Bukan Vonis Kepagian (2)

15 Agustus 2011 06:58:59 Dibaca :

. . Untuk Widyo Purnomo . .

Dua tahun sudah semuanya serasa direnggut darimu. Pencapaian gemilang yang sudah kau raih, cita-citamu dan setumpuk mimpi yang dulu kau gantungkan begitu tinggi pada langit-langit hatimu, yang kau bangun dan endapkan dalam tidur malam-malammu, dan berharap kelak itu ngejawantah pada jalan hidupmu; entah melayang ke mana sekarang.

Kini, kamu seolah terpenjara, terkungkung oleh tembok-tembok keterbatasan fisik. Semuanya menjadi sirna seketika gara-gara ketakmaukompromian jantungmu yang mengambil aksi radikal mogok kerja karena invasi selegiun virus. Mudah-mudahan itu tidak mengekspansi spiritmu, lalu luluh-lantak seperti Hiroshima dan Nagasaki akibat Mr. Little Boy and Mr. Fat Man yang dijatuhkan ke atasnya. Kalau pun toh iya, jangan lama-lama ya, Hiroshima dan Nagasaki bisa dibangun lagi, malahan jadi tambah maju dan modern.

Kamu kecewa. Menyalahkan rumput yang bergoyang? Untuk antisipasi, sori, sudah dibabat tukang taman kemarin, jadi katanya dia kagak ikut-ikutan untuk soal ini. Mau cari kambing hitam? Wah, susah juga, rasa-rasanya hewan ini sudah langka. Kalo pun ada, mungkin harus inden. Tahu kenapa? Sadar-tidak sadar, ternyata tingkat konsumsi kita terhadap spesies ini begitu tinggi. Di meja makan, ia menjadi menu yang nyaris saban hari ada. Apalagi di meja publik, dipakai sebagai menu ngeles untuk lepas tangan atau bersembunyi dari. Mungkin bisa diusulin masuk dalam Daftar Merah Hewan Langka IUCN, terutama yang endemik Indonesia. Nah, wajar kalo kamu pertama-tama lari mengeluh kepada Sang Kreator. Kau berhak marah dan itu sehat. Mentang-mentang yang memberi hidup kok sak penak e udele dewe mengacak-acak; dan tak tahu waktu lagi, justru ketika masa-masa subur adrenalin semangatmu mengejar prestasi mengalir begitu deras, justru ketika kamu mulai menikmati malaikat kecilmu tumbuh menjadi gadis belia yang lucu, tapi kok tega merampasnya begitu cepat tanpa permisi, sebelum kau buktikan juga bahwa kau tidak sia-sia lahir sebagai salah satu produk unggul sejarah evolusi berliku Si Manusia Bijaksana yang hidup seratusan ribu tahun lalu.

Alih-alih mencari dan menunggu jawaban langsung datang dari ujung langit entah mana yang tak pasti, atau mungkin jawabnya malah, "Aku ikut menderita bersamamu, Nak!" Kalo jawabannya ini, yah semua pertanyaan mengapa yang menyusul kemudian hanya akan menggapai dinding lalu terpantul kembali. Daripada dan daripada hanya akan menguras banyak energi, ah mungkin kita mesti mengolahnya sendiri.

.

---

.

Kita mengenal kata adaptasi dan improvisasi. Di dalam KBBI, keduanya hanya berupa kata benda abstrak yang tergolek tanpa arti sama sekali, jika berdiri sendiri, sampai kita memberinya napas baru me-, mengadaptasi & mengimprovisasi. Segera setelah menjadi verba, keduanya serasa aktif dan hidup, seolah-olah punya daya gerak, punya daya kerja, punya daya juang. Nah, gerakan aktif adaptasi dan improvisasi inilah yang menciptakan sejarah evolusi.

Oleh guru biologi di SMP dulu, kita diajari Teori Evolusi Darwin tentang proses seleksi alam yang bilang bahwa hanya organisme dengan karakteristik adaptasi terbaiklah yang bisa tetap bertahan hidup. Ini berarti, ruang atau situasi boleh saja selalu berubah, atau bumi boleh saja kotak-kotak, tapi sejauh kita melakukan adaptasi terbaik, harusnya oke-oke saja.

