Surat Putih Untuk Kawan-Kawan Seperjuangan

11 April 2013 16:03:07 Dibaca :

Kawan, dulu kita pernah berikrar suka duka akan kita lewati bersama. Tak kan mundur walaupun selangkah karena mundur berarti sebuah penghianatan. Dengan setetes keringat dibawah asuhan semangat kita pernah berucap penuh hikmat bahwa hidup penuh perjuangan, banyak rintangan dan tantangan yang akan datang saling bergantian. Kawan betapa hebatnya kita dulu, walaupun kita hidup di perantauan kita tak pernah takut menghadapi kesusahan dan kemelaratan. Dengan sadar kita saling mengingatkan bahwa serba kekurangan di bumi perantauan merupakan sesuatu yang tak perlu dikeluhkan apa lagi diperdebatkan. Kondisi seperti itu adalah sebuah keniscayaan. Begitu kita saling meyakinkan dan menguatkan. YAKUSA begitu kita ucapkan.
Banyak peristiwa yang tak mudah untuk dilupakan. Kita pernah pergi kepasar bersama untuk belanja membuat sarapan dan makan malam. Dengan uang pas-pasan kita beli semua kebutuhan. Meskipun ada yang belum bayar iuran karena masih tidur setelah begadang semalaman. Kita rela “menimpruinya” . seperti biasa, setelah kita makan dan semuanya kenyang kadang kita membuat cacatan tagihan. Kita sering menuliskannya di papan pengumuman yang terpampang di dinding kontrakan. Aku masih ingat isi pengumuman itu. “Sumbangan makan hari ini tiga ribuan”. Ada yang langsung membayar ada juga kapet tak tik majer. Kadang sampai tiga hari tak pernah membayar iuran. Bayangkan tiga hari Cuma ikut makan dan tak membayar iuran. Betapa mangkelnya hati kalian pada saat itu. Tapi bagaimanapun kawan kita tak pernah melarangnya makan bukan? walaupun hati kita pada saat itu diliputi rasa mangkel yang berkepanjangan tapi rasa persaudaran dan kebersamaan kita pada saat itu mengalahkan rasa marah yang berhamburan.
Kawan masih ada sejuta kisah yang pernah kita torehkan dan tak mungkin semuanya bisa saya tuliskan. Jika kawan-kawan ada yang berkenan untuk menuliskannya saya akan membacanya dengan penuh renungan. Mungkin kisah-kisah itu tak kan terekam dalam sejarah bangsa. Tapi kawan, itu bagian dari kehidupan yang mungkin saja kisah itu bisa menjadi pelajaran bagi anak cucu kita di masa yang akan datang.
Kawan, hampir empat-lima tahun berlalu pasca hari kelulusan itu kita tak pernah bertemu. Apakah kalian tidak saling merindu. Rindu saat kebersamaan dulu. Rindu suasana, saat kita tak saling sapa karena samphonya dipakai sebelum diminta. Rindu gelak tawa saat ngegosip bersama. Membicarakan kawan kita yang selalu merasa hebat dari kawan yang lainnya. Aduh kawan itu dulu peristiwa itu sudah lenyap dilalap waktu. Suasana itu tak mungkin terulang. Tapi kawan aku tetap ingin mengulanginya walaupun dalam setting waktu dan tempat yang berbeda. tapi kapan kawan.? Bukankah kita sekarang sudah hidup berjauhan ada yang dikalimantan, ada yang di bangkalan, ada yang di Sumatra ada yang tetap di Surabaya dan ada juga yang kembali ke kampung halaman. Kawan adakah sedikit waktu untuk kita saling ber-reuni di tengah kesibukan yang melelahkan itu?.
Maafkan Kawan mungkin surat ini terlalu panjang. Lewat tulisan ini aku ingin mengundang kawan-kawan untuk melanjutkan kisah yang sempat terpotong saat di perantauan. Terima kasih saya ucapkan kepada kawan-kawan yang rela menyempatkan membaca surat ini.

Salam persahabatan.
Madura, 11-04-2012.

siful arifin

/saifulqman.blogspot.com

siful arifin ingin bermanfaat untuk semua manusia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?