HIGHLIGHT

Cengkeh, Mutiara Hitam dari Sepang .....

16 Juli 2012 14:55:13 Dibaca :
Cengkeh, Mutiara Hitam dari Sepang .....

Setelah sekian lama tidak bisa pulang ke Sepang, entah demi alasan kesibukan demi kesibukan yang menggoda, meski anak2 sedang dalam libur sekolah mereka, maka, Sabtu, 14 Juli 2012, aku dan Putu Widhiasih, simbok, pulang berdua. Yudha menolak ikut, meski sudah kurayu berkali. "Bapak enggak ikut pulang, Yudha di sini aja dengan bapak" Sahutnya sambil mohon ijin melanjutkan proses membuat layangan bebean berukuran 2,5 X 1,5 meter bersama teman-teman, dengan dibimbing oleh Om Putu, tetangga kami. Adi, kakaknya, berangkat ke sekolah mempersiapkan MOS bagi adik-adik kelas mereka yang diterima di SMAN I Denpasar. Minggu depan adalah minggu dimana para murid mulai mengawali kegiatan belajar mengajar. Mungkin kami akan agak sukar mengatur jadwal untuk pulang kampung. Maka, kusempatkan pulang bersama, menemui para ipar dan kerabat di kampung. Toh Ayu, cucu suami yang sudah 7 tahun bersama kami, mengasuh anak-anak semenjak kecil, baru menuntaskan ujian Kelompok Belajar Paket C, setara dengan SMA. Kami berangkat sudah siang. Pukul 10. Namun dorongan hasrat akan kerinduan pada kampung halaman begitu kuat. Dengan motor Astrea Grand keluaran tahun 1993, kami menyusuri arah jalan pulang. Banjar Tegallantang, Dalung, Pura Purusadha di Kapal, dan tembus di jalan raya Denpasar Gilimanuk. Kusadari kami terlupakan membawa jas hujan. Hmmm, semoga Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberkahi, dengan udara sejuk, mendung, tiada hujan. 13424478551411449440 Tanpa berhenti semenjak dari Denpasar, kami tiba di pinggir jalan, menuju hutan Bading Kayu. Berhenti sejenak untuk menikmati roti dan minuman yang kami beli di warung pinggir jalan. Waktu menunjukkan pukul 11. Menyusuri hutan Yeh Leh Yeh Lebah, jalan aspal yang berlubang dan batu kerikil berserakan, tanjakan dan turunan parah. Ayu menangis tatkala menyadari mobile phone nya hilang. Kami hampir tiba di jalan desa Dapdap Putih. Hmmm, terpaksa kembali menyusuri jalan. Hingga 5 km kembali menuju ke arah Bading Kayu, dan, kami sadari, tak mungkin handphone kembali, pasrah, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. Tiba di KUD Dapdap Putih, kami berhenti membeli oleh2 dan buah tangan bagi keluarga. Kubelikan pula oleh2 bagi orangtua dan adik bayi Ayu. Ya, Ayu memiliki adik bayi yang berjarak 20 tahun usia dengannya. Ibunya kembali melahirkan anak. Maka Ayu memiliki dua adik. Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Utara. Sungguh, sebuah usaha menjadi seorang pengendara motor ulung di daerah ini...... Betapa tidak, jalanan menanjak dan menurun, menikung, aspal yang tidak bisa dibilang bagus. Hmmm, jangan bilang dirimu seorang biker sejati sebelum menaklukkan medan jalanan ini, dengan tantangan luar biasa. Di desa Sepang Kelod, kami berpisah. Ayu kutitipkan pada seorang tukang ojek yang akan membawanya menuju ke Dusun Gunung Sari. Jalannya menanjak, dan ada tanah longsor yang menyisakan badan jalan hanya separuh. Aku menyerah kalah untuk medan ini. Aku berbelok ke arah Dusun Asah Badung, menuju ke Pangkung Singsing, istilah bagi daerah dimana rumah tua berada. Disini kujumpai Kadek, keponakan, sedang ngepikin cengkeh. Istilah bagi memisahkan cengkeh dari batangnya, dengan menggunakan kedua tangan. 13424480251105145930 Dia menghidangkan segelas kopi, juga jaje bali hasil bikinan nya pagi ini. Hmmm, keramahan yang sungguh mengobati rasa lelah setelah menempuh perjalanan 3 jam dengan berkendara di atas motor. 1342448057555699260 Selesai bercengkerama dan diskusi, kami berjalan beriringan menemui suaminya yang sedang mengalap cengkeh. Istilah bagi orang yang sedang memanjat dan memetik cengkeh dari pohonnya. Menyusuri jalan setapak menyeruak kebun, diantara aroma cengkeh dan kopi yang memerah, kami temui Nyoman Kopat suaminya, sedang memindahkan tiying banggul, batang bambu untuk memanjat, dari satu pohon, ke pohon lainnya. Dia ditemani oleh 3 orang tenaga pengalap. 