■ Keluarga Dinosaurus, semisal T-Rex, yang tampaknya kita lihat begitu besar dan kuat ternyata kemasannya doang, mereka terlalu cepat loyo lalu akhirnya punah di hadapan evolusi. ■ Penyu Pancar Madagaskar misalnya, yang jalannya kayak orang nggak makan 10 hari, bisa bertahan hidup sampai 180-an tahun. ■ Jerapah terpaksa memanjang-manjangkan lehernya untuk tetap bertahan hidup. Hewan ini terlalu anggun untuk berebut makanan dengan hewan memamah biak lainnya, akibatnya sering kelaparan. Urun-rembuk terjadi di antara keluarga jerapah, mencari solusi agar generasi mereka tidak hanya tercatat dalam garis waktu sejarah sebagai spesies yang dulu pernah ada. Ada pencerahan, bahwa dedaunan di atas pohon tinggi bisa dijadikan sumber pangan. "Tapi bagaimana bisa menjangkaunya, wong tinggi gitu?" Seorang peserta yang berasal dari Barat angkat bicara, "Tenang saja Pak, tetangga saya bisa membantu, cuma harus sabar dan butuh waktu lama!" Besoknya, mulailah para jerapah antri berkonsultasi ke Si Tetangga. Tiap hari, dengan diurut dan diberi ramuan, lama-lama makin panjang leher para jerapah. Singkat kata, sukses, meski butuh waktu sangat lama memang. Puas dengan hasil dan sejauh ini tanpa komplain untuk menjangkau daun-daun di ketinggian, jerapah pun berhenti konsultasi. Akibatnya, Si Tetangga yang kehabisan order nyaris putus asa sampai seorang sahabat, yang tidak tega melihatnya larut dalam kesedihan, datang menberinya nasehat, "Kenapa takut, kau pindahlah berpraktek ke manusia, prospek bisnis yang bagus, pangsa pasarnya besar. Nanti pada 14 Agustus 2011 Masehi, jumlah manusia di Bumi  kira-kira 6.955.509.380 jiwa. Pasti adalah di antaranya yang mementingkan kemasan, yang bilang ukuran adalah segala. Kau tentunya tidak akan kekurangan order teman, betul? Kira-kira begitu nggak yah teori asal-usul usil bagaimana bisa jerapah berleher panjang dan profesi macam Mak Erot. Mbuh!

Improvisasi tidak dilakukan untuk situasi yang serba benar, kan? Improvisasi hanya dibutuhkan dalam kondisi yang salah, dalam keadaan yang menyimpang, lalu muncul untuk mengakali. Sama seperti maling yang dikejar massa, untuk lolos, pasti punya prinsip: lautan luas kan kudaki, gunung tinggi kan ku seberangi (eh kebalik yah), maka improvisasi - harusnya selalu spontan - mengambil-alih kendali diri. Ia mengeluarkan semua potensi terbaiknya. Si maling mampu melompati pagar yang tingginya minta ampun, bahkan mungkin bisa menumbangkan 9, 69 detik rekor Olimpiade 2008 untuk lari 100 m putra atas nama Usain Bolt dari Jamaika. Wow.  Begitulah, di dalam diri kita ada mekanisme pertahanan diri yang muncul sebagai tameng pamungkas ketika mengalami suatu desakan, desakan apa pun.

---

.

Untuk semua keadaan yang kamu alami, yang jelas merenggut banyak sudah apa yang dulu kamu pernah miliki, bertahanlah. Adaptasi dan improvisasilah! Virus boleh saja kerap memisahkanmu sejauh 420 km lebih dari garwo sigaran nyowo-mu, membuatmu jauh dari malaikat kecilmu, tapi kau punya pikiran-hati dan salah satu keajaibannya adalah mendekatkan yang jauh. Kau bawa mereka selalu di hatimu.

Lalu, mungkin sayap-sayap terbangmu patah pascajatuh, dan sakit yang tak terperih sesering denyut nafasmu tetapi tetaplah coba bertahan. Di hidup kita, ada sangat banyak orang yang luluh lantak tanpa daya oleh sakit, perang, dan keadaan buruk lainnya, namun tidak menyerah. Mungkin ini yang namanya pejuang sejati, menghadapinya secara lapang dan tawakal, tak masalah apapun hasil akhirnya, mau kalah atau menang. Mudah-mudah kamu akan menerimanya begitu sehingga kau tidak butuh bantuan sarjana hukum kita sebagai pembelamu di persidangan akhir, atau minta dibuatin spanduk demo yang bertulis,

"And if He comes back, take Him to court. He walked out on us, He oughta pay!"  *)

Mari pelan-pelan kau bangun cita-cita baru, ruang hidup baru, dengan situasi yang nyatanya serba salah dan ganjil ini. Boleh saja apa yang terencanakan lebih sering tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, mungkin kita hanya perlu berpindah posisi, menggeser diri ke kiri atau duduk jongkok melihat ke atas, memandang dari sudut baru dan lain, maka akan tertemukan, apa yang tampaknya semua usaha yang tercurah ke atasnya adalah sia-sia, tapi sebenarnya tidak, karena selalu ada sudut pandang baru, dan pada akhirnya selalu ada harapan baru. Fajar untuk hari baru.

Teruslah berharap demi malaikat kecilmu, untuk dia belahan hatimu! Tentunya mereka sangat berharga, bukan? Maka, jika satu atau dua berharga, semuanya berharga dan layak diperjuangkan.

. . Salam & Merdeka! . .

Kredit: □  Caption dan *) dikutip dari film Angels in America

Ryan Andin

/ryan_andin

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Under Construction
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?