak berbentuk lagi, dan bukan hanya sekali dia melakukannya.

Waskito puas melampiaskan nafsunya, lalu dengan terburu-buru dia bergegas mengambil semua barang berharga Ning. Meninggalkan Ning yang tengah  meregang nyawa tanpa berusaha perlu menutupi tubuh Ning.

Bayang-bayang wajah bahagia ibu dan bapaknya seketika menguap dari butiran air mata di pelupuknya. Suka cita yang tadi memenuhi dadanya kini entah ke mana, bagai balon kebahagiaan itu mengempis bersamaan dengan nafasnya yang semakin tersengal. lenyap harapannya melihat bapak memakai baju koko baru, melihat ibu dengan kebaya dan kain jarik baru, atau angannya untuk menyantap daging enthok saat lebaran dengan bapak dan ibunya.

Terbayang sudah wajah sang ajal di depan matanya. Dengan bibir menggigil kedinginan karena kehilangan banyak darah dan air mata yang mulai deras mengalir, nafas Ning mulai menghilang, sang ajal sudah merengkuhnya erat.

===

Pagi harinya, seorang warga yang biasa melewati kebun bambu untuk menggembalakan ternaknya dibuat terkejut dengan jenazah Ning, dengan segera berita tersebut menyebar laksana virus.

Bapak dan ibu Ning yang sejak pukul tiga dinihari menantikan Ning pulang ke rumah dengan khawatir pun mendengar kabar itu. Ibu Ning yang sudah sepuh dengan tubuh kurus dan punggung yang membungkuk, hanya bisa menitikkan air mata satu-satu. Sedangkan Bapak Ning hanya bisa duduk di atas amben setelah mendengar kabar itu.

Orang kampung beriringan mengantarkan jenazah Ning pulang ke rumah, di dalam iringan tersebut ada Baskoro yang menyesal tidak mengantarkan Ning pulang seperti biasanya.

Bapak dan Ibu Ning terdiam melihat jenazah putrinya, putri yang terpaksa menjadi seorang pelacur demi mencukupi kebutuhan orang tuanya, putri yang selalu berusaha menyenangkan orang tuanya. Tetangga-tetangga Ning yang mengurus semua prosesi pemakaman Ning, satu persatu mulai meninggalkan rumah Ning.

Ibu Ning masih terdiam, meratapi putrinya yang bernasib malang. Saat tiba-tiba bapak Ning menghampirinya dan berkata demi menenangkan istrinya.

"Mboten menopo Bu, ingkang wigatos Ning sampun kondur," kata Bapak Ning menerawang ke luar halaman, seolah menantikan wajah Ning muncul dari balik pintu.

Novita Nurfiana

/sayaopiel

Eccedentesiast, ichthyophobia, gamophobic, Cynophobic
remehtemeh.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?