13424482171991473458 Kulihat juga ada seorang anak kecil, yang ikut ngorek, memungut cengkeh yang terjatuh di tanah. Hmmm, betapa, anak sekecil itu sudah ikut terlibat dalam upaya mengumpulkan uang demi membantu orangtua. Dengan wajah ceria kekanakan, dia berlarian membawa kantung plastik kecil yang berisi cengkeh. 134244827511604479 Ponakanku, Nyoman, terlihat sedang mengikat tiying banggul dengan menggunakan tali ke pohon cengkeh, agar tidak mudah bergerak pada saat sedang dinaiki oleh para pengalap. 1342448242163662731513424480971625830059 Aku kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah Utara, dimana iparku berada. Kudapati Mbok Ktut Ngempi sedang duduk di dapur rumah. Ponakanku, Ketut, bersiap untuk berangkat ke dokter, mengantar suaminya, Wayan Mulyawan, ke dokter di Dapdap Putih. Juga sambil mencukur rambut Putu Dita, anak mereka, yang akan kembali masuk bersekolah hari Senin ini. 1342448904375382034 Putu Dita, sang cucu, bermain sepeda mengelilingi halaman rumahnya, di antara timbunan cengkeh dan kopi yang ditutupi terpal plastik. 1342448963177462896 Di halaman terdapat timbunan cengkeh yang ditutupi terpal agar tidak terkena hujan dan embun malam yang bisa meninggikan kadar air dalam cengkeh, hingga bisa membuat cengkeh rusak. Bli Wayan Tinggal menginap bersama Mbok di Bebengan untuk sementara waktu, sambil ngepikin cengkeh yang baru di alap, dan menjemur cengkeh yang sudah dikepikkin. Waktu menunjukkan pukul 4 sore saat setelah makan bersama Mbok, aku berpamit. 13424490521754805762 Pukul 4 sore, ke empat tenaga pengalap di tegalan cengkeh bli Wayan Tinggal berpamitan pulang. Mereka membawa hasil cengkeh yang mereka alap, dan bakal dikepikkin oleh anggota keluarga. Dan keesokan hari bakal membawa cengkeh yang sudah dikepik agar siap dijemur di halaman rumah Mbok Ktut Ngempi ku ini. 13424491711942358753 Kembali berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke rumah tua. Lalu mengambil kunci motor dan melaju mengarah ke Barat, kali ini rumah Bli Made Miasa dan Mbok Tut Sukati. Jalanan menanjak beraspal yang sudah mengelupas, berkerikil. lalu jalanan dari campuran semen dan kerikil, sebelum akhirnya tiba di halaman rumah Iluh tempat kutitipkan motor hingga keesokan hari. Kuputuskan akan menginap di tempat Mbok Tut Kauh. 13424492432112661788 Terlihat ada beberapa orang sedang menyelip bijih kopi yang sudah kering, agar terlepas dari kulit kopi. Suara mesin selip keras terdengar meraung-raung. Aku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju rumah Bli Made dan Mbok Ktut Dauh. 1342449346850990954 Kudapati Bli Made sedang ngepikin cengkeh. Simbok malah masih di atas pohon cengkeh. Hmmm, sungguh berat perjuangan para petani cengkeh. Bli Made dan Simbok sudah tua. Anak satu2nya adalah perempuan, menikah dengan orang Jepang, dan tinggal di negeri sakura bersama kedua anaknya. Sudah tentu, mereka sangat kesepian. Ahhh. Seringkali mereka bertanya, andai, salah satu dari anakku mau tinggal bersama mereka..... 13424493711144943609 Di saat ini, panen cengkeh terjadi pada hampir seluruh daerah di kabupaten Buleleng. Berbarengan pula dengan panen kopi. Banyak dibutuhkan tenaga untuk ngalap atau memetik. Per hari, buruh tukang ngalap cengkeh mendapat upah Rp 60.000. Dengan membawa nasi dari rumah masing-masing, mereka mendapatkan lauk untuk makan siang, juga kopi dan jaje bali. Mereka bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore. Berdiri di atas tiying banggul yang berisi palit untuk pijakan kaki dan berpegangan, memetik cengkeh dari ranting pohonnya, memasukkan ke dalam kantong dari karung plastik. 1342449400262836975 Cengkeh yang baru di alap dari pohonnya dan masih bersatu dengan batang. 