HIGHLIGHT

Leil Fataya: Dari Kucing Hitam ke Mutiara Hitam

31 Juli 2012 17:25:12 Dibaca :

Tanggal 30 Juli, tepat ketika mengajar jam terakhir di kelas VII, pegawai sekolah mengantarkan amplop besar. Kiriman itu baru saja tiba. Dua baris pertama, sebelah kanan-bawah, ditorehkan, “Leil Fataya; Sentul, Bogor”. Pesanan buku itu. Dugaan saya ternyata betul. Kiriman buku dari sahabat maya telah tiba di alam nyata.


Pengalaman ini segera kumanfaatkan menjadi pengalaman bersama siswa. Ketika itu kami tengah belajar tentang alat-alat telekomunikasi. Kontekstualisasi itu nyata di depan mereka. Media komunikasi seperti: komputer, internet, kantor pos, dalam suatu rangkaian telah menjadi suatu kebutuhan. Dan tentunya, tak lupa jugalah memanfaatkan momen ini untuk mengingatkan siswa supaya rajin membaca (dan juga menulis).


Antologi Fiksi: Kucing Hitam dan Sebutir Berlian


Buku kiriman tadi adalah antologi fiksi karangan kompasianer, yang juga sastrawati Leil Fataya. Buku ini terdiri dari dua puluh cerpen. Sebagian di antaranya, sepanjang pengetahuanku, sudah di-publish di dunia maya, seperti Kompasiana ini.


Pulang sekolah, segeralah kubaca beberapa cerpen. Gaya khas Fataya dalam menulis cerpen, seperti biasa, membuat saya kagum. Nama-nama tempat dan tokoh fiktif terkesan aneh. Demikian juga dengan nama-nama jenis makanan yang larut dalam cerita terdengar asing. Dari dua puluh cerpen, hanya tiga cerpen yang mengambil setting di Indonesia. Karakter sastra serupa ini tampaknya genre baru dalam dunia kesusasteraan. Sebagian besar cerpen berkisah melewati batas-batas teritori nusantara. Jadi para pembaca akan berkenalan dengan nama-nama tokoh tak biasa seperti Ozturk, Jose /che/, Rabecca, Chelsea Arkwright, Sol dan sebagainya. Demikian juga nama tempat seperti Santiago atau Willywotthy. (Santiago mengingatkanku pada The Pilgrimage-nya Paulo Coelho). Dan bukan hanya berbau Barat atau Latin. Ada juga cerita berlatar Jepang dan Timur Tengah. Ceritanya easy going.


Antologi cerpen ini dimulai dengan cerpen berjudul “Kucing Hitam dan Sebutir Berlian”. Dan judul ini jugalah yang diangkat sebagai judul buku antologi fiksi ini. “Kucing hitam itu tercekik-cekik olah sesuatu. Remah-remah tulang. Bulu karpet. Gulungan benang. Entahlah. Tapi kemudian batuknya mengeluarkan muntahan. Sebutir berlian! Astaga.” Fragmen kisah inilah yang menjadi pembuka cerpen ini.


Dalam antologi ini kita akan menemukan kisah spiritual berbalut tragedi pada cerpen, “Para Penyembah Batu”. Kisah ‘irrasional’, bukan dalam artian negatif, akan kita temukan pada beberapa cerpen, seperti pada: “Doa Seekor Sapi kepada Tuhan”; “Perjamuan Teh yang Sempurna”; “Para Manusia Kerdil”, yang mengingatkan saya pada karya J. R. R. Tolkien, The Lord of the Rings; dan “Misteri Kalung Mutiara Hitam”. Dan judul inilah yang menjadi cerpen penutup dalam antologi fiksi ini.


Bagian “Menjemput Malaikat di Pohon Kebijaksanaan” tentu akan sangat menarik bagi para pecinta filsafat (Ketuhanan) yang terlarut dengan kebajikan dan pencarian kebenaran. Dan tidak ketinggalan dengan kisah (Pasca)modern. Era digital pada bagian “Antara Papi, Junius dan Internet”.


Satu hal yang membuat saya agak geli sekaligus takjub adalah fakta bahwa ternyata penulis bergelar “S.H.”. Berarti penulis tidak berlatar belakang pendidikan sastra tetapi hukum.


*****


Tak ada cerpen dalam antologi ini yang tidak menarik. Pembaca karya Leil akan menemukan kekayaan nilai dalam cerita yang menggugah. Saya menemukan betapa luasnya wawasan penulis ini. Diksi dan susunan kalimat yang sederhana tapi tanpa kehilangan kedalaman pesan dan pelajaran. Ini jugalah yang menjadi daya tarik lainnya dari karya ini. Tentunya perpustakaan-perpustakaan sekolah, dan juga keluarga yang ingin anak-anaknya tumbuh dalam nilai dan wawasan tak akan melewatkan begitu saja buku ini.


Membaca antologi ini membuat sayap-sayap imajinasi kita terbang demikian ringan ke sana kemari. Cakrawala wawasan meluas melalui berbagai cerita yang mengambil latar dari berbagai penjuru negeri. Kisah inspiratif yang tertata apik melarut dalam tutur dan alur.


“Semoga kelak kita dipertemukan Tuhan dalam surga zaitun yang abadi”, Leil Fataya, Air Mata di Surga Zaitun -- Kucing Hitam dan Sebutir Berlian.


(RES; 31/07/12)

Rustam E. Simamora

/rustam29

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ndang Pola Adong. Ndang Pola Porlu
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?