13424494661699219846 Cengkeh yang telah kering dijemur akan menjadi hitam. Bila para pengalap ini membawa cengkeh ini ke rumah masing-masing, lalu mengepik dan membawa kembali hasil cengkeh kepikan, akan dihargai seribu rupiah per kg nya. Dan.... panen cengkeh ini akan berlangsung hingga sebulan atau dua bulan ke depannya. Wooww. Sebulan kerja, mereka bisa mendapatkan hampir Rp 2 juta rupiah. Ahai, sungguh, sebuah usaha yang tidak kan sia-sia. Tuhan menghargai dan memberkati orang yang mau bekerja keras dalam mewujudkan keberhasilannya. 13424495441747098747 Banggul yang dipergunakan pengalap untuk mengalap cengkeh dari pohon. Terbuat dari batang pohon bambu, dengan tinggi 15 hingga 30 meter, dibuatkan palit setiap setengah meter, untuk pijakan kaki dan berpegang. 134244966880450207 Di sela kesibukan, simbok masih menyempatkan membuatkan hidangan dan wedang bagi ku. Keramahan khas orang kampung.... 13424497332087674884 Memasak dengan menggunakan tungku dari batubara. Hmmm, menikmati suasana alam pegunungan, kokok ayam membangunkan dari tidur, alam hijau pegunungan terhampar indah di depan mata. 13424498221566410583 Bli Wayan Tinggal. Sungguh sudah sepuh, namun tak hendak hanya berdiam diri, masih tetap berkarya, meski hanya sekedar ngepikin cengkeh dan menjemurnya. Tinggal di gubuk bambu, menolak tinggal di rumah baru, demi menunggui cengkeh agar tidak dicuri orang. Hmmm, sungguh berat perjuangan menahan dingin angin malam mengusik rematik yang diidap beliau, juga menjaga benda milik agar aman dari tangan2 jahil.... 13424499631537463668 Dalam situasi panen yang terjadi hampir serempak ini, sungguh susah mencari buruh atau tenaga untuk ngalap. Hampir semua tersedot pada lahan milik mereka sendiri, dan juga saling mencari tenaga hingga ke luar daerahnya. Bahkan, Bli Made Miasa menandukan lahan cengkehnya, karena tidak mendapatkan buruh untuk ngalap, dan untuk ngalap sendiri beliau sudah tidak sanggup. Well, daripada cengkeh menjadi berbunga dan tidak layak untuk di alap lagi. Apalagi, faktor cuaca juga ikut menentukan. Mendung dan gerimis yang sewaktu-waktu turun akan meningkatkan kadar air yang dikandung dalam cengkeh, hingga kualitas menjadi merosot. Bahkan, terkadang, petani terpaksa menyeduh cengkeh, agar cengkeh menjadi panas dan tidak memutih / rusak. Setelah buah cengkeh dipisahkan dari batangnya, batang ini pun bisa dijual seharga Rp 4 ribu per kg. Bahkan, daun kering cengkeh juga bisa dijual seharga Rp seribu per kg. Siapa yang membeli? Selalu ada saja para pengepul yang siap untuk membeli. Mereka lalu membawa ke tempat penyulingan, yang lalu menyulingnya, untuk dijadikan campuran dalam proses membuat balsam cengkeh.  Namun, proses panen ini sudah tentu tidak setiap bulan bisa mereka dapatkan, bahkan juga, belum tentu bisa setiap tahun. Semakin lama pohon cengkeh tentu harus diremajakan kembali, rajin dirabuk, agar rimbun dan banyak buahnya. Dan ini juga tentu membutuhkan tenaga dan biaya lumayan dalam perawatan. Hmmm, disaat harga cengkeh kering di pasaran adalah Rp 80 ribu per kg, sudah tentu..... sungguh tipis sekali margin keuntungan yang mereka dapatkan. Belum termasuk ongkos pemeliharaan tanaman cengkeh, ongkos upah buruh, dan berbagai biaya lain. Entahlah, apakah aku bisa se sabar dan se bijak para petani dalam melakukan tugas ini..... atau malah menuntut yang serba instant dan selalu terpatok pada hasil dan hasil...... bukannya harus selalu berusaha dan berjuang, dalam jalani setiap proses sebelum meraih hasil dalam genggaman....... Ah betapa...... Kehidupan mengajarkan padaku untuk belajar semakin memahami dan merendah pada kebijaksanaan alam. Sesuatu yang bagi kita sudah pasti dan indah, namun bisa saja terhempas hingga menjadi hal yang mengecewakan. Namun, hanya dengan pasrah, mengikuti air yang mengalir, selalu berharap dan disertai doa, juga usaha keras, maka kita bisa menjadi semakin bijak. Aku sungguh ingin menjadi smakin bijak, dengan berguru pada alam.

santi diwyarthi

/santidiwyarthi

a wife, a mother, a worker....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?